Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Pergumulan Batin (1)


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu dari hari pertunangan. Siang itu, Darrell sedang bekerja seperti biasa di ruang kantornya. Tiba-tiba ayahnya masuk dengan wajah sumringah.


"Akhirnya Papa berhasil mengumpulkan para pemegang saham yang siap mempertimbangkanmu menjadi pewaris menggantikan Celine. Setelah Papa hitung, jumlah suara yang terkumpul sudah mengalahkan para pemegang saham yang loyal pada pamanmu ataupun Celine.


Namun sebelum mereka memberikan suara mereka di rapat pemegang saham berikutnya, mereka ingin diyakinkan dengan mendengar presentasi darimu dulu. Bagaimana rencanamu membawa perusahaan ini ke depan, dsb.


Papa sudah mengatur tempat dan waktu pertemuan dengan mereka. Papa sudah menyewa ruang pertemuan di sebuah restoran besok sore. Setelah mendengar presentasimu dan diyakinkan olehmu, kita akan menutupnya dengan makan malam bersama. Mereka pun sudah setuju dan akan memberikan waktu mereka untuk hadir di restoran tersebut.


Karena itu, persiapkan dirimu untuk melakukan presentasi besok! Yakinkan mereka kalau mereka tidak salah memilihmu, Nak! Kalau kau berhasil melakukannya, impian kita sudah di depan mata! Kita tinggal menunggu hasil sah keputusan rapat pemegang saham berikutnya, yang bisa dipastikan mengeluarkan namamu sebagai pemenangnya! Hahaha ..." ujar Andreas sambil menepuk-nepuk bahu putranya dan tertawa bahagia.


Tinggal Darrell yang tersenyum kecut dan menelan ludahnya. Berarti besok sore adalah peperangan terakhirnya! Puncak perjuangannya adalah presentasinya besok!


Ia tidak mempermasalahkan rentang waktu yang singkat untuk mempersiapkan materi presentasinya. Itu cukup mudah baginya dan ia tahu ia pasti sanggup melakukannya. Namun beban mental yang harus ia hadapi ini yang membebani hatinya. Beban dan tanggung jawab untuk mewujudkan mimpi yang sudah dipersiapkan semenjak ia SMP. Dan besok adalah babak penentuannya.


Andreas melihat wajah tegang putranya dan ia tertawa. Pipi Darrell ia tepuk-tepuk ringan seperti membangunkan orang tidur. "Apa-apaan wajahmu ini, Nak? Santai sajalah .... Tak usah tegang! Papa tau kemampuanmu. Anggap saja ini presentasi yang biasa kau lakukan ketika memperkenalkan produk baru."


Namun karena wajah Darrell tidak berubah, dan hanya senyum kecut yang menghiasi wajah tampan itu, ayahnya melanjutkan perkataannya sambil tersenyum. "Ya sudah .... Kalau kau tegang, pulanglah pagian hari ini. Tidur lebih awal. Siapkan dirimu dengan baik agar kamu dapat menaklukkan mereka semua esok hari. Oke, Nak?" katanya sambil memukul ringan dada bidang anaknya.


"Iya, Pa ..." jawab Darrell lesu, lalu mulai mengemasi barangnya. Entah kenapa energinya tiba-tiba serasa terkuras.


****************

__ADS_1


Hari itu, ia memilih bersembunyi di taman belakang di antara semak-semak yang sudah dihias. Rumah ini sangat menyesakkan. Walaupun ini adalah kali pertamanya diajak ke rumah sebesar istana yang hanya pernah ia lihat di film, rasa tertariknya sudah sirna. Tidak ada rasa penasaran atau keingintahuan untuk menjelajahinya. Ia hanya ingin pulang, kembali ke rumah kecil yang ia tinggali bersama ibu dan neneknya.


Namun apa boleh buat, ibunya sudah meninggal dan sekarang ia tinggal bersama ayahnya yang membawanya ke negara asing yang tidak ia kenal. Sudahlah di tempat tinggalnya sekarang ia mendapat wajah-wajah tidak bersahabat yang menolak kehadirannya, hari ini ia malah mendapat perlakuan yang lebih parah lagi.


Tadi baru saja ia diperkenalkan dengan orang-orang yang katanya keluarga besarnya. Ada kakek, paman, bibi, dan anak-anak seumuran dirinya yang katanya adalah sepupunya. Namun setelah perkenalannya, orang yang disebut kakeknya berteriak pada ayahnya. Entahlah apa yang orang tua itu katakan, ia tidak mengerti. Namun jelas dari air mukanya, kakek itu marah besar kepada Sang Ayah.


Situasi itu sangat membuatnya tidak nyaman. Selain pertengkaran orang dewasa yang terjadi di hadapannya, dirinya juga ditunjuk-tunjuk seolah ia adalah penyebab pertikaian tersebut. Semua orang di sana melihatnya sambil berbisik-bisik dengan orang di sebelahnya, menjadikannya tontonan dan bahan gunjingan. Tatapan mereka semua dingin, seolah mengejeknya. Saat itu, ia hanya bisa menundukkan kepala.


Sampai akhirnya pertengkaran itu reda dan suara-suara teriakan dan bentakan tidak lagi terdengar. Ayahnya mengizinkannya keluar dari ruangan itu dan memintanya bermain dengan sepupunya.


Namun setelah ia berhadapan dengan salah satu dari mereka, ia malah dikata-katai dan diejek. Ia memang tidak tahu pasti apa yang anak itu katakan dan maksudkan. Namun pastinya jelas gaya dan nada itu bukanlah ajakan untuk bersahabat. Ia bahkan sampai didorong hingga jatuh tersungkur.


Dan di sini lah ia sekarang setelah melarikan diri dari mereka dan bersembunyi di semak-semak. Ia berharap ayahnya segera mencarinya dan mengajaknya pulang. Walaupun di rumahnya yang sekarang juga tidak ada penerimaan, setidaknya ia tidak bertemu anak-anak yang mengata-ngatainya dan mendorongnya hingga terluka.


"Kamu kenapa bersembunyi di sini? Ada yang sakit? Ah .... Sepertinya lututmu terluka yah. Sini ikut aku, biar kuobati, " kata anak laki-laki tersebut dengan tangan yang masih terulur padanya.


Ia tidak mengerti apa yang anak itu bicarakan. Dengan bingung, ia hanya dapat memperhatikan wajah anak laki-laki yang lebih besar dari dirinya ini. Ia juga melihat seorang anak perempuan sedang mengintip di belakang anak laki-laki itu. Sepertinya umur anak perempuan itu tidak terlalu berbeda dengannya. Anak perempuan itu melihatnya dengan tatapan takut. Tangannya memegang baju anak laki-laki di depannya dengan erat.


Tiba-tiba Si Anak Lelaki menarik kembali uluran tangannya dan tampak berpikir. Lalu ia menepuk dadanya sendiri beberapa kali dan berkata, "Dion." Lalu anak itu menunjuk dirinya dan menyebut namanya, "Darrell, kan?"


Ia mulai mengerti. Anak laki-laki itu sedang memperkenalkan dirinya yang bernama Dion. Dan sekarang, anak itu sedang memastikan namanya. Ia pun mengangguk dan menepuk dadanya sendiri sambil berkata, "Oui, je suis Darrell." (arti: Ya, saya Darrell)

__ADS_1


Anak itu pun tersenyum ramah dan sepertinya merasa lega. Senang karena usahanya untuk dimengerti cukup berhasil. Dirinya sendiri pun tertegun melihat senyum anak laki-laki yang bernama Dion ini. Dion adalah orang pertama selain ayahnya yang tersenyum padanya semenjak ia tiba di negara ini.


"Aku - melihat - kamu - terluka. Ikut - aku. Biar - kuobati, " kata Dion dengan kalimat terpatah-patah, sambil mempraktikkan ucapannya kata demi kata. Dion menunjuk dirinya sendiri ketika mengucapkan 'aku', menunjuk lututnya yang terluka, lalu berpantomim seolah sedang membalut luka di lututnya sendiri. Di akhir, Dion kembali mengulurkan tangannya kepadanya.


Sedikit banyak ia mengerti apa yang dimaksud oleh Dion. Ia pun mengulurkan tangannya menyambut tangan Dion dan Dion membantunya berdiri.


Tangan kanan Dion masih menggandeng anak perempuan itu yang masih menjaga jarak dengannya dan melihatnya dengan takut-takut. Sedangkan tangan kiri Dion menggandeng tangannya. Ia pun dibawa ke suatu tempat yang ia tidak ketahui. Namun tangan itu membuatnya hangat dan nyaman sehingga ia pasrah mengikuti Dion begitu saja.


Sampai di situ Darrell terbangun. Ternyata ia memimpikan masa kecilnya saat pertama kali ia menginjak rumah kediaman Adipratama untuk diperkenalkan oleh kakek dan keluarga besarnya.


Darrell melap mukanya dengan tangan. Entah mengapa ia bisa memimpikan hal ini. Namun hatinya masih terasa hangat dengan mimpi yang masih teringat jelas.


Ia tertegun ketika menyadari bahwa secara tidak langsung berarti ia juga memimpikan Celine. Waktu memang dapat mengubah orang begitu rupa. Gadis kecil pemalu yang dulu hanya bisa bersembunyi di balik punggung kakaknya, kini bisa berdiri di depan menjadi seorang direktur yang memimpin banyak orang.


Darrell jadi teringat dengan malam acara pertunangan gadis itu, saat di mana Celine menyapanya yang sedang duduk menyendiri di halaman belakang (liat eps 144 - Keluarga Besar Adipratama 2 ). Darrell tersenyum. Ternyata kakak-adik sama saja. Celine juga menjadi orang pertama selain ayahnya yang menyambut kepulangannya kembali ke Indonesia.


Kembali ia mengingat tangan Celine yang terulur kala itu. Celine menyambut bergabungnya dirinya di perusahaan dengan tangan terbuka, meskipun saat itu ia sendiri pun enggan bekerja di sana. Celine mengharapkan mereka berdua dapat bekerja sama dengan baik.


Saat itu ia memang menyambut tangan itu dengan gaya acuh tak acuh, tetapi sesungguhnya hatinya terasa hangat. Ia hanya canggung untuk memperlihatkan kebahagiaan sederhana itu di depan orang yang bersangkutan.


Tiba-tiba dadanya terasa perih menyadari realita di hadapannya. Senyumannya berubah menjadi senyum getir penuh kepahitan. Bekerja sama dengan baik? Yang ada sekarang mereka berhadapan sebagai rival. Rasa bersalah mulai melandanya, bagaimana ia akan membalas uluran tangan itu dengan sebuah pengkhianatan.

__ADS_1


Darrell bangkit dari tempat tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi. Saat itu waktu menunjukkan pukul 04.18 dini hari. Ia segera mencuci mukanya untuk menjernihkan pikirannya. Ia tidak boleh goyah. Hari ini adalah puncak perjuangannya. Ia harus membuang perasaan yang tidak berguna, jika tidak mau mengkhianati mimpi ayahnya dengan kegagalan presentasinya.


...****************...


__ADS_2