Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Lagi-lagi tentang Priscillia


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, kembali James langsung pergi ke kamar mandi. Tubuhnya masih terasa lengket akibat siraman minuman bersoda. Maklumlah, ia hanya membersihkan diri sekadarnya di kamar mandi guru tadi.


Setelah mandi, ia mengambil saputangan bersih di lemari bajunya. Kemudian ia pergi ke kulkas untuk mengambil beberapa es batu. Es batu itu dibungkusnya dengan saputangan tersebut dan ditempelkan ke kepalanya yang benjol.


Tingkahnya ini menarik perhatian mamanya dan Celine yang saat itu sedang menonton TV di ruang keluarga.


"Kamu kenapa, James? Kok sampai kompres kepala dengan es batu?" tanya Mama Ratna.


"Benjol, Ma." Lalu James menceritakan semua kejadian yang dialaminya, melanjutkan ceritanya di PKW beberapa waktu yang lalu.


"Kok jadi tambah parah sih, James? Ini sudah bukan keisengan biasa lagi lo .... Ini sudah termasuk perundungan guru! Kamu sudah lapor ke Kepala Sekolah?" tanya Mama Ratna setelah mendengar cerita James.


"Buat apa? Tak ada pelaku yang bisa ditangkap. Kalo James lapor, bukannya malah bisa berbalik menurunkan citra James, Ma? Dengan kasus sebelumnya aja sudah menimbulkan tanda tanya kepsek, kenapa cuma James yang mengalaminya sampai di luar kelas?" jelas James.


Mama Ratna terdiam. Ia sadar omongan James ada benarnya. Apalagi James guru baru, sedangkan lawannya adalah sekelompok anak dari orang-orang berpengaruh di kota ini. Tapi ibu mana yang tidak geram melihat anaknya diperlakukan demikian?


"Terus, obrolanmu dengan Sang Putri, berakhir dengan kamu mempercayainya begitu saja?" tanya Mama Ratna tanpa menyembunyikan kegeramannya.


"Iya. Habis mau gimana?" James balik bertanya.


"Kok kamu bisa percaya sih, James? Mendengar ceritamu saja, Mama sudah merasa dia mempermainkanmu lo! Harusnya kamu tegur dia dengan keras atau memperingatkannya atau apalah! Yang jelas kamu harus tunjukkan kalau kamu tidak bisa dipermainkan dengan mudah!" kata Mama Ratna dengan nada yang mulai meninggi.


"Apanya yang ditegur kalau dia bilang tidak ada hubungannya sama dia, Ma? Kalau memperingatkannya, sudah James lakukan lewat materi BK di kelas. Tanpa bukti, kita ga bisa asal nuduh, Ma ..." debat James.


Mama Ratna terdiam lagi. Setelah berpikir agak lama dan menarik napas panjang, akhirnya Mama Ratna bertanya dengan nada lesu, "Kamu masih mau melanjutkan mengajar di sana? Ga lebih baik mengundurkan diri saja?"


"Mengundurkan diri? No Mama, Big no !! Pekerjaan ini tidak mudah James dapat! Mama tau sendiri berapa lama James menunggu untuk mendapat pekerjaan sebagai guru tetap. James ga akan mengalah hanya karena diperlakukan seperti ini!"


Mama Ratna menghela napas melihat kekeraskepalaan anaknya. Ia tahu bagaimana dan berapa lama James menggumulkan untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi di sisi lain ia juga khawatir dengan situasi yang dialami James saat ini.


Akhirnya Mama Ratna menyerah.


"Ya sudahlah, James. Lakukan yang terbaik menurutmu. Mama bangga kamu memiliki semangat juang yang tinggi dan tidak mudah menyerah. Tapi ingat, jangan terlampau keras kepala! Kalau perbuatan mereka sudah semakin keterlaluan, kamu harus mundur dengan ikhlas! Buat Mama, keselamatanmu nomor satu. Mengerti?"


"Iya, Ma .... James ngerti. Tenang aja, James tau batas kok. Kalau dirasa uda keterlaluan dan membahayakan, James janji akan mundur. Oke?" kata James sambil memeluk dan mencium pipi Sang Bunda.


Sang Mama hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah anak bungsunya ini.


"Ya sudah, Mama mau siap-siap mengajar. Kamu jaga rumah baik-baik sama Celine yah," kata Mama Ratna sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Siap, Bos!" jawab James sambil nyengir.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian Mama Ratna sudah meninggalkan rumah. Tinggal James dan Celine yang masih berdiri di teras rumah selepas mengantar kepergian Sang Ibunda.


"Sekarang tinggal kita berdua, Celine ada rencana apa?" tanya James.


Tidak seperti biasanya, Celine tidak langsung menjawab. Ia terlihat murung dan hanya menundukkan kepala.


"Celine kenapa? Ada yang mau diceritakan atau dibilang sama Bang James?" James bertanya dengan hati-hati. Ia baru sadar, kalau sepanjang pembicaraan tadi, Celine hanya diam saja. Ia takut Celine merasa terabaikan.


Celine menjawab dengan anggukan. James menghela napas lega. Setidaknya, Celine masih berkenan menceritakan isi hatinya, pikir James.


"Yuk, kita masuk rumah dulu!" ajak James yang segera diikuti Celine.


Setelah mereka kembali duduk di ruang keluarga, James kembali bertanya, "Celine mau cerita apa?"


Masih dengan kepala tertunduk, Celine menggelengkan kepalanya. "Bukan cerita, Celine mau tanya. Boleh?"


"Tentu boleh. Mau tanya apa?" jawab James sambil tersenyum.


Celine tampak ragu pada awalnya. Tapi akhirnya ia mengangkat wajahnya dan menatap James dengan raut wajah cemas. "Bang James suka Priscillia?" tanyanya.


Mendengar itu, James hanya bisa melongo. Pertanyaan yang sungguh tidak disangkanya. Apalagi pertanyaan itu sudah ia dengar juga hari ini. Tadi oleh Rebecca, sekarang Celine. Ada apa ini? Apakah sikapnya dengan Priscillia bisa mengakibatkan orang salah paham?


"Kok Celine bisa mikir gitu?" James balik bertanya.


James menghela napas. "Bang James ngajak ngomong baik-baik bukan karena suka dia, Lin. Tapi karena Bang James ga bisa bersikap sembarangan tanpa bukti. Apalagi dia putri ketua yayasan tempat Bang James mengajar. Jadi, kalau Bang James masih mau kerja di sana, Bang James harus ekstra hati-hati dalam bersikap dan berkata-kata sama dia kan?"


"Bener itu alasannya? Bukan karena Bang James masih suka sama dia?" tanya Celine memastikan.


"Eh? Kok masih?" tanya James bingung.


"Priscillia itu orang yang bikin Bang James patah hati kan? Yang masih Bang James suka sampai sekarang, tapi dia ga tau perasaan Bang James? Karena itu Bang James bisa sabar banget padahal uda digituin. Begitu, kan?" Celine memaparkan analisanya.


Paparan Celine kembali membuat James melongo. Tapi beberapa detik kemudian setelah ia mengerti arah pembicaraan Celine, James tergelak. Ia tidak menyangka pikiran Celine meloncat dan menyambungkan kasus ini ke pembicaraan mereka yang tempo dulu. (baca eps. 35 Murung )


"Kok Bang James ketawa? Ucapan Celine salah?" tanya Celine dengan alis berkernyit.


"Jelas salah lah, Non .... Salahnya gede banget lagi!" jawab James masih sambil tertawa.


Alis Celine masih berkernyit tanda tak mengerti. Setelah tawa James reda, James memberi penjelasan letak kesalahan Celine.


"Gini lo, Non .... Coba Celine ingat-ingat, pembicaraan kita tentang orang yang bikin Bang James patah hati itu kapan? Itu sebelum Bang James diterima kerja di sekolah ini lo... Jadi gimana Bang James bisa suka sama Priscillia, kalo ketemu aja belum?" terang James sambil menahan senyum.

__ADS_1


Mendengar penjelasan James, Celine kembali menundukkan kepala. Tapi pipinya yang merona tidak luput dari penglihatan James. James tahu kalau Celine merasa malu karena salah mengambil kesimpulan.


Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Celine kembali mengangkat kepalanya dan bertanya, "Apa Priscillia sehebat dan seberkuasa itu, sampai-sampai orang-orang takut padanya? Sampai Bang James, guru-guru, bahkan kepsek harus bersikap sehati-hati itu?"


"Sebenarnya bukan dia yang sehebat dan seberkuasa itu. Tapi orang tuanya. Kuasanya itu bisa membuat orang diusir dari sekolah," jelas James.


"Kenapa bisa gitu? Kok bisa usir-usir orang seenaknya?" tanya Celine polos.


Ditanya begitu, James jadi bingung bagaimana menjelaskannya. James mengerti pola pikir Celine yang belum berhadapan dengan perbedaan status dan kekuasaan di masyarakat. Karena ia sendiri demikian saat masih SMU dulu. Waktu itu ia tidak terlalu memikirkan dan merasakan perbedaan antara Si Kaya dan Si Miskin dalam pergaulannya.


Ia baru menyadari fakta bahwa kekuatan status, kekuasaan, dan kekayaan seseorang bisa mempengaruhi hidup dan perilaku orang lain ketika ia duduk di bangku kuliah. Ketika ia bertemu dengan teman-teman kampusnya yang kebanyakan dari keluarga sultan. Bagaimana ia harus pintar-pintar membawa diri agar tetap bisa bersosialisasi dengan baik.


Sampai akhirnya James teringat satu fakta yang mungkin bisa membuat Celine mengerti.


"Hmm .... Gini deh kira-kira .... Di kota tempat rumah Celine yang dulu, keluarga Celine juga terkenal kan? Celine tau itu?" tanyanya.


Celine mengangguk. James pun melanjutkan penjelasannya. "Celine tau, kalau Papa Celine, Tuan Adipratama, adalah orang yang hebat dan penuh kuasa?"


Celine mengangguk lagi. James tersenyum. Kalau sudah begini, penjelasannya jadi mudah.


"Jadi, Priscillia itu sama seperti Celine. Bedanya, Papa Celine hebatnya di sana, di kota asal Celine. Kalau orang tua Priscillia, di kota ini. Yang namanya orang hebat dan berkuasa pasti membuat banyak orang jadi sungkan. Termasuk ke anak-anaknya, karena takut bermasalah dengan orang tuanya. Sampai sini Celine paham?" James menjelaskan dengan sabar.


Celine mengangguk, lalu kemudian berbicara sendiri seperti sedang bergumam, "Jadi ... Priscillia itu ... sama kayak Celine?"


"Iya. Status sosial dan latar belakang keluarga kalian mirip. Tapi Celine ya Celine. Dia ya dia. Kalian punya kehidupan masing-masing. Jadi, jangan terlalu dipikirin yah ... " ucap James sambil mengelus kepala Celine.


Celine masih terdiam, seperti masih memikirkan sesuatu.


"Ada lagi yang ingin Celine tanya?" tanya James.


Celine menggeleng. "Celine cape, mau istirahat. Celine balik ke kamar aja ya, Bang ...."


"Kalau Celine mau istirahat, Bang James juga ikut istirahat di kamar Abang yah .... Kalau ada apa-apa atau masih mau tanya-tanya, Celine ketok aja kamar Abang. Oke?" tanya James sambil mengacungkan jempolnya.


Celine ikut mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Lalu ia meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke kamarnya.


Sebelum pergi ke kamarnya, James mengunci pintu depan terlebih dahulu. Ia melakukannya demi keamanan, kalau-kalau ada orang jahat masuk ketika mereka berdua tertidur di kamar masing-masing.


Sambil melakukannya, pikiran James menerawang. Ia bertanya-tanya mengapa tiba-tiba Celine jadi tertarik membahas tentang Priscillia.


Sampai tiba-tiba suatu prasangka liar bertengger di otak James. Prasangka tersebut membuat jantung James mulai berpacu dan meninggalkan semburat merah di telinganya. Apakah Celine cemburu ?

__ADS_1


Woii, James!! Sadar, wooiii!!! Celine itu hanya peduli dan khawatir sama lo!! Jangan mikir macam-macam!! Nanti kecewa lagi, tau rasa lo !! katanya dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri.


...****************...


__ADS_2