Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Sama-sama Belajar


__ADS_3

James dan Bu Reny menuju bangsal Flamboyan. Ketika mereka tiba di kamar nenek Farida, di sana juga terlihat ibu yang tadi mengaku sebagai anaknya Si Nenek. Senyum ramah terlihat di wajahnya saat ia melihat Bu Reny menghampiri mereka.


"Selamat siang, Bu .... Selamat siang, Nek ..." sapa Bu Reny dan James ketika mereka sudah berada di hadapan mereka.


"Selamat siang ..." balas Nenek Farida dan anaknya hampir bersamaan.


"Gimana keadaan Nenek sekarang?" tanya Bu Reny.


"Masih lemas, Bu ..." jawab Nenek Farida dengan kondisi terbaring di ranjang pasien.


"Itu wajar yah, karena nenek kurang darah. Tadi saya bertemu Pak James katanya Nenek minta pulang, apa sudah bertemu dengan dokternya?" Bu Reny bertanya lagi.


"Sudah, Bu. Rencananya nanti akan transfusi darah 2 kantong lagi. Terus, besok akan diperiksa ulang. Kalo uda cukup, boleh pulang. Gitu kata dokternya, " jawab Anaknya Nenek Farida.


"Oh, baguslah kalo gitu. Semoga nanti Hb-nya naik yah .... Biar nenek bisa pulang. Kalo belum cukup tapi sudah dipulangkan, kan bisa bahaya. Nanti nenek lemas terus malah pingsan, jadi tambah repot, kan? Sabar sedikit lagi yah, Nek ..." bujuk Bu Reny. Nenek dan anaknya hanya manggut-manggut mendengar perkataan Bu Reny.


Tidak berapa lama kemudian, James dan Bu Reny melanjutkan kunjungan ke bangsal Soka. Sebagai pasien kelas II, Pak Herman berada di kamar yang hanya dihuni oleh 2 orang dan kebetulan ranjang sebelah Pak Herman sedang kosong. Di sana ia sedang ditemani oleh anak perempuannya.


"Selamat siang, Pak ..." sapa James dan Bu Reny hampir bersamaan.


"Selamat siang ..." balas Putri Pak Herman dengan ramah. Sedangkan Pak Herman sendiri hanya membalas mereka dengan anggukkan kepala.


"Tadi Pak James sudah mengunjungi Bapak, tapi Bapak lagi difisioterapi. Bagaimana? Sudah ada perkembangan?" tanya Bu Reny. Dengan raut wajah kecewa, Pak Herman menggeleng.


"Gapapa. Namanya juga baru beberapa hari. Untuk bisa pulih seperti semula, kasus seperti ini memang lama, bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Yang penting tetap harus sabar dan semangat mengikuti fisioterapi. Begitu ya, Pak?" tanya Bu Reny.


Pak Herman hanya tersenyum pahit. "Manga mungking hengguh kokal (baca: Mana mungkin sembuh total ) ..." ujar Pak Herman dengan cara bicaranya yang pelo akibat kelumpuhan setengah otot wajahnya.


"Bisa lho, Pak! Selalu ada kemungkinan untuk sembuh! Memang ... butuh waktu yang lama. Tapi, dengan latihan dan terapi yang rutin dapat mempercepat pemulihan. Yang penting harus optimis! Sikap hati yang benar juga mempengaruhi pemulihan lho ..." ujar Bu Reny mengingatkan Pak Herman.


Pak Herman kembali menggeleng menanggapi jawaban Bu Reny. Terlihat ia sudah pasrah dan putus asa dengan kondisinya.


Bu Reny dan James melirik ke arah anak perempuan Pak Herman. Melihat itu, Sang Putri ikut menggeleng, sebagai tanda ayahnya sudah tidak lagi kooperatif untuk diajak berbicara.


Bu Reny menghela napas pelan. "Ya sudah .... Kita pelan-pelan saja yah, Pak .... Kami permisi dulu ..." pamit Bu Reny.


"Mari, Pak .... Mari, Kak ...." James ikut berpamitan pada Pak Herman dan putrinya.


"Terima kasih atas kunjungannya, Bu .... Pak ...." kata Putri Pak Herman membalas mereka. Sedangkan Pak Herman sendiri hanya terdiam seperti sedang termenung.


Setelah itu mereka pun keluar dari kamar Pak Herman dan meninggalkan bangsal Soka. Sambil berjalan Bu Reny bertanya pada James dengan senyum simpul di wajahnya, "Jadi besok bagaimana? Pak James masih perlu saya temani atau sudah percaya diri untuk melakukan kunjungan sendiri?"


James tersenyum. "Saya akan coba kunjungan sendiri, Bu."


"Baguslah kalau begitu. Sudah hampir jam 12, mau makan siang bersama?" tanya Bu Reny sambil melihat jam tangannya.


"Tentu saja!" jawab James dengan cengiran di wajah.


...****************...


Esoknya, setelah menyapa Bu Reny di ruang konselor, James langsung menuju bangsal Flamboyan. Ia penasaran apakah nenek Farida jadi pulang hari ini.


"Selamat pagi, Kak .... Apakah Dokter Penyakit Dalamnya sudah visit ?" tanya James kepada perawat yang bertugas pagi itu.


"Selamat pagi .... Belum, Pak. Dokter Amir biasanya visit sekitar jam 9-10, " jawab Si Perawat.


"Kalau gitu, apakah hasil pemeriksaan darah nenek Farida sudah ada?" tanya James lagi.


"Sebentar yah ...." Perawat tersebut kemudian mengambil sebuah map dan melihat-lihat berkas di dalamnya.


"Sudah, Pak. Ini hasilnya, " lanjut perawat itu sambil menyerahkan map yang terbuka pada James.

__ADS_1


James mengambil map, lalu memperhatikan tulisan yang ada di dalamnya. Terlihat hasil pemeriksaan darah nenek Farida yang baru diperiksa hari ini. Angka Hb yang tertera di sana adalah 10,3 gram/dL. Kemarin James sudah mencari keterangan di google bahwa Hb minimal agar pasien aman dipulangkan adalah 10. Berarti kemungkinan besar nenek bisa pulang hari ini.


James mengembalikan map itu kepada perawat lalu berkata, "Saya kunjungi nenek Farida ya, Kak ...."


"Silakan, Pak."


Tanpa berlama-lama James pun meninggalkan nurse station dan menuju ke kamar nenek Farida. Sesampainya di sana, ia melihat nenek Farida sedang duduk bersandar di ranjangnya. Di sekelilingnya tidak tampak keluarga yang biasa menemaninya.


"Selamat pagi, Nek ..." sapa James.


"Selamat pagi, Dok ..." balas Si Nenek sambil tersenyum.


James baru sadar kalau hari ini ia mengenakan kemeja putih. Mungkin ini yang menyebabkan nenek salah mengenalinya. Ia pun berusaha meralat panggilan tersebut. "Nek .... Saya bukan dokter. Saya ..."


"Sama saja, toh .... Wong sama-sama merawat pasien. Bajunya juga sama-sama putih." Nenek Farida memotong ucapan James sambil terkekeh.


James menghela napas sambil tersenyum. Ia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini. "Ya sudah kalo menurut Nenek begitu. Yang penting ... jangan sampai kebalik sama dr. Amir yang merawat Nenek yah ...."


"Iya. Nenek bisa bedain kok, " jawab Nenek Farida.


"Ngomong-ngomong, tumben Nenek sendiri? Keluarga yang biasanya mendampingi Nenek pada ke mana?" tanya James mengalihkan topik.


"Putri Nenek lagi keluar mencari sarapan sebentar," jawab Nenek.


"Hmm .... Jadi bagaimana kondisi Nenek hari ini? Kelihatannya Nenek sudah lebih segar."


Ditanya demikian Nenek Farida terkekeh kembali. "Saat ini Nenek memang lebih segar. Tapi biasanya kalo sakit perut atau mencret hitamnya balik lagi, Nenek bisa mendadak lemas. Jujur aja sama Nenek, Dok .... Penyakit Nenek ga bisa sembuh, kan?"


James yang mendadak ditembak begitu jadi gelagapan. Ia tidak menyangka Nenek Farida sudah tahu tentang penyakitnya.


Melihat respons James, Nenek makin terkekeh-kekeh. "Walaupun kalian berusaha menyembunyikannya, Nenek bisa duga dari raut wajah kalian. Tapi karena Nenek tidak mau keluarga jadi sedih, Nenek pura-pura ga tau aja."


"Nenek gapapa seperti ini? Tidak mau mencoba kemoterapi?" tanya James dengan hati-hati.


James kembali diingatkan pada pelajaran psikologi yang pernah ia dapatkan tentang kualitas hidup. Nenek Farida memilih meningkatkan kualitas hidupnya dengan bersama keluarganya dibandingkan mencoba memperpanjang usianya dengan terapi yang mungkin menyiksanya.


James tersenyum sedih menyimpan rasa trenyuh di hatinya. "Ya sudah kalo Nenek pilih gitu. Tadi saya sudah liat hasil darah Nenek, Hb-nya sudah naik. Tinggal menunggu kunjungan dari dr. Amir. Semoga beliau mengizinkan Nenek pulang yah ...."


"Iya, Dok .... Terima kasih ..." jawab Nenek Farida sambil tersenyum.


Demikianlah pembicaraan mereka diakhiri. Setelah itu, James izin pamit untuk mengunjungi pasien selanjutnya.


James berjalan menuju bangsal Soka masih dengan perasaan tak menentu. Pilihan tiap orang memang berbeda. Tidak ada yang dapat menyalahkan Nenek Farida yang lebih memilih menyerah dengan pengobatan untuk menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang ia cintai di hari-hari terakhir hidupnya.


Kejadian nenek Farida mengingatkan James bahwa kualitas hidup bukan melulu masalah umur yang panjang atau tubuh yang sehat. Terkadang alasan dan tujuan hidup yang tercapai lebih diutamakan untuk membuat hidup lebih berarti.


Tanpa sadar, ia sudah sampai di depan nurse station bangsal Soka. Pagi ini, perawat yang bertugas di sana adalah Titis.


"Selamat pagi, Pak ..." sapa Titis.


"Selamat pagi .... Apakah Dokter Sarafnya sudah Visit ?" tanya James kepada perawat yang berumur lebih muda daripada dirinya itu.


"Sudah, Pak ..." jawab Titis pendek.


"Ada perubahan rencana terapi untuk Tuan Herman?" tanya James lagi.


"Tidak ada, Pak. Masih sama seperti sebelumnya, " jawab Titis.


"Baiklah kalau begitu. Saya kunjungi Pak Herman dulu yah ..." pamit James.


"Iya, Pak. Silakan ...."

__ADS_1


James pun berjalan menuju kamar Pak Herman. Melihat James datang, putrinya Pak Herman menyambut James dengan ramah. Namun ia sedikit tertegun melihat James datang sendiri. "Tumben sendirian, Pak. Bu Reny mana?" tanyanya.


"Bu Reny sedang mengunjungi pasien yang lain. Apa ada masalah kalau saya mengunjungi Pak Herman sendiri? Kalau iya, nanti siang saya akan kembali lagi kemari bersama Bu Reny, " jawab James dengan nada sedikit khawatir.


Anak perempuan Tuan Herman tersenyum. "Tidak. Sama aja kok, Pak ..." katanya sambil meninggalkan James dan mendekati ayahnya.


"Pa .... Pak James datang nih ..." katanya kepada Sang Ayah.


Pak Herman yang dari tadi sedikit termenung entah menatap apa, mengalihkan pandangannya dan mengangguk ke arah James.


Kemarin malam, James sudah menanyakan pada ayahnya topik-topik yang dapat membangkitkan semangat lelaki berumur 50-an.


"Mereka senang mengenang pengalaman mereka di masa lalu. Sesuatu yang seru seperti perjuangan mereka ataupun keberhasilan mereka akan sesuatu. Tetapi harus hati-hati, karena bisa berbalik membuat mereka lebih terpuruk jika mereka membandingkan dengan keadaan mereka saat ini, " jawab Papa Heru saat itu.


Dan saat ini, James sudah bersiap mengeluarkan jurus yang sudah dipelajarinya. Sedikit banyak, ia sudah mempelajari latar belakang Tuan Herman dari data pasien yang pernah dicatatnya.


"Pak, saya baca di status, pekerjaan Bapak pengusaha yah?" tanya James membuka pembicaraan.


"Iya, " jawab Pak Herman pendek.


"Pengusaha apa, Pak?" tanya James lagi.


"Hehhil."


"Oh .... Tekstil. Usahanya Bapak bangun sendiri atau usaha turun-temurun keluarga, Pak?"


"Bangung henggiri."


"Wah .... Hebat sekali kalau begitu Bapak .... Boleh diceritakan perjuangan Bapak? Kok bisa sampai kepikiran buka usaha tekstil?" tanya James memancing.


Pak Herman tersenyum. "Kehikanga panggang iku ...."


"Oh .... Ceritanya panjang .... Gapapa sih kalau Bapak mau cerita. Siapa tau bisa jadi ilmu buat saya kalo-kalo suatu saat saya terpaksa harus banting setir, " ujar James sambil nyengir.


Anak perempuan Pak Herman yang dari tadi mendengarkan pembicaraan itu jadi mendelik. "Kapan-kapan aja yah, Pak .... Kasian Papa, nanti kecapean. Tunggu bicaranya lebih fasih aja, " sanggahnya.


Pak Herman tersenyum melihat James yang tersipu akibat ditegur putrinya. "Ya hudah. Kapang-kapang aga yah ...."


James ikut tersenyum, "Iya. Kapan-kapan aja. Sekarang biar saya yang cerita dulu boleh yah, Pak? Kalo liat Bapak, saya jadi teringat sama kenalan saya. Dia juga pengusaha dan terkena stroke juga." James meminjam kejadian Tuan Adipratama.


Saat James mulai bercerita, anak laki-laki Tuan Herman masuk ke kamar untuk mengunjungi ayahnya.


"Saat itu, kondisinya makin parah karena dikhianati orang kepercayaannya. Orang tersebut mau merebut kursi pimpinan di perusahaan. Untungnya kenalan saya itu langsung buru-buru mengangkat dan melatih ahli warisnya. Ngomong-ngomong, Bapak uda punya pewaris?" tanya James lagi.


Pak Herman mengangguk. "Ahak haki-haki haya."


"Oh .... Syukurlah kalau Bapak sudah punya pewaris. Nah .... Yang membuat kenalan saya cepat sembuh itu, semangat untuk mendidik ahli warisnya, Pak! Ia tidak rela perusahaan yang dibangunnya itu diambil alih oleh Si Pengkhianat.


Pak Herman juga harus begitu! Anak laki-laki Bapak juga pasti masih membutuhkan bimbingan Bapak dalam menjalankan perusahaan. Karena setau saya, menjalankan perusahaan itu banyak tantangannya, Pak!"


"Iya, Pa .... Bagas masih butuh bimbingan Papa untuk melawan pesaing-pesaing kita nih .... Cepat sembuh dong, Pa ..." kata Putra Pak Herman tiba-tiba. James yang tidak menyadari kehadiran Bagas, dikagetkan dengan suara yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.


"Papa ingat kata Bu Reny kemarin, kan? Asal semangat latihan dan terapi, bisa sembuh total kok, Pa!" Putrinya ikut menyemangati Sang Ayah.


"Betul! Kenalan saya itu sekarang sudah hampir seperti semula lho. Padahal sebelumnya keadaannya persis banget sama Pak Herman! Jadi ... yang penting harus sabar dan tetap semangat! Harus optimis, Pak!" James ikut menambahi.


Pak Herman tertegun melihat ketiga anak muda yang menyemangatinya dengan menggebu-gebu. Kembali ia diingatkan bahwa masih ada anak yang membutuhkannya. Ia juga masih memiliki perusahaan yang harus ia jaga.


"Iya. Haya akang koba, " katanya sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya. James dan kedua anak Pak Herman ikut tersenyum. Mereka dapat melihat sebuah tekad di mata Pak Herman.


Di sisi lain James merenung dalam hati. Kehidupan manusia memang saling mempengaruhi. Sebelumnya ia yang belajar arti hidup dari nenek Farida. Sekarang ia yang membagikan pengalamannya kepada orang lain, meskipun bukan pengalaman yang ia alami langsung.

__ADS_1


James jadi teringat sebuah pepatah yang mengatakan batu menajamkan batu, manusia menajamkan sesamanya. Hidup manusia memang harus sama-sama belajar agar bisa menjadi lebih baik lagi.


...****************...


__ADS_2