Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Pelajaran Hidup (2)


__ADS_3

James menunggu kedatangan bu Reny di ruang konselor. Ia bingung harus berbuat apa. Kalau terlalu lama di bangsal, ia juga takut salah kata jika dihampiri keluarga pasien seperti tadi.


Apalagi dengan adanya perkembangan situasi terbaru yang tidak diduga James, seperti kakek Suroto yang akan dipulangkan padahal menurut James beliau belum siap, atau sebaliknya keluarga nenek Farida yang minta pulang padahal belum ada izin dokter. Jadi, James memilih menunggu Bu Reny. Ia juga ingin tahu bagaimana bu Reny menyikapi masalah ini.


James menunggu sambil membaca artikel tentang kesehatan. Kembali ia mencari tahu di google apa itu Hb, kisaran angka normalnya, dan berapa angka Hb yang bisa dinyatakan aman agar pasien rawat inap boleh dipulangkan.


Seperti halnya kemarin, sekitar jam 11 kurang bu Reny memasuki ruang konselor umum.


"Bagaimana? Ada kabar baru tentang pasien kita, Pak James?" tanya Bu Reny begitu ia melihat James sudah duduk di depan meja kerjanya.


James pun bangkit dari tempat duduknya dan berpindah mendekati Bu Reny yang duduk di sofa.


"Ada, Bu. Dokter Bedah yang merawat kakek Suroto sudah menyarankan agar kakek dipulangkan. Tinggal menunggu izin dari Dokter Penyakit Dalamnya. Tadi waktu saya ke sana Dokter Penyakit Dalamnya belum visit, " lapor James.


"Mengenai nenek Farida, keluarganya minta pulang. Saya hanya bisa menyarankan mereka langsung bertanya pada dokter yang merawat nenek pada saat kunjungan dokter nanti. Tetapi dari bocoran perawat, sepertinya belum bisa, karena Hb nenek masih 8-an dan ada rencana transfusi 2 kantong lagi, " lanjut James.


"Untuk Pak Herman, tidak ada perubahan rencana terapi. Tapi tadi saya belum mengunjunginya karena beliau sedang difisioterapi." James mengakhiri laporannya.


Bu Reny manggut-manggut ketika mendengarkan laporan James. "Ya sudah. Ayo, kita langsung ke sana saja!" ajak Bu Reny sambil bangkit dari tempat duduknya.


James pun mengikuti Bu Reny dari belakang. Mereka bergegas menuju bangsal Bakung.


Sesampainya di sana, Bu Reny langsung menuju ke nurse station lebih dahulu. "Selamat siang .... Bagaimana kabar kakek Suroto? Apakah sudah ada izin pulang dari Dokter Penyakit Dalamnya?" Bu Reny bertanya pada perawat yang sedang bertugas.


"Selamat siang, Bu Reny .... Kakek Suroto sudah boleh pulang. Kontrol berikutnya akan dilakukan di puskesmas. Sekarang beliau sedang bersiap-siap. Kami juga sedang menyiapkan obat-obatan untuk diminum di rumah, " jawab Si Perawat.


"Kalau begitu, kami langsung masuk dulu yah ..." pamit Bu Reny.

__ADS_1


"Silakan, Bu ...."


Bu Reny dan James langsung menuju kamar kakek Suroto yang juga dihuni empat pasien lainnya. Terlihat Si Kakek sedang memasukkan barang-barangnya yang tidak terlalu banyak ke sebuah tas kumal di hadapannya. Ia juga sudah tidak lagi mengenakan baju pasien, melainkan sudah diganti dengan kemeja yang warnanya sudah pudar.


Terlihat raut wajah penuh kebingungan dan kegelisahan ketika ia melakukannya, seolah belum siap untuk kembali bertarung dengan kehidupan di luar sana. Terkadang gerakan tangannya terhenti dan sorot matanya mengambang, menunjukkan kalau pikiran Sang Kakek sedang berkelana.


Di sebelah ranjangnya, sebuah tongkat kruk tersandar. Melihat itu, James sedikit lega. Setidaknya kakek sudah memiliki alat bantu untuk membantunya berjalan.


"Selamat siang, Kakek ...." Bu Reny memberikan salam sambil tersenyum ramah.


Kakek Suroto yang mendengar ada seseorang yang menegurnya segera mengangkat wajahnya dan menghentikan aktivitasnya. Ketika mata James bertemu dengan mata Si Kakek, James ikut mengucapkan salam, "Selamat siang, Kek ...."


Melihat kedatangan mereka, Kakek Suroto pun tersenyum dan membalas salam keduanya, "Selamat siang, Bu .... Selamat siang, Nak ...."


"Sudah siap pulang, Kek?" tanya Bu Reny.


Bu Reny mengerti kegelisahan Kakek Suroto. "Benar. Siap tak siap, Kakek harus kembali bertarung dengan kehidupan. Namun, akan sangat membantu jika Kakek ingat kalau Kakek tidak sendirian."


"Saya sendirian, Bu .... Anak laki-laki satu-satunya yang saya miliki saja tidak bisa saya harapkan. Ia meninggalkan saya ...." Kakek Suroto menyanggah perkataan Bu Reny dengan kepahitan yang sangat terlihat di wajahnya.


"Saya tidak berbicara tentang anak lelaki Kakek. Saya berbicara tentang Sang Khalik, Kek. Pencipta Kakek, yang memelihara hidup dan Sang Pemberi rezeki, " jawab Bu Reny. Kakek Suroto terdiam dengan jawaban Bu Reny, seolah sedang diingatkan sesuatu yang sangat penting yang ia lupakan.


"Coba lihat, selalu ada pemeliharaanNya yang sempurna dalam hidup Kakek, kan? Sekalipun Kakek sakit, Kakek tidak perlu memikirkan biaya perawatan. Biaya operasi, obat-obatan, sampai tongkat ini, " kata Bu Reny sambil mengambil tongkat kruk yang tadi tersandar di sebelah ranjang.


"Semua dicukupkan buat Kakek. Sekalipun Kakek kehilangan sebuah kaki, tongkat ini diberikan sebagai pengganti kaki Kakek. Kakek masih hidup dan bernapas pun karena belas kasihNya. Mungkin berat ketika menjalani hidup, tetapi Ia yakin Kakek pasti mampu melaluinya asal berjalan bersama denganNya. Kakek mau percaya dan mengandalkanNya?" tanya Bu Reny.


Kakek Suroto terdiam dan tertunduk. James sangat mengerti kegalauan Kakek Suroto. Tidak mudah memang berkata-kata dalam iman sedangkan di depan mata ada kesulitan yang menghadang.

__ADS_1


Bu Reny menyerahkan tongkat kruk itu kepada Kakek Suroto. "Kakek sudah mencobanya?" tanyanya.


"Sudah, " jawab Si Kakek pendek sambil mengambil tongkat dari tangan Bu Reny.


"Bagaimana? Ada kesulitan dalam menggunakan ini?" tanya Bu Reny lagi.


"Awalnya sulit karena belum tahu caranya. Tapi tadi setelah beberapa kali mencoba, pelan-pelan saya mulai bisa."


"Boleh tunjukkan pada saya, Kek?" tanya Bu Reny sambil tersenyum.


Dengan sedikit keengganan, Kakek Suroto mengapit tongkat kruk tersebut di ketiaknya. Lalu dengan perlahan ia mencoba melangkah dengan bantuan tongkat tersebut. Kaki sebelahnya yang sehat menjadi tumpuan untuk menyeimbangkan langkahnya.


Usaha Kakek Suroto berjalan perlahan mengitari kamar rawat inapnya mengundang perhatian pasien yang lain. James sendiri memperhatikan langkah Kakek Suroto dengan harap-harap cemas. Jujur saja, ia takut Kakek Suroto terjatuh. Namun dengan perlahan tapi pasti, Kakek Suroto berhasil mengitari kamar tersebut dan kembali ke hadapan Bu Reny.


"Bisa kan, Kek? Walaupun sulit, walaupun pelan, Kakek bisa melaluinya, kan? Hidup juga begitu, Kek .... Kakek pasti bisa!" kata Bu Reny sambil tersenyum.


Mata Kakek mulai berkaca-kaca. Dan di saat itu, James bertepuk tangan, diiringi empat pasien lainnya yang tadi ikut memperhatikan perjuangan Sang Kakek. Mereka merayakan keberhasilan Sang Kakek berjalan dengan kakinya sendiri.


"Semangat, Kek! Kakek pasti bisa!" seru salah seorang pasien yang dirawat di ruang yang sama dengan Kakek Suroto.


Kakek Suroto hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menyeka air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya. Namun ketika ia kembali menengadahkan kepalanya, James dapat melihat ada semangat di sinar matanya.


James bersyukur Kakek Suroto bisa bersemangat kembali. Ia berdoa semoga Kakek Suroto dimampukan untuk menjalani hidupnya yang pastinya semakin berat dengan keadaannya yang sekarang. Semoga Tuhan selalu menyertai dan memberi kekuatan pada kakek.


Di sisi lain, James makin terkagum dengan Bu Reny. Walaupun Bu Reny juga melakukan pendekatan spiritual seperti rencana James, tetapi Bu Reny dapat membawa suasana mengalir secara alami. Tak ada kesan Bu Reny menggurui atau mengasihani Sang Kakek. Yang ada hanyalah dukungan yang tulus.


James harus banyak belajar. Masih ada dua pasien lagi yang menanti mereka. Mereka pun bersiap menuju ke pasien selanjutnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2