
Beberapa hari kemudian, kabar yang ditunggu Andreas tiba. Samuel mengatakan putrinya setuju untuk bertemu dengan calon yang merupakan anak dari teman baik Sang Ayah. Samuel juga menyertakan nomor HP putrinya agar anak-anak mereka nanti dengan mudah dapat saling mengatur jadwal dan tempat pertemuan sendiri.
Tentu saja kabar gembira ini langsung dilanjutkan Andreas kepada Darrell.
"Segeralah kamu atur waktu dan pekerjaanmu! Bikin janji, lalu temuilah putri teman Papa itu di kota B. Coba lihat ini! Dia cantik, kan?" kata Andreas memamerkan foto yang dikirimkan Samuel padanya.
Darrell melirik foto yang terdapat di HP milik ayahnya itu. Sedikit-banyak, ia juga penasaran dengan wajah calon pasangannya.
Di sana terpampang wajah seorang gadis cantik dengan rambut pendek yang dipotong model bob layer. Gadis itu sedang tersenyum dan memperlihatkan sepasang lesung pipit yang menghiasi pipinya. Matanya besar dengan ujung menghadap ke atas, seperti mata kucing. Yah .... Cukup cantik juga ... kata Darrell dalam hati.
Darrell pun berjanji pada ayahnya bahwa ia akan menghubungi gadis itu setelah ia mengatur jadwalnya dan menyelesaikan pekerjaannya satu-persatu. Ia meminta ayahnya bersabar dan mempercayakan pertemuan itu padanya. Karena itu Andreas mundur dan memilih untuk mempercayai perkataan Sang Putra.
Tiga hari berlalu. Andreas melihat Darrell masih berkutat dengan pekerjaannya. Karena itu, Andreas menanyakan langkah yang sudah dijalankan Darrell terkait dengan pertemuan itu. Tetapi rupanya Darrell belum melakukan apapun. Ia masih sibuk mengurus pekerjaannya yang memang dapat dikategorikan padat.
Darrell meminta ayahnya kembali bersabar. Bukankah ayahnya sendiri yang menyuruhnya mempertahankan prestasi kerjanya? Kalimat itu membuat Andreas terdiam dan kembali mundur teratur.
Seminggu berlalu. Kesabaran Andreas mulai menipis. Ia tidak enak pada Sammy dan putrinya yang bisa jadi menunggu kabar mereka. Karena itu, ia kembali mendatangi putranya untuk menanyakan persiapan pertemuan yang sudah dilakukan Darrell.
"Kamu sudah menghubungi gadis itu?" tanya Andreas di ruang kerja Darrell.
Darrell terlihat sedang sibuk memeriksa berkas yang menumpuk di mejanya. Tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang ia periksa, Darrell menjawab pertanyaan Andreas dengan satu kata, "Belum."
Andreas mulai gusar. "Kamu serius ga sih mau dijodohkan?!" tanyanya melihat sikap Darrell yang terkesan acuh tak acuh dengan perjodohan.
"Serius kok. Tetapi pekerjaanku banyak. Tuntutan Papa juga ga main-main. Papa ingin divisiku tetap meraih peringkat penjualan terbaik di kuartal berikutnya, kan?" jawabnya santai tanpa emosi.
Andreas menghela napas. Terkadang menghadapi Darrell memang butuh kesabaran tingkat tinggi. "Iya! Tapi mau sampai kapan? Ga bisakah kamu mengatur pekerjaanmu berdasar skala prioritas? Tidak semua harus diselesaikan, kan? Pasti ada yang bisa ditangguhkan!"
"Bagaimana dengan putri teman papa itu? Apa gadis itu juga serius mau dijodohkan denganku?" Tiba-tiba Darrell balik bertanya. Namun pandangannya masih terfokus pada berkas yang ada di hadapannya.
"Tentu saja dia serius! Jika tidak, mana mungkin ia menyerahkan nomor kontaknya dan mengirimkan fotonya padamu!" bela Andreas.
"Kalau begitu, kenapa ga dia yang mencoba menghubungiku lebih dulu untuk mengatur jadwal pertemuan? Atau dia yang datang ke kota ini misalnya? Apalagi Papa bilang dia masih mahasiswi, kan? Tentunya kesibukannya tidak bisa dibandingkan denganku, " sanggah Darrell.
Amarah Andreas mulai menanjak. "Dia perempuan, Darrell! Ini di Timur! Bukan Barat! Ada etikanya di mana laki-laki yang harus mendatangi Si Perempuan, apalagi di pertemuan pertama! Kalau kau memang serius mau dijodohkan, akhir pekan ini kamu harus mengunjunginya! Jangan bikin malu Papa!"
Mendengar nada suara ayahnya yang mulai naik, Darrell menghentikan aktivitasnya dan memandang Sang Ayah. Ia bukannya tidak serius dengan perjodohan ini, tetapi baginya pekerjaannya di perusahaan ini lebih penting. Ia mulai menikmati prestasi yang dapat diukirnya. Bagaimana dengan usahanya ia berhasil mencapai target yang ia tetapkan.
"Apakah sepenting itu perjodohan ini, Pa? Bukankah gadis itu pun masih kuliah?" tanya Darrell dengan suara rendah sambil memandang ayahnya.
"Ya! Penting! Ia bagian dari rencana Papa agar kamu dapat mengalahkan Celine. Kekuatan perusahaan papanya kelak bisa menjadi kekuatanmu. Tetapi karena Papa ingin menghargai perasaanmu, makanya Papa membiarkan kalian menjajaki kecocokan kalian masing-masing di pertemuan kali ini. Papa tidak memaksa kalian harus jadi, tapi serius sedikitlah dengan perjodohan ini!" pinta Andreas.
Gantian Darrell yang menghela napas. "Baiklah. Habis ini aku akan langsung menghubunginya. Kalau gadis itu ada waktu untuk bertemu Sabtu ini, aku akan langsung mencari tiket penerbangan ke sana, " putus Darrell memilih untuk mengalah.
__ADS_1
"Bagus! Jangan kau tunda-tunda lagi!" sahut papanya seraya meninggalkan ruangan anaknya.
Tinggallah Darrell di ruang kerjanya sendirian, masih terpaku memandang pintu yang ditutup ayahnya dengan sedikit gebrakan. Sepertinya kesabaran ayahnya memang sudah di ujung tanduk. Dengan sedikit berat hati, ia mengeluarkan HP-nya dari saku, dan menghubungi gadis putri teman papanya itu.
...****************...
Hari Sabtu, Darrell sudah ada di kota B. Ia sedang mencari kafe yang menjadi tempat janjian pertemuan dirinya dengan gadis itu.
Awalnya Darrell sedikit terkejut ketika Si Putri memilih bertemu di kafe. Ia kira, yang namanya pertemuan resmi dalam rangka perjodohan anak pengusaha terkemuka, akan diadakan setidaknya di restoran bintang lima.
Untuk itu, ia sedikit bersyukur. Ia agak canggung jika harus bersikap formal di perjodohan pertama yang ia ikuti ini. Setidaknya sepertinya ada satu kecocokan antara dirinya dan Sang Putri, mereka sama-sama memilih menghadapi pasangannya satu lawan satu tanpa didampingi orang tua masing-masing. Mungkin Si Putri juga lebih memilih suasana akrab dan santai, daripada suasana formal yang menyesakkan.
Kembali Darrell mencocokkan nama kafe yang ada di hadapannya dengan nama yang tertera di pesan singkat yang dikirim Si Putri. Setelah yakin ia tidak salah tempat, Darrell pun memasuki kafe itu.
Suasana kafe itu cukup nyaman dan menenangkan. Pengunjung di sana tidak terlalu banyak, namun juga tidak terlalu sedikit. Cukup cocoklah untuk sebuah pertemuan pertama. Diam-diam, Darrell mengakui kepintaran Gadis itu dalam memilih tempat pertemuan.
Darrell mengedarkan pandangannya memperhatikan wajah pengunjung di sana. Namun ia tidak menemukan wajah yang mirip dengan foto yang ia peroleh. Mungkin gadis itu belum tiba, pikir Darrell. Ia pun melihat jam tangannya yang memang menunjukkan waktu 10 menit lebih cepat dari waktu pertemuan yang dijanjikan. Karena itu Darrell segera memilih tempat duduk di dekat jendela kaca dan memesan minum lebih dahulu.
Dari jendela, ia dapat melihat area parkir yang ada di depan kafe. Tak lama kemudian, sebuah mobil sport berwarna putih datang dan diparkir di sana. Dari dalamnya, keluarlah seorang gadis berambut pendek bergaya kasual dan mengenakan kacamata hitam. Perawakannya mirip dengan gadis yang ada di foto.
Dada Darrell mulai bergemuruh. Ketegangan mulai melingkupinya. Sepertinya gadis yang akan dijodohkan olehnya sudah tiba.
Darrell bukannya tidak punya pengalaman dengan wanita sama sekali. Banyak wanita yang silih berganti singgah dalam hidupnya. Namun tak ada yang ia tanggapi dengan serius. Mereka sendiri yang menawarkan diri mengisi hari-harinya. Selama hal itu tidak mengganggunya, ia menerima kehadiran mereka begitu saja sampai akhirnya mereka sendiri yang memutuskan hubungan karena tidak tahan dengan sikapnya.
Sesuai dugaan Darrell, gadis itu pun masuk dan juga mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sepertinya dikenalnya. Sepertinya ayahnya juga mengirimkan fotonya sebagai balasan foto yang dikirimkan ayah gadis itu.
Darrell menelan ludah untuk menenangkan diri. Lalu ia berdiri dan melambaikan tangannya agar gadis itu dapat melihat posisinya.
Gadis itu melihat dirinya dan segera menghampiri tempat duduknya. "Maaf .... Sudah lama menunggu?" sapa gadis itu ramah.
"Belum. Silakan duduk ..." jawab Darrell.
Alih-alih duduk, gadis itu malah menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepalanya dan menatap Darrell tajam dengan mata kucingnya. Darrell sedikit canggung ditatap seperti itu. Namun hanya sedetik kemudian, gadis itu kemudian tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya, lalu mengulurkan tangannya. "Rebecca," katanya memperkenalkan diri.
"Darrell, " kata Darrell sambil menyambut uluran tangan itu.
Keduanya pun duduk setelah saling menyebutkan nama masing-masing. Gadis itu kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, lalu memesan minuman. Dari gayanya, sepertinya tempat ini sudah biasa disinggahi Si Gadis.
"Baru pulang kuliah?" tanya Darrell membuka percakapan.
"Tidak. Baru bertemu teman, " jawab gadis itu lugas.
Hening sesaat. Darrell bingung harus berbicara apa lagi. Untunglah gadis itu gantian yang melanjutkan pembicaraan. "Sepertinya kamu berdarah campuran. Campuran apa?" tanya Rebecca tanpa filter.
__ADS_1
Darrell sedikit tertegun dengan pertanyaan langsung tanpa basa-basi begitu. Dari orang-orang Timur yang ia temui selama ini, jarang ada yang menyinggung langsung darah campurannya, karena topik tersebut termasuk kasus sensitif yang menyinggung bangsa dan ras.
"Eropa. Mamaku dari Prancis. Apakah ada masalah?" tanya Darrell dengan alis bekernyit. Mungkinkah gadis ini juga mementingkan darah murni seperti kakeknya sebagai standar dalam menentukan pasangan?
"Tidak. Tanya aja, " jawab Rebecca asal. Saat itu pelayan datang dan menghantarkan pesanan minumannya. Gadis itu mengucapkan terima kasih dan mulai mengaduk-aduk minumannya.
Hening lagi. Darrell benar-benar mati kutu menghadapi gadis ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan membicarakan apa. Ia juga tidak bisa menebak apa yang dipikirkan dan apa yang akan ditanyakan gadis di depannya. Tetapi dengan gaya acuh tak acuhnya yang biasa, ia pura-pura bersikap santai.
"Ap- " Darrell mencoba membuka pembicaraan lagi dengan niat mengajukan pertanyaan seputar hobi gadis itu. Tetapi rupanya gadis itu sudah mendahuluinya mengajukan pertanyaan.
"Kamu dari keluarga mana?" tanya Rebecca.
Darrell terdiam sesaat. Apakah gadis ini tidak diberitahu ayahnya? Apakah gadis ini sekedar mengikuti perjodohan begitu saja? Dari sikap dan pertanyaannya, Darrell memang merasa ini bukanlah kali pertama Rebecca mengikuti perjodohan. Sepertinya Sang Gadis ingin berhadapan dan menilai sendiri para pria yang dijodohkan padanya.
"Adipratama. Nama panjangku Darrell Adipratama. Memangnya ayahmu tidak memberitahumu?" Darrell balik bertanya.
Tetapi pertanyaan itu seperti lewat begitu saja dari telinga Rebecca. Alisnya bekernyit begitu mendengar nama keluarga Darrell. Matanya melirik ke atas seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
Tiba-tiba air mukanya berubah. Senyum ramah mengembang di wajahnya. Matanya berbinar karena menemukan apa yang dicarinya. "Kamu siapanya Celine?" tanya Rebecca. (noted: Rebecca memang memiliki kebiasaan untuk mengingat nama keluarga seseorang sebagai bagian dari penerapan ilmu bisnisnya - eps 64 Cukup Lawan Aku).
Kembali Darrell tertegun karena gadis ini mengenal sepupunya. "Celine saudara sepupuku. Kami sama-sama bekerja di perusahaan keluarga," jawab Darrell.
"Wah .... Gimana kabar Celine? Sudah lama kami tidak bertemu. Terakhir kali kami bertemu mungkin sudah setahun lebih, " cerocos Rebecca tanpa ditanya.
"Dia baik. Kami berdua sama-sama sedang menjadi topik utama di perusahaan, " ujar Darrell mencoba memancing gadis di depannya.
"Eh? Maksudnya?" tanya Rebecca tak mengerti arah pembicaraan Darrell.
"Kinerja kami sedang dibandingkan. Ada beberapa orang yang mencoba mengkaji ulang siapa yang lebih cocok menjadi pewaris di antara kami. Bagaimanapun, aku juga Adipratama, kan? Jabatan kami sekarang pun sama-sama Direktur, " ucap Darrell dengan senyum miring di wajahnya.
Alis Rebecca bekernyit makin dalam. "Bukankah sudah ditetapkan bahwa Celine adalah pewaris sah perusahaan?"
"Betul. Tapi itu dulu, sebelum aku masuk. Sekarang, dengan prestasiku yang mengalahkan divisinya tiga kali berturut-turut, bukankah ada baiknya jika keputusan itu ditinjau ulang demi kemajuan perusahaan?" kata Darrell dengan gaya sombong.
Splash .... Segelas minuman disiramkan ke wajah Darrell. Darrell terkejut dengan serangan yang tiba-tiba dilancarkan padanya.
Di hadapannya, tampak wajah berang Rebecca memandangnya. Gelas minuman kosong di tangan kanannya jelas menunjukkan siapa yang baru saja menyiram Darrell.
"Kamu br*ngs*k!" desis gadis itu. Detik berikutnya, gadis itu segera meletakkan gelas kosongnya di meja dan berbalik pergi meninggalkan kafe.
Darrell yang masih terbengong hanya bisa memandangi kepergian Rebecca. Setelah ia melihat mobil gadis itu benar-benar telah meninggalkan area parkir, Darrell baru menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia mengambil saputangan dari sakunya, dan berusaha membersihkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak menertawakan apa yang baru saja terjadi.
Gadis yang menarik ... katanya dalam hati.
__ADS_1
...****************...