
Joseph melihat Celine menuruni tangga pelataran gedung kantor. Dengan segera ia menghampiri gadis itu. "Nona .... Pak Darwis mendadak sakit. Beliau meminta saya menggantikan beliau untuk mengantar Nona, " katanya.
"Baiklah. Tolong antar saya ke restoran X yah, Pak ..." sahut Celine.
"Tapi, Nona .... Sebenarnya saya juga mendapat tugas untuk mengambil sampel bahan baku yang diminta bagian produksi. Jadi sebaiknya gimana?" tanya Joseph.
"Bapak antar saya dulu ke restoran, setelah itu Bapak lanjutkan tugas Bapak. Kalau Bapak nanti ditegur karena agak terlambat, bilang saja karena Bapak dapat tugas mendadak untuk mengantar saya. Kalau kepala produksi tidak percaya dengan Bapak, mereka boleh konfirmasi langsung ke saya," tegas Celine.
"Baik, Nona, " jawab Joseph dengan berseri karena mendapatkan jalan keluar terbaik dari Celine.
Tetapi sedetik kemudian, ia teringat dengan satu hal yang mengganjal hatinya. "Maaf, Nona .... Berarti saya mengambil sampel dengan mobil Nona? Ga ... ga bisa pake mobil dinas saja?" Joseph bertanya dengan keraguan.
Celine tersenyum. Ia mengerti apa yang dikhawatirkan pria di depannya ini. "Iya, Pak. Pakai mobil saya saja. Nanti kalo bolak-balik ganti mobil lagi akan buang waktu. Bawa santai saja. Anggap saja sama dengan mengendarai mobil dinas. Lagian, saya juga mengharapkan Bapak secepatnya bisa kembali untuk menjemput saya. Jadi saya bisa kabur dari perjodohan lebih cepat," jawab Celine sambil mengulum senyumnya penuh makna.
"Baik, Nona. Setelah menyelesaikan tugas saya, saya akan segera kembali menjemput Nona," kata Joseph yang tanggap dengan keadaan Celine. Keraguannya segera hilang begitu ia menyadari bahwa nonanya membutuhkan pertolongannya untuk cepat kembali.
"Terima kasih, Pak. Ini nomor telepon saya. Kabari saya secepatnya kalau Bapak sudah tiba yah. Jadi, saya bisa segera mencari alasan untuk meninggalkan lokasi," sahut Celine sambil memberikan kartu namanya.
"Siap, Nona."
Tanpa menunda lagi, melajulah BMW hitam milik Celine menuju ke lokasi perjodohan. Sepanjang jalan, Joseph mencari kesempatan untuk melihat nonanya lewat kaca spion. Dan sepanjang jalan itu juga, posisi Celine tetap sama.
Gadis itu terus menatap keluar jendela seolah sedang menikmati pemandangan di luar sana. Tetapi Joseph tahu, nonanya sedang menyimpan beban berat dalam benaknya. Wajah cantik itu sendu. Dari pembicaraan sekilas tadi, kemungkinan penyebabnya adalah perjodohan yang tidak diinginkan ini.
Tidak lama kemudian mobil sampai di tempat yang dituju. Sebelum keluar dari mobil, Celine menyempatkan diri untuk kembali mengingatkan Joseph. "Jangan lupa kabari saya jika sudah di sini lagi ya, Pak ..." katanya.
"Baik, Nona ..." jawab Joseph.
Celine pun segera menuju ke pintu masuk. Dan setelah melihat Celine memasuki gedung, Joseph pun melajukan mobilnya untuk melanjutkan tugas berikutnya.
Seorang penerima tamu berkemeja putih dan berdasi kupu-kupu, menyapa Celine. "Selamat malam, Bu .... Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sikap sopan dan ramah.
"Boleh antar saya ke meja yang sudah direservasi atas nama Tuan Stanley Gunawan Tirta?" Celine balik bertanya.
"Boleh saya tahu nama Ibu?" tanya penerima tamu itu lagi.
"Saya Celine Adipratama, " jawab Celine pendek.
"Ibu sudah ditunggu beliau. Silakan ikuti saya ..." katanya sambil mengarahkan Celine masuk ke dalam restoran.
Seorang pria perlente mengenakan jas hitam formal, segera berdiri dari kursinya ketika melihat Celine sedang berjalan ke arahnya. Dengan sigap ia mendekati Celine dan berkata kepada Sang Penerima Tamu, "Sampai sini saja. Selanjutnya biar saya yang antar."
__ADS_1
Mendengar itu, Si Penerima Tamu segera undur diri. Segera setelah penerima tamu itu pergi, pria itu langsung memegang tangan Celine.
"Nona Celine, perkenalkan saya Stanley Gunawan Tirta, calon pewaris Perusahaan Gunawan Persada, " katanya sambil membawa tangan gadis itu ke arah bibirnya, mengikuti adegan-adegan perkenalan di film bangsawan Eropa.
Dengan sigap, Celine langsung menjabat tangan pria itu dan mengayunkannya dengan sedikit hentakan, sehingga mereka menjadi berjabat tangan ala rekan bisnis biasa. "Salam kenal Tuan Gunawan Tirta ..." katanya sambil tersenyum manis.
Pria itu tertegun. Tetapi dengan segera ia kembali dapat mengatur ekspresinya dan tersenyum miring. "Mari saya antar ke meja yang sudah dipersiapkan untuk kita, " katanya sambil menunjuk ke arah meja di dekat jendela kaca yang berjarak 3 meter dari mereka.
Celine mengangguk dan mengikuti pria itu. Tetapi di dalam perjalanan yang pendek tersebut, pria itu mensejajarkan dirinya dengan Celine hingga sekarang ia tepat berjalan di samping Celine. Dan tanpa canggung, tangan pria itu melingkari pinggang Celine, seperti layaknya seorang pria yang sedang menuntun kekasihnya.
Celine yang sontak merasakan itu, segera mempercepat langkahnya. Bahkan tanpa menunggu kursi ditarik untuknya, ia segera duduk di salah satu kursi yang ada di meja tersebut.
Dengan senyum yang dipaksakan, ia bertanya hanya sekedar untuk berbasa-basi, "Saya duduk di meja yang benar, kan?"
Pria itu tersenyum dengan gaya sok keren. "Benar. Saya sudah memilihkan tempat duduk terbaik di ruangan ini. Dari sini kita bisa melihat lampu-lampu teras akan dinyalakan yang akan menambah suasana romantis. Semoga kita berdua dapat menikmatinya."
"Ya. Semoga, " kata Celine asal menjawab. Kesan pertama Celine pada pria ini sudah jelek. Tangan pria ini terlalu ringan. Syukurlah sekarang posisi mereka sudah dipisahkan oleh meja. Setidaknya saat ini ia berharap, tangan pria itu tidak menyentuhnya kembali.
Di tempat lain, Joseph sudah mengambil sampel dan sekarang ia sudah kembali ke kantor. Ia segera ke bagian produksi lalu menyerahkan sampel tersebut.
Sekarang, ia harus kembali ke restoran untuk menjemput nona Celine. Ketika melewati pelataran, ia melihat sosok pria dengan gaya yang tak lazim ditemui di kantor elite seperti ini. Pria itu mengenakan kemeja yang dibiarkan dalam keadaan tidak terkancing, dan menggendong ransel di punggungnya.
Setelah diteliti lagi, sepertinya ia mengenal pria tersebut. "Pak James! Pak James, kan?" panggilnya.
Joseph tertawa. Dugaannya benar. "Ya. Apa kabar, Pak?" sapanya dengan ramah.
Setelah bercakap-cakap sejenak, Joseph teringat Bu Celine sedang menanti dirinya. Namun, ia juga tidak enak meninggalkan mantan rekan kerjanya di sini sendirian tanpa kejelasan. Karena itu, ia merasa perlu memastikan tujuan kedatangan Pak James ke sini.
"Maaf, Pak. Saya harus pergi. Masih ada yang harus saya kerjakan. Apakah Pak James kemari mencari Bu Celine?" Joseph mengulang pertanyaannya.
"Iya. Tapi Celine tidak tau kalau saya di sini. Tadinya saya berniat memberikan kejutan padanya, " jawab Pak James.
Joseph tertawa. Ia merasa ini suatu kesempatan yang baik mengingat betapa sendunya wajah cantik itu dari tadi. Mungkin dengan kejutan berupa kedatangan Sang Kakak, nonanya akan terhibur.
"Oh .... Baiklah kalau begitu. Akan saya bantu! Kebetulan sekali sekarang saya akan menjemput beliau kembali dari tempat perjodohannya. Pak James tunggu saja diam-diam di sini yah! Tidak lama kok!" katanya. Dan tanpa menunda lagi, ia segera pergi meninggalkan Pak James untuk menjemput nona malaikatnya.
...****************...
Bunyi telepon membuat Celine berharap. Dengan segera ia membuka tas tangannya dan meminta izin pria di depannya untuk mengangkat telepon.
"Maaf, saya izin angkat telepon dulu, " ujarnya.
__ADS_1
"Ya, silakan ..." kata pria di depannya dengan senyum yang dipaksakan.
Pada layar HP-nya tertera nomor yang tidak dikenal. Namun Celine menduga, besar kemungkinan yang menghubunginya adalah Pak Joseph. Dengan bersikap seolah mendapat panggilan penting, Celine memasang wajah serius. "Halo?" katanya menjawab panggilan tersebut.
"Nona .... Saya sudah di tempat parkir restoran, " ujar Joseph dari seberang telepon.
"Baiklah. Cobalah untuk bersikap tenang. Kendalikan suasana sebisanya, saya akan segera ke sana, " jawab Celine asal, lalu mematikan telepon.
"Maaf, sepertinya saya harus segera kembali. Tadi manajer saya telepon, ada wakil dari perusahaan yang bekerja sama dengan kami, datang ke kantor dan mengajukan protes. Sepertinya ada kesalahpahaman dan saya harus meluruskannya. Terima kasih atas jamuan makan malamnya. Maaf kalau saya tidak bisa menemani Anda sampai hidangannya selesai disantap, " kata Celine sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak masalah. Apa boleh buat kalau memang terjadi situasi pelik di perusahaan yang tidak bisa ditunda. Kita akan mencari waktu lain untuk menggantikan kebersamaan kita kali ini. Sekarang, biarkan saya mengantar Nona, " kata Stanley sambil ikut bangkit berdiri dan menjaga ekspresinya agar terlihat penuh pengertian.
Melihat itu, Celine langsung mencegahnya. "Jangan, Tuan! Saya makin merasa bersalah jika Tuan sampai meninggalkan makanan Anda hanya untuk mengantar saya. Tuan tetap di sini saja melanjutkan menyantap makanan yang lezat ini. Saya bisa berjalan sendiri ke pintu keluar. Terima kasih atas kepedulian Anda pada saya, " tolak Celine sopan dengan senyum termanisnya.
Stanley mati kutu dan tidak bisa berkata-kata lagi. Dan kesempatan itu dimanfaatkan Celine untuk segera membalikkan badannya dan pergi meninggalkan pria itu beserta makanan yang masih tersisa di mejanya.
Sesungguhnya dari tadi ia sudah tidak sabar untuk dapat meninggalkan tempat itu. Bukan karena makanannya tidak enak, tetapi sikap Stanley sungguh membuatnya tidak nyaman.
Setidaknya satu hal yang ia perlu syukuri adalah, ia tidak perlu susah-susah mencari alasan ke ayahnya untuk menolak perjodohannya dengan pria itu. Sikap Stanley sudah lebih dari cukup untuk membuat namanya dicoret dari daftar nama calon suaminya.
Joseph yang dari tadi sudah mengulum senyum di tempat parkir, segera membukakan pintu belakang mobil ketika melihat Celine keluar dari restoran. Dari ucapan absurd nonanya tadi di telepon, ia sudah dapat menduga bahwa Sang Nona sedang bersandiwara untuk dapat melarikan diri meninggalkan pasangan perjodohannya.
Dengan harap-harap cemas, ia melanjutkan sandiwaranya setelah Celine duduk di kursi belakang. "Nona .... Boleh kita kembali ke kantor sebentar? Saya sudah mencoba mengendalikan suasana, tetapi sepertinya saya gagal." Ia meminjam dialog Celine di telepon tadi.
Celine terdiam sejenak, berusaha mencerna kalimat Pak Joseph. Awalnya ia mengira Pak Joseph sedang menggodanya karena kalimat absurd yang asal ia ucapkan tadi di telepon. Tetapi kemudian ia teringat dengan janjinya untuk mengkonfirmasi alibi Pak Joseph jika beliau bermasalah dengan bagian produksi.
"Boleh, " jawab Celine pendek.
Demikianlah Joseph melajukan mobil kembali ke kantor dengan hati berdebar, membayangkan sumbangsihnya memberi kejutan kepada Sang Nona akan terlaksana sebentar lagi. Ia tersenyum membayangkan betapa nonanya akan kembali ceria dan terhibur dengan kunjungan kakaknya.
Namun apa daya skenario yang dibayangkannya terpuntir 180°. Bukannya ia membahagiakan nona malaikatnya, ia justru memberikannya masalah baru akibat kesalahpahamannya. Mantan rekan kerja yang selama ini ia kira kakak laki-laki atau sepupu Si Nona, ternyata adalah kekasih nonanya. Hatinya kelu melihat Sang Nona terdiam membatu memandangi punggung kekasihnya yang menjauh.
Joseph memberanikan diri menghampiri Celine. "Nona .... Maaf .... Sebenarnya saya bekerja sama dengan Pak James untuk memberi kejutan pada Nona. Tetapi sepertinya saya telah sembarangan bicara, " katanya dengan penuh penyesalan.
Celine memandangnya dengan senyum pahit. "Sudahlah. Yang namanya kebohongan memang cepat atau lambat pasti terbongkar. Bisa tolong antarkan saya pulang saja, Pak?"
"Baik, Nona ..." jawab Joseph lesu.
Ia pun membukakan pintu belakang mobil untuk Celine. Mobil kembali melaju membelah jalan.
Seperti sebelumnya, di sepanjang jalan Joseph menyempatkan diri untuk mengintip wajah atasannya lewat kaca spion. Posisi Celine tetap sama, terdiam memandangi pemandangan di luar jendela. Wajah cantik yang dari tadi sudah murung, kini bertambah muram. Joseph hanya bisa membiarkan dirinya diliputi perasaan bersalah.
__ADS_1
...****************...