
"CELINEEE!!!"
James terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap melihat langit-langit kamarnya. Kesadarannya pelan-pelan mulai kembali.
Ia sadar ia baru bermimpi. Di dalam mimpinya, ia mencari Celine ke mana-mana. Sampai akhirnya setelah bersusah-payah mencari, Celine berhasil ia temukan. Ia langsung mendekapnya dan ia kemukakan perasaannya.
Awalnya semua begitu manis. Sampai perlahan Celine mulai menghilang dalam dekapannya, seperti bayangan yang memudar. Ia bingung. Ia histeris. Dipanggilnyalah nama Celine berulang kali sambil bertanya apa yang harus ia lakukan agar Celine tidak menghilang. Tetapi Celine hanya tersenyum melihatnya sampai akhirnya ia benar-benar menghilang.
Benar-benar mimpi yang buruk! Untunglah hanya mimpi. Dilihatnya jam tangannya. Sudah pukul 9 lewat. Ia melihat cahaya matahari menembus sela-sela tirai kamarnya. Berarti hari sudah berganti. Sekarang sudah pagi lagi.
Kepala James berdenyut. Ia teringat kemarin ia minum alkohol bersama Pak Joseph. Ia pasti mabuk dan sudah merepotkan Pak Joseph. Ia harus berterima kasih padanya nanti.
Tiba-tiba ia disadarkan dengan satu pikiran yang muncul di kepalanya. Celine? Bagaimana dengan Celine? Apakah ia sudah memutuskan kepergiannya? Apakah mimpi tersebut adalah pertanda bahwa Celine sudah pergi?
Dikertakannya giginya untuk menahan rasa sakit di kepalanya. Dengan segera ia bangkit dari ranjang dan keluar dari kamarnya untuk mencari Celine. Ia menghela napas lega ketika dilihatnya Celine ada di ruang keluarga bersama keluarganya. Celine belum pergi. Celine masih ada.
Tiba-tiba dari belakang telinganya dijewer seseorang. "Bagus .... Pulang dalam keadaan mabuk! Bilangnya cuma bincang-bincang sama teman, tau-tau malah minum-minum! Kamu bikin repot Celine dengan muntah di mana-mana! Untung Alex segera pulang membantunya mengganti bajumu! Uda lupa yah, pengalamanmu mabuk yang menyusahkan orang waktu SMU dulu?! Belum kapok juga?!"
James cuma bisa meringis menahan sakit karena telinganya dijewer mamanya. Belum lagi rasa malu yang menderanya hingga ingin rasanya ia membenamkan mukanya ke tanah. Hancur sudah citra baik yang sudah ia bangun selama ini. Ia sudah memperlihatkan sosoknya yang memalukan dengan menuangkan cairan pelangi dari mulutnya di depan Celine.
__ADS_1
"Maaf, Lin. Bang James sudah merepotkan Celine," katanya dengan canggung pada Celine.
"Gapapa, Bang James, " jawab Celine sambil mengalihkan pandangannya dari James.
James tertegun melihat sikap Celine. Penyesalan muncul di hatinya. Mengapa ia tidak berpikir panjang ketika ditawari minuman beralkohol itu, sehingga Celine harus melihatnya dalam keadaan mabuk? Bahkan bisa-bisanya Celine pula yang mengurusnya ketika hal itu terjadi! Tentu saja, wajar jika Celine jadi sebal dan jijik padanya, bukan?
James melirik abangnya yang juga sudah duduk di ruang keluarga. Alex hanya mengangkat alis dan memutar bola matanya ketika James melihatnya. James terdiam. Tumben-tumbenan Si Abang melewatkan kesempatan untuk meledeknya. Semengenaskan itukah keadaannya sampai Alex tidak tega lagi meledeknya?
"Sudah, sudah! Kita tunda dulu pembahasan tentang mabuknya! Sekarang ada hal lebih penting yang harus kita bahas! Sini kamu, James! Duduk! Kehadiranmu dari tadi sudah ditunggu Celine! Ayo, Ma! Mama juga duduk sini!" kata Papa Heru sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.
Jantung James mulai berpacu. Ada perasaan tidak enak yang menerpanya. Tapi ia tidak bisa lagi menghindar. Yang bisa ia lakukan hanya menuruti apa yang ayahnya perintahkan. Duduk manis dan mendengarkan!
"Tadi, ketika kamu masih tidur, Celine sudah mengutarakan keputusannya. Ia ingin kembali untuk merawat ayahnya. Mengingat kondisinya yang belum diketahui, tadi kami ingin secepatnya memesan tiket pesawat buat Celine. Tapi Celine ga mau. Dia ingin menunggumu bangun lebih dulu, " kata Papa Heru kepada James.
Walaupun sedikit-banyak James sudah memperhitungkan kemungkinan tersebut, tetap saja ia merasa sakit ketika hal itu benar-benar terjadi. Dilihatnya Celine yang masih mengalihkan pandangannya darinya.
"Jadi, kapan mau perginya?" tanya James.
"Lebih cepat, lebih baik. Kita tau sendiri kalau penyakit stroke itu bisa separah apa, " jawab ayahnya.
__ADS_1
"Oke. James mandi dulu biar segar. Habis itu, biar James yang carikan tiket. James ikut terbang mengantar Celine ke kotanya yah ..." kata James meminta izin kepada kedua orang tuanya.
"Kamu kuat, James? Orang kamunya habis mabuk gitu!" tanya Mama Ratna khawatir.
"Bisalah, Ma. Kan cuma duduk doang di pesawat. Nanti minta Mama-Papa tolong antar ke bandara aja, " jawab James.
"Masalah antar ke bandara, itu sudah pasti. Tadi sudah dibicarakan. Kami semua ingin mengantar Celine, " jawab Mama Ratna.
"Baiklah kalau begitu! Jangan buang waktu! Sekarang kamu segera mandi, James! Celine, mulai persiapkan barangmu yang mau dibawa ya, Nak!" Papa Heru memberi komando.
Setelah Papa Heru mengeluarkan titah, otomatis pertemuan singkat itu bubar. Celine segera pergi ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya. Sedangkan James segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Di kamar mandi, James segera mengguyur kepalanya untuk mendinginkan otaknya. Perasaannya campur aduk. Mimpi buruknya menjadi kenyataan. Celine akan pergi. CELINE MEMILIH PERGI!
Mungkinkah ada hubungannya dengan kejadian mabuknya kemarin? Kalau melihat sikap Celine yang dari tadi tidak mau melihat dirinya, mungkin saja. Bisa jadi Celine benar-benar jijik dan sebal padanya.
Membayangkan itu, perasaan James tambah hancur. Untuk kedua kalinya cintanya terpuruk sebelum sempat diutarakan.
...****************...
__ADS_1