
Keempat gadis anggota Geng Princess saat ini sedang berada di sebuah toilet wanita yang masih berada dalam kawasan taman ria. Mereka mengkhawatirkan keadaan Sharon yang masih sedikit terguncang akibat kejadian penampakan di wahana rumah hantu. Gadis itu sudah jauh lebih tenang sekarang, namun mukanya masih tampak pucat.
"Gimana? Sudah enakan sekarang?" tanya Priscillia.
"Sudah mendingan kok ..." jawab Sharon dengan senyum yang dipaksakan agar tidak membuat teman-temannya khawatir.
"Maaf, Shar .... Karena menuruti keegoisanku kamu jadi begini, " sahut Rebecca yang merasa bersalah.
"Sudahlah. Aku juga salah karena memaksakan diri dan tidak bisa tegas, " ujar Sharon tersenyum pahit.
"Kalian jangan saling menyalahkan diri sendiri .... Bagaimana kalo kita cari makan aja? Sudah hampir jam enam juga, " sambung Cecilia mencoba mengalihkan topik untuk mengubah suasana yang muram.
"Boleh .... Tapi aku yang traktir yah .... Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena kalian semua mau menemaniku, " ucap Rebecca sambil merentangkan tangan lebar-lebar untuk merangkul teman-temannya.
"Okeee ..." jawab ketiga temannya sambil menyambut rangkulan Rebecca. Semuanya berpelukan di dalam toilet yang cukup sempit itu, sampai keempat gadis itu menertawai kondisi mereka yang saling berhimpit.
Ketika melihat Geng Princess keluar dari toilet, Darrell segera bangkit berdiri dan mendekati Sharon. "Ini .... Minum dulu. Biar kamu lebih tenang. Ah .... Atau lebih suka teh manis hangat saja? Biar kubelikan, " katanya sambil menyerahkan sebotol air mineral kepadanya.
Sharon menerima botol air itu dengan canggung. "Ga usah. Ini aja cukup. Terima kasih ..." katanya kepada Darrell.
"Acara taman rianya sampai di sini aja. KAMI mau cari makan di luar, " ujar Rebecca kepada Darrell untuk mengumumkan bahwa mereka memiliki rencana selanjutnya yang TIDAK melibatkan pria itu.
Darrell yang menyadari rencana Rebecca, sengaja pura-pura tidak mengerti makna tersirat dalam kalimat itu. Dengan menebalkan muka, ia pun berkata dengan senyum polosnya, "Kalau begitu, boleh aku ikut? Kebetulan, aku juga sudah lapar."
Rebecca hanya bisa mendelik mendengar jawaban tak tahu malu itu. Namun, karena mendapat kode dari ketiga temannya agar mengizinkan Darrell ikut, akhirnya ia mengalah. "Ya sudah, ikutlah ..." jawabnya singkat sambil memutar bola matanya.
Darrell tertegun. Tidak disangkanya Si Gadis Kucing bisa mengalah secepat itu. "Kita mau makan di mana? Dan ke sananya naik apa? Karena tadi aku ke sini dengan menggunakan taksi online, " tanyanya lagi.
Keempat gadis itu segera berpandangan satu sama lain. Masalah baru muncul. Tadi mereka berempat berangkat bersama ke taman ria dengan mobil sport Rebecca. Priscillia yang duduk di depan, di kursi samping pengemudi.
Masalahnya dengan adanya Darrell, bagaimana mengatur tempat duduknya? Tentu saja Rebecca enggan jika Darrell yang duduk di sampingnya. Cecilia dan Sharon juga tidak nyaman jika Darrell duduk di belakang bersama mereka. Tetapi jika membiarkan Darrell pergi sendiri dengan taksi, enak kah? Toh sesungguhnya masih ada cukup tempat di mobil jika hanya ditambahi satu penumpang.
Dengan demikian, terciptalah kesepakatan secara otomatis antara Priscillia, Sharon, dan Cecilia. Ketika mereka semua sudah berada di depan mobil Rebecca, mereka bertiga langsung memasang tampang nyengir pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Maaf yah, Bec ..." sahut ketiganya hampir bersamaan, lalu segera menduduki kursi belakang.
Rebecca yang menyadari bahwa dirinya lah yang dikorbankan teman-temannya, hanya bisa mendongkol. "Tega yah kalian ..." katanya sambil duduk di kursi sopir.
"Makanya kami kan sudah minta maaf duluan tadi .... Menurut kami, ini yang terbaik. Sorry yah, Bec .... Bagaimanapun ... Darrell kan tamumu." Priscillia menjelaskan alasannya dari kursi belakang.
Darrell hanya dapat menahan tawa melihat perlakuan yang didapat Rebecca dari teman-temannya. Ia bersyukur karena teman-teman Si Gadis Kucing tergolong orang yang cukup bijak dalam menilai dan memperlakukan orang lain.
Namun ia belum berani menaiki mobil karena belum mendapat restu dari yang Empunya. Apalagi ia sadar kalau Rebecca enggan duduk bersebelahan dengannya. Karena itu, ia hanya bisa menunggu dengan tenang di sisi mobil.
"Sedang apa kau? Ga jadi ikut?" tanya Rebecca yang menyadari kalau Darrell hanya mematung dari tadi.
"Aku boleh duduk sini?" tanya Darrell memastikan tempat duduknya.
"Mau di mana lagi? Mau di belakang biar dikerubungin cewek-cewek?!" ketus Rebecca.
Darrell tersenyum geli. Memanglah Si Kucing Liar satu ini .... Galaknya bukan main. "Kalau gitu, permisi yah ...." Darrell pun membuka pintu samping pengemudi dan duduk di sebelah Rebecca.
"Kita ke restoran steik yang biasa aja yah ...." Rebecca mengonfirmasi tujuan mereka sebelum menjalankan mobilnya.
Rebecca segera melajukan mobilnya menuju lokasi. Suasana di mobil cukup hening. Pasalnya ketiga gadis sisanya tahu bahwa Si Pemilik Mobil masih agak dongkol dengan kelakuan mereka. Jadi, lebih baik mereka diam daripada salah memilih kata.
Begitu juga Darrell. Ia memilih diam sambil senyum-senyum sendiri ketika mencuri pandang ke arah Rebecca yang sedang fokus mengemudi.
Dalam dua kali pertemuan mereka, terlebih sepanjang hari ini, Darrell makin mengenal Rebecca dan ia cukup menyukai karakter gadis itu. Si Gadis Kucing memang galak, sedikit kasar, dan bicaranya pedas. Namun di balik itu semua, ia memiliki perhatian dan rasa kesetiakawanan yang tinggi.
Darrell juga menyukai sifat Rebecca yang blakblakan dan apa adanya. Gadis itu tidak munafik, tidak banyak tikungan, dan tidak ribet layaknya cewek-cewek pada umumnya. Pola pikir Rebecca cukup mudah ia tebak. Namun yang paling membuatnya tertarik, meskipun sebagian besar pola pikir Rebecca dapat diperkirakan, ada saja tindakan atau ucapan spontan Rebecca yang membuatnya terkejut saking di luar nurulnya.
Mobil pun tiba di restoran. Setelah menemukan tempat duduk, mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing. Sambil menunggu makanan, mereka mengobrol ringan.
Maunya Rebecca sih, ia masih ingin mengabaikan Darrell dan tidak melibatkannya dalam percakapan. Namun pertahanan pria ini cukup sulit ditembus. Darrell dengan fleksibel mampu mengikuti dan mencari waktu yang tepat untuk melibatkan diri dalam pembicaraan. Bahkan sebaliknya, bukannya terabaikan, malah sepertinya pria ini lah yang memimpin arah pembicaraan.
Ia mengajak teman-temannya mengobrol untuk saling mengenal lebih dalam. Sebagai contoh, misalnya pertanyaan sederhana seperti mereka kuliah di mana dan ambil jurusan apa. Tentu saja teman-temannya yang baik hati dan beretika menjawab pertanyaan tersebut.
__ADS_1
Darrell menyadari bahwa sepertinya Cecilia ingin menyembunyikan pertemuan mereka dua minggu yang lalu. Karena itu, ia pun memperlakukan gadis itu sama seperti Priscillia dan Sharon yang baru saja ia temui hari ini. Lagipula ia memang belum terlalu mengenal gadis itu. Jadi, memang tidak ada bedanya bukan?
Makanan pun tiba. Pembicaraan dihentikan karena setiap orang berfokus dengan makanannya masing-masing. Sampai satu persatu mulai menyelesaikan santapannya, Rebecca pun berdiri hendak membayar.
Tiba-tiba Darrell ikut berdiri. Tangannya terulur menghalangi Rebecca yang hendak berjalan menuju kasir. "Aku yang bayar, kitty. Lelaki gentleman tidak akan membiarkan wanita membayari makanannya."
Rebecca hanya terdiam. Karena niatnya dari tadi untuk mencari masalah dengan Darrell selalu gagal, ia mulai lelah untuk berdebat. Belum lagi dengan kenyataan bahwa teman-temannya tidak terlalu mendukungnya 100%. Jadi, daripada bersikeras terus-menerus, lebih baik manfaatkan saja sikap cowok yang mau sok pamer ini.
"Oh .... Maumu begitu? Ya sudah ... bayarlah!" kata Rebecca acuh tak acuh, lalu kembali duduk di kursinya.
Demikianlah acara mereka hari ini. Setelah membayar, Darrell pamit untuk kembali ke hotelnya dengan taksi online. Sedangkan Rebecca, masih bertugas mengantarkan ketiga temannya ke rumahnya masing-masing.
Dalam perjalanan, Rebecca mengeluarkan uneg-uneg yang dari tadi disimpannya. "Kalian ini kenapa sih?! Katanya mau cuekin dia, biar dia jera! Ini kok malah kalian membujukku untuk mengizinkannya ikut makan?! Mana kalian merelakan dia duduk di sampingku lagi!"
"Etikanya kan emang begitu, Bec .... Dia tamumu. Apalagi dia cowok sendiri. Masa gabung sama cewek-cewek di belakang? Lagipula, kasian kan kalo kita tetap cuekin padahal dia uda bilang kelaparan gitu?" jawab Priscillia.
"Lagipula ... sepertinya ... dia ga sejahat itu kok, Bec ..." tambah Sharon.
"Kalian salah! Kalian ditargetkan juga olehnya, tau?! Dia sok bersikap baik karena tau kalo kita semua anak-anak dari keluarga berpengaruh. Dan itu semua ia lakukan untuk memenuhi keinginan papanya, agar latar belakang keluarga Sang Menantu dapat mendukung karir anaknya kelak! Dia itu serigala berbulu domba! Percaya sama aku!" sanggah Rebecca sambil tetap menyetir.
"Tapi kan ... alasan seperti itu ... sudah lumrah di kalangan kita, Bec. Pasangan-pasangan yang mengajukan perjodohan dengan kita pun rata-rata seperti itu. Bedanya Darrell terus terang dengan motivasinya, tidak seperti mereka yang mencoba menutupinya dengan kemunafikan, " balas Priscillia sedikit hati-hati, takut Rebecca makin gusar.
Rebecca terdiam. Ia tahu perkataan Priscillia benar adanya. Tetapi tetap saja ia tidak suka dengan pria itu.
"Pendapatmu bagaimana, Cil? Kamu kan pakar cintanya Geng Princess, " tanya Rebecca kepada Cecilia yang duduk di kursi belakang.
"Ah .... Pendapatku ... sama dengan Priscillia, " jawab Cecilia berusaha menutupi kegugupannya.
Namun sayang, kali ini kegugupan Cecilia tertangkap Rebecca. Alis Rebecca pun bekernyit. Lewat kaca spion, gadis itu menatap tajam sahabatnya. "Jangan bilang kamu sudah terpesona ketampanan serigala itu?! Dari dulu kamu kan lemah sama cowok-cowok tampan!" cetus Rebecca.
"Hehehe .... Sekalipun begitu, aku kan juga masih punya nilai-nilai yang kupegang, Bec ..." jawab Cecilia sambil tertawa parau. Apalagi dia calon pasangan yang dijodohkan denganmu. Ga mungkin kan aku menikung sahabatku sendiri, tambahnya dalam hati.
Untunglah pembicaraan itu tidak dilanjutkan lagi. Suasana mobil kembali sunyi hingga penumpangnya turun dari mobil satu persatu.
__ADS_1
...****************...