Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Persahabatan yang Retak


__ADS_3

Esoknya dari pukul sepuluh pagi, Rebecca sudah keluar dari rumah dan mulai menjemput para sahabatnya di rumah masing-masing. Ia ingin memberi kejutan pada Cecilia dengan mengunjungi butiknya guna memperbaiki hubungan mereka. Hatinya bersemangat untuk segera mempraktikkan perkataan Celine kemarin.


Setelah ia pikir-pikir, ia mengakui kalau ia terlalu cepat menarik kesimpulan dan tidak memberi kesempatan pada Cecilia untuk menjelaskan. Bukankah temannya itu bilang ia belum memutuskan?


Jika ia mempermasalahkan Cecilia yang memberi izin untuk dikunjungi, bukankah ia sendiri melakukan hal yang sama? Bisa jadi pria licik itu melakukan sesuatu pada Cecilia sehingga sahabatnya terpaksa mengizinkannya, bukan? Bukankah hal serupa juga terjadi pada dirinya?


Rebecca semakin dihantui perasaan bersalah. Bayangan Cecilia menghabiskan waktu kemarin dengan perasaan disisihkan teman-temannya, membuat ia ingin segera tiba dan memeluk sahabatnya itu. Ia ingin mengganti acara kebersamaan mereka menjadi hari ini. Ia sudah membayangkan bagaimana persahabatan mereka dapat diperbaiki, dan mereka dapat tertawa bersama lagi.


Mobil Rebecca pun tiba di mal. Setelah mobil diparkir, ketiga gadis itu langsung memasuki gedung dan menuju éblouissant untuk menemui Cecilia. Keadaan mal pagi itu sudah mulai ramai didatangi pengunjung, walaupun beberapa toko masih ada yang belum buka.


Sesuai dugaan, Cecilia sedikit terkejut dengan kedatangan ketiga sahabatnya di butiknya. "A- ada apa kalian semua bisa kemari? Kok tidak mengabari lebih dulu?" tanyanya.


"Biasa .... Bukan Rebecca namanya kalo idenya pake rencana ..." jawab Priscillia sambil tersenyum simpul dan menunjuk sahabatnya.


"Kami ingin memberimu kejutan. Aku sedikit tidak enak jika membuatmu merasa tersisih kemarin. Kupikir, bagaimana kalau acara kebersamaannya kita ganti hari ini? Apakah kamu ada waktu? Sekadar mengitari mal ini juga boleh, " terang Rebecca.


Cecilia terharu. Ternyata teman-temannya masih memikirkannya. "Iya! Ada! Tentu aku senang sekali jika kita bisa berjalan-jalan bersama!" ujarnya menyambut usul Rebecca dengan segera.


Keempat gadis itu berpelukan dan tertawa bersama. Kehangatan mengalir di antara mereka. Ketegangan yang sebelumnya terjadi, seperti terbang entah ke mana.


Namun sayangnya hal itu tidak berlangsung lama. Suara seseorang yang baru datang memasuki butik dan memanggil Cecilia, menghancurkan semuanya. "Fille qui bave ...." (arti: Gadis ileran)

__ADS_1


Semua yang ada di sana terkejut melihat siapa yang datang, terutama Rebecca. Kejadian ini di luar perhitungannya. Tidak pernah dalam pengalamannya ketika Darrell berkunjung di kota ini, Darrell menemuinya dua hari berturut-turut. Pertemuan mereka selalu terjadi di hari Sabtu, dan di hari Minggunya pria itu akan kembali dengan sendirinya ke kotanya. Namun tentu saja ia sadar, hal itu dapat terjadi tidak lepas dari sikap dan perlakuannya pada Darrell yang tidak bersahabat.


Dan sekarang ... setelah katanya mereka sudah janjian untuk bertemu kemarin, hari ini pria itu datang untuk mengunjungi Cecilia lagi? Memang sudah sedekat apa hubungan keduanya? Apakah ini berarti Cecilia menyambut hangat kedatangan pria serigala ini?


Suasana canggung meliputi setiap orang di ruangan itu. Mereka semua terdiam sesaat. Rebecca masih mencoba mengendalikan dirinya. Semua pertanyaan yang tadi bertaburan di benaknya, segera ia singkirkan. Sebaliknya, ia terus-menerus memutar perkataan Celine kemarin di benaknya. Ia masih ingin mempercayai sahabatnya.


"Maaf, aku datang mendadak. Apakah kedatanganku mengganggu acara kalian?" tanya Darrell setelah berada di dekat mereka.


"Ya! Kami baru saja memutuskan untuk berjalan-jalan bersama!" jawab Rebecca ketus.


"Oh .... Baiklah kalau begitu. Berarti aku datang di waktu yang salah. Kalau begitu ... aku pamit lebih awal, Cecile. Hari ini aku akan kembali ke kotaku. Tadinya kupikir kita bisa menghabiskan waktu bersama sambil menunggu waktu kepulanganku. Namun rupanya aku keduluan. Nikmatilah waktu bersama teman-temanmu. Aku permisi yah ..." ujar Darrell sambil membalikkan badan ke arah pintu keluar.


"Tu- tunggu!! Tunggu sebentar Darrell!" Cecilia mengejar Darrell dan menahan lengan pria itu.


Untuk sesaat, keheningan kembali melanda. Semuanya tegang menunggu jawaban dari Rebecca. Sampai akhirnya Rebecca tersenyum. Ia menertawai kebodohannya sendiri.


"Tidak. Aku saja yang pergi. Kupikir kamu akan kesepian karena merasa tersisihkan kemarin. Namun ternyata itu hanya dugaan dan khayalanku saja. Nyatanya sepertinya kamu baik-baik saja tanpa kami. Jika kalian masih mau melanjutkan acaranya, silakan! Aku pergi dulu, " katanya. Lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Aku yang akan mengejar Rebecca, Pris! Maaf yah, Cil .... Acara kita, kita tunda dulu!" ujar Sharon buru-buru, lalu ikut keluar meninggalkan butik.


Tinggal Priscillia yang berhadapan dengan Cecilia-Darrell sekarang. Ketiganya saling pandang dalam kecanggungan. Sampai akhirnya Priscillia yang lebih dulu membuka suara.

__ADS_1


"Acara kita sepertinya harus dibatalkan. Beri waktu untuk Rebecca belajar menghormati keputusanmu yah, Cil .... Percayalah ... ia sayang padamu dan akan turut gembira dalam kebahagiaanmu. Namun untuk kali ini, ia masih butuh waktu untuk menerima kenyataan, " ujar Priscillia diakhiri dengan memeluk Cecilia. Mendengar hal itu, Cecilia hanya dapat mengangguk lemah di pelukan Priscillia.


Setelah pelukan terlepas, Priscillia pun pamit kepada Cecilia. "Aku pergi dulu yah, Cil .... Semoga aku masih bisa mengejar Sharon dan Rebecca."


"Ya .... Hati-hati ..." jawab Cecilia dengan nada lemah.


Sekarang gantian Priscillia menghadap Darrell. Walaupun wajahnya dihiasi senyum, namun gadis itu menatap tajam pria di depannya. "Darrell ... titip Cecilia yah .... Jaga dia baik-baik dan tolong pastikan kebahagiaannya ..." ujarnya.


Darrell bergidik. Priscillia berbicara kepadanya dengan penuh kewibawaan. Aura kepemimpinan yang dipancarkan gadis itu tidak main-main. Walaupun kalimat itu diucapkan Priscillia dengan nada datar dan pilihan katanya umum digunakan, namun penekanan kalimatnya seolah mengandung tuntutan.


Kalimat yang diucapkan Priscillia seperti berubah di telinga Darrell menjadi seperti ini, "Karena kamu sudah membuat persahabatan kami menjadi begini, bertanggungjawablah dengan setidaknya membahagiakan Cecilia!"


"Aku mengerti, " jawab Darrell. Entah mengapa ia merasa seperti seorang bawahan yang sedang diminta pertanggungjawabannya oleh Sang Atasan.


Namun perasaan itu ia coba tahan dan berusaha ia tutupi dengan bersikap wajar. Bagaimanapun ia tidak mau kalah wibawa dengan gadis di hadapannya. Ia sadar statusnya sebagai seorang direktur dan gadis di hadapannya masih berurusan dengan skripsinya. Bukankah Priscillia lebih muda usianya darinya? Mereka semua seumuran dengan Celine sepupunya itu, bukan?


"Terima kasih ..." jawab Priscillia masih dengan senyum khasnya, lalu ia pun pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah gadis itu tidak terlihat lagi, Darrell bertanya pada Cecilia, "Kamu tidak ingin mengejar teman-temanmu, Fille qui bave ?" (arti: Gadis ileran)


"Tidak. Yang harus terjadi, terjadilah ..." kata Cecilia. Setelah itu, ia memaksakan dirinya memandang Darrell sambil tersenyum.

__ADS_1


Darrell tertegun. Entah apa yang menjadi alasan gadis di depannya memaksakan diri tersenyum di hadapannya. Padahal ia tahu persis, hati Cecilia pasti masih galau dan gelisah akibat peristiwa yang baru saja terjadi. Namun Darrell lebih memilih mendiamkannya dan tidak membahasnya.


...****************...


__ADS_2