
Hari ini hari Jumat. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.25. Semua anggota keluarga Wijaya sudah berkumpul dan sedang memastikan kelengkapan barang yang akan mereka bawa. Sebentar lagi mereka akan menuju ke bandara dan akan terbang menuju kota J bersama-sama.
Kegugupan terasa di setiap anggota keluarga Wijaya. Pasalnya, pesta pertunangan James-Celine akan diadakan besok malam. Untuk pertama kalinya mereka akan bertemu dengan keluarga besar Adipratama, sebuah keluarga terpandang yang memiliki perusahaan raksasa.
Terkecuali James, semua para anggota keluarga Wijaya juga memiliki alasan lain untuk merasa gugup. Mereka akan bertemu ayah Celine. Masih terpatri dengan jelas di benak mereka bagaimana kondisi Celine saat mereka pertama kali bertemu. Dan sekarang, mereka akan bertemu dengan ayah yang pernah membuang putrinya itu.
Masih tersisa perasaan geram jika mengingat hal tersebut. Namun dengan kondisi yang sudah berkembang seperti ini, jelas perasaan itu sudah selayaknya dikubur. Tetapi mengatur perasaan dan ingatan tidak lah semudah yang diharapkan, bukan? Dan hal ini lah yang menjadi dilema. Mereka bingung bagaimana nanti harus bersikap di depan Tuan Besar Adipratama.
Terkhusus untuk Papa Heru dan Mama Ratna, perasaan mereka diperburuk dengan ingatan akan kejadian pertemuan mereka dengan calon besan yang terjadi enam bulan yang lalu. Waktu itu mereka dicemooh oleh Nyonya Prawira.
Memang ... dalam kasus kali ini Tuan Adipratama tidak mungkin mencemooh mereka dalam hal mendidik anak. Mereka sudah terbukti lebih unggul dalam hal itu.
Tetapi mereka juga menyadari, yang membuat Nyonya Prawira memiliki keberanian untuk menghina mereka tidak terlepas dari kesadaran bahwa ia memiliki status, kekuasaan, dan kekayaan di atas keluarga Wijaya. Dan calon besan mereka yang sekarang, memiliki status, kekuasaan, dan kekayaan yang jauhhhhh di atas keluarga Prawira.
Ada kegentaran tersendiri di hati kedua orang tua ini. Apakah mereka akan direndahkan lagi? Apakah mereka akan dipermalukan di depan keluarga besar Adipratama karena status keluarga mereka yang tidak seimbang? Jujur saja, banyak hal yang dapat mendukung hal itu.
Tidak banyak persiapan yang mereka lakukan untuk menghadiri pesta pertunangan ini, selain cincin tunangan dan baju batik keluarga yang telah disepakati bersama oleh Celine. Tiket pesawat hari ini saja, semuanya dibiayai oleh keluarga Adipratama. Bayangkan, seberapa besar pengeluaran yang dikeluarkan Tuan Adipratama hanya untuk tiket pesawat keluarga Wijaya yang terdiri dari 5 orang dewasa dan 1 anak. Belum lagi buat makanan dan persiapan pesta lainnya.
Tadinya Alex ingin membiayai tiket untuknya dan keluarga kecilnya dari dompetnya sendiri. Bahkan kalau diperlukan, tiket seluruh anggota keluarga Wijaya akan ia tanggung. Ia ingin menjaga martabat keluarga Wijaya di depan keluarga Celine.
Namun Celine melarangnya. Alasannya, masih akan ada biaya lain untuk ke depannya, misalnya seperti acara pernikahan. Jadi, Celine berpendapat kalau acara kali ini, biar menjadi tanggungan keluarganya saja. Keluarga Wijaya boleh menabung untuk bagian persiapan pernikahan nanti. Dan usul itu dipandang baik oleh Alex dan segenap keluarga Wijaya lainnya.
Papa Heru memastikan untuk yang terakhir kalinya, "Semuanya sudah siap?"
"Sudaahhh ..." jawab semua orang yang di ruangan itu.
"Tak ada yang ketinggalan?"
"Tidaaakkkk ...."
"James, cincin tunangan sudah dibawa? Jangan sampai ketinggalan lho!" Papa Heru mengingatkan James.
"Aman itu, Pa ..." jawab James santai.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang!" ajak Papa Heru.
"Siiaappp!!" jawab semuanya.
Dengan mobil, keluarga itu pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Wijaya menuju bandara.
...****************...
Pukul 17.55, segenap anggota keluarga Wijaya sudah berdiri di depan pagar kediaman Adipratama. Celine dan Mbok Yani sudah siap menyambut kedatangan mereka.
Setelah mengucapkan salam dan ritual cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri), Celine mengajak semuanya masuk.
"Yuk semuanya masuk! Papa uda nungguin dari tadi!" ajak Celine.
__ADS_1
Rombongan itu pun maju dipimpin Celine yang berjalan di depan. Sedangkan Mbok Yani berjaga di barisan paling belakang.
Sama halnya dengan apa yang terjadi pada James ketika pertama kali memasuki rumah itu. Setiap orang dibuat terbelalak dengan apa yang disajikan di depan mata mereka. Rumah yang besar, halaman yang luas, disertai desain yang mewah dan elegan.
Alex dan Sherly sekalipun, yang sering berhubungan dengan para pemimpin perusahaan, tetap saja tertegun dan gentar melihat rumah Celine. Rumah ini tidak dapat dibandingkan dengan rumah besar yang dimiliki para pengusaha tersebut. Rumah Celine sudah dapat dikategorikan sebagai mansion.
Mereka dikumpulkan di sebuah ruang tamu yang luas. Di sana, Tuan Adipratama sudah duduk di salah satu sofa.
"Silakan duduk, " kata Tuan Adipratama begitu melihat kedatangan mereka. Dengan canggung, semua orang yang ada di sana mengikuti arahan Tuan Adipratama.
"Pertama-tama saya ucapkan selamat datang di kediaman Adipratama. Bersikaplah santai dan anggaplah seperti di rumah sendiri." Tuan Adipratama menyampaikan kalimat pembukanya setelah semua orang duduk.
Saat ia berbicara demikian, datang seorang pelayan mendorong meja kecil beroda yang berisi gelas-gelas minuman. Pelayan itu lalu menaruh gelas-gelas itu di atas meja tamu. Setelah itu, ia kembali ke dalam.
"Untuk mempersingkat waktu, izinkan saya meminta maaf lebih dahulu karena hanya menyiapkan minuman. Alasannya karena sebentar lagi kita akan santap malam bersama. Jadi, silakan kalian nikmati minuman pembuka ini dan beristirahat sejenak. Saya tahu kalian semua lelah. Celine dan Mbok Yani akan mengantar kalian ke kamar masing-masing. Kita akan berkumpul di ruang makan sekitar pukul 7.
"Saya permisi dulu." Setelah berkata seperti itu Tuan Adipratama segera meninggalkan ruang tamu dibantu dengan tongkatnya.
Tinggal lah keluarga Wijaya yang masih melongo mendapat perlakuan seperti itu. Kejengkelan mulai merayap di hati Mama Ratna. Apa-apaan pria tua itu?! Apakah itu tindakan yang umum dilakukan oleh tuan rumah pada tamunya?! Atau ini jenis penghinaan gaya baru?! Tidak ada satu pun dari antara kami yang diberi kesempatan untuk berpendapat !
Celine yang peka, langsung maju untuk memperbaiki keadaan. "Maafin Papa yah, Semuanya .... Papa emang gitu. Cuma ngomong seperlunya aja. Silakan dicicip dulu minuman ini. Atau ... kalo pada kelelahan dan mau langsung istirahat di kamar juga boleh."
"Langsung ke kamar aja deh, Lin .... Biar Rico dan Sherly bisa istirahat. Bang Alex juga ga gitu haus kok." Alex langsung berpendapat.
Celine yang agak ragu, masih menunggu pendapat Papa Heru dan Mama Ratna. Setelah saling lihat-lihatan sejenak, Papa Heru bersuara untuk memberi keputusan. "Maaf yah, Lin ... Sepertinya tidak ada yang haus di sini. Disimpan lagi aja minumannya. Celine tolong antarkan kami ke kamar yah ...."
Begitu mendengar jawaban Celine, Mbok Yani langsung menepuk tangannya tiga kali. Prok Prok Prok !! Tidak lama kemudian masuklah dua orang wanita dan dua orang pria yang mengenakan seragam pelayan. Mereka langsung mengambil alih koper dan barang bawaan milik keluarga Wijaya.
"Silakan ikuti saya, " kata Mbok Yani.
Dipimpin oleh Mbok Yani dan Celine, rombongan itu menaiki tangga dan memasuki lorong sebelah kiri. Mereka melewati banyak pintu yang tersebar di sepanjang kiri dan kanan lorong. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan salah satu pintu.
"Ini kamar untuk Papa dan Mama, " kata Celine sambil membuka pintu itu. Di dalamnya nampak ruangan yang dapat disejajarkan dengan kamar hotel sekelas junior suite.
Papa Heru dan Mama Ratna pun memasuki kamar itu. Salah seorang dari pelayan pria yang membawakan barang dan koper milik Papa Heru dan Mama Ratna juga ikut masuk, dan meletakkan koper mereka di sana. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia pun keluar kamar dan kembali ke barisannya yang semula, yaitu di belakang rombongan.
"Papa-Mama mau di sini saja dan beristirahat, atau masih mau ikut liat-liat kamar yang lain?" tanya Celine.
"Kami di sini aja, Lin ..." jawab Mama Ratna.
"Ya udah. Kalo gitu Celine antar yang lain ke kamarnya dulu .... Nanti sebelum jam 7, Celine bakal ke sini lagi. Kalo ada yang kurang atau butuh apa, jangan ragu bilang ke Celine yah ..." kata Celine lagi.
"Iya, Lin .... Terima kasih ..." kata Papa Heru sambil tersenyum hangat.
"Selamat istirahat Papa-Mama ..." kata Celine sambil melambaikan tangan. Setelah Papa Heru dan Mama Ratna membalas lambaian tangan Celine, pintu kamar pun ditutup perlahan.
Rombongan itu pun pindah ke kamar berikutnya. Letaknya tidak terlalu jauh dengan kamar Papa Heru dan Mama Ratna. Jaraknya kurang lebih lima meter dari kamar yang tadi, dan berada di deretan yang berseberangan dengannya.
__ADS_1
"Ini kamar untuk Bang Alex, Kak Sherly, dan Rico, " kata Celine sambil membuka pintu. Luas ruangan dan fasilitas di dalamnya hampir sama dengan kamar Papa Heru dan Mama Ratna. Bedanya di kamar tidur ditambahkan sebuah ranjang anak yang memiliki pembatas di kedua sisinya. Dinding kamarnya juga di cat dengan warna cerah dengan desain ramah untuk anak-anak.
"Bagaimana? Apakah cukup cocok dengan Abang dan Kakak? Maaf kalau desainnya agak kekanakan dan kurang formal buat orang dewasa ..." kata Celine lagi.
"Tidak, Lin .... Ini bagus banget, " jawab Sherly yang juga disetujui Alex. Mereka terharu dengan pelayanan Celine yang sampai memikirkan kepentingan Rico dengan detail. Alex langsung membaringkan Rico yang dari tadi tertidur pulas semenjak perjalanan menuju kediaman Adipratama. Tangannya sudah cukup pegal karena dari tadi menggendong Rico.
Pelayan pria yang seorang lagi memasuki kamar dan meletakkan koper Alex dan Sherly yang dari tadi dibawanya. Setelah itu ia pun keluar kamar diikuti Celine.
"Bang Alex dan Kak Sherly mau di sini aja, atau mau ikut ke kamar Bang James?" tanya Celine begitu berada di luar kamar.
"Kami di sini aja, Lin .... Mau giliran mandi juga, " jawab Sherly.
"Iya. Lagian ngapain juga kami ganggu orang pacaran? Ingat yah ... jangan berduaan aja di kamar, biar ga diganggu setan!" goda Alex.
"Mananya yang bisa berduaan, Bang?! Ga liat nih, rombongannya masih banyak?!" sahut James merujuk ke Mbok Yani dan para pelayan yang masih ada di sana.
"Kalau Nak James mau, kami bisa langsung pergi kok. Toh sudah tidak ada barang lagi yang harus dibawakan, " sahut Mbok Yani sambil tersenyum penuh arti.
Barang bawaan James memang hanya sebuah ransel yang saat ini masih bertengger di punggungnya. Maklum, sebagai laki-laki simple, ia memang terbiasa tidak membawa banyak barang ketika bepergian. Berbeda dengan Mamanya dan Kak Sherly yang sampai harus membawa koper. Lagipula, ia tidak mau memanjakan diri dan merepotkan orang lain untuk membawakan barangnya, jika ia sendiri masih sanggup melakukannya.
"Ya sudah, karena sudah tidak ada lagi barang yang dibawakan, Mbok dan yang lain boleh istirahat. Biar Celine sendiri aja yang antar Bang James ke kamarnya. Tapi jangan salah paham, bukan karena mau berduaan loh yah ..." jawab Celine.
"Mau berduaan juga gapapa, Lin .... Asal jangan kebablasan, " celetuk Alex sambil terkikik.
Mendengar itu, Celine hanya tersenyum simpul, lalu melanjutkan kalimatnya. "Kalo gitu Celine antar Bang James dulu .... Nanti sebelum jam 7, Celine bakal ke sini. Kalo ada yang kurang atau butuh apa, jangan ragu bilang ke Celine yah ..." kata Celine mengulang kalimatnya.
"Oke!" jawab Alex.
"Makasih yah, Lin ..." sambung Sherly.
"Sama-sama .... Selamat beristirahat ..." kata Celine sebelum menutup pintu kamar Alex.
Setelah itu, Mbok Yani dan para pelayan pamit, lalu meninggalkan Celine dan James berdua. Kemudian Celine mengantarkan James ke kamar yang biasa ditempatinya jika berada di rumah ini.
Di sisi lain, setelah semua orang meninggalkan mereka dan memastikan tidak ada yang mendengar, Mama Ratna mengadukan uneg-uneg yang dari tadi ditahannya kepada Sang Suami.
"Apa-apaan papanya Celine itu, Pa?! Begitukah cara seorang tuan rumah memperlakukan tamunya?! Atau sesungguhnya ia bermaksud menghina kita?! Ia sama sekali tidak memberi kesempatan kita untuk berbicara! Memang dikiranya dia siapa?! Bos besar?!" omel Mama Ratna.
Papa Heru mengerti dengan apa yang dirasakan istrinya itu. Tadi pun ia sempat sedikit tersinggung. Namun mendengar omelan istrinya, ia jadi menahan senyum. "Lah .... Dia kan emang bos besar, Ma ..." katanya menanggapi ucapan Sang Istri.
Mama Ratna yang sadar akan kesalahan pilihan katanya segera menambahkan, "Ya iya! Tapi kita kan tamu! Bukan bawahannya! Apalagi kita lagi dalam proses untuk menjadi satu keluarga besar!"
"Yah sudahlah, Ma .... Seperti kata Celine, mungkin memang seperti itu orangnya. Jangan berprasangka negatif dulu. Kasihan James dan Celine jika kita baru begini sudah ribut." Papa Heru mencoba menenangkan Mama Ratna.
"Iya .... Mama tau .... Karena mandang Celine lah, Mama dari tadi menahan diri. Tapi liat aja kalo sikap Pak Tua itu makin jadi! Mama ga bakal tinggal diam!" sahut Mama Ratna dengan penuh tekad.
Papa Heru hanya terdiam dan menghela napasnya. Ia berdoa di dalam hati, semoga memang Tuan Adipratama tidak bermaksud merendahkan mereka. Semoga acara pertunangan ini dapat berlangsung dengan damai. Semoga kedua keluarga ini bisa rukun. Dan yang terakhir, semoga James dan Celine berbahagia selalu.
__ADS_1
...****************...