
Waktu dua minggu hampir terlewati. Sekarang hari Rabu. Perasaan Rebecca sudah buruk dari pagi. Pasalnya di waktu-waktu inilah biasanya Darrell akan menghubunginya dengan perintahnya yang arogan itu.
Entah sampai kapan ia harus bermain uji kesabaran seperti ini. Menunggu sampai Darrell lelah dan menyerah sendiri. Sebenarnya ia sudah ingin mengakhiri perjodohan ini. Namun ia tak berkutik jika Darrell membawa-bawa ayahnya.
Ia yakin Darrell bukan sekedar omong besar ketika mengatakan ia dapat menjadi menantu idaman Sang Ayah. Dengan keadaan berkembang seperti ini saja, Darrell terbukti sudah menarik hati papanya. Papanya selalu bertanya dengan antusias mengenai hubungannya dengan Darrell dan apa yang terjadi di hari mereka janjian bertemu.
Mungkin seperti perkataan Priscillia, hal itu disebabkan karena baru Darrell lah yang bisa bertahan menghadapi dirinya. Biasanya para pria itu akan mundur di kali pertama perjumpaan mereka, atau maksimal di pertemuan kedua. Sedangkan Darrell, kalau akhir pekan ini mereka janjian lagi, ini sudah pertemuan yang keempat.
Rebecca melakukan aktivitasnya dengan perasaan tidak menentu seperti layaknya orang yang menunggu dijatuhi hukuman. Ia pergi kuliah dan mengurus skripsinya, sambil menunggu datangnya pesan yang tidak diharapkan itu.
Satu persatu aktivitas sudah dijalani. Sampai tiba waktunya makan malam bersama keluarga, hingga waktu tidur. Pesan yang ditunggu tidak kunjung datang. Rebecca terheran setengah bersyukur.
Ada apa ini? Apa serigala itu lupa? Atau mungkin sudah menyerah? Apapun alasannya, ia cukup senang dengan keadaan ini. Semoga bisa berlangsung seterusnya.
Namun ia tahu, hal ini belum bisa dirayakan. Selama akhir pekan belum berlalu atau keadaan belum benar-benar jelas, pesan Darrell bisa saja datang esok harinya. Lebih baik ia tetap berjaga dan tetap mengetatkan pengawasan. Dengan pemikiran demikian, Rebecca pun memutuskan menutup harinya.
Dan dugaan Rebecca terbukti. Esok paginya, pesan terkutuk itu datang dengan gaya arogan seperti biasanya. 'Akhir pekan ini aku akan datang. Berikan waktumu. Kabari aku waktu dan tempatnya.'
Rebecca hanya bisa menghela napas ketika membaca pesan itu. Ternyata minggu ini pun permainan tarik ulur akan digelar lagi. Diambilnya HP-nya, lalu dibalasnya pesan itu dengan kalimat hampir serupa dengan dua minggu lalu. 'Di kafe yang biasa, hari Sabtu jam 4.'
Setelah itu, ia meletakkan HP-nya dan tinggal menanti datangnya hari permainan dimulai lagi.
...****************...
Hari Sabtu tiba. Pukul 15.30 Rebecca sudah berpakaian rapi siap keluar dari rumah.
"Janjian dengan Darrell lagi?" Samuel bertanya ke putrinya dengan senyum sumringah.
"Ya, " jawab Rebecca malas-malasan.
"Selamat bersenang-senang yah, Putriku ..." ujar Samuel tanpa memedulikan muka putrinya yang merengut seperti bekantan.
__ADS_1
"Jangan berharap terlalu tinggi, Pa .... Becky pergi dulu, " pamit Rebecca.
"Ya. Hati-hati ..." balas Samuel. Mau bagaimanapun kalimat putrinya, ia tetap berharap perjodohan Sang Putri kali ini bisa berhasil.
Rebecca tiba di kafe. Seperti biasa, makhluk yang menyebalkan itu sudah ada di sana. Darrell tidak menghilangkan sopan santunnya ketika berhadapan dengan Rebecca. Ia tetap menarikkan kursi untuknya. Namun sikap manis Darrell tetap tidak menggoyahkan Rebecca. Ia masih mempertahankan sikap acuh tak acuhnya di hadapan pria itu.
Setelah keduanya duduk berhadapan, mereka memesan minuman dan makanan ringan. Mereka menunggu kedatangan pesanan mereka dalam diam. Rebecca agak terheran, tidak biasanya sikap pria di hadapannya seserius dan sependiam ini. Biasanya Darrell pasti mengajaknya bicara dengan muka cengegesan atau senyum miringnya.
Ketika minuman mereka sudah disajikan, Rebecca mencoba membuka pembicaraan. "Kali ini, aku boleh mengundang teman-temanku lagi?" tanyanya dengan nada menyindir dan senyum miring di wajah.
Darrell terdiam sesaat dan tidak langsung menjawab. Lalu sambil mengambil dan menyesap minumannya, ia berkata pendek, "Tidak."
Rebecca tertegun. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Darrell. Pria itu bukan Darrell yang ia temui sekian kali. Nuansa yang dipancarkannya begitu dingin dan tidak ramah.
Sebenarnya Rebecca sedikit gentar melihat Darrell seperti ini. Namun, bukan Rebecca namanya kalau harus mundur hanya dengan sikap dingin begini. Dengan memberanikan dirinya, Rebecca melanjutkan sikap menantangnya. "Kenapa? Karena akhirnya kau lelah setelah diabaikan berulang kali?" katanya dengan nada mengejek.
"Tidak. Tapi karena aku perlu membuat keputusan denganmu. Keputusan yang kurasa tidak perlu melibatkan pihak lain, " ujar Darrell tegas.
Melihat Rebecca yang terdiam, Darrell melanjutkan kalimatnya. "Sepertinya sampai sekarang pun, kau tetap menentang perjodohan ini kan?" tanya Darrell langsung membahas masalah utama.
"Iya, " jawab Rebecca tegas.
"Berarti bisa kan, kalau kamu yang menghadap papamu dan menolak dijodohkan denganku? Nanti minta papamu menghubungi papaku. Bilang kalau kamulah yang tidak bersedia menerimaku. Dengan demikian, aku tidak bakal disalahkan seolah usahaku mendekatimu kurang ..." terang Darrell.
"Bisa! Selama ini sebenarnya juga bisa! Tapi kan kamu sendiri yang mengancamku dengan mengatakan kalau kamu mampu mengiming-imingi papa menjadi calon menantu idaman!" balas Rebecca.
"Baiklah! Kalau kau bisa melakukannya, aku pun tidak akan mengancam dengan melibatkan papamu lagi. Kita akhiri hubungan kita sampai di sini. Sebagai pengusaha, jelas aku juga tidak ingin berlama-lama membuang waktu dan tenagaku untuk sesuatu yang tidak menguntungkan bagiku. Aku akan mencari wanita lain sebagai targetku, " jawab Darrell.
Mendengar itu, mata Rebecca berbinar-binar. Ia seolah mendapat kelepasan dari belenggu yang selama ini mengekangnya. "Bagus! Pasti kulakukan! Urusan papa, serahkan saja padaku! Selamat mencari wanita lain! Dengan demikian kau tidak perlu lagi berurusan denganku!" ujarnya dengan ceria.
Mendengar kalimat terakhir Rebecca, Darrell tersenyum. Ini merupakan senyuman pertamanya di pertemuan mereka kali ini. Menyadari hal tersebut, senyum Rebecca lenyap. Perasaannya tak enak, seolah akan mendapatkan berita tak menyenangkan.
__ADS_1
"Sayangnya ... sepertinya itu hal yang sulit, kitty-chan ..." ujar Darrell.
"Kenapa?" tanya Rebecca dengan waswas. Alisnya bekernyit menunggu kalimat Darrell berikutnya.
"Karena targetku berikutnya adalah salah satu dari temanmu, " jawab Darrell sambil tersenyum miring.
Rebecca tertawa mengejek. "Heh! Jangan mimpi! Mana mungkin teman-temanku mau dengan- " mendadak kalimat Rebecca terpotong. Ia menyadari sesuatu.
Wajah Rebecca berubah, seperti menahan amarah. Dengan mendesis ia mengatakan dugaannya, "Jangan bilang kalau ... Cecilia ...."
Senyum Darrell melebar. Ia bertepuk tangan. "Tidak kusangka otak kucing encer juga, " katanya. Entah bermaksud pujian, entah bermaksud ledekan. (author: maaf yah, kucing .... Jangan tersinggung .... Ini Darrell yang bilang, bukan author)
"Sudah kubilang, jangan berani-berani mempermainkan teman-temanku!" Rebecca mulai meninggikan suaranya.
"Tenang, kitty .... Sudah kubilang dari awal, bisa bersikap dewasa? Kalau kau masih mau mendengar penjelasanku, tolong kontrol dirimu. Tapi kalau tidak, silakan keluar dari kafe ini. Toh tidak ada hubungannya denganku. Aku akan tetap menjalankan rencanaku, " ujar Darrell dengan gaya santai. Namun senyumannya menghilang. Pandangannya mengintimidasi Rebecca dengan sorotan tajam.
Rebecca terdiam. Beraninya pria br*ngs*k ini kembali mengancamnya bahkan berniat mengusirnya keluar?! Tidak bisa! Bagaimanapun ia harus bertahan! Ia perlu tahu rencana busuk pria serigala ini demi menyelamatkan sahabatnya! Karena itu, Rebecca hanya bisa mengepalkan tangannya di samping kursi dan menahan kegeramannya.
Melihat Rebecca yang diam, Darrell kembali tersenyum. "Bagus! Sekarang dengar penjelasanku baik-baik! Terserah kau mau percaya atau tidak. Dari awal, aku tidak berniat mempermainkan siapapun, termasuk dirimu. Tujuanku sudah jelas, kau pun sudah tahu. Tidak pernah kupaksakan wanita manapun untuk menerimaku. Biar mereka sendiri yang memilih untuk menerimaku yang seperti ini atau tidak. Dan itu juga berlaku untuk Cecile."
"Tidak boleh Cecilia! Cari wanita lain!" sahut Rebecca ketus.
"Dalam hal ini, kau tidak punya hak untuk menentukannya, kitty .... Kalau memang dirimu menyayangi dan menghormati sahabatmu, biarkan ia menentukan kebahagiannya sendiri, " sanggah Darrell.
Rebecca tertegun. Ia merasa tertampar dengan perkataan Darrell. Ia tidak dapat menerimanya, namun tidak juga dapat menyanggahnya.
Akhirnya, Rebecca memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri berkata, entah kepada Darrell, atau mungkin kepada dirinya sendiri. "Aku akan menanyakannya sendiri pada Cecilia."
"Silakan, kitty ...."
Tanpa bicara lagi, Rebecca pun segera pergi keluar dari kafe itu dan meninggalkan Darrell seorang diri.
__ADS_1
...****************...