Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Andaikan


__ADS_3

Melihat ayahnya yang lesu, Celine mencoba mengalihkan topik. "Pa .... Sebelum kita pulang nanti malam, Papa mau sesekali mampir ke rumah Bang James? Papa kan belum pernah ke sana."


Adrian mencoba menghargai niat putrinya. Walaupun sesungguhnya ia sedang tidak bersemangat, namun sepertinya ia tidak punya banyak pilihan. Daripada bengong sendirian tanpa kerjaan di hotel, apa salahnya mengikuti anjuran putrinya. Lagipula, tidak sopan rasanya jika ia tidak mengunjungi calon besannya padahal sudah singgah ke kota ini.


"Baiklah. Ayo kita ke sana, " jawabnya.


Celine pun menyambut persetujuan ayahnya itu dengan tersenyum lebar. Tanpa menunda waktu, ia segera menghubungi mama Ratna dan James, lalu mengabarkan rencana kedatangan mereka. Keduanya pun langsung berangkat menggunakan taksi hotel.


Tinggallah keluarga Wijaya yang pontang-panting mendapatkan kabar mendadak itu. Pasalnya ini kali pertama tuan besar Adipratama mengunjungi mereka dan mereka belum mempersiapkan apa-apa.


"Aduh ... Celine .... Kok kasih taunya mendadak ...." Mama Ratna bersungut-sungut sambil merapikan rumah dengan kecepatan tinggi.


"Tenang sedikit, Ma .... Rumah kita ga berantakan-berantakan amat kok, " sahut Papa Heru sambil berusaha bersikap tenang, padahal sebenarnya dia sendiri juga tegang.


"Mama ga pede, Pa .... Gimana kalo dia ngerasa rumah kita kayak kandang? Kan malu .... Papa tau sendiri rumahnya kayak mana ..." balas Mama Ratna.


Papa Heru pun terdiam. Akhirnya ia memilih untuk membiarkan istrinya melakukan apapun yang dapat membuat dirinya lebih tenang.


"Ma .... Kita ada camilan atau makanan ringan yang bisa disuguhkan untuk tamu ga?" James ikut-ikutan kepo.


"Ga ada, James. Tolong beliin dulu gih ..." sahut Mama Ratna.


"Oke ..." jawab James singkat. Lalu segera meluncurkan sepeda motornya ke toko kue terdekat.


Persiapan sudah selesai ketika Celine dan papanya tiba. Mereka memuaskan dan menenangkan diri dengan upaya mereka yang ala kadarnya itu. Mereka berharap Sang Tuan Besar tidak tersinggung dengan pelayanan mereka yang mungkin sangat jauuuhhhh berbeda jika dibandingkan dengan apa yang pernah mereka dapatkan ketika berada di kediaman Adipratama.


Senyum-senyum kaku dan ucapan selamat datang yang canggung bermunculan ketika Celine dan papanya memasuki kediaman Wijaya.


"Selamat datang .... Silakan masuk ..." sambut Papa Heru dan Mama Ratna.


"Silakan masuk, Om ... Lin .... Jangan malu-malu ..." sapa James.


"Ya. Terima kasih ..." jawab Adrian Adipratama.


Sedangkan Celine, sambil berusaha menahan senyum karena melihat kekakuan Papa-Mama Wijaya dan Bang James-nya, tetap menyapa mereka dengan sopan. "Papa .... Mama .... Bang James .... Celine dan Papa permisi merepotkan yah ..." katanya.


"Merepotkan apa sih, Lin .... Sudah seperti rumah sendiri, kan? Ayo, ajak papa ke dalam ..." jawab Mama Ratna kepada Celine.


Mereka pun beriringan masuk ke dalam, dipimpin oleh Papa Heru sebagai tuan rumah. Setelah sampai di ruang tamu, Adrian Adipratama dan Celine dipersilakan duduk.

__ADS_1


Semenjak melewati pagar sampai dengan duduk di sofa, mata Adrian beredar mengelilingi rumah. Hal itu menambah kecanggungan anggota keluarga Wijaya. Bagaimanapun, sedikit banyak mereka merasa rendah diri dengan kondisi rumah mereka dan takut mendapat respons yang melukai hati.


Namun walaupun ditunggu, tidak ada komentar apapun yang keluar dari mulut Tuan Adipratama. Anggota keluarga Wijaya sendiri pun tidak ada yang berniat bertanya untuk memastikannya.


Sedangkan di dalam diri Adrian, masih tersisa perasaan sedih karena mengingat hasil pembicaraan dengan Celine sebelumnya. Dan sekarang, setelah ia melihat tempat di mana Celine boleh pulih setelah kematian kakaknya, perasaan itu kembali muncul.


Rumah yang jauh berbeda dibandingkan rumah miliknya, baik ukuran maupun perabotan yang ada di dalamnya. Namun di sinilah putrinya dididik dengan baik sehingga menjadi seperti sekarang. Adrian kembali tersenyum sedih. Rupanya kekayaan dan kemewahan yang selama ini ia capai tidak menjamin keberhasilannya sebagai orang tua.


Setelah menanyakan kabar, suasana canggung makin terasa. Pasalnya Tuan Adipratama tidak banyak bicara. Papa Heru dan Mama Ratna pun mati kutu karena tidak tahu harus membahas apa.


"Apakah Anda mau bermain catur?" tanya Papa Heru mencoba mencairkan suasana yang mulai membeku.


Tuan Adipratama tersenyum lesu. "Maaf, saya sedang tidak bersemangat untuk bermain kali ini," jawabnya.


Suasana hening kembali tercipta. Papa Heru dan Mama Ratna saling melemparkan kode kepada Celine untuk mendapatkan bantuan. Tetapi Celine sendiri tidak tahu harus melakukan apa demi memperbaiki keadaan.


Untunglah akhirnya Tuan Adipratama sendiri yang memecahkan kesunyian. Namun perkataannya pun membuat semua orang yang mendengarnya terkejut. "Apakah saya boleh melihat kamar Celine?" tanyanya pada pemilik rumah tiba-tiba.


Celine sendiri terlihat ragu untuk menjawab. Karena itu, ia pun meminta izin kepada Papa-Mama Wijaya. "Papa-Mama .... Boleh?"


Dengan keraguan Mama Ratna menjawab, "Tentu saja boleh! Bukankah itu kamar Celine sendiri?" Walaupun kalimat yang dikatakannya seperti itu, namun sebenarnya di dalam hatinya diliputi kecemasan. Ia takut Tuan Adipratama sedang membandingkan kamar Celine di rumahnya dan kamar Celine di rumah ini.


Namun kecemasan itu segera memudar setelah melihat respons Celine. Dengan ceria dan tanpa keraguan akan perbedaan yang sangat mungkin terlihat jelas, gadis itu segera bangun dari tempat duduknya dan menuntun ayahnya ke kamarnya. Jika yang punya kamar saja tidak mempermasalahkannya, pastilah Celine juga akan membela keluarga ini jika Sang Ayah mempermasalahkan hal tersebut.


Mendengar itu, senyum Celine bertambah lebar. "Iya, Papa .... Masakan Mama enak sekali! Papa harus mencobanya!" puji Celine yang membuat Mama Ratna tersipu.


Adrian Adipratama tersenyum. "Jika tidak merepotkan Nyonya, tentu saja saya bersedia ...."


"Tidak repot kok. Kan saya sekalian mempersiapkannya untuk orang rumah. Silakan Tuan melihat-lihat rumah kami yang tidak seberapa ini. Celine temani papa yah ..." ujar Mama Ratna kepada ayah-anak itu berurutan.


"Siyyaapp ..." jawab Celine sambil mengedipkan sebelah matanya. Lalu keduanya pun menghilang setelah melewati pintu kayu.


"Selamat datang di kamar Celine, Papa ..." sahut Celine dengan ceria seakan bangga dengan kamarnya.


Seperti halnya yang tadi ia lakukan di ruang tamu, mata Adrian kali ini pun mengelilingi kamar Celine. Ukuran kamar yang jauh berbeda dan fasilitas yang sangat kurang jika dibandingkan kamar Celine di rumahnya. Tidak ada kamar mandi dalam, tidak ada televisi, dan tidak ada kulkas. Lemari pakaian dan ranjangnya pun jauh lebih kecil. Di sini ranjang tidurnya hanya berukuran single bed.


Namun yang menarik perhatiannya adalah lukisan-lukisan yang dipajang berderet memutari dinding kamar. Ada sekitar lima lukisan Dion dengan berbagai ukuran terpajang di sana, termasuk lukisan Celine kecil yang sedang memeluk seekor kelinci putih. Hal itu ia ketahui dari tanda tangan Dion yang tertera di sudut bawah kanan semua lukisan karyanya.


Celine yang menyadari ayahnya sedang memperhatikan lukisan-lukisan tersebut, segera memberikan tanggapannya. "Lukisan Kak Dion bagus kan, Pa?"

__ADS_1


Seolah sedang terbius dengan pemandangan di depannya, Adrian tidak menanggapi perkataan putrinya. Celine yang sadar diri segera undur diri untuk memberikan keleluasan pada ayahnya. Dengan lembut ia memegang tangan Sang Ayah. "Pa .... Celine tinggal keluar bentar yah .... Celine mau bantu Mama siapkan makan siang, " kata Celine membuat alasan.


Seolah baru disadarkan, Adrian menengok putrinya dan berkata, "Ah .... Iya .... Gapapa. Tinggalkan saja Papa di sini." Ia lalu kembali mengarahkan pandangannya ke lukisan.


Celine pun keluar kamar dan meninggalkan ayahnya di sana. Dalam kesunyian, Adrian kembali menikmati lukisan-lukisan karya almarhum putranya. Baru kali ini ia melihat langsung karya dan bakat Sang Putra. Lukisan-lukisan di sana begitu bagus dan tampak hidup seperti aslinya.


Memang, Dion sendiri semasa hidupnya lebih suka menggambar tema alam atau makhluk hidup dibandingkan benda mati. Di antara semuanya, yang paling ia sukai adalah menggambarkan ekspresi manusia. Perasaan Sang Objek tergambar jelas di lukisannya. Dan hal ini jugalah yang sedang ditangkap Sang Ayah.


Ada satu lukisan yang dari tadi menarik perhatiannya. Lukisan tersebut menggambarkan suasana di sebuah tempat piknik.


Banyak orang terlukis di sana. Beberapa kumpulan orang sedang duduk di tikar di tengah hamparan rumput yang terbentang. Di atas tikarnya nampak pula tersaji makanan atau rantang yang biasa digunakan saat piknik. Beberapa kumpulan lainnya sedang berjalan-jalan, berolahraga, ataupun sedang bermain dengan anjing peliharaannya.


Yang membuatnya terpaku adalah gambar sepasang pria dan wanita yang sedang berjalan-jalan dengan seorang anak laki-laki. Lukisan ketiga orang itu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan lukisan piknik tersebut dan tergambar di pojok kanan bawah dekat tanda tangan. Namun posisi demikian membuat tanda tangan itu seolah sedang memberi keterangan bahwa keluarga kecil tersebut adalah keluarga 'Dion'.


Sang Pria yang kemungkinan adalah ayah anak laki-laki tersebut sedang menggendong putranya di atas bahunya. Si Wanita yang kemungkinan istrinya digambarkan berperut gendut seperti sedang berbadan dua. Ekspresi ketiganya memancarkan kebahagiaan dalam suatu keluarga kecil yang harmonis.


Gambar itu mengingatkan dirinya saat ia sedang berjalan-jalan dengan Dion dan istrinya di waktu lampau. Saat itu istrinya memang sedang mengandung Celine.


Masa-masa itu merupakan saat-saat paling bahagia dalam hidupnya. Istri yang cantik dan baik, putra yang pintar dan menggemaskan, dan mereka sedang menantikan hadirnya kehidupan baru dalam rumah tangga mereka. Ia merasa saat itu hidupnya sudah sempurna dan tidak ada lagi yang ia harapkan.


Mungkinkah Dion mengingat kenangannya saat itu dan menorehkannya dalam lukisan? Mungkinkah anak itu benar-benar mengingatnya sekalipun saat itu ia baru berumur 4-5 tahun? Tidak ada yang tahu jawabannya dan tidak ada yang bisa menjawabnya.


Kembali hatinya teriris mengingat pelajaran yang baru diperolehnya pagi ini. Andaikan ia mengetahui tentang pentingnya 'pasrah' lebih awal. Andaikan ia memberi perhatian lebih kepada bakat dan cita-cita Sang Putra. Andaikan ia tidak memaksa putranya menjalankan hidup sesuai kehendaknya dan mewarisi perusahaannya. Andaikan dan andaikan. Beribu andaikan yang menjadi penyesalannya.


Mungkinkah jika semua itu ia lakukan, kebahagiaannya tidak akan hilang? Mungkinkah ia tidak akan kehilangan putra tercinta dan kebanggaannya?


Tanpa sadar air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ingatan terakhirnya tentang Sang Putra hanyalah ketika Dion meninggalkan rumah dengan wajah menahan amarah setelah perdebatan terakhir mereka. Ia teringat pula kata-kata pedasnya saat itu yang seolah mengusir putranya jika tidak menuruti kehendaknya.


Dengan segera, Adrian menghapus air mata yang tergenang itu sebelum jatuh menetes. Ia takut kalau-kalau Celine akan kembali dan mendapati dirinya dalam keadaan demikian. Bagaimanapun ia membutuhkan waktu untuk segera mengatur kembali perasaannya.


...****************...


Sebelum kembali ke kota mereka, sore itu Adrian meminta Celine untuk menemaninya ke makam Dion. Setelah sekian lama berlalu dari waktu kematian Sang Putra, untuk pertama kalinya ia mengunjungi makam anaknya.


Seperti biasanya, suasana di tempat pemakaman sangat sepi. Maklum saja, sekarang bukan momen-momen di mana orang umumnya berziarah.


Keduanya berhenti di depan sebuah nisan yang bertuliskan Dion Adipratama. Mereka hanya berdiri dan memandangi makam tersebut. Sampai akhirnya Celine memilih pergi sedikit menjauhi makam tersebut, untuk memberikan keleluasaan pada Sang Ayah.


Adrian masih tetap bergeming di posisinya sekalipun Celine telah pergi. Matanya terus menatap ke arah nisan. Walaupun mulutnya diam, banyak hal yang tak terkatakan ia curahkan dalam hatinya. Beribu andaikan yang sebelumnya tersirat di pikirannya, ia lantunkan. Kalimat-kalimat cinta dan kebanggaan pada putranya, ia haturkan.

__ADS_1


Namun sayang, semuanya sudah terlambat. Hanya penyesalan yang sekarang mendera hatinya karena waktu yang tak bisa diputar ulang. Ia hanya bisa berharap, kata-kata yang tadi ditorehkan dalam hatinya dapat mengalir sampai ke surga.


...****************...


__ADS_2