Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Keluhan Pak Joseph


__ADS_3

Hari Rabu siang, ketika jam istirahat kedua, Pak Joseph menceritakan keluhannya kepada James.


"Saya sudah cukup bersabar dengan kejahilan-kejahilan yang mereka lakukan. Saya mencoba benar-benar menganggapnya sebagai ketidaksengajaan, walaupun itu seperti sedang membodohi diri sendiri. Tapi, kalau hampir setiap kali menghindari praktik olahraga dengan berbagai alasan, itu kan sudah keterlaluan, Pak James! Saya merasa tidak dianggap sebagai guru!"


"Apakah praktik olahraga yang dihindari praktik olahraga outdoor ?" tanya James.


"Ya, saya memang lebih mengusahakan dilakukannya praktik olahraga outdoor daripada indoor. Sinar matahari pagi itu baik untuk kesehatan. Jadi sayang kalau disia-siakan dengan praktik di ruang tertutup," jelas Pak Joseph.


James terdiam. Kejadian Priscillia kembali menghindari kegiatan praktik olahraga outdoor terjadi lagi. Ia tidak mungkin mengungkapkan alasan 'tidak suka sinar matahari'- nya Priscillia kepada Pak Joseph. Pak Joseph akan benar-benar tersinggung dengan alasan seperti itu.


"Jadi, menurut Bapak, apa yang bisa saya bantu?" tanya James.


"Apakah Bapak bisa mencari tahu alasannya? Mungkin ada alasan yang ia sembunyikan. Kalau perlu tolong Bapak nasihati, jika memang menurut Pak James alasannya tidak masuk akal. Bagaimanapun, saya masih mencoba untuk berpikir positif tentang anak itu, walaupun sejujurnya sudah sulit sekali," pinta Pak Joseph.


James tersenyum getir. Permintaan yang sama dengan Pak Santo waktu itu. James tahu kalau itu adalah permintaan yang wajar padanya, selaku ia adalah guru BK di sekolah ini. Masalahnya ia sudah pernah melakukannya dan ternyata hal tersebut terulang lagi. Itu berarti pembicaraannya dengan Priscillia saat itu tidak mengubah apapun.


"Besok saya coba ya, Pak," ucap James akhirnya.


"Ya. Terima kasih, Pak James!"


"Sama-sama, Pak!"


Yah, tidak ada salahnya mencoba lagi, bukan ? pikir James.


...****************...


Esoknya, setelah menyampaikan pelajaran di kelas XI IPA, James berkata kepada Priscillia, "Sehabis ini, boleh kamu datang ke ruang BK? Ada yang ingin saya bicarakan sebentar."


Sontak seluruh kelas menjadi heboh, terutama Geng Princess. Ada apalagi ini? Bukankah akhir-akhir ini sudah tidak ada masalah lagi dengan Pak James? Mengapa Priscillia kembali dipanggil ke ruang BK?

__ADS_1


"Baik, Pak," jawab Priscillia dengan tenang.


Tak lama, bunyi bel akhir pelajaran berbunyi. (noted: Jadwal mapel BK di hari Kamis untuk kelas XI IPA ada di jam pelajaran keenam atau jam terakhir.)


"Baiklah. Saya akhiri sampai di sini pelajaran hari ini. Goodbye, students !" tutup James.


"Goodbye, Sir! Thank you, Sir !" balas seluruh siswi sambil berdiri.


James lalu keluar dari ruang kelas tersebut. Para siswi yang lain bersiap-siap untuk meninggalkan kelas, baik untuk pulang ataupun mengikuti ekskul. Sedangkan Priscillia mengikuti James dari belakang. Anggota Geng Princess yang lain hanya bisa melihat ketua mereka pergi dengan tatapan cemas.


Setelah Priscillia duduk berhadapan dengan James di ruang BK, James memulai pembicaraan.


"Kemarin Pak Joseph menemui saya dan mengeluhkan tindakanmu yang menghindari jam praktik olahraga. Masalah ini sudah pernah kita bahas waktu Pak Santo, Priscillia. Saya pikir waktu itu kamu menghindari pelajaran beliau karena memang kamu tidak menghargai beliau sebagai guru. Tapi kali ini, ada apalagi? Jangan katakan alasan 'tidak suka matahari'-mu lagi yah ..." tanya James.


Priscillia hanya terdiam dengan kepala tertunduk.


"Menurut saya, Pak Joseph guru yang baik. Tapi, baiklah, akan saya ikuti caramu, karena kamu masih ingin mengujinya sendiri. Tapi, bisakah kamu tetap mengikuti pelajaran beliau? Seperti yang saya pernah bilang, kelakuan seperti itu bisa membuat guru tersinggung." James melanjutkan perkataannya.


James tahu ada yang Priscillia sembunyikan. James dapat melihat ada kekhawatiran di matanya.


James menghela napas sebelum menjawab. "Untuk sementara, surat itu memang bisa membantumu mendapat pemakluman. Tapi tidak mungkin untuk seterusnya. Kecuali jika di surat tersebut tertulis alasan yang krusial, misalnya kamu memiliki penyakit tertentu seperti asma atau jantung, yang membuatmu tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga. Saya rasa, kamu sebenarnya mengerti kan?"


Priscillia kembali terdiam dan menundukkan kepala.


"Coba kamu renungkan dulu yah .... Ini demi kebaikanmu juga." James menutup pembicaraan.


"Kenapa sih guru-guru kepo amat?! Cuma ga ikut pelajaran olahraga lo! Itupun ga selalunya kan? Salah tuh gurulah, kenapa demen banget adain olahraga outdoor ?!" Tiba-tiba Rebecca langsung masuk ke ruang BK dan ikut nimbrung. Di belakangnya terlihat Sharon dan Cecilia mengekorinya.


"Rebecca, ketuk pintu dulu sebelum masuk! Permisi dulu sebelum bicara! Etikamu mana?" tegur James.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Kami sudah mencoba menghalanginya, tapi Rebecca tetap bersikeras mau ikut masuk," ujar Cecilia.


"Kan Pak James sendiri yang bilang boleh langsung datang! Pak James ingat kan?" ucap Rebecca membela diri. (lihat eps 47 )


Tentu saja James ingat. Hanya saja ia tak menyangka Rebecca akan datang dengan cara seperti ini. Ia memang harus hati-hati jika bicara dengan anak yang satu ini. Kata-katanya benar-benar ditelan Rebecca bulat-bulat.


"Iya, saya ingat! Tapi etika tetap jangan dilupakan! Untung saja di sini tidak ada orang lain. Kalau ada orang lain yang ikut serta dalam pembicaraan, kamu tidak boleh begini ya, Rebecca?!" James kembali mengingatkan.


"Iya, Pak. Ini kan cuma di depan Bapak aja. Kalau ada orang lain, saya akan lebih hati-hati," kata Rebecca sambil nyengir.


James hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Rebecca.


"Kita kembali ke topik, Pak. Jadi ceritanya Si Joseph ngadu sama Bapak?" tanya Rebecca tanpa basa-basi. Anggota Geng Princess yang lain hanya bisa menepuk jidat melihat sikap Rebecca yang tidak ada sopan-sopannya.


"Pak Joseph. Benahi dulu kata-katamu!" ralat James.


"Si Joseph! Saya tidak akan mengakuinya sampai ia diakui sebagai guru yang baik oleh Geng Princess!" kata Rebecca keras kepala.


"Ya sudah, terserah kamu. Yang penting jangan panggil seperti itu jika di hadapan orangnya atau di hadapan orang lain! Mengerti?" nasihat James kepada Rebecca. Kepalanya sudah mulai berdenyut menghadapi Rebecca. Lebih baik ia mengalah sedikit.


"Ya, mengerti. Jadi apa jawaban pertanyaan saya tadi, Pak?" Rebecca balik bertanya sambil tersenyum manis.


"Iya. Beliau meminta tolong pada saya dan memang sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu mengatasi masalah yang terjadi dengan pembelajaran siswi," jawab James.


"Jadi kesimpulannya gimana? Memang salah yah bersikap demikian? Namanya aja uda Geng Princess. Wajar dong seorang putri memilih menjaga kecantikannya dari sengatan matahari. Surat izin dokter pun sudah ada. Maunya apalagi?" cerocos Rebecca.


"Sudah saya bicarakan dengan ketuamu. Jadi biarkan ia pertimbangkan dulu dan mengambil keputusan terbaik yah ..." bujuk James menenangkan Rebecca.


Mendengar itu, Rebecca terdiam. Jika sudah menyangkut pertimbangan Priscillia, ia akan menghormatinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2