
Hari Sabtu tiba. Jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Biasanya di waktu-waktu ini, mereka semua akan bersiap pergi ke bandara menjemput Celine.
Tetapi kali ini berbeda. Untuk Sabtu ini, dirinya meminta Celine untuk tidak berkunjung dahulu ke kediaman mereka. Hal tersebut ia utarakan ketika Celine meneleponnya untuk menanyakan kabar James yang tidak mengangkat telepon dan membalas pesan Celine.
Saat itu ia beralasan bahwa keluarga mereka sedang disibukkan dengan suatu urusan. Dan berkenaan dengan itu, ia meminta pengertian Celine. Sepertinya Celine percaya dan menerima keadaan mereka begitu saja tanpa banyak bertanya.
Mama Ratna menghela napasnya. Situasi keluarga ini belum normal. Sepi masih melanda dan meliputi rumah ini. Sang suami masih terdiam seribu bahasa.
Sedangkan James seperti kerbau yang dicocok hidungnya, hanya bisa mengikuti arus persiapan pernikahan yang tidak diinginkannya. Setiap hari ia pergi ke gereja untuk mengikuti katekisasi selama 2-3 jam demi pelaksanaan pernikahan yang diharapkan dapat dilangsungkan secepatnya.
Seperti hari kemarin-kemarin, tadi sekitar pukul 14.00 James kembali pergi ke gereja. Suaminya belum pulang kerja, karena ada acara di fakultas tempatnya mengajar. Ia sendirian di rumah.
Dan baru saja pikirannya melayang ke Celine begitu melihat jam dinding. Hatinya trenyuh memikirkan nasib gadis itu. Karena itulah sampai sekarang ia belum berani menceritakan kejadian yang terjadi pada Celine.
Ketika pikiran Mama Ratna masih melanglang buana, terdengar lah suara motor James yang menandakan pemiliknya sudah kembali pulang. Mama Ratna pun menghentikan lamunannya dan segera keluar untuk menyambut anaknya.
Setelah James melepaskan helm dan jaket motornya lalu memasuki rumah, Mama Ratna bertanya padanya, "Ada perkembangan hari ini?"
"Ya. Karena materi sudah setengah jalan, hari ini pendeta Lukas meminta pertemuan dengan tuan Prawira juga. Ia ingin membahas pelaksanaan pemberkatan pernikahan agar dimasukkan dalam jadwal acara gereja, " jawab James.
"Jadi? Sudah diputuskan?" tanya Mama Ratna lagi.
"Sudah. Acara pemberkatan akan dilaksanakan Sabtu depan. James mulai minggu depan diminta menemani Cindy mencari kebaya pengantin dan juga cincin nikah. Mama juga siap-siap yah .... Cari kebaya yang cantik. Tolong kasih tau papa juga, " jawab James sambil tersenyum sedih.
Mama Ratna hanya tertegun mengetahui waktu yang telah ditetapkan. Seminggu lagi! Hanya tinggal seminggu lagi untuk menyiapkan segala sesuatunya! Dan ia belum mempersiapkan apapun untuk menyambut salah satu hari besar anaknya!
Boro-boro melakukan persiapan, rencana acaranya seperti apa bahkan ia tidak tahu! Perasaan pun masih kacau balau!
Dan ... sekali lagi .... Bagaimana dengan Celine? Apakah ia harus diberitahu sebelumnya? Apalagi acaranya diadakan di hari Sabtu di mana Celine biasanya akan berkunjung. Apakah ia harus mencari alasan lagi dan menyembunyikannya? Adilkah bagi Celine jika fakta ini disembunyikan? Mama Ratna benar-benar bingung.
"Bagaimana dengan Celine, James? Hari ini sudah Mama upayakan mencari alasan agar dia tidak berkunjung ke sini, karena hati kita belum siap memberitahukannya. Bagaimana dengan minggu depan?" Mama Ratna menanyakan pendapat James.
"Entahlah, Ma .... James bingung. James sungguh ga tega. Bagaimana kalau ternyata mentalnya ga kuat menghadapi kenyataan ini?" kata James sambil mengusap mukanya dengan putus asa.
"Mama rasa Celine yang sekarang sudah berbeda dengan Celine yang dulu, James. Mungkin perasaannya akan hancur, tetapi ia tidak akan sampai terpuruk seperti keadaannya dulu." Mama Ratna mengemukakan pendapatnya.
"Kalau gitu, Mama yang kasih tau Celine aja yah? James sepertinya ga bakal bisa, Ma .... Maaf yah, James minta Mama melakukan bagian yang sulit ...."
Mama Ratna kembali menghela napasnya. Ia juga sudah kehabisan kata-kata melihat James yang seperti ini. Kalimat penghiburan sudah sulit dicari untuk meringankan beban hati anaknya. Yang ia bisa lakukan hanya memeluk James sambil menepuk-nepuk punggungnya. James balas merangkul Sang Ibunda. Mereka berdua saling menguatkan satu sama lain.
Saat itu di depan pagar tiba-tiba berhenti sebuah mobil sport putih yang membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas.
"Mobil siapa James?" tanya Mama Ratna.
James mengerutkan kening sejenak mengingat-ingat mobil yang sepertinya pernah dilihatnya itu. Dan teringatlah ia dengan peristiwa di mana ia nyaris tabrakan.
"Rebecca ..." jawabnya lebih seperti bergumam.
Dan seperti panggilannya terjawab, muncul lah tiga sosok gadis cantik keluar dari mobil itu. Salah satunya keluar dari mobil didahului dengan sebuah payung.
Tak berapa lama kemudian, terdengar panggilan seperti sebuah kor, "Permisiiii ...."
__ADS_1
"Iyaaaa ..." jawab James.
Melihat sosok yang menyambut panggilan mereka, wajah ketiga gadis itu berseri. Mereka tidak salah rumah.
"Pak James! Cepat buka pintunya!" sahut Rebecca.
"Iya ... iya .... Sabar sebentar atuh ..." jawab James sambil menggelengkan kepala melihat ketidaksabaran mantan muridnya ini. Namun di sisi lain, bibirnya tersenyum. Kesedihan dan keputusasaan yang tadi melandanya sedikit terkikis dengan kunjungan tak terduga dari ketiga gadis ini.
Setelah pintu dibuka, James mempersilakan ketiganya masuk. "Maaf, rumahnya kecil, " sambungnya.
"Santai aja, Pak!" jawab Rebecca.
Begitu memasuki ruang tamu, James memperkenalkan ketiga gadis itu kepada ibunya yang dari tadi memang penasaran dengan tamu yang baru saja mendatangi mereka.
"Ma, ini mantan murid James. Mereka adalah Geng Princess yang pernah James ceritakan. Yang ini adalah Priscillia, ini Sharon, dan ini Rebecca. Sebenarnya ada satu lagi anggota geng mereka, yaitu Cecilia. Tapi anaknya sedang kuliah di luar negeri." James memperkenalkan mereka satu per satu.
"Geng Princess, ini Mamaku, " lanjut James memperkenalkan ibunya kepada ketiga tamunya.
"Selamat sore, Tante ..." sahut ketiganya memberi salam kepada Mama Ratna.
"Selamat sore .... Ayo, silakan duduk, " sambut Mama Ratna dengan ramah.
Baru saja bokong Rebecca menempel pada kursi, mulutnya sudah langsung terbuka dan bertanya sambil tersenyum nakal, "Memang apa aja yang diceritakan Pak James tentang kami, Tante? Pasti yang buruk-buruk yah?"
Mendengar itu, muka James langsung memerah dan ia memilih melarikan diri. "Ma, James bikinkan minuman dulu. Tolong temani mereka sebentar yah .... Hati-hati sama mereka, Ma .... Mereka suka melemparkan pertanyaan jebakan." James memberikan peringatan sebelum pergi.
"Tuh ... kan ... Pak James jelek-jelekin kami!" tuding Rebecca.
Mama Ratna tertawa. Ternyata seperti ini lah sosok-sosok yang sempat membuat repot anaknya di waktu yang lalu. Masih teringat betapa payah dan lelahnya raut wajah James setiap ia pulang dari habis mengajar kala itu.
"Maaf yah, Tante .... Teman saya ini memang ceplas-ceplos kalo ngomong, " ujar Priscillia mewakili Rebecca meminta maaf.
"Gapapa kan, Tante? Yang penting jujur, kan?" sahut Rebecca membela diri.
Mama Ratna tersenyum. Dari tadi ia memang penasaran dengan Sang Putri yang diceritakan James sebagai pemimpin mereka. Melihat sikapnya, sangat wajar anak ini diangkat menjadi pemimpin. Kepercayaan diri, kemampuan membaca situasi, dan pengendalian diri yang baik memang terlihat dari sosok Priscillia.
"Gapapa. Bersikap senyamannya aja. Anggap rumah sendiri, " jawabnya atas pertanyaan Rebecca.
"Tuh kan, Pris .... Jangan terlalu kaku! Tante pasti orangnya baik, ramah, dan sabar kayak pak James!" balas Rebecca.
Mendengar pujian yang diberikan Rebecca pada dirinya dan putranya, Mama Ratna tertawa.
"Jadi, ada tujuan apa kalian sampai mampir ke sini? Dan tau dari mana alamat rumah kami?" tanyanya.
Saat itu, James sudah selesai menyiapkan minuman dan kembali ke ruang tamu untuk menghidangkannya.
"Jelas dari putri ketua yayasan lah, Ma .... Dia pasti minta data James di TU sekolah. Betul, kan? Ayo, sambil diminum dulu. Maaf ya, ga ada apa-apa." James bertanya pada Priscillia sambil menawarkan minuman pada ketiga tamunya.
"Gapapa, Pak .... Jangan repot-repot ..." sahut ketiganya hampir bersamaan.
Kemudian Priscillia menanggapi pertanyaan James dengan senyuman. "Betul, Pak. Saya meminta data Pak James di TU sekolah karena ada yang ingin kami bicarakan, Tante ..." jawabnya.
__ADS_1
"Sebelumnya kami minta maaf jika dianggap terlalu ikut campur. Tapi kami tidak punya tujuan lain. Kami hanya ingin menolong karena menurut kami ada sesuatu yang janggal. Jadi, Rebecca menceritakan masalah Pak James pada kami dan kami mendatangi Cindy untuk mengkonfirmasi kejanggalan tersebut, " lanjutnya.
Lalu Priscillia menceritakan percakapan yang terjadi antara mereka dan Cindy. Bagaimana sampai akhirnya mereka bisa menduga bahwa yang terjadi pada James adalah sebuah jebakan.
James dan Mama Ratna mendengarkan dengan saksama. Mama Ratna bahkan sampai tegang dan berdebar, merasakan akan adanya sebuah harapan.
"Jadi, berdasarkan hasil keputusan kami, bagaimana kalau Bapak mencoba menuntut Cindy ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik? Soal pengacara, Bapak jangan khawatir. Kami bisa meminjamkan pengacara keluarga kami masing-masing. Tinggal Bapak pilih mana pengacara yang paling meyakinkan Bapak untuk memenangkan kasus ini." Priscillia menutup kalimatnya.
Mendengar tawaran penuh harapan itu, mata Mama Ratna berkaca-kaca. Namun ia tidak berani mengambil keputusan. Ia hanya bisa melihat ke arah James yang terdiam memikirkan tawaran tersebut.
"Nak .... Bagaimana menurutmu?" tanyanya pada James akhirnya dengan harap-harap cemas.
James tidak langsung menjawab. Alisnya berkerut seperti orang yang sedang berpikir dan menimbang sesuatu yang penting.
"Koreksi saya jika saya salah. Berdasarkan cerita dan pertimbangan keilmuan kalian, berarti tidak ada bukti yang valid dalam kasus ini, kan? Yang nantinya akan jadi pertarungan kepiawaian antara jaksa penuntut umum dan pengacara Cindy, bukan begitu?"
"Iya, Pak. Itu pun kalo laporan Bapak dianggap layak oleh penyidik untuk bisa naik ke pengadilan. Untuk itu, nanti kita diskusikan dulu dengan pengacara keluarga kami sebelum membuat laporan, " jawab Sharon.
"Sepertinya sulit bagi saya untuk memenangkan perkara ini. Betul, kan?" ucap James sambil tersenyum sedih.
"Betul, Pak. Agak sedikit sulit dengan adanya saksi yang memberatkan Bapak. Tapi bukankah lebih baik mencoba daripada hanya menerima nasib?" tutur Priscillia.
James tersenyum. Lalu menggeleng. "Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan dan dukungan kalian. Tapi sepertinya, saya memilih menerimanya saja, " katanya.
Mama Ratna terdiam. Harapannya yang tadi sempat timbul sebentar, sudah pupus ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan James. Ia sudah menduga keputusan apa yang akan dibuat oleh anaknya.
"Memang Bapak percaya perempuan ular itu, maksud saya Cindy? Atau jangan-jangan Bapak mulai mencintai dia? Bagaimana dengan Celine?" protes Rebecca yang tidak habis pikir dengan keputusan James.
"Saya tidak mencintai Cindy. Sampai sekarang saya hanya mencintai Celine. Saya juga bukan percaya pada Cindy. Saya mengatakan hal ini bukan bermaksud merendahkan kemampuan pengacara keluarga kalian. Saya hanya ingin menghindari efek setelah peperangan di pengadilan. Kalaulah saya yang menang, kalau saya kalah? Bukankah usaha perdamaian yang sudah diupayakan sejauh ini jadi sia-sia?
Saya bisa dianggap sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab, yang memilih dipenjara daripada menikahi Cindy. Cindy akan lebih terluka dan aib keluarganya terbongkar. Nama baik sekolah ikut dipertaruhkan. Banyak efek buruknya dibandingkan hal baiknya. Coba kalian pikirkan baik-baik, " ucap James.
Geng Princess terdiam. Mereka tidak berpikir sedalam itu. Mereka terlalu fokus dengan kejanggalan sikap Cindy yang menurut mereka dapat dibongkar. Tetapi bagaimana kalau Cindy juga dibekali oleh pengacara handal? Mereka belum tentu menang karena posisi pak James jauh lebih lemah.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kepedulian kalian. Tapi baiklah kita mempercayai Sang Khalik saja yah .... Biarlah Ia yang beracara dan menentukan yang terbaik buat saya. Doakan saya, doakan keluarga saya, doakan Celine, dan doakan Cindy juga, " pinta James.
Ketiga gadis itu hanya bisa terdiam mendengar perkataan gurunya. Walaupun mereka mengerti pola pikir gurunya, tetapi mereka belum siap untuk mengikhlaskannya.
"Pemberkatan nikah kami sudah diputuskan akan diadakan di gereja D pukul sepuluh pagi Sabtu depan. Kalau kalian ada waktu, silakan hadir untuk mendukung dan mendoakan kami, " undang James.
Semuanya terdiam. Suasana menjadi sunyi dan muram. Tidak ada yang berani merespons. Terlihat Rebecca benar-benar sedang menahan gejolak emosinya, yang sesungguhnya ia juga tidak tahu harus diarahkan ke mana.
"Baiklah. Akan kami lihat jadwal kami dulu ya, Pak. Sekarang, kami pamit pulang dulu, " ujar Priscillia berusaha menetralkan keadaan.
Mendengar itu, kedua temannya juga mengikuti Priscillia bangkit dari tempat duduknya. Tujuan mereka kemari sudah terlaksana, walaupun hasilnya tidak seperti yang mereka inginkan. Dan sekarang, mereka sudah tidak tahu lagi harus berbuat dan berkata apa.
"Ya, silakan. Hati-hati ..." ujar James ikut bangkit dari tempat duduknya dan berniat mengantar mereka keluar rumah.
"Terima kasih sudah berkunjung ke rumah kami. Terima kasih juga atas dukungan dan tawarannya untuk keluarga kami, " sambung Mama Ratna.
"Sama-sama, Tante. Permisi Tante ... Pak James ..." sahut Priscillia diikuti Sharon dan Rebecca.
__ADS_1
Lalu keluarlah ketiga gadis itu dan kembali menaiki mobil. Setelah mobil berlalu, Mama Ratna hanya bisa menangis memeluk James kembali. Sepertinya ia juga harus belajar mengikhlaskan segala sesuatunya seperti Sang Anak. Karena sepertinya, tekad James sudah bulat dan harapan akan keadaan yang mungkin berubah sudah tidak ada lagi.
...****************...