
Keesokan harinya, sekitar pukul 12.30, Papa Heru dan Mama Ratna sudah ada di bandara untuk mengantar kepergian Celine dan James. Setelah check in, James dan Celine kembali ke lobi bandara untuk menemui kedua orang tua yang masih menunggu di sana.
"Gimana? Sudah beres semua?" tanya Papa Heru.
"Sudah, Pa. Tinggal tunggu waktu boarding aja. Kan kali ini ga usah ngurus bagasi, wong barang bawaannya dikit, " jawab James.
"Kamu rencana kapan balik?" tanya Papa Heru lagi kepada James.
"Pengennya sih langsung balik hari ini juga, Pa. Soalnya Senin kan masuk kerja seperti biasa. Tapi yah liat sikon deh. Tergantung papa Celine mau ngomong apaan, " jawab yang ditanya.
"Jaga sikap yah, James. Bagaimanapun, kamu berhadapan dengan orang tua, " pesan Mama Ratna yang tahu kalau sedikit-banyak James masih menyimpan perasaan dongkol pada Tuan Adipratama.
"Iya ..." jawab James dengan nada malas-malasan.
Celine dan Mama Ratna hanya bisa tersenyum kecut melihat sikap James yang acuh tak acuh. Celine tidak enak hati karena bagaimanapun ia tahu cerita tentang papanya yang pernah bersitegang dengan James. Sedangkan Mama Ratna tidak enak hati pada Celine.
Tong Ting Teng Tong .... Mohon Perhatian! Penumpang pesawat AA Air dengan nomor penerbangan ZC319 tujuan kota J, dipersilakan naik ke pesawat udara melalui pintu nomor 3. Terima Kasih ! Terdengar pengumuman di bandara.
"Tuh, sudah ada panggilan! Kami pergi dulu ya, Pa, Ma!" pamit James.
"Hati-hati yah ..." pesan Papa Heru.
"Salam buat papamu dan Mbok Yani yah, Lin ..." kata Mama Ratna sambil tersenyum pada Celine.
"Iya, Ma, Pa ..." jawab Celine sambil memeluk Mama Ratna dan Papa Heru bergantian.
Perpisahan kali ini tidak diiringi dengan tangisan dan air mata. Yang ada hanya senyuman. Mereka sama-sama tahu bahwa perpisahan kali ini hanya sementara saja dan mereka bisa bertemu kembali kapan pun.
Tak lama kemudian, Celine dan James meninggalkan lobi bandara dan siap menuju kota asal Celine.
...****************...
Setelah menempuh kurang-lebih dua jam perjalanan, Celine dan James sekarang berada di depan rumah Celine. Mbok Yani sudah menunggu di depan pagar dan siap menyambut kedatangan mereka.
"Mbok ..." panggil Celine dan memeluk perempuan tua itu.
__ADS_1
"Nona ..." sambut Mbok Yani membalas pelukan nonanya.
"Selamat sore, Mbok ..." sapa James.
"Selamat sore, Nak James .... Ayo, kita langsung masuk ke dalam saja. Nona dan Nak James sudah ditunggu Tuan Besar dari tadi, " ujar Mbok Yani.
Mereka pun masuk beriringan dengan Mbok Yani memimpin di paling depan.
James berjalan sambil memperhatikan pemandangan rumah yang tidak terlalu banyak mengalami perubahan dari apa yang diingatnya. Halamannya yang luas masih dihiasi dengan taman bunga di kiri-kanannya. Air mancur dengan patung lumba-lumbanya pun masih berdiri dengan kokoh di tengah halaman.
Perubahan yang paling menonjol adalah hilangnya undakan-undakan kecil di sekitar tangga. Undakan-undakan cantik yang membuat lantai keramik makin terlihat elegan itu, sudah digantikan dengan jalan menanjak. Renovasi ini pasti dilakukan agar mempermudah mobilisasi Tuan Adipratama yang menggunakan kursi roda.
James dan Celine langsung diantar Mbok Yani ke ruang tamu. Setelah mempersilakan James duduk, Mbok Yani memanggil pelayan untuk menyuguhkan minuman dan makanan ringan untuk James dan Celine.
"Nona, Nak James .... Sebentar yah .... Mbok panggilkan Tuan Besar dulu, " pamit Mbok Yani yang segera menghilang setelah menuju salah satu lorong.
Ketika pelayan datang menyajikan makanan dan minuman, Celine mempersilakan James untuk mencicipinya. "Ayo, Bang James! Makan dan minum dulu!"
"Iya, " jawab James dengan canggung.
James mengambil gelas minuman sambil memperhatikan ruang tamu tempat ia duduk sekarang. Ia berusaha mengalihkan pikirannya agar kecanggungannya berkurang.
Yang berbeda adalah nuansa warna ruangan tersebut. Waktu James kemari untuk pertama kali, nuansanya adalah krem. Sekarang lantai ruang tamu itu ditutupi dengan karpet berwarna abu-abu, yang masih disenadakan dengan gorden besar yang menutupi jendela-jendela di rumah itu. Mungkin mereka mengganti warnanya untuk sedikit mengubah suasana, pikir James.
Suara tak tok tak tok merebut perhatian James. Celine langsung berdiri setelah mendengar suara itu, yang juga membuat James ikut berdiri.
Tak lama kemudian, muncul lah Tuan Adipratama dari lorong di mana Mbok Yani menghilang. Terlihat Mbok Yani mengekor di belakangnya.
Kegagahan Tuan Adipratama tampak jauh berkurang sekarang. Ia berjalan menggunakan tongkat di tangan kanannya untuk membantunya melangkah. Terlihat langkah kaki kirinya masih sedikit tertinggal dibandingkan langkah kaki kanan.
Namun, walaupun keadaannya demikian, hal tersebut tidak mengurangi wibawa yang dipancarkannya. Rasa tegang langsung meliputi James begitu ia melihat sosok pria di depannya.
"Papa ..." sapa Celine.
"Selamat sore, Om ...." James ikut memberikan salam.
__ADS_1
"Hmm .... Silakan duduk, " kata Tuan Adipratama ketika sudah tiba di depan mereka. Ia sendiri kemudian duduk di sofa yang berada di seberang James dan Celine. Sedangkan Mbok Yani berdiri di belakang sofa Sang Tuan Besar.
"Celine .... Beberapa hari ini Tuan Bagas dari bagian produksi terus-menerus mencarimu. Ia ingin menanyakan sesuatu mengenai pemilihan bahan baku untuk produk terbaru perusahaan kita. Coba lah kamu temui dia sebentar. Bagaimanapun, kamu lebih mengerti karena proyek ini adalah proyekmu, " kata Tuan Adipratama kepada Celine ketika mereka semua sudah duduk.
"Tapi Celine baru tiba, Papa. Lagipula ... kita kan lagi ada tamu. Ga bisa besok-besok aja?" tanya Celine sambil melirik ke arah James. Celine merasa sangat tidak etis, jika ia yang mengantar James kemari, tapi ia langsung meninggalkan James begitu saja.
"Masalahnya ia sudah mencarimu dari beberapa hari lalu, Celine. Ia takut penundaan yang lebih lama lagi akan mengakibatkan keterlambatan penyediaan barang dari tenggat waktu yang kita janjikan. Ia juga tidak berani memutuskan bahan baku ini sesuai kriterianya, karena takut tidak sesuai standarmu.
Lagipula Papa sudah berusaha menenangkannya sehingga tidak mengganggu liburanmu, bukan? Tak ada Papa meneleponmu dan membahas masalah perusahaan selama ini. Nah ... karena sekarang kamu sudah tiba di sini, luangkan waktumu sebentar untuknya. Kasihan dia. Mumpung toko yang menyediakan bahan baku juga masih buka." Papa Celine memberi penjelasan kepada putrinya.
Celine menghela napas. Tidak ada lagi yang ia bisa katakan untuk menyanggah perkataan papanya.
Ia pun berkata kepada James, "Bang, Celine tinggal dulu bentar, gapapa?"
"Gapapa, Lin. Santai aja. Urus aja dulu urusan Celine, " jawab James dengan senyum yang agak dipaksakan.
Celine pun mengangguk dengan perasaan bersalah. Lalu ia bangkit berdiri dan berkata, "Maaf yah, Bang James. Celine pergi dulu. Pa, Mbok, Celine pamit ...."
"Ya, hati-hati ..." ujar kedua pria itu nyaris bersamaan.
"Hati-hati, Nona ..." sahut Mbok Yani.
Celine pun berlalu dan meninggalkan ruangan tersebut. Ketika sosoknya tidak terlihat lagi, tiba-tiba Mbok Yani menepuk tangannya sebanyak dua kali.
Prok prok ! Bunyi tersebut membuat kedua pelayan yang tadi berdiri di samping tangga, berpindah posisi ke belakang Mbok Yani.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan. Nak James, Mbok permisi dulu. Kalau butuh apa-apa, panggil saja. Kami ada di luar ruangan," kata Mbok Yani.
Tuan Adipratama hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan James yang bingung, hanya bisa menjawab, "Ah, ya .... Silakan, Mbok."
Lalu Mbok Yani dan kedua pelayan itu pun meninggalkan ruangan, menyisakan dua lelaki berbeda generasi yang saling duduk berhadapan.
Setelah sosok Mbok Yani dan kedua pelayan itu tidak nampak lagi, Tuan Adipratama tersenyum miring memandang James.
"Celine dan para pelayan sudah pergi. Sekarang tinggal kita berdua. Mari kita bicara dengan jantan sebagai sesama lelaki, " ujar Tuan Adipratama membuka pembicaraan.
__ADS_1
James yang mendengar itu hanya bisa menelan ludahnya. Ternyata pria tua ini memang sudah merencanakan pembicaraan ini hingga mengusir Celine secara halus. Dan sekarang, mau tidak mau, ia harus menghadapi Sang Tuan Besar dengan jantan.
...****************...