Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Waspada


__ADS_3

Semakin dipikirkan, amarah James makin membara. Ia tidak habis pikir mengapa Raymond bisa bersikap demikian padanya. Cemburu? Atas dasar apa? Bukankah ia tidak pernah berduaan dengan Priscillia? Sikapnya yang mana pada Priscillia yang dapat disalahartikan?


Yang jelas dengan kedatangan Raymond di tempat kerjanya, membuat James merasa dikuntit. Dari mana laki-laki itu tahu tempat kerjanya? Seingat dirinya, ia tidak pernah menyebut RSUD di depan Raymond. Apakah Priscillia yang memberitahunya? Melihat sikap ketus Priscillia padanya, sepertinya itu tidak mungkin. Ataukah dari orang tua Priscillia?


Bagaimanapun juga, bukan itu yang penting sekarang. Pemuda itu sudah menganggapnya sebagai musuh dan ia sudah tahu banyak hal tentang dirinya. Sebaliknya, James sendiri tidak tahu apa-apa tentang pemuda itu.


Sejujurnya ia tidak suka pertikaian. Tetapi, bukan berarti ia terima untuk direndahkan dan disindir begitu saja tanpa ada perlawanan. Untuk itu, lebih baik ia mulai mencari tahu tentang Raymond. Setidaknya hal tersebut pasti dapat membantunya jika ia berhadapan dengan pemuda itu lagi.


Dengan pikiran demikian, James menghubungi Sharon. Tadinya ia ingin menghubungi Rebecca. Tetapi, mengingat Raymond disebut Priscillia sebagai teman kecilnya, mungkin Sharon lebih banyak tahu tentang hal itu, sebagai sesama teman kecil.


'Hai, Sharon. Maaf mengganggu. Saya ingin bertemu untuk membicarakan sesuatu. Ada waktu?' James memulai chat, takut mengganggu Sharon yang mungkin saja masih mengikuti kuliah.


Tidak berapa lama, balasan chat dari Sharon tiba. 'Bertemu berdua saja?' Tampak keraguan dari pertanyaan yang diajukan Sharon.


'Iya. Jika kamu tidak nyaman, saya juga akan mengajak Rebecca. Tetapi jujur saja, saya merasa makin sedikit orang yang tahu lebih baik, daripada menimbulkan salah paham.' James menjawab apa adanya.


Balasan selanjutnya datang dengan sedikit lambat. Mungkin Sharon berpikir dulu, atau mungkin juga sedang mengerjakan hal lain. Dan ternyata dugaan awal James terbukti. 'Saya lagi kuliah, Pak. Selesai kuliah sekitar jam 4. Kita bertemu setelah itu saja. Boleh?'


'Boleh sekali. Maaf mengganggu waktumu. Kita bertemu di kafe depan kampusmu yah ....'


Chat ditutup dengan satu kata 'Oke' dari Sharon. James pun segera berangkat menuju lokasi janjian.


...****************...


Pukul 15.47 James sudah tiba di kafe. Sambil menunggu Sharon, ia memesan makanan ringan dan minuman. Sampai akhirnya gadis itu tiba dan langsung melihatnya. James memang sengaja memilih tempat duduk yang ada di tengah kafe.


Sharon menghampirinya dengan kegugupan yang jelas terlihat. Ia tampak memaksakan diri.

__ADS_1


Setelah Sharon duduk, James bertanya dengan nada prihatin. "Kamu benar gapapa?"


"Gapapa, Pak. Saya memang tidak terbiasa berdua saja dengan pria. Saya hanya sedikit gugup. Biarkan saja, nanti juga terbiasa, " kata Sharon.


"Terima kasih atas pengertianmu. Ini, pesan makan atau minum dulu. Semoga bisa membuatmu lebih nyaman, " kata James sambil menyerahkan buku menu.


Sharon menerima buku menu yang disodorkan James. Setelah memilih dan memesan minuman, ia mengembalikan buku menu kepada pelayan. James memperhatikan sikap Sharon dengan ujung matanya agar tidak terlalu kentara.


Sejujurnya ia agak kasihan dengan Sharon. Mungkin karena sering bersama dengan teman-temannya, ia lupa kalau sifat dasar gadis ini adalah seorang yang pemalu dan tertutup.


Ketika berhadapan berdua begini, semuanya itu tersingkap dengan jelas. Sharon tampak tidak nyaman. Entah apakah mungkin ia memiliki pengalaman buruk dengan pria sehingga memperburuk kepercayaan dirinya, James tidak tahu. Tetapi karena Sharon berusaha menunjukkan ia baik-baik saja, James ingin menghargainya. Ia pun bersikap seperti biasa.


"Jadi apa yang ingin Bapak bicarakan?" tanya Sharon.


"Saya ingin menanyakan tentang Raymond. Priscillia mengakui dirinya sebagai teman kecilnya. Saya pikir, mungkin kamu juga cukup mengenalnya karena kamu pun teman kecil Priscillia. Apa saya benar?" James balik bertanya.


James pun menceritakan kunjungan Raymond ke tempat kerjanya barusan dan apa saja yang pemuda itu katakan padanya. Sharon dalam diam mendengarkan dengan saksama.


"Karena itulah, saya memanggilmu untuk menanyakan beberapa hal tentangnya. Dengan saya mengetahui latar belakangnya, pasti saya akan lebih bijak dalam menanggapi sikap Raymond yang demikian pada saya.


Saya tidak bertanya pada Priscillia karena saya tidak berniat menceritakan hal ini padanya. Saya tidak ingin memperkeruh hubungan Raymond dengan Priscillia. Karena itu lah selepas ini pun saya harap kita bisa merahasiakan hal ini darinya.


Mengenai Rebecca, kita sama-sama tahu bagaimana sifatnya. Jadi saya pikir, ada baiknya ia juga tidak diberi tahu. Tetapi balik lagi semuanya saya kembalikan kepadamu. Nyamankah untukmu jika merahasiakan ini dari teman baikmu?" tanya James sambil menutup ceritanya.


Sharon menghela napas. Penuturan James cukup masuk akal. Ia setuju Priscillia dan Rebecca tidak perlu tahu kejadian ini daripada memperbesar masalah. Toh sepertinya ini salah paham dari pihak kak Raymond sendiri. Ia pun cukup meyakini kalau mantan gurunya ini akan menanggapi kasus ini dengan bijak.


Hanya saja, pembicaraan ini agak sensitif karena menyangkut orang lain. Seperti sedang membuka rahasia temannya sendiri. Tetapi ia juga harus akui, kak Raymond duluan yang lancang memasuki kehidupan pak James lebih dahulu.

__ADS_1


"Jadi, apa yang ingin Bapak ketahui tentang kak Raymond?" tanya Sharon akhirnya.


"Semua yang bisa kamu bagikan pada saya," jawab James sambil tersenyum. Ia senang Sharon memutuskan untuk terbuka padanya. Sesuatu yang ia tahu, bukan hal yang mudah buat Sharon.


"Baiklah. Dari awal saja, sesuai pernyataan-pernyataan yang sudah Bapak dengar sendiri baik dari Priscillia maupun dari Raymond. Tidak ada yang salah dari omongan keduanya. Mereka berdua sudah ditunangkan sesuai kesepakatan kedua keluarga semenjak mereka masih kecil. Bersama dengan kak Jeremiah, kakak laki-laki Priscillia, kami berempat bertumbuh dan bergaul bersama.


Sampai setelah lulus SMU, kak Raymond mengikuti jejak kak Jeremiah melanjutkan kuliah di luar negeri. Mereka mengambil universitas dan fakultas yang sama, yaitu Manajemen Bisnis, karena keduanya adalah ahli waris perusahaan keluarga masing-masing.


Hubungan kami memang merenggang, tetapi masih tergolong baik-baik saja. Setiap libur yang cukup panjang, seperti libur musim semi atau musim panas, kak Raymond pasti menyempatkan diri untuk kembali ke Indonesia dan menemui Priscillia.


Pada dasarnya kak Raymond orang yang baik. Ia supel, ceria, dan penuh perhatian. Ia juga tidak pernah mempermasalahkan status hubungannya dengan Priscillia. Semuanya dibiarkan mengalir apa adanya.


Sampai akhirnya peristiwa ITU terjadi. Kak Raymond pun mulai berubah. Ia menjadi lebih posesif terhadap Priscillia dan mulai sering mengklaim statusnya sebagai tunangan Priscillia. Hal itu membuat Priscillia kesal. Sejak saat itulah hubungan keduanya memburuk.


Demikian yang bisa saya bagikan. Tentang peristiwa ITU, saya tidak dapat menceritakannya, karena merupakan privasi Priscillia. Begitu pula hal yang menyangkut tentang pemikiran dan perasaan. Biar Bapak yang menilainya sendiri. Atau kalau berkenan, silakan menanyakannya langsung pada yang bersangkutan." Sharon menutup kalimatnya.


Sampai di sini James cukup puas dengan penuturan Sharon. Ia berterima kasih karena Sharon mau membagikan informasi ini dengannya, meskipun kesannya harus bermain di belakang teman-temannya.


Masalah hubungan Priscillia dan Raymond sebelumnya, ia tidak mau tahu. Begitu pula dengan peristiwa rahasia yang menyebabkan Raymond berubah, ia tidak mau memikirkannya.


Satu hal yang ia bisa simpulkan, Priscillia dan Raymond tidak memandang hubungan mereka di ranah yang sama. Priscillia jelas tidak memiliki perasaan lebih pada Raymond. Sedangkan Raymond, kemungkinan besar setelah peristiwa ITU, ia menyadari bahwa status dan perasaannya sebagai tunangan Priscillia terusik. Karena itulah ia mulai menunjukkan diri dan meminta haknya sebagai tunangan Priscillia.


Dan sedikit banyak, peristiwa ITU akhirnya berpengaruh pada James. Ia yang dipandang sebagai laki-laki yang cukup dekat dengan Priscillia, dianggap Raymond sebagai hama yang mengganggu tunangannya. Karena itulah Raymond sampai memberi peringatan padanya. Demikianlah analisis yang bisa James buat sejauh ini.


Berhubung Raymond salah sasaran, James bermaksud mendiamkannya dulu. Ia cukup memantau perkembangan sikap Raymond dan mewaspadainya dari jauh. Toh, jika kebenaran terungkap, pemuda itu harusnya akan menyadari sendiri kesalahannya.


Sampai sejauh ini, ia akan mencoba mentolerir perbuatan Raymond. Mungkin jika hal serupa menyangkut Celine, ia juga bisa melakukan hal yang sama. Namanya juga cemburu. Semua orang pasti tahu kalau cemburu itu buta. Bukan begitu?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2