
Puncak acara yang ditunggu sebentar lagi akan dilangsungkan, yaitu pelayanan pemberkatan nikah. Beberapa orang di ruang ibadah itu menanti dengan kegugupan.
James pasrah. Tadi saat doa penutup Firman selesai dipanjatkan, ia sudah berserah. Yang akan terjadi, terjadilah. Janji nikah yang sudah ia hafalkan sudah menguap entah ke mana. Hanya potongan-potongan kata saja yang masih terselip di ingatannya. Entah bagaimana nanti ia akan menyusunnya, ia sudah tidak tahu.
Ia hanya bisa berusaha untuk mengatakannya sebaik mungkin. Sekalipun di depan Celine! Entah nanti ia akan dihina, ditertawakan, ataupun difitnah tidak serius oleh keluarga Prawira, ia pasrah. Yang penting Tuhan tahu niatnya tulus, itu sudah cukup menurutnya.
Masih tetap berdiri di mimbar, Pendeta Lukas melanjutkan acara ke tahap selanjutnya.
"Jemaat yang dikasihi Tuhan, pada hari ini Saudara James Wijaya dan Saudari Cindy Prawira akan menyerahkan pernikahannya kepada Tuhan, sebelum mencatatkan pernikahannya di Kantor Catatan Sipil. Kita bersyukur dan bersukacita karena kita semua yang hadir di sini boleh menjadi saksi dari sebuah peristiwa besar dalam kehidupan mereka.
Minggu yang lalu sudah diumumkan di warta jemaat mengenai tanggal dilangsungkannya pemberkatan pernikahan, yang mengacu pada hari ini. Dan sampai sekarang, belum ada pengajuan keberatan yang sah dari pihak lain.
Karena itu, saat ini saya akan menanyakan untuk yang terakhir kalinya, apakah ada pihak-pihak yang berkeberatan dengan pernikahan ini? Jika ada, silakan angkat tangan dan bangkit berdiri, " ucap Pendeta Lukas.
Jantung Priscillia, Sharon, dan Rebecca makin berpacu dengan cepat. Kata-kata inilah yang dari tadi mereka nantikan. Rebecca bersorak. Rupanya langit mendukung mereka. Setelah memberi kode satu sama lain, ketiga gadis ini siap mengangkat tangan mereka.
"SAYA KEBERATAN!!" Terdengar suara wanita mendahului mereka, yang membuat gerakan ketiganya terhenti.
Keadaan di ruang ibadah menjadi riuh. Semua mencari tahu siapa yang berbicara barusan.
Sebuah tangan yang gemetar terulur ke atas dari arah depan, yang membuat semua orang terkejut. Tidak terkecuali orang yang duduk di sampingnya.
"Sa- saya keberatan!" Cindy mengulangi perkataannya dengan tangan kanan yang sudah terulur ke atas. Kepalanya tertunduk dan tangan kirinya meremas erat jarik yang ada di pangkuannya.
James hanya bisa tertegun memandangi Cindy. Ia tidak mengerti dengan sikap Cindy yang di luar nalarnya.
Orang tua Cindy segera bangkit dari tempat duduknya setelah memastikan bahwa yang mengajukan keberatan adalah anaknya sendiri. "Cin- Cindy?! Ada apa denganmu?!" tanya Tuan Prawira.
Dengan air mata yang sudah berlinang, Cindy menengok ke arah James. "Ma- maaf, Pak. Sa- saya sayang Bapak. Saya cinta Bapak. Sa- saya ingin memiliki Bapak. Tapi ru- rupanya cinta saya membuat Bapak tersiksa. Maaf .... Da- dari awal, Bapak tidak pernah melakukan apapun pada saya," jelas Cindy di tengah isakannya.
"A- apa?!! Co- coba ulangi perkataanmu barusan?!" tanya Tuan Prawira yang tidak yakin dengan pendengarannya.
Kali ini Cindy bangkit berdiri dan menghadap kedua orang tuanya. "Ma- maaf, Pa .... Cindy bohong. Cindy masih suci. Pak James tidak pernah melakukan apapun yang merugikan Cindy. Cin- Cindy melakukannya ... ha- hanya untuk memiliki Pak James!" ujar Cindy.
Satu ruangan menjadi gempar dengan pengakuan Cindy. Ada yang berbisik-bisik satu sama lain membicarakan apa yang terjadi. Ada juga yang bertanya-tanya, karena masih belum mengerti latar belakang dari pernikahan ini.
"Annaakk iniii ...." Tuan Prawira hanya bisa menggantung kalimatnya saking geramnya. Lalu, dengan muka yang memerah karena menahan malu dan amarah, Tuan Prawira segera mendekati tempat duduk Cindy dan mengangkat tangan kanannya. Cindy yang terkejut hanya sempat menutup matanya.
PLAK!! Terdengar suara tamparan keras membahana di ruangan itu.
Seketika ruang ibadah menjadi sunyi melihat apa yang terjadi. Tuan Prawira sendiri terkejut melihat siapa yang ditamparnya. Cindy perlahan membuka matanya karena bingung mengapa ia tidak merasakan apapun.
Di depannya berdiri pujaan hatinya, melindungi dirinya dari tamparan Sang Ayah. Pujaan hati yang ia sakiti dan ia buat tersiksa dalam dua minggu ini, masih membela dirinya.
"P- Pak ... Pak James?" katanya bingung dengan sikap James.
James mengelus pipi kirinya yang terkena tamparan, lalu tersenyum kepada Cindy. "Kamu memang sudah membohongi dan memfitnah saya. Tapi terima kasih .... Pada akhirnya kamu memilih membebaskan saya, " katanya sambil mengelus kepala Cindy.
Badan Cindy bergetar hebat. Ia tahu bahwa ia tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu setelah apa yang dilakukannya.
Di sisi lain, ia bersyukur sepertinya pilihannya tidak salah. Senyum Pak James-nya kembali. Senyum tulus dengan sinar mata penuh kehangatan yang sempat ia hilangkan, kini muncul kembali dan ia masih diizinkan memperolehnya. Air matanya mengalir semakin deras menyadari hal itu.
"Ka- kamu, mengapa menghalangi saya mendidik anak saya?!" ujar Tuan Prawira tidak kalah bingungnya.
James mencoba menenangkan Tuan Prawira. "Saya tahu Bapak kecewa dan marah karena dibohongi putri Bapak. Tetapi janganlah ia ditampar di muka umum. Bukankah di atas semuanya itu harusnya Bapak dan Ibu bersyukur karena ternyata putri kalian masih suci?"
Tuan Prawira tertegun dengan ucapan James. Tetapi ia tidak ingin berlarut dengan keadaan yang masih kacau seperti ini. Segera ia menghadap ke jemaat dan berkata, "Acaranya dibubarkan! Tidak ada yang namanya pemberkatan pernikahan hari ini! Semua dibatalkan!!"
"Cindy, ayo pulang!" serunya kepada Cindy.
__ADS_1
Tetapi bukannya menuruti perkataan ayahnya, Cindy malah berlari mendekati tempat duduk Papa Heru dan Mama Ratna. Lalu dengan membungkuk sampai 90 derajat, Cindy berkata, "Maaf, Om ... Tante .... Sa- saya sudah menyusahkan keluarga Om dan Tante."
"Cindy! Cepat pulang! Jangan tambah bikin malu!" Nyonya Prawira ikut berseru menegur Cindy.
Cindy tetap bergeming dengan posisinya sampai ia merasa pundaknya ditepuk seseorang. Barulah setelah itu ia berani mengangkat kepalanya, untuk melihat siapa yang menepuknya.
"Ya. Kamu memang telah menyusahkan kami. Tetapi terima kasih, kamu sudah memberanikan diri mengakuinya, " ujar Mama Ratna sambil tersenyum pada Cindy.
Air mata Cindy kembali berderai. Tanpa banyak bicara, kembali ia membungkukkan badannya dengan tergesa sambil berkata, "Saya permisi ...."
Lalu ia pun mulai melangkahkan kakinya menjauhi tempat duduk keluarga Wijaya, dan mendekati orang tua dan keluarga besarnya yang sudah bersiap meninggalkan tempat itu. Di tengah jalan, Wendy berlari mendekatinya dan memeluknya.
"Aku bangga padamu, Cin! Kamu hebat!" katanya dengan wajah berseri-seri.
"Hebat apanya? Habis ini mampus aku, Wen ..." kata Cindy sambil tersenyum pahit dan menghapus air matanya.
"Ga akan mampus! Segalak-galaknya orang tuamu, kamu ga bakal dibunuh! Paling disiksa dikit dengan uang jajan dikurangi dan waktu bebas dipotong! Gapapa! Kutemani!" katanya menghibur Cindy.
Cindy tersenyum melihat sahabat yang beberapa saat ini sudah ia kecewakan dengan sikap keras kepalanya. Ia bersyukur memiliki sahabat seperti Wendy. Wendy pun membalas senyum Cindy dan keduanya sama-sama berjalan keluar dari ruangan itu.
"Wen ...." Sebuah suara yang memanggilnya menghentikan langkah Wendy sejenak.
"Titip Cindy yah ..." ujar James sambil tersenyum.
"Jelasss, Pak!" balas Wendy sambil mengacungkan ibu jarinya.
Cindy yang terharu dengan perhatian mantan gurunya itu, hanya bisa menganggukkan kepala sebagai salam perpisahan terakhir ketika mata keduanya bertemu. James pun ikut menganggukkan kepala membalas salam Cindy.
Setelah itu, segenap keluarga Prawira meninggalkan tempat itu. Beberapa jemaat dan tamu undangan yang merasa tidak berkepentingan juga sudah mulai undur satu per satu.
Pendeta Lukas turun dari mimbar dan menghampiri James. "Selamat ya, Nak .... Tuhan yang membela perkaramu. Tuhan yang melembutkan gadis itu untuk memulihkan nama baikmu, " ujarnya.
"Iya, Pak ..." jawab James sambil tersenyum.
"Silakan, Pak ..." ujar James.
Pendeta Lukas pun keluar dari ruang ibadah sambil mengajak beberapa petugas ibadah dan jemaat yang masih bingung dengan kelangsungan acara itu. Terlihat beberapa dari mereka akhirnya ikut undur diri dan keluar mengikuti pendeta Lukas.
James lalu menghampiri kedua orang tuanya yang langsung menyambutnya. Ketiganya berpelukan dalam keharuan. Mensyukuri apa yang Tuhan telah perbuat pada mereka. Mama Ratna sudah mulai menangis sambil berkata, "Syukurlah, Nak .... Syukurlah ...."
"Iya, Ma .... Tuhan sungguh baik ..." jawab James.
"Pak James ...." Sebuah panggilan membuat James berpaling dan melepaskan pelukan kedua orang tuanya.
Di hadapannya sudah berdiri Pak Roy dan Bu Lani. Dengan wajah muram mereka berkata hampir bersamaan, "Maafkan kami yang sudah berprasangka buruk pada Pak James."
James tersenyum sambil menyalami keduanya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya pasti akan berpikir demikian jika diperhadapkan dengan pemandangan seperti itu, " katanya.
Kemudian, kedua orang itu izin pamit dan keluar dari ruang ibadah.
Melihat semua kejadian yang terjadi bak drama itu, Rebecca tertegun di tempat duduknya.
"Guys ..." katanya pada teman-temannya.
Sharon dan Priscillia yang dari tadi juga masih terperangah, disadarkan dengan panggilan itu. "Ya?" jawab mereka bersamaan.
"Sepertinya ... mulai sekarang ... aku harus banyak berdoa, " katanya seperti sedang mengigau.
Sharon dan Priscillia tertawa mendengar celetukan Rebecca. Mereka tidak menyangka dalam situasi seperti ini pun, sempat-sempatnya temannya mendapatkan hidayah.
__ADS_1
"Bagus deh!" kata keduanya. Lalu mereka semua berjalan ke arah pak James yang saat itu masih berada di tengah keluarganya.
"Selamat ya, bro ! Lo batal jadi manten!" seru Alex sambil merangkul adiknya.
"Emang gila lo, Bang! Orang batal nikah malah diucapin selamat!" balas James sambil tertawa.
"Elo yang gila! Batal nikah malah kesenengan!" timpal Alex. James hanya bisa tertawa tanpa bisa menyanggah kebenaran yang disampaikan Abangnya.
"Pak James!" Sebuah seruan membuat James menoleh ke arah datangnya suara.
"Selamat yah, Pakkk ..." seru ketiga gadis itu kepada mantan gurunya.
"Ya. Terima kasih!" jawab James dengan berseri-seri.
"Oh ya, kenalkan. Waktu itu kalian belum bertemu sama Papa dan Abangku. Pa, Bang .... Kenalkan, ini Geng Princess. Dari sini Priscillia, Sharon dan Rebecca, " lanjutnya memperkenalkan ketiga gadis itu pada Papa Heru dan Alex.
"Salam kenal Om .... Salam kenal, Bang ..." sahut ketiganya.
"Salam kenal ..." balas Papa Heru dan Alex mengulum senyum penasaran, mengingat ketiga gadis ini pernah menjadi topik pembicaraan keluarga Wijaya.
Rebecca tertegun memperhatikan wajah Alex, sampai Alex sendiri merasa jengah diperhatikan dengan intens seperti itu.
"Ada apa?" tanyanya pada Rebecca.
"Kok Abang beda banget ama Pak James? Abang ganteng banget!" ceplosnya yang membuat James langsung mendelik.
"Maksudmu apa, Rebecca? Jadi saya jelek, begitu?" sindir James.
"Saya ga ngomong gitu lo, Pak!" sanggah Rebecca.
Alex tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Nona Cantik. Tapi jangan sampai naksir Abang yah .... Abang uda ada yang punya. Perkenalkan, ini istri dan anak Abang ..." ujar Alex sambil memperkenalkan Sherly dan Rico.
Sherly maju sambil menggendong Rico. Melihat itu, Rebecca tertawa kecut. "Salam kenal, Kakak .... Salam kenal, Dek ..." ujarnya.
"Salam kenal, " balas Sherly sambil tersenyum dengan elegan.
"Alammm ...." Rico ikut menjawab.
Melihat itu, semuanya hanya bisa mengulum senyum. Kesempatan itu dimanfaatkan Sharon dan Priscillia untuk memberi kode kepada Rebecca sambil melihat ke belakang.
Rebecca yang menyadari kode kedua temannya itu langsung melihat ke arah yang ditunjuk mereka. Di barisan paling belakang, Celine masih terlihat duduk di sana sambil mengamati semua yang terjadi.
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Pak. Masih ada yang menunggu untuk berbicara dengan Bapak, " sahut Priscillia sambil memberi kode kepada James.
James melihat ke arah Celine yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit dipahami.
"Ya. Terima kasih sudah menyempatkan diri kemari, " kata James kembali mengalihkan pandangannya kepada Priscillia dkk.
"Kami permisi dulu Om, Tante, Abang, Kakak .... Dadah, Dek .... Kapan-kapan kita ngobrol lagi yah ..." pamit Priscillia diikuti kedua temannya.
"Ya ... Silakan ..." jawab seluruh keluarga Wijaya.
"Dadaaahhhh..." kata Rico ikut-ikutan.
Ketiga gadis itu pun berjalan menuju pintu keluar. Ketika melewati tempat duduk Celine, mereka menyempatkan diri untuk menyapa lebih dahulu.
"Celine .... Kami duluan yah ..." sapa ketiganya.
"Iya ..." balas Celine tersenyum ramah.
__ADS_1
Setelah ketiga gadis itu keluar, hampir tidak ada lagi orang lain di ruang ibadah selain Celine dan keluarga Wijaya. James pun kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Celine. Ia tahu masih ada yang harus dibereskannya. Masalah belum sepenuhnya berakhir bahagia.
...****************...