Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Tamu yang Bukan Tamu


__ADS_3

Acara penyuluhan akan diadakan tinggal tiga hari lagi. Tapi sampai sekarang James belum menemukan narasumber pengganti Sang Pengusaha. Ia sudah berusaha menghubungi banyak orang. Tapi benar apa yang dikatakan abangnya, pengusaha sulit menyediakan waktunya secara mendadak.


Kabar serupa juga datang dari Alex siang ini. Ia sudah menghubungi pengusaha-pengusaha yang ia kenal baik. Namun hasilnya sama. Semuanya menolak untuk menjadi pembicara dengan alasan yang serupa, sibuk dan pemberitahuan yang terlalu mendesak.


Setelah kegiatan belajar-mengajar berakhir, James terduduk di meja kerjanya yang berada di ruang guru. Ia termenung melihat kertas draf acara penyuluhan bimbingan karir yang tergeletak di atas mejanya.


Setelah beberapa saat, dengan berat hati, James memutuskan mencoret "penyuluhan oleh pengusaha" yang tertulis di sana. Ia menyerah. Ia lebih memilih fokus dengan narasumber yang sudah ada. Ia masih perlu memastikan kesiapan mereka atau menanyakan hal-hal yang mungkin mereka butuhkan untuk menunjang penyuluhan.


Memang sangat disayangkan ia tidak bisa menghadirkan narasumber pengusaha, profesi yang paling banyak dituju oleh siswinya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah mengusahakan yang terbaik dan hasilnya tetap nihil. Dengan lesu dan sedikit kekecewaan yang masih menggantung di dada, James pulang ke rumah tepat pukul 15.00.


...****************...


Sesampainya di rumah, James melihat sepatu wanita tergeletak di teras. James tahu itu bukan sepatu mamanya. Jadi, siapa yang datang bertamu? Kak Sherly kah? Sherly memang cukup sering datang ke rumah, tetapi biasanya tidak dalam rentang waktu ini. Biasanya dia datang di atas jam 5 sore, seusai jam kantor. Jika bukan Kak Sherly, apakah ada tamu lain?


Begitu memasuki rumah, di ruang tamu tidak terlihat siapapun. James mengernyitkan alisnya. Di mana tamunya?


Samar-samar ia mendengar suara obrolan dari ruang keluarga. Mamanya sedang mengobrol dengan seseorang. Suara yang ia kenal. Suara yang ia rindukan dan tak mungkin ia lupa. Dengan berdebar, James mempercepat langkahnya menuju ke ruang keluarga untuk memastikan dugaannya.

__ADS_1


"Bang James!"


James hanya bisa mematung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Walaupun ia sudah menduga siapa pemilik suara yang tadi didengarnya, walaupun dugaannya benar dan sudah mendengar sendiri dirinya dipanggil oleh Sang Pemilik Suara, ia tetap tertegun tidak percaya bisa melihat sosok yang ia rindukan benar-benar ada di hadapannya sekarang ini. Ia takut jangan-jangan ini hanya mimpi.


"Noh ... ternyata James juga bengong kayak Mama tadi. Kamu benar-benar berhasil bikin surprise yah, Lin ...." Suara mamanya menyadarkan James kembali.


"Tapi Bang James lebih parah bengongnya, Ma .... Lebih lama! Tuh, sampai sekarang aja masih jadi patung, " tambah Celine sambil tertawa.


"Iya, nih .... Bikin malu! Duduk sini, James!" kata Mama Ratna sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.


James berjalan ke arah kursi yang ditunjuk mamanya dalam keadaan setengah sadar dengan mata yang masih melekat pada Celine. Wajah Celine tidak banyak berubah. Hanya ada riasan tipis yang tetap menonjolkan kecantikan alaminya.


Perubahan juga tampak pada sikap dan pembawaan Celine. Celine tampak ceria dan percaya diri. Berbeda jauh dengan terakhir kali James melihatnya. Ia berani membalas tatapan James dengan senyum manis khasnya.


"Bang James gimana kabarnya?" tanya Celine membuka percakapan.


"Eh? Baik. Kabar Bang James baik, " jawab James canggung.

__ADS_1


"Cape habis pulang kerja?"


"Lumayan."


Lalu suasana menjadi hening. Celine tersenyum kecut karena merasakan kecanggungan yang terjadi.


"Kamu kenapa sih, James? Kok sikapmu kayak ga kenal gitu sama Celine?" tegur Mama Ratna.


"Mungkin Bang James marah karena Celine tiba-tiba hilang ga ada kabar, Ma ..." tebak Celine sambil tersenyum pahit karena merasa bersalah.


"Nah .... Iya, iya. Tadi obrolan kita uda sampai sana, tapi keputus pas James pulang. Ayo, sekarang jelaskan! Kenapa kamu tiba-tiba ga kasih Mama kabar lagi? Kalau alasanmu ga tepat, Mama ikut ngambek ah kayak James ...." Mama Ratna pura-pura mengancam.


"Jangan dong, Ma .... Tadi kan Celine juga uda minta maaf. Celine pasti jelasin kok. Tapi kalo kurang tepat, bantu ditepat-tepatin yah, Ma .... Kasih diskon dikit, " jawab Celine sambil nyengir.


"Hmmm .... Nih anak uda pinter ngomong yah ..." sahut Mama Ratna gemas sambil mencubit pipi Celine. Celine pun tertawa.


Lalu Celine membuka mulutnya untuk menceritakan kisahnya. Sebenarnya, apa yang terjadi padanya selama ini, hingga ia terkesan menghilang?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2