Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kecewa


__ADS_3

James duduk diam menunggu dengan pikiran mengawang. Yang ia coba lakukan dari tadi adalah mengontrol perasaannya. Tenang dulu .... Tenang dulu, James. Jangan gegabah! Coba kita dengarkan dulu. Mungkin ada salah paham di sini, katanya mencoba menenangkan pikiran dan perasaannya.


Sampai sebuah mobil BMW hitam berhenti di depan pelataran. Celine keluar dari kursi penumpang. Ketika berjalan memasuki gedung, ia baru menyadari kehadiran James dan tertegun. "Bang James?" katanya sedikit meragukan penglihatannya.


James memaksakan diri tersenyum. Entah ekspresi apa yang muncul, ia sudah tidak dapat memikirkannya. Perasaannya bergejolak, namun ia masih berusaha untuk menahannya. "Celine dari mana?"


"Ngg ... dari bertemu dengan rekan bisnis, " jawab Celine dengan senyum kecut.


Mendengar jawaban dan ekspresi Celine, mata James berkilat. Amarah mulai membara di dadanya. "Bener dari bertemu rekan bisnis? Bukan dari perjodohan?" ujarnya dengan nada sinis hampir seperti mendesis.


Celine terlihat kaget. Matanya membulat dan kecemasan mulai terlihat pada raut mukanya.


"Sejak kapan Celine jadi suka bohong?" tanya James. Matanya menatap Celine dengan tajam, sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Celine bisa jelasin, Bang James ..." ucap Celine.


"Ga perlu. Bang James pulang, " kata James sambil membalikkan badannya, lalu berjalan meninggalkan Celine.


"Tunggu, Bang James! Dengar dulu!"


Tetapi James tidak memedulikan seruan tersebut. Ia tetap berjalan tanpa memalingkan wajahnya. Amarah dan kekecewaan mendera hatinya. Ia sungguh tak menyangka Celine akan membohonginya. Kejutan yang ia persiapkan berbalik menjadi bumerang baginya.


Joseph yang memperhatikan percakapan tersebut, jadi tidak enak hati. Dengan mendengar percakapan tadi, ia baru sadar kalau selama ini ia telah salah paham. Kedua orang ini bukanlah saudara kandung ataupun sepupu. Mereka sepasang kekasih. Dan fatalnya lagi, perkataannyalah yang menyebabkan pasangan ini bertengkar.


Joseph pun menghampiri Celine yang masih termangu memandang punggung yang menjauh. "Nona .... Maaf .... Saya telah sembarangan bicara, " katanya dengan penuh penyesalan.


Celine memandangnya dengan senyum pahit. "Sudahlah. Yang namanya kebohongan memang cepat atau lambat pasti terbongkar. Bisa tolong antarkan saya pulang saja, Pak?"


"Baik, Nona ..." jawab Joseph.

__ADS_1


Kembali ia membukakan pintu belakang mobil untuk Celine. Dan mobil pun kembali melaju membelah jalan. Kali ini tujuannya adalah kediaman Adipratama.


Sepanjang jalan, sesekali Joseph mengintip wajah atasannya lewat kaca spion. Wajah cantik yang dari tadi sudah murung, kini bertambah muram. Joseph diliputi perasaan bersalah. Secara tidak langsung, ia sudah membuat nona penolongnya terluka.


...****************...


Malam itu juga James memilih kembali ke kotanya. Saat ini ia sudah di bandara dan membeli tiket pulang. Masih ada waktu setengah jam sebelum pesawatnya berangkat. Ia sudah check-in dan tinggal menunggu waktu untuk diizinkan menaiki pesawat.


Amarahnya sudah sedikit mereda. Hanya kekecewaan yang pekat memenuhi hatinya. Ditambah lagi dengan kenyataan kalau Celine tidak mengejarnya.


Bukankah harusnya Celine lebih berupaya membujuknya dan meredakan amarahnya? Bukankah Celine sendiri sudah menyadari kesalahannya? Mengapa hanya sampai di situ saja usahanya untuk memperbaiki keadaan? Bahkan sampai sekarang pun Celine tidak berusaha menghubunginya.


Ataukah ... Celine sebenarnya memang sudah pindah ke lain hati? Jika melihat hubungan mereka yang sudah datar, hal itu mungkin saja terjadi. Sebenarnya, kali ini pertemuan perjodohan yang ke berapa? Dengan begitu banyaknya kemungkinan Celine bertemu laki-laki yang jauh lebih tampan dan lebih mapan darinya, bisa jadi dugaannya benar.


Pikiran-pikiran seperti itu menambah kekecewaan di hati James. Apakah dengan kejadian ini hubungannya dengan Celine dapat dipertahankan? Ia tidak percaya diri lagi untuk menjawabnya.


Jalan pemikiran Celine saat ini, tak dapat ia mengerti. Celine sudah terlalu banyak berubah. Celine yang polos seperti dulu sudah tidak ada.


Saat pemikiran semrawut, James kembali disadarkan karena HP-nya berbunyi. Dalam hatinya ia berharap Celine yang menghubunginya, ketika ia mengintip untuk melihat siapa yang melakukan panggilan.


Pada layar HP tertulis nama yang ia sendiri tidak ingat kalau nama tersebut masih ada di daftar kontaknya. Pak Joseph.


Dengan nada kecewa dan sedikit malas, James mengangkat panggilan tersebut. "Halo?" katanya.


"Halo .... Apakah benar saya bicara dengan Pak James?" tanya laki-laki di seberang sana dengan nada ragu.


"Ya. Saya sendiri. Ada apa, Pak?" tanya James terkesan dingin.


"Syukurlah saya masih memiliki nomor kontak Pak James dan Pak James belum mengganti nomor HP." Terdengar nada lega pada suara Pak Joseph.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, sekarang Bapak ada di mana?" tanya Pak Joseph.


"Di bandara. Saya berniat kembali ke kota saya, " jawab James.


"Maaf, Pak .... Bukan bermaksud mencampuri. Tetapi ... tidak mau dipikirkan dulu?"


James baru saja mau membuka mulutnya untuk menjawab, namun Pak Joseph sudah menyambung kalimatnya.


"Tolong beri saya sedikit waktu untuk menjelaskan, Pak. Jangan marah atau mematikan teleponnya, " pinta Pak Joseph.


"Saya bicara di sini bukan atas perintah Bu Celine sebagai karyawan beliau. Ini murni inisiatif saya sendiri. Saya hanya ingin mengatakan, mungkin Bu Celine memang salah karena merahasiakan perjodohan dari Pak James. Tetapi pasti beliau memiliki alasannya sendiri.


Jujur saja, Pak .... Kalau saya boleh sedikit memberi kesaksian, selama perjalanan saya mengantar Bu Celine ke tempat perjodohan, mukanya muram lho. Jelas sekali kalau itu dilakukannya dengan keterpaksaan. Jadi, Pak James .... Tolong berikanlah waktu buat beliau untuk menjelaskan .... Dengarkan dulu alasan Bu Celine .... Jangan sampai Pak James menyesal.


Saya di sini hanya ingin melihat kalian baik-baik saja dan berbahagia, sebagai orang yang saya tahu berhati baik. Sedih rasanya melihat kalian begini, apalagi sedikit banyak ini akibat kelancangan mulut saya juga ...." Pak Joseph mengakhiri kalimatnya.


Mendengar keterangan Pak Joseph, James hanya terdiam. Pikirannya kosong. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapinya.


"Itu saja yang ingin saya sampaikan, Pak. Sekali lagi, mohon maaf kalau saya lancang sudah mencampuri urusan pribadi Pak James dan Bu Celine."


"Ya. Terima kasih atas niat Pak Joseph. Akan saya pikirkan. Selamat malam, Pak." James mengakhiri percakapan mereka.


"Selamat malam juga, Pak James." Telepon pun ditutup.


James masih termenung memandangi HP-nya. Tidak ada yang salah dari perkataan Pak Joseph. Tadi ia memang tidak memberi kesempatan Celine untuk menjelaskan. Jadi sekarang bagaimana? Tiket sudah dibeli, apa harus dibatalkan?


Tidak! Tadi Pak Joseph bilang, ia melakukannya atas inisiatif sendiri. Berarti dari pihak Celine juga belum ada pergerakan untuk memperbaiki keadaan.


Jadi sebaiknya ia pulang dulu. Jika memaksakan diri dan bertindak gegabah, bukankah nanti akan memperkeruh masalah?

__ADS_1


Dengan pemikiran demikian, James melanjutkan rencananya semula. Malam itu juga ia kembali ke kota B, kota asalnya. Semua pemikiran yang mengganggu, ia tangguhkan. Yang paling penting adalah menjernihkan pikiran dan perasaan, agar dapat lebih bijak untuk menentukan langkah selanjutnya.


...****************...


__ADS_2