Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kubersujud


__ADS_3

Setelah meninggalkan kafe, James tidak tahu harus pergi ke mana. Ia belum siap untuk kembali ke rumah dan berhadapan dengan ibunya. Ibunya pasti bertanya-tanya mengapa ia sudah pulang padahal sekarang masih jam kerja. Karena itu, ia memutuskan untuk mengendarai motornya tanpa arah tujuan.


James berputar mengelilingi jalan dengan arah tak menentu. Ia berbelok atau lurus melintasi jalan hanya berdasarkan kata hati. Sampai tanpa sadar, James melewati gereja tempatnya biasa beribadah bersama keluarganya.


Entah dorongan dari mana, James memasuki pekarangan gereja dan memakirkan motornya di area parkir. Kemudian ia melepas helm dan jaket motornya, lalu menyimpannya di bagasi motor.


James melanjutkan langkahnya sampai memasuki ruang ibadah. Suasana di dalam gereja begitu sepi. Tidak ada orang di sana. Hal ini sangat wajar, karena di waktu-waktu seperti ini tidak ada jadwal ibadah atau acara gereja yang digelar.


Perlahan-lahan James mendekati mimbar. Matanya menatap salib besar yang sedang tergantung di depannya. Baru setengah jalan, lambat laun langkahnya melambat, sampai akhirnya ia terhenti dan jatuh berlutut di sana.


Kepalanya tertunduk. Air matanya menetes. Perasaannya tumpah. James mengadu kepada Sang Khalik, keputusasaan yang sedang menderanya dalam keluhan yang tak terkatakan. Hanya teriakan yang kadang terlepas dari bibirnya. Teriakan seperti raungan binatang yang terluka.


Tanpa James ketahui, raungannya terdengar oleh pendeta Lukas yang memang tinggal di sana. Ada suara aneh terdengar dari ruang ibadah yang harusnya tidak ada orang di dalamnya. Pendeta Lukas pun meninggalkan ruangannya dan segera pergi memeriksa ruang ibadah.


Ia terdiam melihat seorang pemuda sedang berlutut menangis di jalan menuju mimbar dalam ruang ibadah. Entah apa yang pemuda itu alami sampai ia menangis sepilu itu? Ia pun memilih menunggu pemuda itu selesai mencurahkan isi hatinya.


Setelah beberapa saat, terlihat James hanya terduduk lesu. Tidak ada lagi erangan atau raungan yang terdengar. Hanya sesekali isak tangis halus masih terlepas dari tenggorokannya.


Pendeta Lukas pun mendekati James secara perlahan, lalu berlutut di samping pemuda itu. Tangannya menyodorkan kotak tisu dan berkata, "Nak James, ada yang mau dibagikan pada Bapak?"


James memandang pak pendeta yang sudah mendidiknya di sini semenjak ia masih kanak-kanak. Entah sejak kapan Pak Lukas ada di sini dan melihatnya menangis, James tidak tahu. Ia pun tidak berniat mencari tahu dan menanyakan hal tersebut.


James mengambil beberapa lembar tisu dari dalam kotak dan membersihkan mukanya. Entah sekacau apa mukanya sekarang, ia tidak terlalu memusingkannya.


Pendeta Lukas mengajaknya berdiri dan menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi jemaat yang terdekat dari posisi mereka tadi. Seperti seorang pesakitan yang sudah tidak bertenaga, James menuruti arahan Pak Pendeta.


"Ada yang mau diceritakan? Mungkin bisa meringankanmu?" Pendeta Lukas kembali bertanya.


James terdiam. Tetapi setelah berpikir sesaat, cepat atau lambat ia memang harus berkonsultasi dengan Sang Pendeta sesuai dengan janjinya untuk menikahi Cindy.


"Saya ... ingin mengaku dosa, Pak Pendeta ...." James mengawali ceritanya.


"Saya sudah menodai seorang gadis tanpa saya sadari, karena saat itu saya mabuk. Padahal, saya sudah memiliki seorang kekasih dan sedang merencanakan pertunangan dengannya. Sekarang, keluarga gadis itu menuntut saya bertanggung jawab menikahi putrinya. Saya bingung bagaimana harus menjelaskan hal ini pada orang tua dan kekasih saya. Saya pasti akan menyakiti mereka, " aku James jujur.


Pendeta Lukas terdiam mendengar cerita James. Setelah beberapa saat, baru lah ia bertanya, "Kalau Bapak boleh tau, apa keputusanmu terhadap tuntutan dari keluarga gadis itu?"

__ADS_1


"Saya sudah setuju akan bertanggung jawab, Pak Pendeta. Saya akan menikahi gadis itu, " jawab James.


"Syukurlah, Nak, kalau kamu memutuskan demikian. Biarlah Tuhan yang memberkati itikad baikmu. Tuhan yang menguatkanmu sehingga kamu bisa menjelaskan keadaanmu pada orang tuamu dan kekasihmu. Biarlah mereka juga diberi kebesaran hati dan penghiburan agar mereka bisa mengampuni kesalahanmu, " ujar Pendeta Lukas.


James hanya bisa tersenyum sedih dan mengamini kata-kata Sang Pendeta.


"Bapak rasa kamu sudah tahu. Tetapi Bapak terdorong untuk mengingatkan. Kamu tahu konsekuensi pernikahan Kristen, kan? Apapun alasanmu menikahi gadis itu, tidak ada perceraian dalam Kekristenan. Kamu tidak bisa asal menikahinya untuk sekedar bertanggung jawab, lalu menceraikannya di kemudian hari agar kamu bisa menikah dengan kekasihmu. Kamu paham, kan?" tanya Pendeta Lukas.


"Ya. Saya paham, Pak. Sangat paham, " ujar James dengan nada pahit.


Pendeta Lukas tersenyum melihat James tetap mempertahankan keputusannya meskipun ia tahu hal tersebut pasti merupakan hal yang sangat berat bagi pemuda itu. Bagaimana James harus merelakan masa depan dengan kekasihnya demi sebuah tanggung jawab. Ia pun menepuk bahu James untuk menghiburnya.


"Berkenaan dengan itu, Pak .... Bagaimana dan apa yang saya harus siapkan agar bisa dinikahkan di gereja ini, Pak Pendeta?" tanya James tiba-tiba.


"Tentu saja kalian harus mengikuti Katekisasi Pra-nikah (bimbingan atau penggembalaan untuk persiapan pernikahan) selama 2-3 bulan. Selain itu ada beberapa surat-surat dan dokumen yang harus kalian persiapkan, " jawab Pendeta Lukas.


"Baik, Pak Pendeta. Nanti saya akan bicarakan dulu pada orang tua saya dan keluarga gadis itu. Saya izin untuk mengganggu Pak Pendeta untuk beberapa saat ini, " ujar James.


"Tidak masalah, Nak. Bapak senang bisa membantumu, " jawab Pendeta Lukas sambil tersenyum.


"Saya pamit dulu, Pak Pendeta. Terima kasih sudah menghibur dan menguatkan saya." James undur diri.


Lalu James pun pulang ke rumah.


...****************...


James sampai di rumah mendekati waktu makan siang.


"Pulang pagian, James?" tanya Mama Ratna begitu menyadari anaknya sudah tiba di rumah.


Awalnya ia tidak menaruh curiga apapun. Ia mengira James pulang lebih awal karena kegiatan belajar mengajar sudah mulai dikurangi mengingat saat ini sudah merupakan penghujung tahun ajaran. Namun begitu melihat wajah James, ia tertegun sejenak. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi.


"Iya, Ma." James mencoba bersikap seperti biasa dan langsung masuk ke kamar mandi sebelum Mama Ratna sempat menanyakan sesuatu apapun.


Setelah James keluar dari kamar mandi, Mama Ratna sudah menunggunya untuk mengajaknya bicara. "Kamu kenapa? Apakah ada hubungannya dengan acara kamping kemarin? Meskipun kelelahan, raut wajahmu tidak akan seperti ini. Ada apa, Nak? Adakah yang bisa kamu ceritakan pada Mama?"

__ADS_1


"Ada, Ma. Tapi nanti malam aja yah ceritanya, biar sekalian sama papa. Maaf yah, Ma ..." sahut James dengan nada sedih dan muka tertunduk.


Mama Ratna hanya menghela napas melihat keputusan putranya. Ia pun membiarkan James kembali ke kamarnya tanpa ditanyai lebih lanjut.


Sampai malam datang. Papa Heru pulang dan mereka bertiga menikmati makan malam bersama seperti biasa. Usai makan, satu-persatu personil mulai duduk di ruang keluarga menunggu waktu PKW.


Ketika semua sudah berkumpul di ruang keluarga dan suasana terasa santai, James langsung bersimpuh dan bersujud hingga kepalanya menyentuh lantai.


"Papa, Mama ... maaf !" katanya.


Melihat James tiba-tiba melakukan hal yang tak pernah dilakukannya, sontak membuat kedua orang tua ini kaget bukan kepalang dan diselimuti perasaan tidak enak.


"Kenapa kamu tiba-tiba jadi begini, James? Bangkitlah! Kita bicarakan baik-baik!" seru Mama Ratna sambil berusaha membangkitkan James dari posisinya yang membuatnya cemas.


James hanya berani mengangkat kepalanya tanpa berani memandang wajah kedua orang tuanya. Ia juga memilih untuk tetap mempertahankan posisinya.


"Kenapa kamu minta maaf sampai begitu pada kami? Kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Papa Heru berusaha bersikap tenang.


James menarik napas panjang dan mengumpulkan keberaniannya. Lalu ia membuka mulutnya dan mulai bercerita.


Sepanjang James bercerita, Mama Ratna hanya bisa menutup mulutnya saking terkejutnya. Akhirnya, karena tidak sanggup lagi menahan perasaannya, isak tangis pun terlepas dari tenggorokannya.


Sedangkan Papa Heru, hanya bisa terdiam dengan tangan terkepal menahan emosi yang mengalir di dadanya. Entah kepada siapa harus ia lampiaskan emosi tersebut, ia pun tak tahu.


"James bersalah pada Tuhan. James bersalah pada Papa-Mama. Maafkan James karena sudah mempermalukan Papa-Mama!" ucap James mengakhiri ceritanya. Kembali ia bersujud sampai kepalanya menyentuh lantai.


Keadaan menjadi sangat hening. Hanya isak tangis Mama Ratna yang kadang terdengar. James pun tidak berani mengangkat kepalanya. Ia pasrah menanti respons dari kedua orang tuanya.


Tidak beberapa lama, Papa Heru bangkit dari tempat duduknya. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke kamarnya.


James baru berani mengangkat kepalanya setelah punggungnya ditepuk mamanya. Hatinya teriris melihat wajah ibundanya yang biasanya ceria kini sudah berurai air mata. Lebih teriris lagi karena ia tahu bahwa ia lah penyebabnya.


"Maafkan James, Ma ...." Kembali James mengulangi perkataannya. Tanpa sadar, air mata pun sudah menetes di pipinya.


Mama Ratna hanya bisa terdiam melihat wajah putranya. Ia tahu, anaknya pun tidak kalah terlukanya dengan peristiwa ini. Dengan lembut, ia menepuk pundak putranya dan berkata, "Beri kami waktu, Nak ...."

__ADS_1


Lalu Mama Ratna bangkit berdiri dan menyusul Sang Suami masuk ke kamarnya. Tinggal James yang masih duduk bersimpuh, meratapi nasibnya di ruang keluarga.


...****************...


__ADS_2