Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Calon Konselor


__ADS_3

"Jadi sekarang, siapa yang mau mandi dulu, James atau Celine?" tanya Mama Ratna membuka percakapan, setelah di rumah hanya tinggal mereka bertiga.


"Celine, " sahut James.


"Ya sudah .... Yuk, Celine mandi dulu, " ajak Mama Ratna. Tetapi yang diajak bicara masih tetap bergeming di kursinya.


Melihat itu, James langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Celine.


"Bukan gitu cara mengajak Celine, Ma .... Tapi begini ..." kata James seraya menggandeng tangan Celine ke kamar mandi.


"Woi woi woi .... Apa-apaan kamu, james ??!! Masa mengajak anak gadis berduaan ke kamar mandi ??!! Kamu mau mandiin dia? Apa mau mandi bareng ??!!" sahut Mama Ratna panik dan spontan mencegah anak bungsunya.


"Ih .... Mama mikir apaan sih ??!! Sini, Mama ikut masuk juga, biar jadi saksi kalo James ga ngapa-ngapain !" protes James dengan muka agak memerah mendengar tuduhan mamanya.


Mama Ratna yang kepo, tanpa segan langsung ikut tancap gas masuk ke kamar mandi.


James lalu mengambil gayung dan menggenggamkannya ke tangan Celine. James kemudian berkata, "Celine bisa mandi sendiri, kan?"


"Tunggu, James ...." Mama Ratna langsung mengambil kembali gayung dari tangan Celine.


"Biasanya, habis kamu ngomong gitu, terus Celine langsung mandi ?" tanya Mama Ratna lagi.

__ADS_1


"Ga tau. James kan juga baru kali ini ajak Celine mandi. Tapi berdasarkan pengalaman James ajak Celine makan, ya caranya begini .... Kan Mama liat sendiri hasilnya tadi di meja makan dan waktu minum teh, " jelas James panjang lebar.


"Ya beda dong, James .... Baju gantinya mana? Handuknya mana? Disiapin dulu toh. Gimana kalo tadi dia langsung nyirem badannya atau buka baju di depan kamu? Ini anak gadis lo ..." sahut Mama Ratna mengingatkan James.


Mendengar itu, muka James langsung merah padam. Ia segera keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di ruang keluarga.


"Ya sudah .... Mama aja deh yang handle. Pokoknya yang James tau, kira-kira caranya gitu," kata James dari balik kursinya.


Mama Ratna tersenyum geli melihat anak bungsunya yang jadi salah tingkah. Lalu dituntunnya Celine kembali ke kamar untuk mengambil baju ganti dan handuk dari koper Celine. Kemudian mereka kembali ke kamar mandi.


"Ini baju ganti dan handuk Celine. Tante gantung sini yah ..." kata Mama Ratna sambil menggantungkan baju dan handuk Celine di gantungan baju yang terletak di belakang pintu kamar mandi.


Tapi untung lah tidak lama kemudian terdengar suara guyuran air, yang menandakan Celine sudah memulai ritual mandinya.


Setelah itu, Mama Ratna langsung mendekati James. Sudah dari tadi ia menahan rasa penasaran di hatinya. Dan kali ini, ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


"James ... Celine itu ... punya masalah retardasi mental ?" tanya Mama Ratna hati-hati.


"Seharusnya sih kaga yah, Ma .... Waktu pertama kali ketemu, dia oke-oke aja kok. Celine jadi begini semenjak kematian kakaknya, Ma .... Jadi, daripada dibilang retardasi mental, menurut James lebih cocok dibilang depresi berat, Ma ..." jelas James.


Mama Ratna tertegun dengan penjelasan James.

__ADS_1


"Wah .... Cocok juga ternyata anak mama jadi calon konselor. Ga sia-sia kamu ambil prodi Bimbingan dan Konseling, James. Jujur aja, awalnya Mama ragu. Mama pikir, kamu asal pilih waktu milih prodi. Ternyata Mama salah, " kata Mama Ratna bangga.


James hanya tersenyum kecut mendengar hal itu, karena sebenarnya mamanya tidak sepenuhnya salah. Alasan ia memilih Bimbingan dan Konseling sebagai Program Studi (prodi) dari Fakultas Ilmu Pendidikan yang diambilnya, bukan karena ia ingin menjadi konselor ataupun tertarik dengan psikologi. Tetapi karena dibandingkan prodi yang lain, ini yang menurutnya paling mending.


Ia tidak menonjol di mata pelajaran (mapel) tertentu atau menyenangi pelajaran tertentu. Jadi, untuk menjadi guru mapel dan mengambil prodi seperti Pendidikan Biologi, Pendidikan Bahasa, dsb., jelas ia coret dari pilihannya.


Ia juga cukup canggung jika berhadapan dengan anak-anak. Bukan tidak suka, tapi karakternya yang sedikit kaku, membuatnya bingung bagaimana harus memperlakukan mereka. Maklum, ia anak bontot dan di lingkungan pergaulannya tidak ada anak-anak, jadi ia tidak terbiasa dengan kehadiran mereka.


Karena alasan itu lah, prodi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), juga tercoret dari daftarnya.


Akhirnya, daripada ia mengambil prodi Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, yang kesannya beribet dan menguras otak, ia lebih memilih prodi Bimbingan dan Konseling. Ia pikir menjadi guru BK lebih mudah, karena hanya butuh hati yang sabar dan telinga yang mau mendengar keluhan murid. (Kepada Guru BK yang membaca novel ini, jangan tersinggung yah. Ini pemikiran Si James, bukan author ).


"Jadi sekarang ... manfaatkan lah ilmumu itu, James. Tolong Celine. Anggap lah Celine ini anak didik pertamamu, " sambung Mama Ratna lagi.


"Iya, Ma .... Niat James juga begitu, " jawab James. Hal ini memang sudah terpikirkan olehnya dalam perenungannya di kereta tadi malam.


Saya akan berusaha untuk tidak menyia-nyiakan Celine, seperti yang Om lakukan padanya.


James teringat kalimat yang ia katakan pada Tuan Besar Adipratama. Dan ia sudah bertekad untuk membuktikannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2