Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Bertemu Calon Besan (2)


__ADS_3

Celine menepati perkataannya. Pukul 18.45, ia kembali mengunjungi kamar-kamar di mana anggota keluarga Wijaya ditempatkan. Setiap orang yang dikunjungi juga sudah siap untuk menikmati makan malam bersama. Mereka sudah beristirahat, sudah mandi, dan tampak segar.


Dengan demikian, rombongan itu kembali menuruni tangga dipimpin oleh Celine. Ruang makan terletak di lantai satu dan berada di balik sebuah pintu kayu yang besar. Celine pun membuka pintu itu dan mempersilakan semua orang yang mengikutinya untuk masuk.


Kembali semua anggota keluarga Wijaya, kecuali James, dibuat tertegun. Mereka melihat meja panjang di ruang makan, yang tampak seperti meja prasmanan, bahkan memiliki lebar dua kalinya. Meja itu bisa memuat sekitar 20 orang. Dan tampak Tuan Adipratama sudah duduk di kursi paling ujung meja. Di belakangnya, mbok Yani juga sudah siap berdiri di sana.


"Selamat malam. Terima kasih sudah mau menjamu keluarga kami." Papa Heru mengucapkan salam sebagai perwakilan keluarga.


"Selamat malam juga .... Silakan duduk, " balas Tuan Adipratama.


Rombongan tadi segera mengambil tempat masing-masing, lalu duduk. Seorang pelayan segera mendekati Sherly dan menawarkan baby chair yang memang sudah disiapkan sebelumnya.


Kembali Alex dan Sherly tersentuh dengan pelayanan yang mereka terima. Mereka tahu kalau semua ini adalah hasil pemikiran Celine yang memperhatikan kepentingan Rico begitu rupa. Tidak mungkin rumah yang tidak dihuni seorang anak pun, sampai bisa memiliki sebuah baby chair. Hal itu pasti memang sengaja disediakan untuk memfasilitasi mereka.


"Apakah makanannya sudah boleh dihidangkan, Tuan?" tanya Mbok Yani.


"Ya. Tolong yah, Mbok, " jawab Tuan Adipratama.


Prok Prok !! Mbok Yani menepuk tangannya dua kali. James sudah mulai terbiasa melihat adegan ini.


Seorang pelayan datang sambil mendorong sebuah meja kecil beroda. Di atas meja tersebut nampak hidangan yang masih tertutup dengan penutup makanan. Di belakang pelayan tersebut mengekor koki keluarga Adipratama yang sudah pernah dilihat James sebelumnya.


"Tema menu untuk makan malam yang saya pilih kali ini adalah masakan Prancis. Berhubung saya mendapat pemberitahuan bahwa dalam perjamuan kali ini juga dihadiri oleh seorang anak batita, saya sengaja memilih menu yang ringan dan cocok untuk dinikmati anak-anak. Semoga setiap orang yang hadir di sini dapat mengerti dan tetap dapat menikmatinya." Sang Chef mengemukakan kalimat pembukanya.


Pelayan lalu mulai mengedarkan semangkuk sup ke depan setiap orang yang hadir di ruang makan tersebut. Setelah semua orang mendapat bagiannya masing-masing, Sang Chef mulai memperkenalkan menu pertamanya.


"Appetizer yang saya pilih hari ini adalah Potage Parmentier, yaitu salah satu sup khas Prancis. Silakan dicoba .... Semoga sesuai selera, " katanya.


"Silakan disantap makanannya. Jangan malu-malu, " ujar Tuan Adipratama kepada para tamunya.


Keluarga Wijaya terlihat canggung melihat mangkuk di depannya. Mereka melihat sajian ini seperti semangkuk krim sup polos dan sederhana. Namun karena memiliki nama yang asing, mereka agak ragu untuk menyantapnya. Baru setelah melihat Tuan Adipratama dan Celine menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutnya, mereka bergiliran mulai mencicipi makanan tersebut.


Setelah memastikan rasa sup cukup nyaman untuk disantap anak-anak, Sherly menyuapkan sup tersebut pada Rico, yang juga mendapatkan semangkuk sup kecil porsi anak-anak. Rico menikmati suapan yang diberikan oleh ibunya, sendok demi sendok dengan lahap.


Setelah semua mangkuk di hadapan setiap orang kosong, datang pelayan mengangkat mangkuk tersebut dan menggantinya dengan hidangan lain.


"Untuk Main Course, saya memilih Filets de truite à l'ail et au beurre. Sebuah masakan yang memakai ikan trout sebagai bahan utamanya." Chef tersebut memperkenalkan menu selanjutnya.


Kembali keluarga Wijaya tertegun mendengar nama ajaib seperti itu, terutama Mama Ratna yang selama ini hanya bergaul di strata ibu-ibu komplek perumahan. Untunglah Si Koki memberi tahu bahwa menu makanan berikutnya adalah ikan. Minimal Mama Ratna jadi mengerti bahwa ini adalah masakan ikan yang entah dimasak dengan apa.


Masakan kali ini pun dirasa cukup cocok dengan Rico. Daging ikan yang lembut tanpa tulang, memudahkan Rico untuk menikmati makanannya.


"Sebagai Dessert, saya memilih Crème Brûlée à La Vanille, yang memiliki tekstur lembut dan rasa manis. Pasti disukai oleh anak-anak." Sang Chef mempromosikan pilihan menu terakhirnya sebagai hidangan penutup.


Sampai akhirnya ketika Tuan Adipratama melihat semua orang yang di ruangan itu sudah selesai menyantap hidangannya, ia bertanya kepada para tamunya, "Bagaimana makanannya? Apakah cocok dengan selera?"

__ADS_1


"Makanannya enak. Terima kasih ...." jawab Papa Heru kembali mewakili pendapat segenap keluarga.


"Mungkin ada yang ingin ditambahkan oleh Alex dan Sherly, untuk mewakili Rico? Karena menu ini sengaja dipilihkan dengan mempertimbangkan Rico, " tanya Papa Heru kepada Alex dan Sherly.


"Masakannya enak dan sangat cocok untuk anak-anak. Rico makan lahap sekali dari tadi. Terima kasih, Chef ..." jawab Sherly.


Sang Koki pun tersenyum puas, begitu pula Tuan Adipratama. "Terima kasih atas pilihan menunya, Chef ..." katanya kepada Sang Koki.


"Suatu kebanggaan buat saya, Tuan ..." kata Koki tersebut meresponi pujian yang diberikan kepadanya. Setelah itu ia lalu memberi hormat dan mengundurkan diri meninggalkan ruang makan. Seorang pelayan kembali memasuki ruang makan dengan mendorong meja kecil beroda. Ia kemudian mengangkut piring-piring kotor yang ada di atas meja, lalu keluar ruangan.


Setelah semua pelayan termasuk Mbok Yani meninggalkan ruangan, Tuan Adipratama bangkit dari kursinya. "Bagaimana kalau setelah ini kita ngobrol-ngobrol santai dulu di ruang keluarga?" ajaknya.


Usul itu pun dianggap baik. Mereka lalu beranjak dari kursi masing-masing, lalu berpindah ke ruang keluarga dipimpin oleh Tuan Adipratama yang berjalan di posisi terdepan.


Rombongan memasuki sebuah ruangan yang besar, bahkan lebih besar dari ruang tamu yang mereka lihat sebelumnya. Ada berbagai macam tempat duduk yang tersebar di sana namun tetap tertata dengan rapi. Ada sofa, coffee table, dan juga kursi ottoman yang cantik. Di dinding depan ruangan, menempel sebuah TV yang besar. TV tersebut diapit oleh lemari yang berisi pajangan dengan nuansa emas dan perak.


Karena sudah malam, kaca-kaca jendela besar yang membatasi sisi samping kiri dan belakang ruang keluarga itu, tertutup dengan gorden besar. Namun James tahu, jika gorden itu dibuka, maka akan tampak kolam renang di sisi kiri dan pemandangan halaman belakang.


"Silakan duduk ..." kata Tuan Adipratama. Dirinya sendiri lalu menduduki sebuah sofa yang terletak di tengah ruangan.


Dengan canggung, setiap orang berusaha mencari posisi masing-masing. Mereka menempati sofa sejenis yang masih berkisar di area yang sama.


"Maaf .... Tadi sore untuk mempersingkat waktu, kita belum sempat berkenalan secara resmi. Boleh sekarang tolong Anda kenalkan anggota keluarga Anda?" tanya Tuan Adipratama kepada Papa Heru.


Obrolan singkat pun berlangsung. Tuan Adipratama berusaha melibatkan setiap tamunya dalam percakapan dan membagi pembicaraan dengan adil.


Sampai pandangan Papa Heru menangkap adanya satu set papan catur dengan desain mewah yang terdapat di dalam lemari pajangan. Papannya dari kayu bernuansa keemasan dan biji caturnya terbuat dari kristal. Hal itu lah yang menjadi pencetus topik obrolan selanjutnya.


"Anda senang bermain catur?" tanya Papa Heru sambil menunjuk ke arah lemari.


Tuan Adipratama menengok ke arah yang ditunjuk, lalu tersenyum. Ia pun kembali mengarahkan pandangannya ke Papa Heru dan menjawab, "Tentu saja. Itu hobi yang cocok untuk saya sebagai seorang pengusaha yang harus berstrategi, kan? Bagaimana dengan Anda sendiri?" Tuan Adipratama balik bertanya.


"Sebagai seorang dosen teknik yang senang berpikir dan merangkai sirkuit elektronik yang kompleks, tentu saja permainan catur menjadi kesenangan saya, " jawab Papa Heru sambil tersenyum.


"Mau saling menguji kemampuan?" tanya Tuan Adipratama sambil tersenyum miring.


"Boleh saja, " jawab Papa Heru tanpa rasa takut.


Tuan Adipratama lalu mengeluarkan satu set papan catur itu dari lemari penyimpanannya. Lalu ia mengajak Papa Heru untuk pindah tempat ke kursi yang lebih nyaman dengan meja yang lebih tinggi di depannya.


Ketika kedua pria tua itu mulai menyusun biji-biji catur di posisinya masing-masing, Mama Ratna berdiri dari kursinya dan bertanya, "Tuan .... Boleh saya jalan-jalan melihat-lihat rumah bersama Celine? Karena saya rasa permainan kalian akan lama dan kami di sini hanya akan jadi pengganggu."


"Silakan, Nyonya. Seperti yang tadi sore saya katakan, santai saja dan anggap rumah sendiri. Lin .... Temani Nyonya Wijaya yah ..." katanya kepada Celine di akhir kalimatnya.


"Iya, Papa ..." jawab Celine.

__ADS_1


Dan ternyata semua orang di sana memilih untuk berjalan-jalan daripada hanya menonton kedua pria berumur itu bertanding. Mereka semua tidak mau mengambil risiko mati gaya karena kebosanan.


Sampai akhirnya hampir setengah jam kemudian sisa rombongan yang tadi pergi, kembali lagi ke ruang itu. Ternyata permainan catur kedua pria itu masih belum berakhir. Kemampuan mereka seimbang.


Celine menghampiri ayahnya dengan membawa sebuah piring kecil berisi potongan buah. "Pa .... Ini bagian Papa. Sambil dimakan yah ..." katanya sambil meletakkan piring itu di samping ayahnya.


"Maaf, Tuan .... Tadi saya mengambil beberapa buah yang tersimpan di kulkas dapur. Sebagai orang biasa, kami hanya menikmati buah sebagai hidangan pencuci mulut. Karena itu maaf kalau saya lancang dan hanya meminta izin pada Celine sebelum memotong buah-buahan tersebut," tambah Mama Ratna.


Pandangan Tuan Adipratama teralih dari papan catur di hadapannya ke piring kecil yang baru saja diberikan Celine. Di sana terdapat beberapa potongan semangka, melon, mangga, dan pepaya.


"Tak apa. Sama saja. Tak ada bedanya Anda meminta izin saya ataupun izin Celine dalam hal ini, Nyonya .... Apakah Anda sendiri yang memotong buah-buahan ini?" tanyanya kepada Mama Ratna ketika dilihatnya bahwa tiap orang dari rombongan yang tadi pergi sudah memegang piring kecil di tangan masing-masing.


"Tidak. Kami memotongnya bersama-sama. Celine dan Sherly membantu saya. Kenapa?" tanya Mama Ratna.


"Lin .... Kenapa kamu tidak meminta tolong kepada pelayan ataupun koki untuk memotongkan buahnya?" tegur Tuan Adipratama.


Sebelum Celine menjawab, Mama Ratna sudah mendahuluinya. "Celine sudah menawarkannya, Tuan .... Namun selama ini kami di rumah sudah terbiasa begini. Selain untuk menambah kebersamaan dan melatih ketrampilan, hal ini bukanlah sesuatu hal yang sulit dilakukan sampai harus merepotkan orang lain, " jawab Mama Ratna.


Tuan Adipratama terdiam. Akhirnya ia pun memilih untuk tidak memperpanjang masalah tersebut. "Baiklah. Terima kasih karena sudah menyiapkan bagian untuk saya juga, Nyonya ...."


"Sama-sama, Tuan ..." jawab Mama Ratna sambil tersenyum. Pandangan Mama Ratna terhadap papa Celine mulai berubah. Ternyata ia tidak seburuk yang ia kira. Kesan pertama memang penting, tetapi kadang tidak selalu benar. Dengan peristiwa ini kembali ia diingatkan agar jangan terburu-buru menilai karakter orang lain.


Tiba-tiba Rico menyeruak dari antara rombongan tersebut dan berjalan ke arah Papa Heru. Dengan langkah yang masih sedikit tertatih-tatih, ia mendekat dengan sebuah piring kecil di tangan. Sherly terlihat mengawal Rico di belakangnya.


""Opppah .... Mamamm ..." katanya dengan suara yang lucu menggemaskan. Tangannya terulur menyerahkan piring kecil berisi potongan buah kepada Papa Heru.


"Ini bagian Papa. Kayaknya Rico pengen nganterin bagian Opanya dengan tangannya sendiri, " kata Sherly kepada Papa Heru yang memang belum mendapat bagian.


Papa Heru tersenyum dan menyambut cucu kecilnya. "Makasih ya, Rico Sayang ..." katanya sambil menerima piring yang dibawa Rico. Kemudian ia memeluk dan mengecup pipi tembam cucunya.


"Ama-ama, Oppah ..." jawab Rico, lalu membalas mengecup pipi Sang Kakek.


Melihat adegan kakek-cucu di depannya, membuat Tuan Adipratama tiba-tiba bangkit berdiri. Tentu saja kejadian tersebut membuat setiap orang di ruangan itu kaget dan bertanya-tanya dalam hati.


"Celine .... James ..." katanya memanggil nama sepasang muda-mudi yang akan menyelenggarakan pertunangan esok hari itu, dengan suara rendah dan menuntut perhatian.


"Ya?" jawab keduanya dengan perasaan tegang, menanti perkataan selanjutnya yang akan diucapkan oleh Tuan Adipratama.


"Kalian harus menikah paling lambat tiga tahun lagi! Kalo perlu tahun depan! Menunggu lima tahun itu terlalu lama! Papa juga pengen cepat punya cucu!" titah Tuan Adipratama tiba-tiba.


Wajah Celine langsung merah padam seketika. "Papaaa!! Kok jadi tiba-tiba begini??!!" protesnya sambil berusaha mengendalikan perasaannya.


Begitu pula dengan James yang wajahnya ikut berubah warna. Bedanya ia hanya bisa terdiam dan menyimpan keluhannya dalam hati. Om .... Cium bibir aja saya belum lulus, ini uda disuruh bikin anak. Gimana ceritanya ?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2