Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Pembicaraan antar Lelaki


__ADS_3

Malam itu, setelah PKW, setiap anggota keluarga Wijaya termasuk Celine, sudah kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Begitu juga James. Sehabis mencuci muka dan menyikat gigi di kamar mandi, ia berniat kembali ke kamar Alex untuk bersiap pergi ke alam mimpi.


Di depan pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka, langkahnya terhenti. Ia mendengar Alex sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Rupanya Alex sedang video call entah dengan siapa.


"Hari Sabtu jam 5 sore kujemput yah ...." Terdengar suara abangnya.


"Kayaknya ga bisa deh. Aku janji menjemput mama di rumah temannya sepulang arisan. Jam 6 aja yah ..." sahut suara wanita di seberang sana.


"Oke. Jam 6." Abangnya menyimpulkan.


"Sip. Ya sudah, off dulu ya, Babe. Uda ngantuk."


"Hmm .... Istirahatlah .... Good nite, Honey ...."


"Good nite ...." Dan telepon pun dimatikan.


"Bang, tadi pacar Abang?" tanya James langsung setelah memasuki kamar.


"Kampret, lo! Dari tadi lo nguping?" sahut Alex sambil melempar bantal ke James. Tapi bantal itu langsung ditangkap James sebelum mengenai mukanya.


"Ga maksud nguping, Bang. Ga sengaja kedengeran pas mau masuk kamar, " jawab James.


"Iye, pacar gua. Kenapa emang?" Alex balik bertanya.

__ADS_1


"Sudah lama Abang pacarannya?"


"Baru sebulanan lah .... Ada apa toh? Tumben lo kepo ama urusan gua, " tanya Alex keheranan dengan sikap adiknya.


James tidak menjawab. Ia bingung bagaimana mengutarakan maksudnya dalam bentuk kalimat.


Alex yang melihat ada yang aneh dengan James, langsung mengambil alih pembicaraan.


"Sini lo! Duduk!" katanya sambil menepuk ranjang.


Setelah James duduk di hadapannya, Alex memulai pembicaraannya.


"Lo mau ngomong apa?"


Setelah terdiam sejenak, James memberanikan diri mengutarakan maksudnya.


"Harapan? Maksud Lo?" Alex terdiam sejenak. Tapi tak perlu memakan waktu lama, ekspresi Alex langsung berubah dari mengernyitkan dahi menjadi tersenyum simpul.


"Aha! Paham gua .... Lo naksir Celine yah?" tanya Alex yang sudah menangkap arah pembicaraan James.


"Iya, Bang, " jawab James terus terang.


"Gua cuma nganggep dia adik. Dan gua rasa, Celine juga cuma nganggep gua abang. Jadi lo bisa tenang, bro, " katanya menjelaskan.

__ADS_1


"Abang yakin? Jujur aja, gua mikirin perasaan Celine, Bang. Kalo bener dia suka Abang, terus tau Abang punya pacar, gua takut mentalnya ga kuat, Bang. Padahal baru aja perasaan dia membaik dari ditinggal kakaknya."


"Harusnya yakin lah yah .... Secara, pengalaman Abang sama cewek pastinya lebih banyak dari lo, kan?" jawab Alex sambil nyengir. Ia bermaksud sedikit meringankan suasana dengan meledek adiknya seperti biasa.


Tetapi melihat keseriusan James, Alex menghentikan usahanya. Ia tahu, kali ini adiknya benar-benar memikirkan hal ini. Sebagai kakak dan sebagai seorang laki-laki, ia harus menyikapi hal ini dengan bijak.


"Oke! Gua tegasin yah .... Gua tulus sayang sama Celine sebagai adik. Jadi gua ga ada niat maenin Celine atau kasih harapan palsu ke Celine. Sampai sini oke?" tegas Alex.


"Yang itu gua ngerti dan ga ragu ama lo, Bang."


"Nah .... Masalah perasaan Celine ke gua, No one knows, right ? Gua ga pernah punya adik cewek sebelumnya. Jadi bisa aja gua salah bedain antara manjanya perempuan ke abangnya dengan manja ke cowok yang disukainya. Tapi feeling gua, perlakuan Celine ke gua lebih sebagai seorang adik sih ..." jelas Alex.


James terdiam dan memikirkan kata-kata Alex. Dari karakter, memang Alex memiliki pembawaan yang agak mirip dengan Dion. Tipe ceria dan mudah bergaul. Jadi, mungkin saja analisa Abangnya terhadap sikap Celine benar adanya.


"Tapi kalo ternyata Abang salah dan ternyata Celine menyukai Abang sebagai laki-laki?" tanya James lagi.


Alex tersenyum dengan pertanyaan adiknya. Dasar bocah masih polos ! Pikirnya dalam hati, yang tak mungkin diungkapkannya saat ini. Ia tahu benar, saat ini James butuh bimbingannya.


"Lo yang majulah, bro ! Hibur dia! Jadiin diri lo tempatnya bersandar! Lo suka dia, kan? Percaya diri lah sedikit! Gua udah liat kemampuan lo mengeluarkan ilmu untuk membantu Celine sampe dia bisa jadi begini.


Masalah dia nanti jatuh cinta ama lo atau kaga, itu urusan belakangan. Tapi at least, gua yakin dia ga akan terpuruk seperti keadaannya sebelumnya, karena ada lo di sampingnya. Begitu, kan?"


Sekali lagi kata-kata Alex membuat James terdiam. Perasaan tidak dapat dipaksakan. Ia tidak mungkin meminta Abangnya putus dengan pacarnya demi Celine. Ia juga tidak bisa memaksa Celine untuk mencintainya.

__ADS_1


Ia hanya bisa berharap semoga dugaan abangnya benar, bahwa perasaan Celine ke abangnya hanya sebatas kakak-adik. Sehingga tidak ada yang terluka di sini. Semoga!


...****************...


__ADS_2