
Cindy baru tiba di rumahnya dari mengikuti bimbingan katekisasi di gereja. Sudah dua kali ia menjalani bimbingan bersama pak James, dan setiap kalinya membuat ia makin berbahagia. Ia semakin mengenal pak James dan ia pun semakin yakin bahwa pak James akan menjadi suami yang baik.
"Bagaimana hari ini? Lancar?" tanya Mamanya begitu melihat Cindy memasuki rumah.
"Lancar. Sama seperti kemarin, " jawab Cindy.
"Tentu saja lancar. Bagaimanapun, pria itu pasti akan bekerja sama dengan baik untuk mencapai yang dia impikan!" Nyonya Prawira menanggapi jawaban anaknya dengan ketus.
"Jangan gitu lah, Ma .... Bagaimanapun, sebentar lagi ia akan jadi menantu Mama juga, " ujar Cindy sambil melepaskan sepatunya.
"Justru Mama yang ga habis pikir dengan sikapmu! Mudah sekali kamu menerimanya setelah apa yang ia lakukan padamu!" sanggah Mama Cindy.
"Yah .... Namanya juga uda kejadian. Harus move on kan, Ma ..." ujar Cindy santai.
Nyonya Prawira hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Cindy. Lalu, ia teringat dengan telepon yang diangkatnya belum lama ini.
"Oh ya, tadi Wendy telepon. Katanya dia mau kesini untuk mengunjungimu. Terlihat sekali dia khawatir denganmu, Cin. Karena itu, Mama langsung suruh datang aja setelah katekisasimu selesai. Harusnya sebentar lagi ia tiba, " lapor Mamanya.
"Oke. Nanti langsung suruh naik ke kamar Cindy aja, Ma. Cindy ganti baju dulu, " jawab Cindy sambil melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Sambil mengganti pakaiannya, Cindy teringat dengan Wendy. Ia tahu sudah beberapa kali sahabatnya ini mencoba menghubunginya semenjak terakhir kali mereka pulang dari acara kamping itu. Tetapi selama ini ia tidak terlalu mempedulikannya.
Jujur saja, suasana keluarganya sedang kalut. Banyak yang masih harus dibicarakan, dipertimbangkan dan diputuskan. Karena itu, ia menunggu suasana lebih tenang dulu, baru ia menerima kunjungan Wendy. Ia tahu, sahabatnya ini pasti akan bertanya dari A sampai Z mengenai peristiwa ini.
Dan sekarang, rasanya suasana sudah membaik. Keputusan sudah disepakati dan sedang dijalani. Sepertinya asyik juga menerima kunjungan sahabatnya. Bagaimanapun, sedikit-banyak ia juga rindu berbagi dengan temannya ini.
Tok tok tok .... Terdengar pintu kamarnya diketuk. Tidak lama kemudian terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Cin .... Boleh masuk? Kata nyokapmu kamu di dalam."
Cindy langsung membuka pintu kamarnya dan menghambur ke pelukan sahabatnya. Wendy yang mendapat sambutan seperti ini, membalas pelukan sahabatnya itu dan menepuk-nepuk punggungnya.
Setelah melepaskan rindu sesaat, pelukan keduanya terlepas dan mereka masuk ke dalam kamar. Seperti biasa, Wendy langsung nyosor duduk di ranjang Cindy.
Tidak berapa lama, seorang pelayan datang membawa minuman dan kudapan untuk mereka berdua. Kemungkinan besar, mama Cindy yang menyuruhnya untuk mengantarkannya.
Setelah tinggal mereka berdua di dalam kamar, Wendy menanyakan hal yang beberapa hari ini dikhawatirkannya. "Gimana keadaanmu, Cin? Are you okay ?"
Cindy tersenyum. "Seperti yang kamu lihat, I'm good enough."
__ADS_1
Mendengar itu, Wendy tersenyum lega. Ia memang tahu sahabatnya ini tipe ceria dan cukup kuat, tetapi tetap saja tidak heran jika seseorang mengalami trauma setelah mengalami hal seperti itu. Untunglah Cindy sepertinya tidak sampai mengalami trauma.
"Jadi setelah itu apa yang terjadi? Bagaimana reaksi orang tuamu? Bagaimana juga dengan nasib pak James?" Wendy mulai melancarkan pertanyaan-pertanyaan bak seorang wartawan.
Cindy tertawa. Dugaan bahwa sahabatnya akan mencecarnya dengan pertanyaan ternyata terbukti. Ia pun menceritakan kejadian-kejadian yang sudah terjadi. Dimulai dari pembicaraan antara orang tuanya, pak James dan pihak sekolah. Bagaimana pak James sampai dipukul oleh ayahnya dan dirumahkan. Sampai ayahnya meminta pertanggungjawaban pak James untuk menikahinya.
Wendy melongo mendengar cerita Cindy. Ternyata banyak yang terjadi dalam waktu sesingkat ini.
"Terus gimana? Pak James setuju?" tanyanya.
"Pasti lah dia setuju bertanggung jawab. Emang pak James orangnya gitu, kan?" jawab Cindy.
"Jadi, bagaimana hubungan pak James dengan kekasih direkturnya? Masa kamu bakal diduakan?"
"Papa juga mengkhawatirkan hal yang sama. Tapi pak James bilang itu ga bakal terjadi. Doski bilang akan putusin kekasihnya itu."
Wendy manggut-manggut mendengar jawaban Cindy. Sedikit-banyak, ia kasihan juga pada nasib gurunya ini. Tetapi mau bagaimanapun, memang pak James harus bertanggung jawab atas kelakuannya, kan?
"Jadi sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian? Kapan nikahnya?" Wendy melanjutkan interogasinya.
"Papa-mama maunya secepatnya. Kata pak pendetanya sih kalo lancar-lancar aja, minggu depan kami udah bisa nikah. Tadi aja aku baru pulang dari bimbingan pra-nikah di gereja bareng pak James." Terlihat kebahagiaan terpancar dari wajah Cindy ketika menceritakan hal itu.
"Ya bahagia lah .... Kan kamu tau sendiri uda berapa lama aku naksir doski. Tiga tahun lho aku menahan perasaan ..." jawab Cindy.
"Ya iya sih .... Tapi, gimana pun ... dia kan udah menodaimu, Cin .... Ga takut apa? Pandanganku aja jadi berubah sama dia semenjak peristiwa itu. Ga nyangka yang sehari- hari terlihat kayak cowok kalem dan alim, bisa jadi buas kalo udah mabuk, " tukas Wendy.
Cindy terdiam untuk sesaat dan hal itu tertangkap oleh Wendy.
"Ga kok. Ga takut. Yang penting kan dijaga jangan sampe mabuk lagi, " jawab Cindy sambil memaksakan senyumnya.
Melihat itu, Wendy jadi curiga. "Cin .... Kamu menyembunyikan sesuatu?"
"Me- menyembunyikan apa?" tanya Cindy gugup.
"Cin? Maaf yah .... Jujur aja, aku merasa tingkahmu itu aneh. Kamu ... bener diperk*sa sama pak James?" tanya Wendy hati-hati.
Kegugupan Cindy makin terlihat. Akhirnya karena tidak tahan, ia menghela napas panjang.
"Iya, aku ngaku! Aku bohong!" jawabnya dengan frustasi.
__ADS_1
Wendy sedikit terkejut menerima kenyataan tebak-tebak buah manggisnya ternyata jitu. Tadinya ia sangat ragu untuk menanyakan hal itu pada teman baiknya. Ia tidak mau percaya kalau Cindy berbohong. Tetapi melihat tingkah Cindy yang mencurigakan, ia tidak punya tebakan lain.
"Jadi .... Sebenarnya ... waktu pak James mabuk, kamu ga diapa-apain?" tanya Wendy memastikan.
Cindy menggeleng. "Kaga. Waktu pak James mabuk, ia hanya memelukku erat. Ia bersikap manis dan manja. Ia seolah tak ingin melepaskanku, " ujar Cindy sambil tersenyum mengingat kenangan yang menurutnya manis itu.
"Tapi .... Begitu ia menyebut nama perempuan itu dalam igauannya .... Aku ga tahan, Wen.... Aku ga terima!" Cindy melanjutkan ceritanya dengan nada meninggi.
"Terus, karena ga tahan, kamu mau rebut dia dengan memfitnah dia?!" ujar Wendy tajam.
"Habis mau gimana?! Aku ga bisa melupakannya! Apalagi setelah mendapat perhatiannya saat aku jatuh dari tebing, aku ga bisa merelakannya! Kebetulan ada kesempatan. Ga mungkin aku ga manfaatin kesempatan itu, kan? Mungkin Tuhan kasihan sama aku?!" Cindy membela diri.
"Kamu gila, Cin! Itu bukan cinta, tapi obsesi! Kamu ga kasihan sama pak James apa? Dia sampe ditonjok ayahmu, berpisah dari kekasihnya, kehilangan pekerjaan, nama baik, dan juga masa depannya! Padahal dia udah mati-matian mencarimu saat kamu hilang! Dia benar-benar memperlakukanmu dengan tulus! Ini balasanmu atas kebaikan dia?!" tuding Wendy.
Cindy terdiam. Mulutnya merengut. "Ya sudah, mau gimana? Bola sudah dilempar, ga mungkin kuambil kembali, kan? Aku bisa dibantai papa-mama kalo mengaku sekarang. Lagian, papa uda mulai bisa terima pak James sebagai calon menantu kok. Bahkan papa sudah mempersiapkan pekerjaan buat pak James di kantornya. Pak James pasti lebih bahagia dengan kedudukan dan gaji yang lebih tinggi, kan?"
Wendy menggelengkan kepala mendengar penuturan sahabatnya. "Kebahagiaan seseorang itu ga hanya ditentukan dari kedudukan dan gaji, Cin .... Gimana kalo guru memang cita-citanya dari kecil? Gimana kalo ia mungkin sudah merencanakan pernikahan dengan kekasihnya dalam waktu dekat? Gimana juga dengan keluarganya yang mendengar kejadian ini? Semuanya hancur karena fitnahanmu!"
Cindy terdiam. Begitu pula Wendy. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Wen .... Kamu kan sahabatku .... Sekarang ... setelah kamu tau ... kamu ga bakal melaporkannya pada orang tuaku atau pak James, kan?" tanya Cindy dengan nada memelas, melirik ke arah Wendy.
Wendy menghela napas. Ia juga bingung harus berbuat apa. "Jujur .... Tindakanmu sangat tidak bisa kubenarkan. Aku kasihan sama pak James. Aku memang sahabatmu! Aku ingin selalu mendukungmu dan selalu mendoakan kebahagiaanmu! Tapi .... Bahagia di atas penderitaan orang lain itu hal yang salah kan, Cin?"
"Wen .... Please .... Kali ini aja ... tolong tutup mulut yah! Aku yakin bisa membahagiakan pak James kok ...."
"Setelah apa yang kamu lakukan adalah menghancurkan hidupnya .... Kamu yakin, Cin?" sindir Wendy.
Mendapat tudingan dingin seperti itu, Cindy terdiam. Wendy menghela napasnya kembali.
"Yah sudahlah .... Aku akan coba diam. Bagaimanapun ... aku sayang kamu, Cin .... Aku ingin kamu bahagia. Tapi, coba kamu pikirkan lagi yah .... Kalo kamu memang sayang pada pak James, kalo kamu tulus mencintainya, seharusnya kamu bisa luruskan ini. Hidup menanggung stigma sebagai pelaku pelecehan itu bukan perkara kecil lho, Cin ..." putus Wendy.
Melihat Cindy yang masih terdiam, Wendy melanjutkan kalimatnya, "Aku pulang aja yah ...."
"Iya. Maaf ga kuantar, Wen ..." ujar Cindy datar.
"Gapapa. Pikirkan aja kalimatku yang tadi ..." ujar Wendy seraya keluar dari kamar Cindy, meninggalkan Cindy yang masih termenung memikirkan perbuatannya.
...****************...
__ADS_1