Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kebahagiaan Semu


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Tak terasa James dan Cindy sudah menjalani hari katekisasi terakhir.


"Materi kalian sudah selesai. Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Pendeta Lukas.


"Tidak ada, Pak Pendeta, " jawab James.


"Bagaimana denganmu, Cindy?" Pendeta Lukas menanyakan pendapat Cindy.


"Saya juga tidak ada, Pak Pendeta, " jawab Cindy.


"Baguslah kalau sudah jelas semua. Semoga dengan pembekalan ini, kalian bisa menciptakan keluarga yang memuliakan Tuhan. Walaupun kalian mengawalinya dengan cara yang salah, tetapi percayalah Tuhan tetap sanggup mengubahnya menjadi rancangan damai sejahtera. Selalu ada hari depan yang penuh harapan selama kalian berjalan di jalanNya, " ujar Pendeta Lukas.


Mendengar itu, James dan Cindy hanya terdiam. Mereka terbenam dalam pikiran masing-masing.


"Setelah ini, kita akan bertemu sekali lagi untuk pengarahan acara pemberkatannya. Sebaiknya pertemuan itu juga dihadiri orang tua kalian masing-masing. Jadi kapan kira-kira kita semua bisa bertemu? Karena ini hari Rabu dan acaranya hari Sabtu, pilihan kita cuma tinggal Kamis atau Jumat ini, " terang Pendeta Lukas.


"Kalau hari Kamis, kita bisa bertemu di sore harinya, sekitar pukul 16.00. Tetapi kalau hari Jumat, kita hanya bisa bertemu agak malam sekitar pukul 19.00, karena ada ibadah Persekutuan Kaum Wanita sebelumnya, " tambah Pendeta Lukas.


"Keluarga kami membiasakan diri selalu sudah ada di rumah paling lambat jam 6 sore, Pak Pendeta. Jadi kalo menurut jadwal Bapak yang tadi, buat saya paling pas kita ketemu di hari Jumatnya, " jawab James.


"Jadwal papa juga kayaknya lebih longgar di hari Jumat. Tapi nanti saya pastiin dulu ke papa ya, Pak .... Kalo mama sih kebanyakan ada di rumah, jadi harusnya ga masalah, " jawab Cindy.


"Baik. Kalau begitu, setelah ada keputusan yang pasti di antara keluarga kalian, tolong kabari saya yah ...." Pendeta Lukas menyimpulkan.


"Baik, Pak, " jawab James.


Kemudian, pertemuan ditutup dengan doa sebelum kembali ke rumah masing-masing. Setelah selesai berdoa, James dan Cindy pamit kepada Pendeta Lukas lalu berjalan keluar menuju area parkir. Di sana, seperti biasanya sopir keluarga Cindy sudah siap menunggu untuk mengantarkan kembali nonanya pulang ke rumah.


Sebelum Cindy berjalan menuju mobilnya, tiba-tiba James memanggilnya, "Cin .... Boleh bicara sebentar?"


Cindy membalikkan badannya dan menghadap mantan gurunya itu. Jantungnya berdebar. Ada perasaan takut, cemas, gugup, dan bahagia sekaligus. Takut dan cemas karena ia tidak tahu apa yang akan pak James bicarakan. Bahagia karena ini untuk pertama kalinya pak James mengajaknya bicara lebih dulu.


Ya. Semenjak peristiwa di acara kamping sampai tadi ketika katekisasi berakhir, pak James hanya berbicara jika ia mengajaknya bicara. Pembicaraan mereka pun hanya sebatas kepentingan yang menyangkut keperluan bersama, seperti kemarin-kemarin ketika pak James menemaninya mencari kebaya dan memilih cincin pernikahan.


Pak James terlihat hanya menyesuaikan diri dengan keinginannya. Tidak ada emosi apapun yang tersirat dalam kalimat maupun raut wajah pak James. Memang terkadang pak James tersenyum ketika membalas ucapannya. Tetapi itu hanya basa-basi etika pergaulan biasa. Sangat terlihat seperti aktor payah yang tidak bisa mendalami perannya dengan baik.


"Ya, Pak. Ada apa?" tanya Cindy dengan dada bergemuruh.


"Kita belum pernah bicara secara pribadi semenjak peristiwa itu. Tetapi karena dalam hitungan hari ke depan kita akan menikah, saya rasa kita harus jujur dan terbuka satu sama lain." James mengawali kalimatnya.


Cindy terdiam. Ia memilih menantikan kalimat James selanjutnya.


"Saya belum sempat mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih, kamu membela saya di depan orang tuamu. Kamu percaya bahwa saya melakukan itu di luar kesadaran saya, berbeda dengan yang dituduhkan mereka bahwa itu hanya modus untuk menaikkan status saya.

__ADS_1


Saya juga belum meminta maaf secara langsung padamu. Walaupun saya melakukannya di luar kesadaran, bagaimanapun saya secara tidak sengaja sudah menghancurkan masa depanmu dan memberikanmu kenangan pahit. Maaf ...."


Cindy mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkan James dalam diam. Ia hanya bisa menahan perasaannya. Kata maaf dan terima kasih yang diucapkan Sang Mantan Guru mengiris hatinya. Ia tahu ia tidak pantas menerimanya.


"Saya juga ingin meminta maaf, karena sampai saat ini ... sekalipun kita sudah hampir menikah ... saya belum bisa mencintaimu. Saya melihatmu sebatas murid yang menarik perhatian saya atau kalau ditingkatkan paling hanya bisa sebatas adik perempuan yang agak nakal.


Entah kapan saya bisa mulai mencintaimu, saya tidak tahu. Perasaan memang bisa berubah, tapi saya tidak bisa menjanjikannya. Jadi lebih baik kamu jangan berharap terlalu banyak. Yang saya bisa janjikan adalah saya akan berusaha sebisanya menjadi suami yang baik. Saya harap kamu dapat mengerti." James menutup kalimatnya.


"Iya, Pak. Gapapa. Saya mengerti, " jawab Cindy memaksakan sebuah senyuman.


"Ada yang gantian ingin kamu ungkapkan pada saya?" tanya James.


Cindy menggeleng. "Tidak ada, Pak."


"Baiklah kalau begitu. Sekedar mengingatkan kata pendeta Lukas tadi, tolong kamu tanyakan orang tuamu yah mengenai waktu pertemuannya. Kabari saya kalau sudah ada kepastian. Biar saya yang menghubungi pendeta Lukas."


"Baik, Pak."


Setelah itu kedua orang itu berpisah. Cindy menuju mobilnya, sedangkan James menuju motornya. Mereka menempuh jalan masing-masing.


...****************...


"Gimana? Sudah beres katekisasinya? Katamu hari ini terakhir, kan?" tanya Mama Cindy ketika melihat anaknya pulang.


"Iya, sudah selesai. Tapi kata pendetanya ia pengen ada ketemuan lagi sebelum acara pemberkatan agar bisa dikasih pengarahan jalan acaranya. Jadi kapan mama-papa bisa? Pilih Kamis atau Jumat?" tanya Cindy sambil melepaskan sepatunya.


"Hmmm .... Cindy naik ya, Ma ..." pamit Cindy yang ingin segera menuju kamarnya.


"Ah .... Tadi Wendy datang. Karena kamu belum pulang, Mama suruh dia menunggu di kamarmu."


"Hmm ...." Cindy menjawab Mamanya hanya dengan gumaman, lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga. Sebenarnya ia enggan bertemu dengan Wendy, terlebih sejak pengakuan itu. Ia tahu, Wendy pasti datang untuk membujuknya mengakui kebohongannya.


Tetapi, mau tak mau ia harus menemuinya. Ia tidak mungkin mengusirnya, kan? Mamanya bisa curiga. Lagipula, kalo Wendy tersinggung dan balik mengadukan kebohongannya pada orang tuanya, bukankah keadaan malah jadi lebih runyam?


Sebelum membuka pintu, Cindy mengatur napas dan perasaannya. Setelah ia cukup merasa tenang, baru lah pintu dibuka.


Seperti biasa, Wendy sedang duduk santai di kursi belajar miliknya sambil membaca komiknya. Saking seringnya bermain kemari, Wendy memang sudah menganggap kamar Cindy seperti kamarnya sendiri. Anehnya, baru sekarang sikap Wendy ini mengganggunya.


"Hai .... Gimana kabarmu? Kata Tante, hari ini katekisasi terakhirmu yah?" sapa Wendy sambil menutup buku komik yang tadi dibacanya.


"Ya .... Begitulah ..." jawab Cindy acuh tak acuh.


"Jadi pada akhirnya kamu memutuskan untuk melanjutkan kebohongan ini?" tanya Wendy langsung.

__ADS_1


"Habis mau gimana lagi? Semua persiapan sudah dilakukan. Katekisasi sudah selesai, tanggal sudah ditentukan, kebaya pengantin dan cincin nikah sudah dibeli. Sudah terlambat untuk membatalkannya, " dalih Cindy.


"Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sebuah kesalahan, Cin ...." Wendy memulai tegurannya, dan hal tersebut membuat Cindy berdecak di dalam hati. Tuh kan .... Tebakanku benar, kan?


"Pak pendetaku tadi bilang, walaupun kami mengawalinya dengan cara yang salah, tetapi Tuhan tetap sanggup mengubahnya menjadi rancangan damai sejahtera, " sanggah Cindy.


Wendy tersenyum miring mendengar pembelaan Cindy. "Jangan memutar kata-kata pendetamu, Cin .... Aku yakin yang dimaksud pendetamu tentang kesalahan itu adalah peristiwa kamu yang dinodai pak James saat dia mabuk, yang membuat kalian terpaksa menikah. Bukan tentang kebohonganmu!


Kalau kamu tidak percaya, coba kamu mengaku padanya kalau ini semua hanya lah cerita rekaanmu. Aku ga yakin ia akan tetap menyetujui pernikahan kalian, " tantang Wendy.


Cindy terdiam, tidak bisa menyangkal perkataan Wendy. Dengan dongkol akhirnya ia berkata, "Maumu apa sih, Wen? Kamu mengharapkan aku mengakui kebohonganku dan dibantai ortuku?! Katanya kamu sahabatku yang selalu mengharapkan kebahagiaanku! Mana buktinya?!"


"Iya. Aku berharap demikian. Aku tau ortumu bisa marah besar. Tapi aku yakin mereka tidak akan sampai membunuhmu dalam kemarahan mereka. Mereka sangat mengasihimu, terlebih kamu adalah anak mereka satu-satunya.


Justru karena mengharapkan kebahagiaanmu makanya aku bersikeras membujukmu membatalkan pernikahan ini. Kamu sedang tenggelam dalam kebahagiaan semu, Cin!" tegur Wendy dengan tegas.


"Tidak. Kamu salah menilaiku. Aku benar-benar bahagia dengan ini kok!"


"Oke. Kalau begitu kamu bahagia dengan menghancurkan pak James dan keluarganya?" sindir Wendy.


"Kenapa sih kamu mengatakan hal seperti itu terus? Sudah kubilang, aku akan membahagiakan pak James!" Cindy bersikeras.


"Kamu yakin dia bahagia?! Ia tidak mencintaimu, terpaksa putus dengan kekasihnya dan menikahimu! Coba perhatikan dia baik-baik! Apakah ada perubahan sikapnya sebelum dan sesudah ia terkena fitnahan itu?! Aku yakin pasti ada!" Wendy juga ikut bersikeras.


"Kalau itu wajar aja, kan? Pak James dan keluarganya masih terguncang karena masalah ini. Nanti seiring waktu, pasti semuanya akan kembali seperti biasa. Waktu pasti akan memulihkan semuanya. Cepat atau lambat ia akhirnya juga mencintaiku karena kami suami-istri. Kan banyak cerita-cerita tentang pernikahan di mana cinta tumbuh belakangan, " ujar Cindy.


Wendy menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan pemikiran Cindy. "Kamu anggap hati orang itu apa? Waktu memang bisa memulihkan, tapi hati yang terlanjur terluka tetap akan ada bekasnya.


Oke. Anggap aja akhirnya impianmu tercapai, pak James mulai mencintaimu. Tapi kemudian tiba-tiba kebenaran terungkap. Ia tau kalau dulu ia terpaksa menikahimu hanya karena cerita rekaanmu belaka. Menurutmu, apakah ia bisa menerimanya dan tetap mencintaimu? Terus, bagaimana nasib pernikahan kalian? Kamu yakin masih bisa bahagia saat itu?" tanya Wendy.


Cindy terdiam. Ia hanya bisa menjawab dengan sebuah gumaman yang lemah, "Makanya harus dijaga agar jangan sampai terbongkar."


Wendy kembali tersenyum miring mendengar jawaban Cindy yang dikatakannya tanpa kepercayaan diri. "Jangan membohongi dirimu sendiri, Cin .... Jika itu benar-benar terjadi, sesungguhnya kamu juga tidak yakin, kan? Bangkai yang disembunyikan cepat lambat lasti akan ketahuan karena baunya. Jadi sebelum terlambat, lebih baik menyerahlah ...."


Karena Cindy tetap diam, Wendy pamit pulang. "Ya sudah. Aku hanya ingin mengecek keputusanmu aja. Kupikir ada perubahan, ternyata tidak. Aku pulang yah ...."


"Kalau kamu ingin mendoakan kebahagiaanku, datanglah Sabtu nanti di gereja D jam sepuluh pagi untuk mengikuti acara pemberkatan kami. Bagaimanapun, kamu masih kuanggap teman baikku. Tapi kalau kamu ingin menghancurkannya, lebih baik kamu ga usah datang, " ucap Cindy dingin.


"Aku pasti akan datang untuk mendoakan kebahagiaanmu. Aku berharap Tuhan melembutkan hatimu dan menguatkanmu untuk bisa mengakui kebohonganmu. Tidak ada segala sesuatu yang baik yang dimulai dari sebuah kebohongan, Cin ....


Asal kamu tau, aku juga diliputi perasaan bersalah karena mendiamkan hal ini padahal aku tau kebenarannya. Aku merasa bersalah pada pak James dan keluarganya. Aku harap kamu juga mengerti perasaanku, " ujar Wendy.


Cindy tetap bergeming dengan wajah datar. "Pulanglah, " katanya dengan nada dingin yang sama.

__ADS_1


Wendy menghela napas panjang. Ia tahu sahabatnya ini memang keras kepala, apalagi kalau sudah memutuskan sesuatu. Ia hanya bisa berdoa agar Cindy dibukakan hatinya sebelum menerima konsekuensi yang lebih besar akibat perbuatannya itu. Lalu Wendy pun keluar dari kamar Cindy dan pulang ke rumahnya.


...****************...


__ADS_2