
Sudah dua minggu ini, hati Andreas Adipratama diliputi kegelisahan. Satu minggu pertama, ketika ia menantikan hasil rapat umum pemegang saham yang akan menentukan kelayakan keponakannya menjadi pewaris.
Waktu itu, ia dan Celine sama-sama diberikan proyek terakhir sebelum rapat pemegang saham. Proyek tersebut sangat penting bagi dirinya. Jika ia sukses dengan proyek tersebut bersamaan dengan gagalnya proyek Celine, maka bisa dipastikan dirinya lah yang akan diakui para pemegang saham untuk menjadi pemilik sah perusahaan.
Saat itu ia terlalu percaya dengan kompetensi timnya yang memang sudah terbiasa menangani proyek-proyek semacam ini. Karena itu, ia lebih memfokuskan diri untuk mencari cara menjegal Celine sehingga proyek Celine bisa dipastikan gagal.
Di situ lah letak kesalahannya sampai ia tidak menyadari bahwa ia sudah melakukan suatu kecerobohan. Ia tidak memeriksa ulang laporan yang diketikkan sekretarisnya sebelum ia melakukan presentasi proyek terbarunya.
Hanya karena kelebihan satu angka nol di bagian perhitungan analisis bahan baku, semua perhitungan anggaran proyek jadi membengkak. Dan bodohnya, ia tidak menyadari hal itu ketika membawakan presentasi. Ia sudah terbiasa melihat angka nol yang berderet di pembicaraan anggaran proyek, yang pada umumnya memang dapat mencapai jumlah milyaran rupiah itu.
Begitu para direksi mempertanyakan alasan anggaran proyek bisa membengkak seperti itu, ia bingung di mana letak kesalahan perhitungannya. Dan seolah tidak bisa menjadi lebih sial lagi, Celine lah yang menemukan kesalahan letak satu angka nol itu.
Dengan presentasi demikian, di mana perhitungan anggaran jadi membengkak tidak karuan karena memang sudah salah perhitungan dari bahan bakunya, proyek nya ditolak total. Proyeknya gagal bahkan ketika baru tahap perencanaan.
Benar-benar satu kesalahan kecil yang berakibat fatal. Reputasi dan kredibilitasnya hancur dalam sekejab. Di tambah dengan proyek Celine berhasil dengan gemilang, keadaan yang diharapkannya berjalan terbalik. Para pemegang saham jadi lebih mempercayai Celine daripada dirinya. Tentu saja pada akhirnya bisa dipastikan, keputusan seperti apa yang dihasilkan rapat umum pemegang saham.
Mengawali minggu berikutnya, setelah Celine diumumkan menjadi pewaris yang sah, ia mengalami dilema untuk masuk kantor. Ia bingung bagaimana harus bersikap pada keponakan yang ia jegal tersebut.
Untungnya, anak itu mendadak mengambil cuti di mana tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan batas waktunya. Untuk sementara, ia dapat bernapas lega. Bagaimanapun, kedudukannya sebagai seorang direktur senior tidak serta merta bisa disepelekan orang hanya karena proyeknya yang pernah mengalami sekali kegagalan. Apalagi semua orang tahu, ia masih ada hubungan keluarga dengan pemilik perusahaan ini.
Namun hari ini, di minggu yang baru, ia mendengar kabar bahwa bocah itu telah kembali bekerja. Pertanyaan dilematik kembali menghampiri dirinya. Kebimbangan antara menjaga ego dan memikirkan hidupnya di masa depan.
Ia sadar dirinya sudah tidak muda lagi. Jika ia keluar dari perusahaan keluarga ini, akan kah ia bisa mencapai kesuksesan hingga mencapai tahap seperti ini lagi? Belum lagi keluarganya sudah terbiasa hidup mewah. Bagaimana dengan anak-istrinya kelak jika ia memilih keluar dari perusahaan?
Lalu, jika ia tetap bertahan di perusahaan ini, apakah ia bersedia merendahkan diri bekerja di bawah pimpinan bocah itu kelak? Setelah secara terang-terangan ia berada di pihak oposisi yang menentang, bahkan menjadi rival yang mengincar kedudukan yang sama dengan Celine? Cukup tebal kah kulitnya?
Tidak! Ia tidak sanggup menanggung malu seperti itu. Ia memilih keluar. Untuk itu, hari ini ia mencoba menghadap pimpinan perusahaan yang tidak lain tidak bukan adalah kakaknya sendiri.
"Masuk!" Terdengar seruan dari dalam ketika ia mengetuk pintu ruangan direktur utama.
Andreas Adipratama pun memasuki ruangan tersebut. Sambil melangkah, matanya mencari sosok bocah perempuan yang membuatnya galau sejak kemunculannya di kantor ini.
__ADS_1
Ia menghela napas lega ketika ia tidak menemukan sosok yang ingin dihindarinya itu. Ia pun mempercepat langkahnya mendekati meja kerja tempat kakaknya berada.
"Pimpinan ..." sapanya kepada sosok Sang Kakak.
"Di sini hanya ada kita berdua. Bersikap biasa dan santai saja, Dik, " sahut Adrian Adipratama merespons panggilan adiknya. Matanya masih menelusuri berkas-berkas laporan yang ada di hadapannya.
Andreas hanya tertunduk diam. Butuh keberanian baginya untuk mengungkapkan keputusannya tersebut.
Karena tidak ada respons dari Sang Adik, Adrian Adipratama mengalihkan perhatiannya dari berkas yang sedang dipelajarinya. Ia menatap adiknya tersebut.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku ingin mengundurkan diri dari perusahaan, Kak, " jawab Andreas.
"Alasannya?"
"Aku tidak bisa menghadapi anak itu."
"Kenapa? Karena kamu kalah melawannya, sekalipun sudah banyak berbuat curang di belakang layar?" tanya Adrian Adipratama sambil tersenyum miring.
Saat itu, Celine sedang berniat kembali ke ruang kerjanya. (noted: Celine berbagi ruang kerja dengan papanya, yaitu ruangan direktur utama - eps 74 ). Langkahnya terhenti ketika melihat pamannya sedang berbicara dengan papanya. Karena dirasa ada sesuatu pembicaraan yang penting, Celine memilih diam mendengarkan di balik pintu yang sedikit terbuka.
Melihat adiknya yang hanya terdiam, Adrian Adipratama kembali melanjutkan kalimatnya. "Jika kamu mundur dari perusahaan ini, kamu mau usaha apa?"
"Aku sudah membangun perusahaan sendiri dengan hasil kerjaku selama ini. Memang, masih kalah jauh dari perusahaan ini. Tapi aku akan mulai fokus di sana, " jawab Andreas.
Adrian Adipratama tersenyum mendengar jawaban adiknya itu. Kemudian ia mencoba menasihati Sang Adik.
"Apakah tidak lebih baik kamu pikirkan lagi? Untuk apa kamu mempertahankan harga dirimu? Bagaimana dengan nasib istri dan anakmu? Apalagi anakmu sedang kuliah di luar negeri. Tentu membutuhkan biaya yang cukup besar, kan? Kamu yakin perusahaan yang baru kamu bangun itu cukup memenuhi kebutuhan hidupmu?"
Andreas kembali terdiam. Kalimat-kalimat tersebut sudah muncul dalam pertimbangannya. Jika hanya masalah harga diri, ia bisa telan egonya. Masalahnya .... Bagaimana dengan anak itu? Apakah anak itu bisa berdamai dengannya? Atau anak itu akan memanfaatkan posisinya untuk menekannya kelak? Ia tidak sanggup membayangkan dirinya dipermainkan oleh bocah yang seumuran dengan anaknya.
__ADS_1
Seolah Sang Kakak bisa membaca pikiran adiknya, ia lalu berkata, "Apa yang kamu khawatirkan? Kamu takut Celine dendam padamu dan membalas perbuatanmu jika ia sudah menjadi atasanmu? Jangan takut! Ia tidak sepicik kita, bisa kujamin itu!"
"Adikku, tahukah kamu mengapa aku mendukung anak itu menjadi penerusku, sekalipun kita dididik dalam budaya patriarki yang cukup kuat?" tanya Adrian Adipratama.
Mendengar pertanyaan itu, Andreas mengangkat kepalanya dan menatap kakaknya. Pertanyaan itu tidak pernah terlintas dalam benaknya. Sekarang, setelah pertanyaan itu diajukan padanya, ia baru penasaran akan jawabannya.
Ia baru menyadari apa yang dilakukan kakaknya adalah suatu keanehan. Mereka sama-sama tahu, bagaimana karakter gadis itu sejak kecil dan bagaimana sikap kakaknya memperlakukan anak perempuannya selama ini. Sulit dipercaya rasanya kakaknya yang berkarakter seperti itu, bisa mempercayakan perusahaan kepada Celine sebagai pewaris.
Melihat wajah bingung adiknya, Adrian Adipratama kembali tersenyum miring. "Jawabannya adalah karena aku ingin membalas dendam padamu."
"Sikapmu yang menusukku dari belakang ketika aku sedang dirawat itu menyakitiku hatiku, Adikku. Aku merasa terkhianati. Dan di saat itu, bisa-bisanya anak yang tak pernah kuanggap malah berusaha menjadi harapan baru bagiku. Di situ lah aku berusaha mengambil kesempatan itu. Aku memilih berjudi daripada membiarkan dirimu menikmati kemenangan di atas sakit hatiku.
Dan ternyata kemenangannya atasmu juga menjadi tamparan untukku. Anak yang selama ini kubuang karena selama ini kuanggap tak berguna, justru menjadi anak yang kubanggakan. Aku selama ini terlalu merendahkannya, tanpa berusaha mencari tahu kelebihannya. Jadi, bukan dirimu saja yang belajar dari kejadian ini, Dik. Diriku juga belajar.
Sekarang, anak itu perlu kita berdua untuk mendukungnya. Ia masih perlu banyak belajar. Selain dirimu, siapa lagi yang harus kupercaya di perusahaan ini? Lebih baik aku percaya pada saudara sendiri daripada orang lain, bukan? Bagaimanapun, ini adalah perusahaan keluarga kita. Bukan kah lebih baik kalau kita bekerja sama?
Aku memang tidak akan pernah tahu sakit hatimu yang selama ini hanya dididik jadi pendukung keluarga. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya selalu jadi orang nomor dua. Yang aku minta cuma kebesaran hatimu. Bisa kah kita tidak perlu bersaing? Karena aku membutuhkanmu, begitu pula Celine." Adrian Adipratama mengakhiri perkataannya.
Andreas Adipratama hanya terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Untuk pertama kalinya kakaknya mengutarakan isi hatinya padanya, dan hal itu sedikit-banyak membuatnya terkejut.
"Aku akan memikirkannya, " jawabnya akhirnya.
"Yah .... Pikirkan lah .... Aku menunggu jawabanmu." Tuan Adrian Adipratama menutup pembicaraan mereka.
Andreas Adipratama pun segera membungkuk memberi hormat kepada atasannya tersebut dengan formal seraya berkata, "Saya permisi ...."
Celine yang menyadari pembicaraan telah berakhir, segera bersembunyi di balik dinding. Ia tidak ingin ayah dan pamannya tahu bahwa ia mendengar pembicaraan mereka. Tak lama kemudian, terlihat om Andre keluar dari ruangan tersebut.
Ia bisa mengerti perasaan om Andre dan ia tahu pasti bahwa pamannya itu akan sangat canggung kepadanya setelah ia resmi diakui sebagai pewaris. Jadi, lebih baik ia pura-pura tidak tahu pembicaraan ini sampai om Andre bisa memutuskan sendiri di kubu mana beliau akan berdiri.
Celine bersyukur papanya bisa mewakili perasaannya dengan baik. Ia juga berharap pamannya tetap berada di perusahaan ini dan bisa bekerja sama dengannya. Ia ingin segala sesuatunya bisa berakhir dengan damai. Karena ini lah yang selama ini dipelajarinya tentang keluarga.
__ADS_1
Keluarga harusnya menjadi orang yang paling kita percaya dan paling kita harapkan kerja samanya, kan? Keluarga adalah orang yang akan selalu bisa diajak kembali berdamai, separah apa pun permusuhan yang pernah terjadi di dalamnya. Bukan begitu? Apakah kamu setuju?
...****************...