
Fajar menyingsing. Hari berganti. James berangkat ke RSUD dengan motornya. Ketika ia memasuki ruang kerjanya, Bu Reny ternyata sudah lebih dahulu tiba.
"Selamat pagi, Bu ..." sapa James.
"Selamat pagi, Pak James ..." balas Bu Reny.
James pun mulai menata meja kerjanya. Berkas-berkas dan catatan mengenai pasien yang kemarin ia buat, diletakkannya di atas meja.
"Pak .... Nanti kita mengunjungi pasien Bapak di waktu seperti kemarin, gapapa?" tanya Bu Reny.
"Gapapa, Bu ..." jawab James.
"Sambil menunggu saya, apa Pak James mau melihat rekam medis pasien dulu? Mungkin saja ada perubahan rencana terapi setelah dikunjungi DPJP-nya hari ini. Beberapa dari mereka ada yang sudah melakukan kunjungan pasien soalnya. Tetapi kalau Bapak mau menunggu sampai semua DPJP sudah melakukan kunjungan, biasanya sekitar jam 10 mereka baru selesai, " kata Bu Reny.
"Oh ya, Bu .... Nanti saya pikirkan .... Terima kasih atas infonya ..." tanggap James.
"Saya duluan yah ..." pamit Bu Reny yang bersiap melakukan tugasnya.
"Silakan, Bu ...."
Bu Reny pun pergi meninggalkan James sendirian di ruangan itu. James kembali membuka catatan rencana kerjanya.
Kemarin malam, James menanyakan pendapat orang tuanya tentang pasien-pasiennya di PKW. Bagaimanapun, orang tuanya sudah banyak makan asam garam kehidupan. Mungkin saja mereka memiliki pandangan lain.
Mengenai kakek Suroto, orang tuanya setuju dengan rencananya yang akan menerapkan pendekatan spiritual. Menurut mereka hanya itu satu-satunya cara untuk mengurangi kecemasan Si Kakek, yaitu mengembalikan keyakinannya kepada Sang Pemberi Rezeki.
Mengenai nenek Farida, orang tuanya tidak dapat banyak memberi masukan. Semua kembali kepada keputusan keluarga. Mungkin terkesan tidak adil di mana pasien tidak diberi kesempatan untuk memutuskan hidupnya sendiri, tetapi keluarganya pasti memikirkan yang terbaik untuk Si Nenek dan lebih mengenal pribadinya.
Untuk kasus tuan Herman, orang tuanya hanya tersenyum. Mereka mengingatkan James atas kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Bagaimana di karir awal James bekerja di RS, James dipercayakan kasus ini bukanlah suatu kebetulan. Tetapi sebuah perencanaan yang telah diatur Sang Khalik. Semuanya tinggal tergantung kebijakan James untuk memanfaatkan pengetahuannya dan pengalaman Celine.
James menutup buku tulisnya setelah membaca ulang semua rencana kerjanya. Kemudian ditutupnyalah matanya. Ia berdoa memohon hikmat Sang Pencipta agar dilayakkan menjadi alatNya. Setelah itu, baru lah James keluar dari ruang kerjanya dan bersiap mengunjungi pasiennya.
Pasien pertama yang ia ingin kunjungi adalah kakek Suroto, mumpung semangatnya masih berkobar-kobar. Dengan semangat 45, James menuju bangsal Bakung. Sesampainya di sana, James menuju nurse station dan menyapa perawat yang sedang berjaga di sana.
__ADS_1
"Selamat pagi, Kak. Apakah dokter yang merawat kakek Suroto sudah visit ?" tanya James kepada perawat yang ia tahu umurnya lebih tua daripada dirinya itu.
"Selamat pagi, Pak. Dokter Bedahnya sudah. Tapi Dokter Penyakit Dalamnya belum, " jawab Si Perawat.
"Ada rencana apa dari Dokter Bedahnya, Kak?" tanya James lagi.
"Kalau pemeriksaan gula darah hari ini stabil dan Dokter Penyakit Dalamnya mengizinkan, Dokter Bedahnya berencana memulangkan pasien, Pak."
"Eh?" James kaget. Secepat itu?
"Memangnya luka operasinya sudah sembuh, Kak?" tanya James kemudian.
Mendengar pertanyaan James, perawat itu tertawa. "Ga mungkin ditunggu sampai sembuh lah, Pak .... Yang penting sudah cukup aman untuk dilepas oleh spesialisnya. Perawatan luka berikutnya bisa dilanjutkan di puskesmas ..." terang Si Perawat.
James tersenyum bodoh menahan rasa malunya. Terlihat sekali ia awam di bidang medis.
Tetapi di balik senyumnya, James trenyuh di dalam hatinya. Betapa pahitnya kehidupan harus dijalani kakek Suroto. Entah mentalnya sudah siap atau belum, kehidupannya harus terus berjalan tanpa peduli bagaimana ia akan menjalaninya.
"Ya sudahlah, Kak .... Saya permisi dulu aja. Nanti saya akan kembali kemari sekitar jam 11 bersama Bu Reny. Semoga saat itu sudah ada keputusan dari Dokter Penyakit Dalamnya, " pamit James.
James pun melanjutkan kunjungannya ke bangsal Flamboyan, tempat nenek Farida dirawat. Walaupun perasaannya masih sedikit terguncang berkenaan kabar kakek Suroto tadi, ia harus mengatur perasaannya sebaik mungkin. Kasus nenek Farida juga bukanlah kasus yang mudah.
Sesampainya di nurse station bangsal Flamboyan, James mengucapkan salam dan pertanyaan yang sama. "Selamat pagi, Kak.... Apakah dokter yang merawat nenek Farida sudah visit ?"
"Selamat pagi, Pak .... Karena keluarga menolak kemoterapi, sekarang dokter yang merawat tinggal Dokter Penyakit Dalam untuk perbaikan KU-nya (noted: KU \= Keadaan Umum). Dan beliau belum visit, " jawab perawat yang sedang berjaga di sana.
James mengangguk tanda mengerti. Sebelumnya ia memang sudah tahu kalau nenek Farida juga ditangani oleh Dokter Spesialis Bedah Digestif (noted: Dokter Spesialis Bedah khusus bagian pencernaan). Mungkin karena sudah tidak ada lagi yang bisa beliau lakukan, beliau mengundurkan diri sebagai DPJP nenek Farida.
"Bagaimana keadaan nenek sekarang, Kak?" tanya James lagi.
"Masih lemas. Kemarin sudah periksa Hb lagi, tapi masih 8-an (noted: Hb \= Hemoglobin, protein zat besi yang terkandung di dalam sel darah merah. Angka normalnya berkisar 12-15 gram/dL untuk wanita dewasa). Hari ini mungkin ada rencana transfusi 2 kantong lagi. Kami menunggu instruksi dokter dulu, Pak ...." sahut perawat yang sama.
James kembali mengangguk seakan mengerti. Walaupun ada istilah medis baru yang ia belum paham betul artinya, tetapi sedikit-banyak ia bisa meraba maksud perawat tersebut.
__ADS_1
"Pak ...." Terdengar seorang ibu mendekati nurse station dan memanggil James.
James menengok ke arah datangnya suara dan memandang ibu tersebut. James mengenalinya sebagai salah satu keluarga yang menjaga nenek Farida.
"Ya? Ada apa, Bu?" tanya James ramah.
"Saya anaknya nenek Farida. Boleh berbincang sejenak?" tanyanya meminta waktu James.
"Boleh. Mau di sini atau mau di ruang kerja saya?" tanya James menawarkan.
"Di sini aja, Pak. Cuma sebentar kok ..." jawabnya.
"Oh ya sudah. Silakan, Bu .... Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak .... Maaf .... Bisakah ibu saya pulang? Kami kan sudah menolak saran dokter untuk melakukan pengobatan yang katanya bisa bikin muntah itu, karena kasian dengan keadaan nenek yang uda tua. Sekarang aja nenek uda susah makan, gimana kalo diberi obat itu? Jadi sekarang masih tunggu apa ya, Pak?" tanyanya.
James bingung. Sebenarnya bukan bagiannya menerangkan hal ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Ia harus berusaha terlihat profesional.
"Nenek masih lemas, Bu .... Hb-nya aja masih 8-an. Mungkin perlu transfusi lagi. Tetapi coba nanti ditanyakan sama dokter yang merawat nenek yah .... Mungkin kalau nenek sudah mencapai tahap tertentu, nenek bisa pulang ..." jawab James mengulang sedikit kalimat perawat yang tadi.
"Ya .... Baiklah, Pak .... Terima kasih atas infonya .... Maaf sudah mengganggu, " kata ibu itu sambil undur diri.
"Sama-sama, Bu ..." balas James.
Setelah anak nenek Farida tidak terlihat lagi, James juga undur diri. "Kak .... Nanti saya kembali lagi ke sini sama Bu Reny setelah Dokter Penyakit Dalamnya visit aja yah .... Mungkin sekitar jam 11-an. Saya permisi ..." ujar James.
"Baiklah, Pak .... Silakan ..." jawab Sang Perawat dengan ramah.
James pun melanjutkan perjalanannya ke bangsal terakhir di mana pasiennya berada, bangsal Soka. Di sana kembali ia menanyakan pertanyaan yang sama kepada perawat yang bertugas.
Perawat tersebut mengatakan bahwa tidak ada perubahan yang berarti dalam rencana terapi Pak Herman. Dan saat ini yang bersangkutan sedang menjalani fisioterapi.
Karena tidak ada lagi yang bisa James kerjakan, James memutuskan kembali ke ruang konselor saja. Ia permisi kepada Sang Perawat dan seperti sebelumnya ia mengatakan akan kembali bersama Bu Reny nanti.
__ADS_1
...****************...