
Sesampai di rumah, mood James sudah ambyar. Tak cukup setelah apa yang dialaminya di sekolah, karena pulang mengenakan jas lab, ia cukup menarik perhatian orang sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Maklumlah, ia naik bus untuk pulang-pergi ke dan dari tempat kerja.
Bukan hanya lirikan-lirikan maut yang ia alami, tetapi sampai ada nenek-nenek yang menanyakan perihal obat kepadanya. Dikiranya ia seorang dokter. Apalah yang bisa dilakukan mantan anak IPS sepertinya? Ia hanya bisa minta maaf karena tidak bisa menjawab Si Nenek. Daripada salah jawab dan membahayakan Si Nenek, pikirnya.
Eh ... Si Nenek rupanya tidak terima. Si James dipukuli dengan gagang payung yang dibawanya.
"Dokter sombong! Masih muda sudah pelit! Apa Nenek harus bayar dulu baru mau dijawab?! Kalau mati kuburannya sempit! " begitu katanya.
Apes sekali, bukan?
Demikianlah akhirnya. Dengan langkah lunglai, James memasuki rumah. Tampangnya yang kusut dan pakaiannya yang asing, jelas membuat Mama Ratna dan Celine melongo melihatnya.
Prihatin dengan keadaan anaknya, Mama Ratna pun mencoba bertanya, "Ada apa, James? "
"Nanti malam aja ceritanya ya, Ma. James mau mandi, lalu istirahat di kamar."
Setelah berkata demikian, James langsung membawa handuknya ke kamar mandi. Tadi di kamar mandi guru, ia hanya membersihkan sekedarnya. Jadi ia masih merasa kepala dan badannya lengket serta berbau amis. Belum mantap kalau belum terkena sabun dan shampoo.
Sedangkan di luar kamar mandi, Mama Ratna dan Celine hanya bisa saling pandang. Mereka sama-sama penasaran dan khawatir dengan apa yang terjadi pada James. Tapi keduanya hanya bisa menunggu sampai malam, sampai James ingin menceritakannya.
__ADS_1
Setelah mandi, James masuk ke kamarnya. Ia lelah, ingin tidur. Segera ia membaringkan diri di ranjang dan menutup kedua matanya.
Bunyi detik jam dan dengungan mesin kipas angin terdengar bersahut-sahutan mengisi keheningan. Di luar kamar juga tidak terdengar suara apapun. Mungkin Mama dan Celine juga sudah di kamar masing-masing untuk beristirahat.
Beberapa kali James berganti posisi dan mencoba mengosongkan pikiran, tapi lelap tak kunjung datang. Setelah 30 menit berlalu, dengan jengkel akhirnya James menyerah.
Ia mengambil lembaran RPL yang sudah disusunnya. Rencananya besok lembaran tersebut akan diserahkan ke kepala sekolah. Tapi tadi, ketika lelap tak kunjung tiba, ia terpikir untuk merevisi beberapa materi BK kelas XI. Materi Kejujuran, Sikap Sopan Santun, dan Stop Bullying yang sebelumnya untuk materi kelas X, ia pindahkan untuk kelas XI.
Masa bodoh jikalau waktu kelas X mereka sudah mendapatkan materi serupa! Faktanya, sikap ini masih perlu ditekankan pada mereka. Aku hanya melakukan tugasku sebagai guru BK. Dan inilah hasil penilaianku, kalau mereka masih butuh materi-materi tersebut, pikir James membenarkan kelakuannya.
...****************...
Waktu PKW tiba. Di sinilah James menceritakan kejadian yang menimpa dirinya selama ini. Ia ingin tahu komentar keluarganya, khususnya kedua orang tuanya yang juga berprofesi sebagai pendidik.
"Hmm ... Mama bilang sih ga salah. Memang terlalu naif kalau kita percaya itu semua cuma kebetulan, " sahut Mama Ratna menjawab pertanyaan James.
"Setuju sama Mama. Seperti kata Si Dokter, menurut Abang, Lo uda ditarget ama geng itu, James. Cuma, ya emang lo harus hati-hati. Kalo Si Putri main beking ortunya, anytime lo bisa dipecat! " Alex ikut menanggapi.
"Semenjak James panggil dia ke ruang BK, James sih uda pasrah, Bang. Mau dia bawa-bawa ortunya, bawalah! Kalo mau pecat, pecatlah! " jawab James.
__ADS_1
"Jadi sekarang, rencanamu apa, James? " tanya Papa Heru.
"Ya, bertahan aja sih, Pa. Kalau ternyata ga sampe dipecat kan bagus. Yang jelas, James hanya melakukan tugas James sebagai pendidik. Kalau terbukti salah, ya harus ditegur. Masalahnya Si Priscillia ini pinter banget ngelesnya, " jawab James.
"Kalau cuma bertahan gitu, Bang James ga cape? Tadi pas pulang aja Bang James uda lesu sekali." Celine ikut nyeletuk.
Mendengar celetukan polos Celine yang mengkhawatirkannya, James tersenyum.
"Masa Bang James harus ngundurin diri dan jadi pengangguran lagi? Itu tandanya Bang James menyerah kalah dong? Woo ... Bukan Bang James itu namanya. Bang James ini pantang menyerah, Lin.. Biar cape, boleh diadu!" kata James membanggakan diri sambil menepuk dadanya.
"Bagus kalau kamu pantang menyerah seperti itu! Anak Mama memang harus gitu! Jangan mau kalah! Jangan menyerah! Apalagi kalau kita benar! " seru Mama Ratna ikut bangga terhadap ucapan anaknya.
"Papa setuju dengan Mama. Kamu hebat! Tidak terindimidasi dengan latar belakang seseorang!" puji Papa Heru. Alex ikut mengangguk-angguk sambil mengacungkan ibu jari.
"Tapi saran Pa, coba kamu dalami lagi perkataan guru fisika yang tidak diteror itu. Beliau bilang mereka anak baik. Oke, mungkin karena beliau tidak ikut diteror. Tapi bisa jadi memang ada kebenaran di sana. Coba dekati mereka pelan-pelan. Mungkin ada alasan dari sikap mereka yang seperti ini, " lanjut Papa Heru.
"Iya, James. Jangan sampai kamu dibutakan oleh amarah dan pola pikirmu yang sudah terlanjur menghakimi mereka! Apalagi kamu guru BK. Coba kenali pribadi Sang Putri dulu. Lakukan pendekatan konseling yang jadi keahlianmu. Mungkin kalau kamu sudah bisa mengerti Si Putri, teman-temannya akan lebih mudah diatur, " Mama Ratna ikut memberi saran.
James terdiam. Ia kembali diingatkan dengan pilihannya profesinya. Walaupun awalnya pilihan tersebut diambil dengan alasan yang agak absurd, tapi ia tetap harus bertanggung jawab mendidik dan membimbing murid-muridnya tanpa dibutakan prasangka pribadi.
__ADS_1
Yah ... Ayo kita coba dekati lagi! Coba bersabar dan kenali lagi! Mungkin mereka memang agak nakal, tapi bukankah memang tugas seorang guru untuk mengarahkan mereka? Ayo ... Kamu bisa, James ! kembali James menyemangati dirinya sendiri walaupun dengan menghela napas panjang.
...****************...