Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Mimpi dan Ambisi (2)


__ADS_3

"Kamu nanti kuliah mau ambil jurusan apa?" tanya Andreas pada anaknya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.


"Belum tau. Belum mikirin, " jawab Darrell acuh tak acuh.


"Kalau begitu, kamu ambil jurusan bisnis dan manajemen. Kalau bisa, usahakan masuk universitas bergengsi di luar negeri, " putus Andreas.


Melihat ayahnya yang tiba-tiba membicarakan hari depannya, membuat alis Darrell bekernyit. "Kok tumben Papa bahas kuliah segala? Darrell masih SMP lho .... Masih agak jauh ..." katanya mengingatkan, kali-kali Sang Ayah lupa tingkat pendidikan anaknya sendiri.


Ditanya seperti itu membuat mata Andreas berbinar-binar. "Hari depan itu harus dipersiapkan sejak awal! Ini kesempatan kita, Nak .... Ini kesempatanmu! Apa kamu senang selama ini selalu jadi nomor dua di bawah Dion? Sekarang saatnya kamu berada di atas, menjadi pewaris berikutnya keluarga Adipratama!" jelas Andreas dengan bersemangat.


Darrell sempat tertegun dengan penuturan ayahnya. Namun itu hanya sebentar saja. Di detik berikutnya ia hanya memutar bola matanya dan kembali ke gaya acuh tak acuhnya.


Ia memang tidak pernah berpikir untuk menyaingi Dion, apalagi berambisi untuk mengalahkannya. Buatnya asal ia dapat bertahan dengan kehidupannya di sini, itu sudah cukup. Ia tidak pernah mengharapkan yang muluk-muluk karena takut kecewa. Ia tahu dirinya hanyalah anak di luar nikah. Mana mungkin ia dapat menggantikan cucu asli berdarah murni yang menjadi tumpuan harapan dan kasih sayang banyak orang seperti Dion?


Melihat respons Darrell yang menunjukkan sikap tidak peduli dengan gagasannya, Andreas memegang bahu Darrell agar anak itu kembali memfokuskan diri pada ucapannya.


"Papa serius, Nak! Dengar baik! Saat ini sedang terjadi kehebohan besar di rumah pamanmu karena Dion menolak menjadi pewaris berikutnya. Anak itu berpaling dari harapan yang ditentukan keluarga dan memilih untuk menjadi seorang pelukis. Karena itu, manfaatkan kesempatan ini untuk tampil, Nak! Tunjukkan kalau kamu juga layak untuk diperhitungkan sebagai pewaris keluarga Adipratama!" tegas Andreas.


"Om Adrian tidak akan mungkin membiarkannya begitu saja. Jangan berharap terlalu tinggi, Pa!" Darrell mencoba berpikir realistis.


"Betul! Tapi kita juga tidak tau apa yang akan terjadi di depan, Nak! Jadi, tak ada salahnya kalau kita juga bersiap, kan? Dengan demikian, saat kesempatan tiba, kita tidak akan gagal meraihnya!" Andreas menjawab pernyataan putranya dengan optimis.


Saat itu, Darrell tidak memikirkan dengan serius ucapan ayahnya. Ia memilih membiarkan keadaan mengalir apa adanya. Toh pikirnya waktu kuliah masih sekian tahun lagi! Buat apa dipusingkan dari sekarang?


Berkebalikan dengan Darrell, Andreas memantau perkembangan situasi di rumah Sang Kakak dengan cermat. Ia tahu pertentangan dan perseteruan sudah terjadi di keluarga itu. Ia menunggu hasil akhir pertikaian ayah-anak tersebut.


Setelah beberapa lama menunggu dengan penuh kesabaran, penantiannya sampai ke babak akhir. Sebuah kabar mengejutkan terdengar dari rumah Sang Kakak. Dion melarikan diri dari rumah. Ia memilih mengejar mimpinya dan melepaskan semua yang ia miliki saat ini.


Tentu saja kabar itu mendatangkan kebahagiaan tersendiri buat Sang Paman. Dengan bersorak, ia menyampaikan kabar itu kepada Sang Putra. "Dion resmi melepaskan hak warisnya, Nak! Anak itu bahkan sampai melarikan diri dari rumah! Ini kesempatanmu! Jangan kau sia-siakan!"


Darrell kembali tertegun. Sedikit-banyak ia tidak menyangka bahwa sepupunya memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Walaupun mereka tidak dapat dikategorikan akrab, rasanya sulit membayangkan Dion yang ceria dan ramah bisa bersikeras sedemikian menentang ayahnya sendiri.


Di sisi lain, ada sedikit iri hati yang muncul di hati Darrell. Iri hati itu berbalut dengan kekaguman. Bagaimanapun ia tetap merasa tidak dapat mengalahkan Dion. Betapa hebatnya Dion yang berani melawan arus demi memilih jalan hidupnya sendiri! Betapa berkebalikan dengan apa yang ia lakukan selama ini.

__ADS_1


Ia sadar dirinya tidak akan pernah berani menentang langsung kehendak Sang Ayah. Yang ia bisa lakukan hanyalah mengutarakan pendapat-pendapat miring yang mungkin saja dapat mengubah pemikiran ayahnya.


"Walaupun Dion kabur dari rumah, bukan berarti ia melepaskan hak waris, Pa .... Mungkin saja suatu saat ia kembali ke rumah dan meminta hak warisnya lagi, " jawab Darrell.


"Ya. Itu mungkin saja. Tetapi dengan sifat keras pamanmu, tidak mungkin dia menerima anaknya yang sudah mengecewakan harapannya kembali begitu saja. Yah .... Kita lihat saja. Yang penting kita tetap harus mempersiapkan bagian kita. Jangan sia-siakan peluangmu yang kian bertambah ini!" jawab Andreas kembali membesarkan hati anaknya.


"Bagaimana dengan Celine? Kalau Dion mundur, bukankah pewaris berikutnya adalah Celine?" Darrell masih mau mencoba berargumen.


Andreas menggeleng. "Tidak mungkin! Tidak ada sejarahnya pemimpin keluarga Adipratama diwariskan kepada anak perempuan. Lagipula, dengan tabiatnya yang pemalu, sudah dapat dipastikan bocah itu tidak memiliki peluang sama sekali. Dalam hal ini kamu boleh tenang, Nak!" jawab Andreas sambil terkekeh.


"Bagaimana dengan Sonic? Dia juga cucu laki-laki Kakek!" sanggah Darrell lagi.


"Benar, ia juga cucu laki-laki. Namun sayangnya dia bukan Adipratama. Dia cucu luar. Nama keluarganya mengikuti ayahnya dan ia akan menjadi pewaris Atmaja. Jadi, cucu laki-laki Adipratama yang lain cuma kamu! Cuma kamu yang berhak menggantikan Dion sebagai pewaris! Jadi dengar baik dan ikutilah arahan dari papamu ini yah ...." Andreas mengakhiri kalimatnya.


Darrell kembali terdiam. Tidak ada sanggahan lagi yang dapat ia utarakan. Dan sepertinya, ia harus kembali berjalan dengan mengikuti arus yang sudah ditentukan.


...****************...


Setelah bergumul tentang masa depannya, akhirnya Darrell memutuskan untuk memanfaatkan situasi ini untuk sedikit merasakan kebebasan. Setelah lulus SMP, Darrell sengaja mencari SMU yang terkenal di Paris, dan memajukan tawaran ayahnya yang sebenarnya ditujukan saat kuliah itu.


Usulan itu dipandang baik oleh Sang Ayah. Demikianlah akhirnya Darrell kembali ke kota kelahirannya dan menuntut ilmu di sana.


Di tahun keduanya di SMU, sebuah kabar mengejutkan kembali didengarnya lewat Sang Ayah. Sepupunya sudah resmi kehilangan hak warisnya. Bukan karena namanya dicoret dari keluarga Adipratama, tetapi karena Dion sudah berpindah dunia. Sepupunya meninggal dalam sebuah kecelakaan di tahun ketiga kuliahnya.


Tetapi yang membuatnya tidak habis pikir adalah, berita itu tidak disampaikan kepadanya sebagai kabar duka. Tidak ada pembahasan atau ajakan untuk hadir dalam pemakaman atau pelayatan. Yang ada hanyalah penekanan kembali agar dirinya tetap menjalankan rencana masa depannya.


Apakah ayahnya tidak sedih dengan kematian keponakannya sendiri? Pertanyaan yang sama kembali padanya. Bagaimana dengan dirinya sendiri? Apakah ia sedih dengan kematian sepupunya?


Darrell tidak dapat menjawabnya. Ia tidak seakrab itu dengan Dion. Tetapi satu hal yang ia yakinkan dengan pasti, dia tidak bersukacita dengan kemalangan yang menimpa saudaranya itu! Ia tidak menganggap hal itu sebagai suatu keuntungan bagi dirinya!


Di situasi yang bertentangan dengan ayahnya ini, ia juga tidak dapat menunjukkan rasa simpatinya begitu saja. Karenanya ia memilih untuk bersikap tak peduli. Keadaan juga tidak memungkinkan ia menghadiri pemakaman Dion, kan? Saat ini ia berada di belahan dunia yang berbeda. Yang bisa ia harapkan, Dion bisa memaklumi alasannya di dunia sana.


Berbeda dengan Andreas, yang semakin gencar membicarakan persoalan pewaris pada Darrell. Ayahnya berulang kali mengatakan dengan penuh kegembiraan bahwa mereka hanya tinggal menunggu pengesahannya saja. Pamannya sudah tidak memiliki harapan lagi. Cepat atau lambat Om Adrian harus mengumumkan pewaris Adipratama berikutnya, di mana Darrell menjadi satu-satunya kandidat.

__ADS_1


Waktu pun berlalu. Andreas menunggu dengan sabar. Ia merasa tidak perlu terburu-buru. Hak waris sudah hampir pasti jatuh ke tangan anaknya.


Ia merasa tidak perlu menuntut Sang Kakak yang sedang mengalami kedukaan untuk membahas pewaris. Apalagi masalah Sang Kakak ditambah dengan keadaan Celine yang depresi akibat kepergian Dion. Ia memilih menunggu kakaknya tenang dulu dan pada akhirnya menyerahkan sendiri tahtanya pada Darrell.


Langit seolah mendukung rencananya. Kira-kira setahun kemudian, Adrian Adipratama terkena stroke. Ia segera dilarikan ke RS dan menjalani perawatan di sana. Kondisinya hampir tidak lagi memungkinkan untuk memimpin perusahaan.


Tampuk kepemimpinan pun beralih. Andreas otomatis menggantikan peran Sang Kakak sebagai Direktur Utama Adipratama Grup. Kekuasaan itu ia nikmati selama 6 bulan.


Di sinilah saat-saat yang paling membahagiakan bagi Andreas. Mimpinya untuk menjadi orang nomor satu di keluarga Adipratama terkabul. Dan alangkah indahnya kalau mimpi itu bisa diteruskan sampai ke Darrell kelak.


Seperti biasanya, sesuatu yang nikmat pasti akan diiringi ketamakan untuk menjaga kenikmatan itu agar dapat terus dinikmati. Andreas mulai tergoda untuk mengambil alih perusahaan. Ia mulai mempengaruhi para pemegang saham untuk meragukan kepemimpinan Adrian Adipratama mengingat kondisi yang dialami Sang Kakak.


Awalnya memang tidak ada pergerakan dari kakaknya. Andreas menyangka hal itu disebabkan kondisi Adrian yang sudah terpuruk. Memang logikanya, apalagi yang dapat kakaknya harapkan? Sudahlah ia tidak memiliki pewaris, ditambah dengan kondisi tubuhnya yang demikian. Pastilah kakaknya harus menyerah dan mengikhlaskan tahta kepemimpinan kepadanya.


Namun ternyata perkiraannya salah. Sang Kakak yang mendengar kabar pengambilalihan itu, rupanya masih memiliki rencana jitu untuk melawannya.


Siapa yang menyangka rencana jitu itu bernama Celine. Sang kakak malah menghadapkan sosok keponakan yang tidak pernah ia perhitungkan itu padanya. Dan gilanya lagi, kakaknya itu bahkan dapat meyakinkan para pemegang saham untuk mempercayai otaknya dalam memimpin perusahaan dan mempersiapkan pewaris yang handal.


Semenjak itu, keadaan mulai bergerak ke arah sebaliknya seperti roda yang berputar. Keberadaan Celine menjadi duri dalam dagingnya. Sudah beberapa kali ia berusaha menyingkirkan bocah itu, bahkan sampai memakai cara licik. Namun semuanya sia-sia.


Yang ada malah ia seperti mendapat karma, yang memperburuk reputasinya sendiri. Pada akhirnya, mimpinya harus berakhir setelah rapat umum pemegang saham mengakui Celine sebagai pewaris yang sah.


Angin segar bagi mimpinya mulai kembali berhembus ketika Darrell bergabung di Adipratama Grup. Hanya dalam waktu setahun Darrell dapat menunjukkan kemampuan bisnis, manajemen, dan marketingnya. Putranya itu bahkan berhasil menduduki peringkat penjualan terbaik selama tiga kuartal berturut-turut di perusahaan.


Gaya kepemimpinan Darrell dan Celine mulai dibandingkan. Mereka yang pro Darrell mulai menentang ketidakadilan yang dialami putranya. Menurut mereka, sebagai sesama anggota keluarga Adipratama, Darrell berhak mendapat posisi direktur seperti halnya Celine.


Melihat situasi yang berkembang menjadi seperti ini, menggoda Andreas untuk kembali memperjuangkan mimpinya. Ia mulai memikirkan langkah apa yang harus ia persiapkan untuk mengukuhkan kekuatan anaknya di perusahaan. Salah satu jawaban yang terpikirkan adalah lewat perjodohan.


Untuk itu, ia mencoba membicarakan usul perjodohan ini kepada Darrell. Bagaimanapun, Ia tidak mau anaknya merasakan apa yang ia rasakan karena terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Minimal, walaupun dimulai dari perjodohan, Darrell bisa menerima Sang Wanita dengan kerelaannya sendiri.


Ia cukup terkejut mendapat respons positif dari Sang Anak. Dengan santainya Darrell menyetujui pola pikir ayahnya dan mempersilakan ayahnya mencari jodoh yang sesuai dengannya. Alasannya sederhana, Darrell sedang tidak punya pacar dan ia mengakui kalau dirinya sudah di usia yang pantas untuk mulai memikirkan hal tersebut.


Tentu saja hal ini disambut Andreas dengan bersemangat. Ia pun mulai mencari-cari kandidat yang cocok untuk putranya. Wanita yang memiliki latar belakang keluarga yang cukup kuat untuk membantu putranya mengalahkan Celine.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2