
"Semenjak diterima di universitas, Celine sempat kelabakan dalam menyesuaikan diri dan membagi waktu. Maklum lah, Celine kan ga pernah mengikuti pendidikan formal. Ditambah dengan karakter Celine yang begini, jujur, itu menjadi kesulitan tersendiri buat Celine.
Pada saat awal, sulit sekali menemukan ritme yang tepat. Penyesuaian dengan lingkungan kampus, tugas-tugas dosen, juga merawat papa. Baru sekitar sebulan kemudian, pelan-pelan Celine mulai terbiasa.
Tetapi seolah kehidupan belum puas bermain, datang kabar buruk dari orang kepercayaan papa di perusahaan. Om Andre yang sudah menikmati kekuasaan selama 6 bulan lebih sebagai pemimpin pengganti papa, ingin menyingkirkan papa dan menjadi pemilik sah perusahaan. Dia mulai mempengaruhi para pemegang saham untuk meragukan kepemimpinan papa mengingat kondisi papa sekarang.
Papa yang mendengar bahwa adik laki-lakinya berniat mengkhianatinya, mengalami syok hingga tekanan darahnya meningkat drastis. Untunglah Papa segera dilarikan ke RS dan diberikan obat penurun tensi lewat infus untuk menghindari terjadinya serangan stroke yang kedua. Karena kejadian ini, papa sampai harus menjalani rawat inap selama 3 hari.
Setelah kondisi dan tekanan darahnya stabil, baru papa diizinkan pulang. Dokter berpesan agar papa hati-hati. Usahakan untuk menghindari situasi yang dapat membuat perasaannya terguncang atau stress.
Nyatanya, setelah sampai di rumah pun, papa masih memikirkan pengkhianatan adiknya tersebut. Sesungguhnya, papa tidak masalah mewariskan perusahaan kepada Om Andre, jika Om memintanya baik-baik. Tetapi kalau caranya seperti ini, papa merasa ditusuk dari belakang.
Selain perasaan kecewa akibat dikhianati, di hati papa juga timbul kekesalan dengan kelakuan Om. Papa jadi tidak rela menyerahkan perusahaan tersebut. Tapi papa menyadari keterbatasannya. Dengan kondisi seperti ini, ia merasa tidak memiliki kemampuan apapun untuk bersaing dengan adiknya untuk meyakinkan para pemilik saham. Karena itu, papa makin merasa terpuruk.
Melihat papa seperti itu, Celine takut kondisi papa memburuk lagi. Jadi, Celine ... Celine mencoba memberi usulan ke papa. Celine... memberanikan diri untuk ... untuk ..." Sampai di sini cerita Celine mulai tersendat-sendat yang membuat Mama Ratna dan James penasaran.
Celine terlihat kesulitan melanjutkan kalimatnya. Kepalanya menunduk dan pipinya memerah seolah akan mengatakan sesuatu yang memalukan.
"Kamu memberanikan diri mengusulkan apa? Kok ceritanya jadi macet? Jangan bikin Mama penasaran dong!" protes Mama Ratna.
"Celine memberanikan diri dan bilang ke papa untuk ... untuk ... mempertimbangkan Celine sebagai pewaris, " lanjut Celine dengan suara yang makin lama makin mencicit.
James dan Mama Ratna melongo. Mata mereka terbelalak melihat Celine. Mereka tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
"A- apa, Lin? Coba ulang kalimatnya. Ka- kamu tadi mengusulkan apa ke papamu?" tanya Mama Ratna untuk memastikan.
"Celine minta papa mempertimbangkan Celine sebagai pewaris!" Celine mengulangi kalimatnya dengan suara yang lebih keras. Kepalanya makin tertunduk dan mukanya sudah merah sempurna.
Keadaan menjadi hening. James dan Mama Ratna masih belum percaya Celine yang memiliki latar belakang karakter pemalu, berani mengusulkan hal senekat itu kepada ayahnya yang selama ini memegang erat budaya patriarki. Apalagi jika diingat-ingat, budaya patriarki inilah yang menjadi akar masalah sehingga Celine diperlakukan tidak adil oleh ayahnya sendiri.
"Ja- jadi? Bagaimana respons papamu?" tanya Mama Ratna lagi.
__ADS_1
"Awalnya papa diam aja. Entah apa yang papa pikirkan. Tapi Celine juga kaget setelah beberapa saat kemudian akhirnya papa malah balik bertanya 'Kamu yakin mau jadi pewaris?'. Di situ baru Celine berani melihat papa lagi. Terus Celine jawab, yakin, asal papa setuju dan papa mau ajari," jawab Celine.
"Terus gimana?" tanya Mama Ratna yang makin penasaran.
"Terus papa cuma bilang 'Baiklah. Ayo kita coba.' Habis itu, Celine disuruh balik ke kamar dan mengurus urusan Celine sendiri. Papa butuh waktu berpikir sendiri, katanya.
Setelah seminggu kemudian, baru papa memanggil Celine lagi untuk membahas masalah menjadi pewaris. Papa tanya, apa Celine bisa kuliah sambil kerja?
Rupanya papa sudah menghubungi para pemegang saham dan mengatakan kalau papa sudah dan sedang mempersiapkan seorang pewaris. Papa meyakinkan mereka walau kondisinya seperti itu, papa masih memiliki otak yang masih sangat bisa dipercaya untuk memimpin perusahaan dan mempersiapkan pewaris yang handal.
Akhirnya, berdasarkan keputusan sementara rapat umum pemegang saham, mereka setuju untuk mempertimbangkan Celine sebagai pewaris. Syaratnya, Celine harus mulai bekerja di perusahaan agar bisa dinilai kinerjanya selama 2 tahun.
Karena itu, papa minta Celine menghubungi pihak fakultas untuk mengatur perkuliahan Celine. Celine pun bertanya pada pihak fakultas tentang kebijakan yang bisa diperoleh di situasi seperti ini. Puji Tuhan, pihak fakultas memiliki program kuliah online.
Tapi, karena di awal Celine mendaftar sebagai mahasiswa reguler biasa, butuh peralihan bertahap untuk mengubah program kuliah dari reguler menjadi kuliah online. Hal itu disebabkan karena ada perbedaan jadwal dosen. Karena itu, untuk beberapa dosen, Celine diminta menghadap mereka untuk meminta kebijakan secara pribadi.
Syukurlah, mereka bisa mengerti kondisi Celine. Celine akan diberikan materi dan tugas kuliah lewat email. Tapi mereka juga meminta kesanggupan Celine untuk kembali ke kampus sekitar 2-3 bulan sekali untuk dinilai perkembangannya.
Fisioterapi papa juga akan dilanjutkan di Indonesia, meskipun peralatannya tidak secanggih di luar negeri. Tapi buat papa itu tidak masalah. Papa lebih memprioritaskan keamanan perusahaannya. Setelah semua persiapan sudah beres, kami pun kembali ke Indonesia.
Di perusahaan, karena Celine diperkenalkan sebagai calon pewaris, Celine ditempatkan langsung sebagai direktur, sejajar dengan Om Andre. Ruang kerja Celine sementara digabung dengan ruangan papa, Sang Direktur Utama.
Tentu saja hal ini mendapat penolakan dari berbagai pihak, terutama dari pihak Om Andre. Apalagi Om Andre sudah kenal karakter Celine dari kecil. Tapi karena ini sudah menjadi keputusan Direktur Utama dan Rapat Umum Pemegang Saham, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Semenjak itu, hari-hari Celine makin sibuk lagi. Banyak yang harus Celine pelajari dalam waktu singkat. Papa mendidik Celine dengan militan. Celine hampir tak punya waktu istirahat. Celine bahkan sering ketiduran di meja direktur.
Bulan-bulan pertama Celine lalui dengan sangat berat. Celine harus membagi waktu antara urusan kantor, tugas kuliah, dan merawat papa. Celine juga masih harus bolak-balik ke luar negeri. Belum lagi masalah jet lag yang harus Celine hadapi akibat adanya perbedaan waktu. Untungnya papa memberi Celine seorang personal assistant, yang membantu Celine mengatur jadwal Celine.
Untuk membantu merawat papa, akhirnya Celine kembali menggunakan jasa perawat home care. Tapi kali ini, Si perawat mengikuti papa sampai ke kantor. Maklumlah, karena papa masih menggunakan kursi roda. Jadi, perawat inilah yang memperhatikan detail kesehatan papa, seperti jadwal makan, minum obat, dan jadwal fisioterapi. Berkat bantuannya, tugas Celine merawat papa jadi lebih ringan.
Papa terlalu fokus dengan urusan perusahaan dan mendidik Celine sebagai pewaris. Tapi karena papa terlihat bersemangat, Celine biarkan saja. Buat Celine, yang penting kesehatan papa tidak terganggu.
__ADS_1
Anehnya, hal itu malah dinilai bagus oleh dokter. Rupanya hal tersebut membuat otak papa terangsang sehingga pemulihan papa terjadi lebih cepat. Tidak terlihat lagi di wajah papa kalau papa pernah mengalami stroke. Bicara papa juga sudah normal seperti semula. Papa juga sudah bisa mengangkat tangan kirinya, walaupun belum bisa dalam jangka waktu lama.
Hampir setengah tahun kemudian, baru Celine diberikan kepercayaan untuk menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan asing. Bisa dibilang ini tes pertama Celine untuk diuji kelayakannya sebagai pewaris. Papa menasihati Celine berulang kali, kalau proyek ini harus sukses. Celine harus memberikan kesan pertama yang baik di mata para pemegang saham dan para direktur lainnya.
Walaupun gugup, Celine tetap berusaha memberikan yang terbaik. Celine tau kalau ini momen krusial untuk menunjukkan kemampuan Celine agar bisa diakui oleh segenap pihak di perusahaan.
Tapi hal itu juga diketahui oleh Om Andre. Banyak cara licik di belakang layar yang dilakukan Om Andre untuk menjatuhkan Celine dan menggagalkan terjalinnya kerjasama tersebut. Untunglah papa sudah berhati-hati dan mengirim mata-mata untuk menyelidiki tingkah laku Om Andre. Berkat kepiawaian papa, rencana-rencana Om Andre digagalkan satu persatu.
Singkat cerita, puji Tuhan, kerjasama tersebut berhasil terjalin. Celine sukses di tes pertama Celine. Kemampuan Celine mulai diakui, walaupun Celine tau, semuanya itu bisa terjadi akibat bantuan dan bimbingan papa. Tapi Celine senang, karena melihat papa bahkan lebih merayakan keberhasilan ini daripada Celine sendiri.
Semenjak itu, papa mulai memberikan Celine beberapa proyek-proyek lain untuk ditangani. Papa juga mulai meminta Celine yang memimpin rapat direksi. Tentu saja papa masih membimbing Celine. Tapi pelan-pelan terlihat bahwa papa mulai mengalihkan tugasnya sedikit demi sedikit kepada Celine.
Tentu saja hal ini membuat Om Andre kesal dan resah. Hal itu terlihat dari sikap dan kebijakan Om Andre yang makin berseberangan dengan papa. Jika ada kesempatan untuk menunjukkan kesalahan papa atau menyanggah sebuah usulan, pasti hal tersebut dilakukannya. Apalagi jika Celine yang memimpin rapat, banyak trik yang dilakukannya untuk menjebak Celine agar Celine terlihat bodoh.
Tapi untungnya semuanya itu sudah terbaca oleh papa. Papa bisa menebak langkah-langkah Om Andre sehingga semua sanggahan Om Andre bisa dipatahkan. Sebelum memimpin rapat, papa juga sudah memaparkan pola pikir Om tersebut kepada Celine. Jadi Celine bisa mempersiapkan diri agar tidak terjebak.
Begitulah semuanya berjalan sampai tidak terasa 2 tahun berlalu. Celine bersyukur satu persatu Tuhan bantu Celine sehingga Celine bisa melaluinya dengan yang baik. Kuliah Celine berjalan lancar dan Celine bisa diwisuda. Celine juga ..."
"Tunggu, tunggu! Tadi kamu bilang apa? Sudah diwisuda?" Mama Ratna memotong cerita Celine.
Celine terdiam dengan wajah polosnya. Makin lama semburat kemerahan muncul di kedua pipinya. Ia menyadari kesalahannya.
"Iya, Mama .... Celine sudah diwisuda. Celine berhasil menyelesaikan kuliah dalam waktu kurang dari 3 tahun karena Celine ikut fast-track program. Jadinya Celine lulus lebih cepat. Maaf, Celine lupa ngabarin ..." katanya sambil kembali menundukkan kepala.
"Anak ini !!! Bisa-bisanya lupa mengabarkan hal yang penting !!! Mau jadi anak durhaka, lupa sama orang tua, HAH ?!!!" Mama Ratna spontan mencubit pipi Celine saking gemasnya.
"Duh, duh .... Maaf, Ma .... Celine lupa! Habis, waktu Celine ngurus wisuda itu berbarengan sama proyek besar yang harus Celine tangani sebelum keputusan rapat umum pemegang saham. Jadi bisa dibilang, proyek ini tes terakhir Celine sebagai pewaris. Makanya, fokus Celine terbagi. Jujur aja, Celine sendiri uda lebih mikirin proyeknya daripada wisudanya, Ma ..." jelas Celine.
Mendengar penjelasan Celine, Mama Ratna segera melepas cubitannya dan kembali mencecar Celine dengan pertanyaan. "Jadi, proyek terakhirmu gimana? Sukses? Terus, hasil rapat pemegang sahamnya gimana? Kamu berhasil diakui sebagai pewaris?"
Nah .... Jawaban Celine apa yah? Tunggu di episode selanjutnya yah .... Author istirahat dulu 😅🙏
__ADS_1
...****************...