
Setelah keluar dari aula, James membawa Celine ke tempat yang agak sepi. Celine yang bingung dengan sikap James, hanya bisa mengikutinya.
Mereka tiba di sebuah taman di area belakang gedung sekolah. Setelah memastikan bahwa di sekeliling mereka tidak ada orang yang melihat, James berkata kepada Celine, "Kok Celine tadi ngomong gitu di panggung?"
"Ngomong apa?" jawab Celine bingung.
"Ngapain Celine ungkit-ungkit Bang James segala?" protes James.
"Lho? Emang ga boleh?"
James jadi bingung ditanya balik begitu oleh Celine. Bagaimana ia harus menjelaskan perasaannya?
"Bukan ga boleh, Lin .... Tapi ngapain? Kenapa Celine ga fokus cerita perjuangan Celine aja? Tuh... kayak yang waktu di rumah. Yang Celine sampe ketiduran di meja direktur, cara Celine atur waktu sama kuliah, tantangan di tempat kerja, cara presentasi atau meyakinkan rekan bisnis, yang gitu-gitulah."
"Karena menurut Celine bukan itu intinya, Bang James. Yang ingin Celine bagikan itu, apapun pilihan mereka, pastikan jadi berkat buat orang lain. Kayak yang Bang James lakukan buat Celine!" sahut Celine tegas dengan mata lurus menatap James.
Mendengar pengakuan langsung sambil ditatap seperti itu, membuat James tertegun. Darahnya perlahan naik ke kepala dan ia merasakan wajahnya mulai hangat. Ia tahu wajahnya memerah.
"Terserah Celine lah. Kita pulang aja!" ujar James sambil melengos dan berjalan mendahului Celine.
Celine yang diperlakukan seperti itu hanya bisa terdiam melihat punggung James yang berjalan perlahan menjauhinya. Kemudian ia menyusul James hingga beberapa langkah di belakangnya. Mereka berjalan ke area parkir dalam keheningan.
...****************...
Mama Ratna sudah menunggu-nunggu cerita tentang penyuluhan Celine. Tetapi, biar Papa Heru juga ikut mendengar, rasa ingin tahunya ia tahan sampai waktu PKW.
Tanpa basa-basi, setelah PKW digelar, Mama Ratna langsung menginterogasi James dan Celine mengenai kejadian tadi pagi.
"Ayo, ayo .... Cerita dong bagaimana penyuluhan Celine tadi? Jujur, dari kalian pulang tadi, Mama uda penasaran sekali pengen nanya. Tapi biar kalian ga cerita dua kali, Mama tunggu Papa pulang dulu. Nah, sekarang siapa yang mau cerita? James atau Celine?" tanya Mama Ratna.
James dan Celine saling berpandangan sesaat. Mereka teringat dengan kecanggungan yang terjadi setelah penyuluhan. Celine langsung mengalihkan pandangannya dan menundukkan kepala.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan James untuk mendahului Celine menjawab. "Biasa aja, Ma. Ga ada yang gimana-gimana, " ujarnya.
"Ya, tapi Mama kan pengen tau penampilan Celine. Pikir-pikir, ini pertama kalinya Mama tau Celine tampil di depan umum lho. Kalo penyuluhan tadi ga tertutup untuk umum, Mama pasti datang liat."
"Ga ada siaran ulang, Ma. Sorry, " jawab James acuh tak acuh.
Mendengar jawaban James yang seperti itu, Mama Ratna jadi mangkel.
__ADS_1
"Ya udah! Celine aja yang cerita! Celine mau kan cerita ke Mama? Kamu tadi ngomong apa aja di panggung, Nak?" Mama Ratna bertanya sambil merangkul Celine.
Sejujurnya, Celine agak ragu untuk bercerita. Ia tahu James enggan membicarakan lagi hal tersebut. Tetapi ia juga bingung bagaimana menyikapi pertanyaan Mama Ratna. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, ia membuka mulutnya.
"Tadi di panggung, Celine ..."
"Aish! Kok Celine ga ngerti sih kenapa Bang James bilang gitu ke Mama?! Masih mau dibahas?" James memutus omongan Celine.
"Kamu kenapa sih, James?! Orang mau cerita, kamu larang! Tapi kamunya sendiri ga mau cerita! Mama jadi curiga. Memang Celine ngomong apa sampe kamu berusaha nutup-nutupin gitu?" cecar Mama Ratna.
"Ini demi Celine juga, Ma! Karena tadi Celine ngomongnya keluar konteks! Beda sama narasumber-narasumber yang lain!" ujar James membela diri.
"Celine ga merasa ngomong keluar konteks, kok!" sanggah Celine.
Mendengar itu, ketiga orang anggota keluarga Wijaya tertegun. Ini pertama kalinya Mama Ratna dan Papa Heru melihat Celine menentang perkataan seseorang secara langsung. Sedangkan bagi James, ini kali kedua ia disanggah, setelah kejadian yang tadi siang.
Papa Heru tersenyum, lalu berkata dengan lembut, "Ya sudah .... Jadi di penyuluhan tadi, Celine ngomong apa aja?"
"Celine cerita diri Celine, Pa. Gimana Celine bisa jadi begini karena kebaikan Tuhan dan keluarga ini. Celine bilang semua uda diatur oleh Tuhan. Makanya, harapan Celine,anak-anak yang lagi bingung dengan masa depan itu, bisa tanya Tuhan mereka diarahkan jadi apa. Karena itu yang terbaik buat mereka, " jelas Celine.
"Lho? Apa yang salah dengan itu, James?" tanya Papa Heru tidak mengerti.
"Iya lah! Ngapain sampe Celine bawa-bawa nama James ke panggung dan bilang terima kasih segala! Orang-orang kan jadi liatin James!" tukas James dengan muka yang kembali mulai memerah.
Mama Ratna dan Papa Heru tersenyum lucu melihat tingkah James. Mereka sudah mengerti akar permasalahannya yang ternyata sangat sepele.
"Ga ada yang salah dengan itu kan, James? Celine cuma ingin berterima kasih, kan? Dan di atas semuanya itu, bukankah itu bentuk ucapan syukur Celine atas pertolongan Tuhan dalam hidupnya?" ujar Papa Heru lembut.
James hanya bisa diam dengan mulut yang masih merenggut. Ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain, entah ke mana. Ia sebenarnya tahu kalau ia sedang bersikap kekanakan. Tetapi, mau bagaimana lagi? Cuma ini yang bisa ia lakukan untuk menyembunyikan rasa bahagianya dipuji Celine seperti itu.
Di sisi lain, Mama Ratna berbisik kepada Celine, "Jangan dipikirin yah, Lin .... James bukan menyalahkan Celine. Dia cuma malu dipuji gitu di depan umum."
Celine membalas ucapan Mama Ratna dengan tersenyum, "Iya, Ma .... Celine tau ...."
"Jadi, Celine pulangnya besok atau lusa?" tanya Mama Ratna mengganti topik pembicaraan.
"Rencananya besok, Ma. Biar masih bisa santai di hari Minggunya, " jawab Celine.
"Celine sudah pesan tiketnya?" sambung Papa Heru.
__ADS_1
"Belum, Pa. Ngg .... Soalnya ... Celine mau nanya Bang James dulu. Bang James mau ikut?" tanya Celine sambil melirik James.
James tertegun. "Celine mau Bang James antar sampai ke rumah?"
"Kalo Bang James ga keberatan. Soalnya ... papa sekalian mau ketemu, " jawab Celine dengan sedikit keraguan pada nada suaranya.
Kembali ucapan Celine berhasil membuat ketiga orang anggota keluarga Wijaya ini terdiam untuk yang kedua kalinya, terutama James. Ia tidak menyangka Tuan Besar Adipratama ingin menemuinya.
"Mau bertemu Bang James? Buat apa?" tanya James dengan nada tidak percaya.
"Papa ... mau mengucapkan terima kasih, katanya begitu, " jawab Celine.
Setelah Celine mengucapkan demikian, keadaan menjadi hening. Masing-masing dengan pemikirannya sendiri-sendiri.
"Sebenarnya, Celine uda mau ngasih tau Bang James dari awal, tapi ga pernah ketemu kesempatan yang tepat, " kata Celine lagi.
"Ya sudah. Jadi gimana James? Mau ketemu?" tanya Papa Heru.
"Ya sudah. Ketemu yah ketemu aja. Toh cuma mau bilang terima kasih, kan?" ujar James dengan wajah datar, bahkan terkesan dingin.
"Kalau gitu, Celine pesenin tiketnya yah ..." ucap Celine memberi kesimpulan.
Celine lalu mulai memainkan jemarinya di HP-nya. Tak lama kemudian, ia berkata, "Pesawat besok pagi jam 10.15, gapapa?"
"Siangan dikit, Lin .... Bang James mau bangun agak siang mumpung libur, " ujar James yang langsung dipelototi oleh mamanya.
"Masalahnya kan biasanya kita harus uda check-in dua jam di muka, Ma.... Kalo pesawatnya jam segitu, berarti harus uda di bandara sekitar jam 8. Jadi, bangun buat siap-siapnya, paling telat jam 7 dong! Malas banget lah ...." James mengemukakan pembelaannya.
"Kalau pesawat jam 14.10, Bang James setuju?" tanya Celine lagi.
"Gas." James menjawab pendek.
"Oke. Fixed yah ..." balas Celine.
"Ya sudah kalau gitu. Kalian siap-siap lah. Mau bawa barang apa, biar ga ada yang ketinggalan. Biar besok ga buru-buru juga, " ujar Mama Ratna.
"Iya. Lagian sudah malam juga. Habis berbenah, biar bisa langsung istirahat. Pertemuan kali ini, ditutup aja, " ujar Papa Heru menutup PKW malam ini.
Tak lama kemudian, semua personil segera meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke kamar masing-masing.
__ADS_1
...****************...