Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Geng Princess Kembali Beraksi


__ADS_3

"Hai .... Hai .... My lovely bestieeee ...." Rebecca membuka pembicaraan di Group Video Call malam ini.


Grup yang terdiri dari empat orang ini masih cukup aktif beroperasi. Minimal satu minggu sekali, pasti ada saja yang menghubungi satu sama lain untuk berbagi cerita. Walaupun saat ini mereka terpisah, ikatan di antara mereka cukup erat hingga saling merindukan.


Malam ini giliran Rebecca yang memulai cerita. Sayangnya yang bisa menghadiri video call kali ini hanya tiga orang, tanpa Cecilia. Hal ini wajar saja, karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Prancis sekitar enam jam. Cecilia tidak mengangkat panggilan teleponnya karena masih menjalani kuliah siang.


Priscillia tertawa. "Kalau anak ini yang menghubungi kita duluan, pasti ada cerita seru. Kali ini, ada apa nih?"


Rebecca mesam-mesem menahan keseruannya. "Tebakkkk .... Hari ini aku bertemu siapa?"


"Siapa sih? aktor tampan idolamu?" tanya Priscillia penasaran.


"Ish .... Sorry, yah .... Siapa yang ngebet sama begituan?" sangkal Rebecca.


Priscillia tertawa. Ia sengaja menebak demikian untuk menggoda Rebecca. Ia tahu, temannya ini paling alergi bertingkah girly bak fans girl yang mencintai para aktor atau boy band tampan.


"Kalau begitu, petinju favoritmu?" Gantian Sharon yang menggoda Rebecca.


"Ga gitu juga kaleee .... Lompatnya jauh bener! Dari aktor ke petinju! Ga sekalian serial killer pujaan?" Rebecca mulai menggerutu sendiri. Tentu saja hal ini disambut baik oleh Sharon dan Priscillia dengan tertawa karena usaha mereka berhasil.


"Serius ah!!! Mau denger ga? Penting nih!" lanjut Rebecca.


"Oke, oke, penting! Sssttt .... Sharon! Jangan masih cekikikan!" celetuk Priscillia pura-pura menegur Sharon.


"Iya, iya. Ayo kita serius! Silakan, Mbak Rebecca, tolong dilanjutkan ..." ujar Sharon berusaha menahan tawanya.


Rebecca memutar bola matanya. Sedikit gemas dengan tingkah kedua teman yang menggodanya. Tetapi perasaan itu ia coba abaikan, karena ada hal yang lebih penting untuk ia sampaikan.


"Hari ini aku ketemu pak James. Ketemuannya epic lagi! Kami nyaris tabrakan lho!" Rebecca mulai bercerita dengan gaya emak-emak tukang ngerumpi.


Mendengar nama mantan gurunya disebut, apalagi cara pertemuan dengan Rebecca seperti itu, membuat cengiran Priscillia dan Sharon hilang. Mereka langsung mengambil sikap serius menyimak.


"Kenapa bisa gitu? Siapa yang salah? Kamu, Bec?" tanya Sharon. Mereka semua tahu, bahwa pak James tergolong guru yang tenang, selo, dan jarang bertindak sembrono ataupun gegabah.

__ADS_1


"Tuh .... Pasti aku yang dituduh, kan? Kali ini salah pak James lho .... Doski salah ambil jalur, " jelas Rebecca.


"Ceritanya gimana? Kok pak James bisa begitu?" tanya Priscillia.


"Kan tadi pagi aku mau ke kampus tuh. Pas belokan, tiba-tiba di depan uda masuk motor di jalurku. Buru-buru aku injek rem dan kuklakson. Mana jarak kami uda deket. Bahaya banget, kan? Untung dia juga berhasil ngerem dan menghindar, jadinya ga tabrakan. Pas aku buka atap mobil dan marahin dia, dia juga buka helm dan minta maaf. Eh, ternyata pak James pengemudi motornya, " cerita Rebecca.


"Terus?" tanya Sharon.


"Sama lah dengan yang kalian pikir. Aneh kan seorang pak James yang kaku bin detail bisa gitu?! Makanya dia kuajak nongkrong di kafe. Kami ngobrol-ngobrol dulu. Dia juga nanyain kabar kalian lho. Nah .... Begitu ada kesempatan, kutembak aja dia punya masalah apa, sampe bisa ga fokus gitu di jalan, " lanjut Rebecca.


"Dia cerita?" Gantian Priscillia yang bertanya.


"Awalnya keliatan ragu. Tapi begitu kubujuk-bujuk, akhirnya cerita juga. Kan kali-kali kita bisa bantu. Masalahnya berat lho ...."


Rebecca menceritakan masalah James kepada Sharon dan Priscillia. Kedua temannya mendengar dengan saksama.


"Do you feel something fishy here?" (arti: Apakah kamu merasakan sesuatu yang mencurigakan di sini ? ) tanya Rebecca kepada kedua temannya.


"Ya kan? Aku masih ingat dipermalukan pak James di depan kelas lho, gara-gara bahas virginity. Dari tanya tentang kejujuran, malah aku yang dikuliahin tentang perzinaan. Harus belajar menghormati diri sendiri lah, menjaga kesucian lah, jangan jadi perempuan gampangan lah, and bla bla bla lainnya! Kalian ingat kejadian itu?" ujar Rebecca berapi-api. (lihat eps. 43 - Perpeloncoan Mental )


Priscillia tertawa. "Ingat. Lagian, kamu juga yang cari gara-gara. Nanya yang aneh-aneh! Kena batunya, kan?"


"Tujuanku kan waktu itu ngerjain dia, Pris .... Cukup berhasil, kan? Kita sekelas bisa liat muka pak James kayak kepiting rebus waktu itu, " sahut Rebecca.


"Maka dari itu. Ga kebayang, kan, pak James yang polos bisa begitu. Rasanya aneh, " ujar Sharon.


"Tapi yang namanya mabuk, siapa tahu lho, Shar .... Dianya aja ga sadar dan ga ingat apa yang dilakuin, kan?" ucap Priscillia.


"Iya, sih." Sharon menyetujui kemungkinan yang diucapkan Priscillia.


"Betewe, ada kemungkinan kita selidiki lebih lanjut ga?" tanya Rebecca. Matanya mulai melirik penuh harapan pada kedua temannya.


"Kamu mau mengunjungi anak bernama Cindy itu?" Sharon memperjelas maksud Rebecca.

__ADS_1


Rebecca menganggukkan kepala dengan penuh semangat. "Ga ada salahnya kan kalau kita mencoba. Karena semuanya dimulai dari keterangan anak itu. Kita datangi saja dan kita nilai kejujurannya. Menurutmu gimana, Pris?" Rebecca meminta pendapat Priscillia.


Priscillia terdiam untuk sesaat. Tampak berpikir dan menimbang sesuatu. "Bisa aja sih .... Bagaimanapun, dia masih adik kelas kita, kan? Perhatian dari kakak senior apalagi anak ketua yayasan, ga ada salahnya diberikan untuk kasus yang menyangkut nama baik sekolah, " jawab Priscillia.


Mendengar itu, mata Rebecca jadi berbinar karena bersemangat.


"Tapi, coba kukonsultasikan pada orang tuaku dulu yah. Bagaimanapun, tindakan kita ini bawa-bawa nama yayasan soalnya." Priscillia melanjutkan ucapannya.


"Kamu mau buka kasus pak James pada kedua orang tuamu, Pris?" tanya Sharon dengan nada agak keberatan.


"Ya kagak lah ... walaupun kupikir sedikit-banyak harusnya mereka sudah dapat laporannya. Yang ingin kutanyakan, kalau kita minta alamat Cindy ke sekolah untuk mengunjungi adik kelas yang terkena musibah sebagai bentuk kepedulian, apakah bermasalah?" Priscillia menerangkan rencananya.


"Harusnya kaga sih. Brilliant !" ujar Sharon memuji kecerdikan Priscillia.


"Nice ! Jadi kapan bisa kita samperin tuh anak?" tanya Rebecca.


"Ya sabar lah, Non .... Biar ketua kita maju dulu ke ortunya. Step by step. One by one, " ujar Sharon mengingatkan Rebecca.


Rebecca memonyongkan mulutnya. "Bukan ga mau sabar. Sekedar mengingatkan, kita dikejar waktu kalo ingin membuktikan pak James tidak bersalah. Jangan sampai pak James keburu menikahi anak itu!"


"Iya. Aku ngerti kok, Bec. Tapi kita ga bisa sembarangan. Butuh strategi, " bujuk Sharon.


"Aku percaya diri bisa meyakinkan orang tuaku kok. Tidak akan makan waktu lama. Besok kalian akan kukabari hasilnya. Lebih baik sekarang kita berdiskusi apa yang mau kita bicarakan kepada Cindy untuk menilai kejujurannya, " usul Priscillia.


"Hmmm .... Ada ide? Ga mungkin main tembak seperti gayaku, kan?" tanya Rebecca.


"Jelas! Kita harus hati-hati. Kita belum tau karakter anak itu!" jawab Sharon.


"Pendapatku sih begini ...." Priscillia mulai mengajukan idenya.


Ketiga gadis itu sibuk membicarakan apa yang akan mereka lakukan jika sudah berhadapan dengan Cindy. Mereka menyusun pertanyaan-pertanyaan apa yang sebaiknya mereka lontarkan. Segala kemungkinan mereka coba telusuri dari berbagai sisi. Tujuannya hanya satu, memastikan Cindy jujur atau berbohong.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2