Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Perjodohan Darrell (1)


__ADS_3

Isu tentang Darrell yang makin santer di perusahaan, akhirnya mendapat tanggapan dari pihak atasan. Tak lama kemudian, sebuah keputusan diturunkan oleh Sang Direktur Utama. Jabatan Darrell diangkat menjadi Direktur.


Tentu saja kehebohan kembali terjadi di dalam perusahaan. Pendapat pro dan kontra kembali terdengar. Andreas, yang pastinya tergabung dalam pihak pro, terkejut dengan keputusan yang diambil Sang Kakak. Pasalnya keputusan ini berbeda dengan pembicaraan mereka yang sebelumnya, di mana Darrell akan diangkat menjadi Direktur, jika dirinya sudah mewariskan ilmunya kepada Darrell dan sudah siap untuk pensiun.


Hal ini membuat Andreas sedikit cemas. Apakah dengan pengangkatan Darrell dapat dikatakan kakaknya sudah mengakui kemampuan anaknya? Lalu, bagaimana dengan dirinya? Apakah ini berarti dalam waktu dekat ia akan dinonaktifkan?


Untuk menjawab kegalauan tersebut, akhirnya Andreas kembali menghadap Sang Kakak.


"Kak, apa yang terjadi? Mengapa dirimu tiba-tiba membuat keputusan seperti ini?" tanyanya langsung ke inti pembicaraan.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Adrian malah tertawa. "Mengapa memangnya? Bukannya keputusan itu harusnya membuatmu senang?" Ia balik bertanya.


"Tentu saja senang! Tapi ini kan berbeda dengan pembicaraan kita sebelumnya! Bukankah Kakak sendiri yang membuat kebijakan untuk membatasi jumlah anggota keluarga di kursi Direktur dalam rangka menghindari praktik nepotisme? Bagaimana kalau keputusan ini memperburuk citra perusahaan kita?" kata Andreas menutupi kegalauan yang sebenarnya.


"Tenang saja. Siapa yang berani memprotes keputusanku? Aku tidak mengambil keputusan secara serampangan hanya karena tertekan isu, Dik. Aku menggunakan data! Tunjukkan padaku kapan terakhir kali perusahaan dapat mengalami lonjakan keuntungan penjualan dengan angka setinggi ini? Tunjukkan juga padaku divisi mana yang berhasil menduduki peringkat penjualan terbaik selama tiga kuartal berturut-turut?" jelas Adrian.


Melihat adiknya terdiam, Adrian melanjutkan kalimatnya. "Putramu pantas mendapatkannya. Ini adalah bentuk apresiasi dari prestasi yang telah diukirnya. Dirimu tidak perlu mengkhawatirkan rumor nepotisme yang mungkin akan terdengar. Hal itu akan dengan mudah kupatahkan. Justru sekarang dirimu harus mengkhawatirkan nasibmu ke depannya. Jangan sampai prestasimu dikalahkan oleh putramu sendiri, " goda Adrian.


Mendengar kalimat tersirat yang diucapkan Sang Kakak, membuat Andreas tenang. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kakaknya tidak bermaksud menggantikan posisinya dengan Darrell. Karena tujuan utamanya sudah tercapai, Andreas mohon diri.


Dengan pengangkatan Darrell sebagai Direktur, hal itu membuat Andreas semakin terpacu dalam mencapai mimpinya. Tinggal selangkah lagi! Tinggal satu momen besar lagi! Bagaimanapun Darrell sudah setingkat dengan Celine. Asal ada satu pemicu saja, pastilah posisi Celine sebagai pewaris bisa tergoyahkan. Apalagi kalau terbukti kinerja Darrell jauh lebih menguntungkan perusahaan daripada Celine.


Andreas pun menemui Darrell di ruang kerjanya.


"Selamat, Nak! Papa benar-benar bangga padamu! Tidak disangka posisimu bisa ditingkatkan menjadi Direktur oleh pamanmu sendiri! Dan itu pun hanya dalam waktu satu tahun!" kata Andreas sambil memeluk, lalu menepuk-nepuk punggung anaknya.

__ADS_1


"Oh ya? Kukira Papa yang mengajukan permohonan ke Om Adrian untuk menaikkan posisiku, " jawab Darrell dengan gaya acuh tak acuhnya.


"Tidak, Nak! Ini murni keputusan beliau sendiri! Ia mengakui kemampuanmu! Kalau melihat begini, bisa jadi dirimu juga dapat dipertimbangkan sebagai pewaris, kan? Apalagi kalau terbukti ke depannya perusahaan lebih berkembang di tanganmu daripada Celine!" sahut Andreas sambil memegang kedua bahu anaknya.


Darrell melepas pegangan ayahnya, lalu kembali duduk di kursinya. "Entahlah. Jangan berpikir terlalu jauh, Pa .... Baru hari ini aku dinaikkan ke kursi Direktur, apakah kita sudah harus langsung menargetkan kursi pewaris? Jangan terlalu tamak dan jangan terburu-buru ..." jawab Darrell mengingatkan papanya.


"Bukan tamak! Kalau dirimu lebih layak dibandingkan Celine, kenapa kita harus menurut dengan aturan hirarki keturunan? Hanya karena Celine putri dari anak pertama? Lagipula, Celine pun sudah melanggar aturan keluarga yang selama ini menganut budaya patriarki!


Papa juga tidak bermaksud buru-buru, Nak .... Hanya bermaksud mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Sehingga kalau kesempatan tiba, kita langsung dapat meraihnya. Dari awal, strategi tetap harus dipersiapkan! Pokoknya kamu tenang saja! Biar Papa yang urus semuanya! Bagianmu tetap pertahankan prestasimu seperti ini! Mengerti?" tanya Andreas kepada putranya.


Darrell hanya dapat menghela napas melihat kelakuan Sang Ayah. "Ya .... Ya .... Terserah Papa aja lah ..." jawabnya, lebih untuk tidak memperpanjang pembicaraan.


Andreas cukup puas dengan jawaban anaknya. Dan ia pun bertekad melanjutkan rencananya. Dimulai dengan menemukan kandidat pasangan yang tepat untuk Sang Putra.


...****************...


"Maaf, apakah benar Anda adalah Andreas Adipratama?" Seseorang bertanya padanya.


"Benar. Anda ...." Ucapan Andreas terhenti ketika ia melihat wajah pria yang memanggilnya. Wajah itu nampak familiar. Ia berusaha mengingat-ingat siapa pria yang sekarang sedang tersenyum ramah padanya ini.


"Sammy! Sammy, kan?!" serunya ketika akhirnya ia berhasil mengingatnya. Pria yang dipanggil Sammy itu sekarang tertawa lebar mendengar Andreas memanggil namanya.


Kedua pria paruh baya itu segera terlibat dalam pembicaraan akrab. Mereka bertukar kabar dan sesekali mengenang masa lalu.


Samuel Austus Utamajaya, sering dipanggil Sammy oleh teman-temannya untuk mempermudah memanggilnya. Andreas dan Sammy bertemu di bangku kuliah ketika mereka sama-sama mengambil jurusan Manajemen Bisnis.

__ADS_1


Sammy adalah penerus perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang real estat. Walaupun Andreas bukan pewaris utama bisnis keluarga, tetapi kesamaan nasib dimana keduanya harus mengabdikan masa depan mereka untuk perusahaan keluarga, membuat mereka akrab.


Obrolan mereka berlanjut sampai ke perbincangan tentang anak. Rupanya keduanya kembali memiliki persamaan nasib di mana mereka hanya diberkati oleh satu buah hati. Kebetulannya lagi anak mereka sama-sama mengikuti jejak Sang Ayah, di mana keduanya mengambil jurusan Bisnis dan Manajemen. Bedanya, anak perempuan Sammy masih berada di tahun terakhir kuliah dan sekarang sedang menyelesaikan skripsi.


"Apakah anakmu sudah punya pacar atau tunangan?" tanya Andreas harap-harap cemas. Pertemuannya dengan sahabatnya ini mengingatkan dirinya akan tujuannya. Ia tahu benar latar belakang keluarga dan kekuatan perusahaan sahabatnya ini. Dan andaikan benar mereka bisa berjodoh, bukankah itu adalah sesuatu yang luar biasa?


Mendengar pertanyaan Andreas, Samuel hanya bisa menggeleng dan tersenyum kecut. Di sisi lain, Andreas yang melihatnya bersorak dalam hati. Namun ia juga tetap tegang menantikan apa alasan Sang Nona Muda belum mempunyai pasangan di usia yang cukup pantas untuk memilikinya.


Seolah mengetahui bahwa temannya itu menantikan penjelasaannya, Samuel akhirnya memutuskan untuk berbicara apa adanya. "Anakku itu agak tomboy, Dre. Sikap dan tutur katanya agak serampangan, " katanya sambil memijit keningnya yang mulai berdenyut mengingat tingkah laku Sang Putri.


Mendengar penjelasan itu, senyum Andreas melebar. Jujur saja, tadi ia sempat membayangkan alasan lain yang lebih menakutkan. Entah mungkin putri sahabatnya itu punya penyakit khusus, ataupun mungkin penampilannya yang agak berbeda dari orang kebanyakan.


"Justru sepertinya putrimu itu cocok dengan putraku, Sam! Darrell itu terlalu pendiam dan cuek! Ia butuh gadis pemberani yang bisa mengobrak-abrik pertahanannya itu!" seru Andreas bersemangat.


"Benarkah?" sahut Samuel dengan mata terbelalak. Tidak menyangka sahabat karibnya itu justru menyambut baik perangai putrinya.


"Benar! Buat apa aku bohong?! Sejujurnya aku juga khawatir dengan anakku. Ia tidak pernah terlibat hubungan serius dengan seorang gadis. Tetapi untunglah ketika aku menawarkan perjodohan padanya, ia setuju. Sepertinya pikirannya sudah mulai terbuka tentang pernikahan. Jadi bagaimana? Apakah kamu setuju kalau kita coba pertemukan mereka? Siapa tau jodoh!" usul Andreas.


"Boleh saja. Tetapi aku harus tanya pendapat putriku dulu. Soalnya selama ini, aku membebaskan ia memilih masa depannya sendiri. Jurusan kuliahnya saja ia yang tentukan sendiri dengan alasan ingin menjadi penerus perusahaanku, padahal aku tidak pernah memaksanya. Apalagi soal pasangan hidup! Aku ingin dia bahagia. Aku harap kau mengerti, Dre ..." jelas Samuel.


"Tentu saja! Kita tidak memaksanya. Kita hanya memfasilitasi pertemuan mereka. Kalau tidak cocok, ya sudah. Aku pun ingin anakku bahagia dengan pernikahannya, " jawab Andreas.


Akhirnya keduanya saling bertukar nomor kontak. Samuel berjanji akan menghubungi Andreas jika sudah ada keputusan dari putrinya. Dan Andreas berjanji, jika putri Samuel setuju bertemu, ia akan meminta Darrell yang datang ke kota sahabatnya itu mengingat mereka tinggal di kota yang berbeda.


Demikianlah pertemuan bisnis yang membawa keuntungan lain bagi Andreas. Dengan harapan akan mendapat kabar baik dalam waktu dekat dari sahabatnya itu, Andreas kembali ke kotanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2