
Sekitar pukul tujuh lewat, Tuan Besar Adipratama pulang ke rumah. Celine dan James sudah menunggu kedatangannya di ruang keluarga untuk makan malam bersama.
"Pa ... " sapa Celine kepada Sang Ayah.
"Om .... " James ikut mengucapkan salam.
Melihat kemunculan James di rumahnya, alis Tuan Adipratama terangkat. "Hmm .... Sudah lama kita tidak berjumpa, Anak Muda."
"Iya, Om. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Om, " ucap James tanpa basa-basi.
Alis Tuan Adipratama kembali terangkat. "Baik. Kita bicarakan sehabis makan malam. Sekarang kita makan dulu. Kalian belum makan, kan?"
"Belum, Pa. Kami sengaja nunggu Papa biar bisa makan malam bareng, " jawab Celine.
"Papa ganti baju dulu. Kita bertemu di ruang makan, " kata Tuan Adipratama sambil berjalan menaiki tangga, menuju kamarnya yang kemungkinan besar berada di lantai dua.
Celine dan James pun mendahului Tuan Adipratama menuju ruang makan dan menunggu di sana.
...****************...
Saat ini James dan Tuan Adipratama sedang duduk berhadapan di ruang kerja Sang Tuan Besar. Tanpa membuang waktu, setelah santap malam bersama, Tuan Adipratama langsung mengajak James untuk ikut dengannya ke ruang kerjanya.
Tadinya Celine ingin ikut, tetapi kedua pria tersebut melarangnya. Jadilah sekarang Celine hanya bisa menunggu dengan gelisah di ruang keluarga ditemani Mbok Yani.
"Apa yang ingin kamu bicarakan pada saya?" tanya Tuan Adipratama langsung ke topik permasalahan.
"Sebelumnya saya minta maaf, Om. Saya menyadari kesalahan saya yang terlalu tergantung pada kebaikan dan pengertian Celine ketika saya kehilangan pekerjaan. Seharusnya saya tetap menemui Om dengan jantan untuk berbicara secara pribadi dengan Om dan meminta penangguhan masalah pertunangan.
__ADS_1
Karena itulah sekarang ini saya menghadap Om untuk mengatur ulang perencanaan tentang masalah tersebut. Saya harap setelah ini, Om jangan lagi menjodohkan Celine dengan pria lain." James mengutarakan tujuannya dengan tegas.
Tuan Adipratama tertawa. "Kamu mencoba mengatur saya?! Kamu terlalu berani, Anak Muda! Tidakkah kamu sadar, bahwa sebenarnya kamu sudah kehilangan hakmu semenjak kamu mengingkari janjimu dan hilang tanpa kabar?"
"Izin meralat, Om .... Saya tidak pernah mengingkari janji saya. Saya hanya menangguhkannya karena situasi yang sedang saya hadapi. Saya juga tidak pernah menghilang tanpa kabar. Om jelas tahu saya di mana dan apa yang sedang saya kerjakan. Dengan dua alasan tadi, saya tidak mengerti di bagian mana saya harus kehilangan hak saya.
Dan yang terakhir, saya tidak pernah berniat mengatur Om. Saya hanya meminta kebijaksanaan Om untuk memberi saya kesempatan mengatur ulang rencana yang sebelumnya sempat tertunda, " jawab James lugas.
Tuan Adipratama terdiam. Tawa dan senyumnya menghilang. Matanya memandang lurus menatap pemuda di depannya yang membalas tatapannya dengan sama tajamnya.
Sejujurnya ia memang sudah mengetahui apa yang terjadi dengan James, pembicaraan James dengan putrinya, bahkan sampai perang dingin yang sempat terjadi di antara keduanya. Ia mengatakan kalimat tadi hanya untuk menguji mental James dan keseriusannya menjalin hubungan dengan Celine.
Pria di hadapannya ini ternyata masih belum berubah. Keberaniannya masih sama dengan bocah kurang ajar yang menantangnya empat tahun yang lalu. Hanya pemilihan kata dan sikapnya yang sedikit berubah, yang menunjukkan tempaan dari lingkungan tempat kerjanya. Lebih sopan, tertata, dan bergaya diplomasi.
Selebihnya, semuanya sama. James masih lurus dan lugas tanpa basa-basi. Jika merasa tersudut, baru bergerak dan memperlihatkan nyalinya. Namun yang harus ia akui adalah kejantanan James untuk mengakui kesalahannya.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita dengarkan rencana baru yang akan kamu ajukan!" tantang Tuan Adipratama.
"Satu bulan!" potong Tuan Adipratama.
James melongo. "Tapi Om ... keuangan saya ...." James mencoba untuk mengutarakan permasalahannya.
"Kamu dan keluargamu tidak perlu mempersiapkan apa-apa! Semuanya akan saya tanggung! Kamu dan keluargamu tinggal datang ke sini bawa badan saja! Tiket pesawat, biaya pesta, cincin tunangan, gaun, semuanya biar saya yang siapkan! Sudah? Ada masalah lagi?" tanya Tuan Adipratama tidak sabar.
Alis James bekernyit. Ia tidak suka dengan gaya Tuan Adipratama yang seakan merendahkannya. Ia tidak sudi dianggap laki-laki mok*ndo.
"Dua bulan, Om! Untuk yang lain-lain, saya ikhlaskan untuk menerima bantuan dari Om, karena harus saya akui keuangan saya tidak memadai. Tetapi untuk cincin tunangan serta baju yang akan saya dan keluarga saya kenakan di pesta nanti, izinkan saya menggunakan uang saya sendiri!" tukas James mencoba untuk menawar.
__ADS_1
Alis Tuan Adipratama terangkat. Matanya masih menatap James dengan tajam. "Kamu yakin?" tanyanya dengan nada menyindir.
Mendengar itu, nyali James sedikit menciut. Namun tetap diteguhkannya harga dirinya. "Yakin. Mu- mungkin standar saya tidak sesuai dengan apa yang Om mau. Kami tidak mungkin memakai baju mewah dengan harga puluhan juta. Saya juga tidak mampu membelikan Celine cincin tunangan dengan berlian asli berkarat-karat.
"Ka- karena itu, saya minta pengertian Om. Kalau boleh, pestanya kecil-kecilan saja. Pesta yang hanya dihadiri keluarga, tanpa mengundang rekan bisnis Om ataupun personil perusahaan. Sejujurnya saya belum percaya diri diperkenalkan sebagai pasangan Celine. Saya takut status saya yang tidak seberapa hanya menurunkan citra Celine di perusahaan maupun di kalangan rekan bisnisnya.
Namun setidaknya minimal di hadapan Om, saya ingin menunjukkan kalau saya serius dengan Celine. Saya tidak berniat memanfaatkan kekayaannya untuk menaikkan status saya, karena saya tidak ingin menodai ketulusan cinta saya kepadanya." James menutup kalimatnya dengan pandangan mata yang kembali lurus menatap Tuan Adipratama.
"Lalu? Bagaimana dengan pernikahan kalian?" tanya Tuan Adipratama lagi.
"Untuk yang ini, jawaban saya masih tetap sama, Om. Mungkin dua atau tiga tahun lagi, paling telat lima tahun lagi, " jawab James.
"Masalah domisili?"
"Sampai sekarang belum kami sepakati, Om. Tetapi setidaknya sekarang saya sudah lebih siap untuk mengalah pindah ke kota ini, kalau-kalau sampai akhir tidak ada kesepakatan di antara kami. Namun saat ini, biarkan saya memantapkan karir saya di kota saya dulu, Om."
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Kecanggungan dan kegelisahan meliputi James seolah sedang menunggu hasil sidang skripsi atau menunggu kesimpulan akhir dari sebuah wawancara kerja. Jantungnya berdetak cepat menunggu keputusan yang akan disampaikan Tuan Adipratama.
"Saya ikuti rencanamu. Dua bulan lagi tunangan dan paling lambat lima tahun lagi pernikahan! Sepulang dari sini, bicarakan dengan orang tuamu dan kabari saya tanggal pertunangan yang kalian ajukan! Urusan detail mengenai pesta, gaun, cincin, dsb, bisa kamu bicarakan sendiri dengan Celine.
Tidak akan ada lagi perjodohan selama persiapan pertunangan kalian. Tetapi kalau kali ini mundur juga, saya harap kamu mengundurkan diri dari calon pasangan putri saya! Sampai di sini, kamu setuju?" tanya Tuan Adipratama.
"Setuju. Namun kalau saya boleh mengingatkan, saya ini bukan Tuhan, Om. Selama tidak ada hal-hal yang menyangkut keselamatan saya dan keluarga saya, saya yakinkan tidak ada lagi penangguhan pertunangan. Saya harap Om bisa membedakan kedua hal tersebut!" jawab James tegas.
"Ya. Saya mengerti maksudmu. Saya harap kali ini saya bisa pegang kalimatmu itu!"
"Om selalu bisa memegang perkataan saya. Sama halnya saya juga akan memegang kalimat Om tentang peniadaan perjodohan Celine, " ucap James santai.
__ADS_1
Tuan Adipratama tertawa terbahak-bahak. Bocah di depannya memang kurang ajar. Tetapi sebagai sesama lelaki ia menyadari, Sang Bocah sedang menghadapinya dengan jantan dan mengeluarkan segenap daya yang ia punya, tanpa ingin direndahkan.
...****************...