Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Dua Hati


__ADS_3

Senin pagi, James mengawali hari yang baru dengan hati berbunga-bunga. Penyebab utamanya adalah, selama dua malam berturut-turut ia menutup harinya dengan melakukan video call bersama Celine.


Malam pertama, ketika ia melapor ke Celine kalau ia sudah tiba di rumah dengan selamat. Malam berikutnya ketika masing-masing sudah siap untuk memejamkan mata, mereka menyempatkan diri untuk bercengkerama beberapa saat dan ditutup dengan saling mengucapkan selamat tidur. Suatu hal sederhana yang membahagiakan dirinya. Seperti mendapatkan jaminan mimpi indah.


Sambil tersipu-sipu, James melajukan motornya ke sekolah. Ia teringat percakapan konyolnya dengan Celine kemarin malam.


"Lin, Bang Alex sama Kak Sherly waktu pacaran punya panggilan sayang, lho .... Mereka pake panggilan babe dan honey. Kita bikin juga yuk! Tapi jangan sama kayak mereka, terlalu biasa. Bikin yang unik dikit, " usul James.


"Emang Bang James maunya apa?" tanya Celine.


"Ngg .... Biar imut, gimana kalo Bang James panggil Celine 'Linlin' ? Celine nanti panggil Bang James 'Jemjem' atau 'Jamie'. Gimana?" James mengemukakan idenya dengan antusiasme yang tinggi.


Celine tertegun dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah beberapa detik, baru lah Celine menanggapi ucapan James dengan wajah datar dan gaya polosnya yang khas, "Bang James ga jijik?"


Kalimat yang menusuk sanubari James dan membuat James tersenyum kecut sekecut-kecutnya. Kalimat pamungkas yang membuat James langsung menyerah dan memilih untuk memanggil satu sama lain seperti biasanya saja.


Selain itu, mereka juga sempat membahas jadwal pertemuan mereka. Celine berjanji untuk mengusahakan dirinya berkunjung ke rumah keluarga Wijaya setiap akhir pekan. Sedangkan James berjanji untuk menyisihkan gajinya agar dapat gantian mengunjungi rumah Adipratama setiap 1-2 bulan. Terkhusus bulan depan, James harus kembali ke kota asal Celine untuk memenuhi janjinya kepada tuan Adipratama.


Sebenarnya Celine sudah menawarkan diri untuk mewakili James menyampaikan kemajuan hubungan mereka ke papanya. Celine sadar, biaya tiket pesawat tidak lah murah untuk kantong seorang guru. Tetapi James menolak. Ia bersikeras bahwa hal ini merupakan sesuatu hal yang harus ia sampaikan sendiri, sesuai perjanjian mereka di awal.


Untuk itu, Celine mengalah. Ia membiarkan James berjalan sesuai kehendak hatinya. Toh, hal ini termasuk hal yang baik, kan? Karena dapat menjaga wibawa James di depan Sang Ayah. Bukan begitu?


Demikian lah perkembangan dua sejoli ini setelah mereka menjadi sepasang kekasih berumur 2 hari. Walaupun tergolong masih sangat muda, dampaknya sudah mengubah dunia James hampir 180°.


Dunia yang tadinya suram karena kehilangan Celine, berubah menjadi badai taufan dengan petir menggelegar ketika mendapat kabar tentang perjodohan Celine. Tetapi akhirnya ditutup dengan pelangi sehabis hujan, di mana burung-burung berkicauan, bunga-bunga bermekaran, dan kupu-kupu menari di atasnya.


Seperti seorang pujangga yang mengatakan, Begitu lah Cinta, cerita indah dengan sejuta makna .... Memutarbalikkan kehidupan, bermain dengan perasaan ....


...****************...


Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan James, semenjak hari penyuluhan dan melihat keakraban guru pujaannya dengan gadis direktur yang menjadi narasumber, hati Cindy diliputi kecemasan. Ia tidak sabar menantikan datangnya hari Senin untuk mengkonfirmasi hubungan kedua orang tersebut.


Sebenarnya ia sudah ingin menanyakan hal ini selepas penyuluhan. Namun ketika acara ditutup, ia melihat gurunya itu segera menggandeng tangan Sang Gadis keluar aula dengan terburu-buru. Ia sudah berusaha mengejar mereka, namun kehilangan jejaknya.


Akhirnya tiba lah hari yang ditunggu-tunggunya. Ia tidak sabar menunggu jam istirahat pertama. Ia berencana menghadap Sang Guru untuk mendapatkan jawaban.


Dan di sini lah Cindy sekarang. Ketika bel istirahat berbunyi, ia sudah langsung melesat menuju ruang guru.


"Permisi .... Saya ingin bertemu dengan Pak James, " katanya sambil mengetuk pintu ruang guru.


Para guru yang terbiasa melihat kelakuan Cindy, mempersilakan gadis itu menuju ke meja kerja James. Mereka sudah hafal betul kebiasaan yang dilakukan Cindy setahun ini. Kabar bahwa siswi tersebut mengejar guru BK bernama Pak James sudah diketahui oleh setiap guru.


"Selamat pagi, Pak. Ada yang ingin saya bicarakan. Boleh minta waktu Bapak?" tanya Cindy tanpa basa-basi begitu tiba di depan James.


Mendengar suara yang amat dikenalnya ini, tadinya James mau menolak. Tetapi begitu ia melihat raut wajah siswi di depannya, hati James tak tega. Ia melihat ada keseriusan dan kegelisahan yang mendalam di mata gadis itu.


"Ayo kita ke ruang BK, " ajak James yang segera diikuti Sang Gadis.

__ADS_1


Setelah mereka duduk berhadapan di ruang BK, James langsung menanyakan arah pembicaraan Cindy.


"Ada apa?" tanya James.


"Pak .... Masih ingat alasan Bapak ketika pertama kali Bapak menolak pernyataan cinta saya?" tanya Cindy langsung.


James mengernyitkan alisnya. "Ini yang kamu ingin bicarakan ke saya?"


"Tolong jawab saja dulu, Pak!" pinta Cindy.


James menghela napas. Untuk saat ini, ia mencoba mengalah. "Ya, saya ingat. Kenapa memangnya?"


"Apakah tante direktur narasumber itu orangnya?" tembak Cindy. Terlihat air mukanya yang cemas dan penuh kekhawatiran ketika menanyakan hal tersebut.


"Tante? Dia cuma beda dua tahun denganmu, lho .... Dia seumuran dengan kakak kelasmu Geng Princess, kalau kamu masih ingat, " ralat James.


"Sebodo! Selama dia uda kerja apalagi jadi direktur tak wajar di usia segitu, buat saya dia uda tante-tante!" jawab Cindy ketus.


"Kalau gitu, saya juga masuk kategori 'om-om' di matamu?" tanya James sambil tertawa.


Cindy sadar adanya jebakan Batman dalam pertanyaan James. Karena itu, ia tidak ingin menanggapi pertanyaan tersebut.


"Pak, jangan mengalihkan pembicaraan! Tolong jawab pertanyaan saya! Dia kah orangnya yang Bapak cintai ?" katanya dengan nada agak memaksa.


Sekali lagi James menghela napasnya. Setelah berpikir untuk beberapa saat, akhirnya James memilih untuk jujur. Ia sungguh tidak ingin memberi harapan palsu pada gadis ini. Ia sangat berharap Cindy dapat melepaskan cintanya dan menemukan cinta yang baru.


"Ya. Dia orangnya, " aku James.


"Ya, " jawab James lagi. Tanpa sadar ia tersipu ketika menjawabnya.


Hal itu tidak luput dari pengamatan Cindy. Kekecewaan mengalir di hatinya. Dengan nada lesu, ia melontarkan pertanyaannya yang terakhir, "Apakah Bapak sekarang bahagia?"


"Ya. Saya sangat bahagia." James menjawab dengan hati-hati sambil tersenyum.


James tahu jawabannya akan sangat menyakiti Cindy. Tetapi lebih baik ia memberi kenyataan pahit agar Cindy bisa move on daripada membiarkan Cindy hidup dalam harapan palsu terus-menerus. Begitu pikirnya.


Cindy hanya bisa menundukkan kepala setelah mendengar jawaban James. Tanpa sadar air matanya menetes di pipinya dan terjatuh di pangkuannya. Bahunya terguncang dan isakannya mulai terdengar.


James hanya bisa diam menunggu gadis itu meluapkan kesedihannya. Tangannya mengulurkan saputangan kepada Cindy, yang langsung diraih oleh Cindy tanpa menoleh.


Suasana di ruang BK menjadi sunyi di sisa waktu istirahat itu. Hanya isak tangis Cindy yang terdengar. Sampai akhirnya isakannya perlahan berhenti karena Cindy mulai tenang.


"Masih banyak orang yang lebih baik dari saya yang bisa membalas dan menghargai cintamu. Saya harap kamu bisa segera menemukannya, " ucap James setelah isakan Cindy sudah terhenti sama sekali.


Cindy tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Pak .... Boleh saya minta sesuatu dari Bapak? Mungkin sebagai kenang-kenangan cinta pertama?" tanya Cindy memaksakan diri nyengir, ketika setelah sesaat lamanya ia berhasil kembali menatap James.

__ADS_1


"Minta apa?" tanya James bingung.


"Apa aja terserah Bapak, " jawab Cindy.


James pun mencari-cari benda yang sedang ia bawa, yang bisa ia berikan kepada Cindy. Sampai ia merogoh kunci motor yang ada di sakunya.


"Gantungan kunci ini mau? Cuma ini yang ada pada saya sekarang. Sudah jelek dan lama sih, karena sudah saya pakai sejak SMU. Tapi ini limited edition, lho ...." James menunjukkan gantungan kunci motornya sambil ikut nyengir.


Gantungan kunci itu merupakan merchandise yang ia peroleh sebagai kenang-kenangan, ketika ia dan teman-temannya lolos seleksi awal lomba e-sport yang mereka ikuti waktu SMU dulu. Gantungan kunci itu berbentuk logo dari game yang mereka tandingkan saat itu.


Walaupun hanya turnamen yang bagi kebanyakan orang merupakan hal yang sepele dan tidak berakhir dengan kemenangan mutakhir, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri untuk James. Peristiwa itu merupakan pencapaian pertamanya di suatu bidang. Karena itu lah gantungan kunci tersebut menjadi salah satu benda kesayangannya.


"Iya, gapapa, " jawab Cindy pendek.


James pun segera memisahkan gantungan kunci dari anak kuncinya. Setelah itu, diberikan lah gantungan kunci tersebut kepada Cindy.


"Dijaga baik-baik, yah .... Benda pusaka saya tuh .... Kalau sudah bosan, jangan dibuang! Kembalikan lagi pada saya kalau bisa ..." ujarnya pada Cindy.


"Iya, Pak. Terima kasih, " balas Cindy sambil tersenyum. Setelah itu, gantungan kunci tersebut ia masukkan ke dalam sakunya.


"Ada lagi?" tanya James yang dijawab dengan gelengan oleh Cindy.


"Ya sudah. Cuci mukamu dulu sebelum kembali ke kelas sana! Mumpung masih ada waktu, " kata James.


Cindy kembali mengangguk. Ia pun bangkit berdiri dan berkata, "Saya permisi, Pak."


"Ya, silakan ..." balas James.


Baru tiga langkah Cindy berjalan menuju pintu keluar, James kembali memanggilnya dan membuat Cindy berbalik.


"Kamu juga pasti bisa bahagia ..." ujar James dari balik mejanya.


Cindy hanya bisa tersenyum melihat guru yang telah menolaknya ini. Guru yang telah menyakiti dan menghangatkan hatinya di saat yang bersamaan. Ia tahu benar ucapan dan sikap gurunya ini tulus kepadanya.


Kembali ia mengangguk sebagai tanda permisi. Ia pun berbalik dan meninggalkan ruang BK tanpa menoleh ke belakang. Cintanya kali ini benar-benar kandas. Ia harap dirinya kali ini benar-benar bisa menyerah.


Setelah membasuh wajahnya di kamar mandi, Cindy kembali ke kelasnya. Tetapi begitu melihat sahabatnya sedang menunggunya dengan tatapan cemas, air mata Cindy kembali tumpah.


"Wen ..." ujar Cindy memanggil nama sahabatnya.


Wendy langsung memeluk sahabatnya itu. Ia sudah tahu apa yang terjadi tanpa harus mendengar cerita Cindy.


Dari hari Jumat, perasaannya sudah tidak enak. Bagaimanapun ia juga melihat keakraban antara guru BK-nya dengan gadis direktur yang menjadi narasumber. Hubungan keduanya pun sudah ditegaskan oleh Si Gadis dalam ceritanya di atas podium.


Kecemasan temannya yang terus-menerus memandang kedua orang tersebut tidak luput dari perhatian Wendy. Karena itu mudah baginya untuk memperkirakan apa yang sudah terjadi pada Cindy hari ini.


Berdasarkan karakter Cindy, ia tahu sahabatnya ini pasti habis menemui Pak James untuk meredakan kecemasannya. Dan melihat respons sahabatnya yang kembali sambil menangis, ia dapat menduga bahwa kecemasannya itu lah yang ternyata terjadi.

__ADS_1


Saat ini, ia hanya bisa memeluk sahabatnya itu dan memberinya penghiburan. Ia berharap agar Cindy bisa segera kembali menjadi Cindy yang ceria.


...****************...


__ADS_2