
Sudah hampir seminggu Celine tinggal bersama keluarga Wijaya. Mukanya sudah tidak terlalu pucat, walaupun pipinya masih nampak tirus. Untuk itu, James menelepon Mbok Yani untuk mencari tahu makanan kesukaan Celine, hobi Celine, dsb.
Mama Ratna juga dengan telaten merawat Celine dan memperhatikan keseimbangan gizinya. Ia juga memperhatikan jenis makanan apa yang membuat Celine menghabiskan makanannya lebih banyak, atau sebaliknya, jenis apa yang paling banyak disisakannya.
Seperti biasanya di hari Kamis, Mama Ratna mempunyai jadwal mengajar les privat Bahasa Inggris dari pukul 10.00 - pukul 16.00. Karena itulah, dari pukul 09.30, Mama Ratna sudah siap meninggalkan rumah.
"Titip Celine yah, James. Makan siang sudah Mama siapkan di atas meja makan. Kalau mau, tinggal dipanasin lagi aja. Mama pergi yah ...." Begitulah pesan mamanya, seperti yang sebelum-sebelumnya.
Hari itu mendung. James dan Celine tinggal berdua saja di rumah. Mereka menghabiskan waktu sambil menonton TV di ruang keluarga. Karena acaranya yang membosankan, ditambah James kurang tidur semalam karena main game sampai subuh, membuat James merasa ngantuk. Belum lagi udara yang sejuk semakin menggoda agar segera berpindah ke dunia mimpi.
Dilihatnya jam yang baru menunjukkan pukul 11.00. Kemudian, dilihatnya Celine. Ternyata Celine juga merasakan hal yang sama, matanya sudah setengah menutup dan kepalanya sudah terangguk-angguk laksana burung perkutut. Memang cuaca yang pas untuk tidur, pikir James.
James lalu mematikan TV, menuntun Celine ke kamarnya, dan kemudian ia kembali ke kamarnya sendiri. Tidak butuh waktu lama, James sudah tertidur pulas.
__ADS_1
Perut yang keroncongan membuat James terbangun. Jam berapa sekarang ? katanya dalam hati. Lalu ia melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.20. Pantas, sudah lewat jam makan siang.
James pun segera keluar kamar, lalu menuju kamar Celine. Ia mengetuk pintu kamar tersebut.
"Lin .... Masih tidur? Bang James masuk yah ..." kata James membiasakan diri bersikap sopan, meskipun ia tidak mengharapkan jawaban Celine.
James membuka pintu kamar Celine perlahan, takut kalau-kalau penghuninya masih tidur. Dan benar saja, ia melihat Celine masih terbaring di ranjang dengan posisi meringkuk. Tetapi betapa kagetnya James ketika melihat muka Celine pucat dan sedang meringis kesakitan.
"Celine sakit? Mana yang sakit?" James buru-buru mendekat ke arah Celine dan langsung refleks menempelkan tangan ke dahinya.
James segera pergi keluar kamar dan mencari obat maag di kotak obat. Lalu kembali ke kamar sambil membawa obat tersebut dan segelas air hangat.
"Minum dulu, Lin ..." katanya sambil membantu Celine duduk dan mengarahkan obat serta air hangat ke mulut Celine.
__ADS_1
Setelah menaruh bantal di punggung Celine agar Celine nyaman duduk bersandar, James kembali keluar kamar. Ia mengambil kantong plastik yang cukup besar, lalu mengisinya dengan air hangat untuk mengompres perut Celine.
Setelah menaruh kantong kompres di atas perut Celine, baru lah James duduk di samping Celine sambil mengamati kondisinya dengan perasaan cemas. Sekitar 10-15 menit kemudian, terlihat kondisi Celine perlahan membaik. Muka meringisnya mulai kembali ke ekspresi datar yang biasanya.
Melihat itu, James merasa lega. Tetapi bersamaan dengan kelegaannya, emosi lain yang dari tadi ditahannya membuncah keluar. Secara refleks, ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Celine, mendekatkan wajahnya ke wajah Celine dan menatap lurus ke bola mata Celine.
"Lain kali, kalau sakit ataupun lapar, jangan ditahan! Panggil Bang James! Atau kalo ga bisa panggil, cari Bang James! Teriak juga boleh! Apapun! Jangan diam saja! Mengerti ??!!" katanya dengan nada tinggi.
Celine tetap diam dengan ekspresi datar. Tidak ada perubahan apapun pada raut wajahnya, meskipun James sendiri bisa melihat pantulan wajahnya di bola mata Celine. Pandangan mata kosong yang mengiris hatinya.
Ia jelas tahu, ini bukan salah Celine. Ini terjadi karena kecerobohannya sendiri yang melewatkan jam makan sampai mengakibatkan maag Celine sakit. Ia tahu kondisi Celine belum sampai tahap bisa mengkhawatirkan dirinya sendiri. Tapi ia malah melampiaskan kekesalannya pada Celine! Alangkah kejamnya!
"Maafkan Bang James yah, Lin .... Maaf yah ..." kata James sambil merengkuh kepala Celine, lalu memeluk gadis bertubuh mungil itu.
__ADS_1
Ini yang terakhir! Tak akan ada kejadian seperti ini lagi! Abang akan lebih berhati-hati lagi .... Abang janji, Lin .... James berjanji dalam hatinya.
...****************...