
"Ja-jadi ... yang kami lakukan ..." Satu-satu dari anggota Geng Princess Lovers mulai terbata-bata dengan muka pucat.
"Murni kejahilan kepada Pak James tanpa ada sangkut pautnya dengan kami, Geng Princess." Priscillia menutup kalimat mereka sebagai kesimpulan.
James sudah mengerti dengan jelas sekarang. Geng Princess memang melakukan perpeloncoan, tapi itu terbatas di kelas mereka. Makanya hal tersebut hanya menjadi sebuah rumor untuk siswi yang lain.
Kejadian Sharon menjadi pemantik yang bisa disaksikan seluruh siswi dan kemudian disalahartikan dengan menghubungkan kejadian tersebut dengan rumor yang beredar.
Akibatnya banyak yang ikut-ikutan Geng Princess untuk menjahili guru, baik karena alasan pribadi, seperti yang dilakukan Lily waktu itu, atau karena alasan solidaritas, seperti yang dilakukan Geng Princess Lovers sekarang.
"Jadi sudah jelas kesalahan kalian kan, Geng Princess Lovers?" tanya James.
"I-iya, Pak. Ka-kami sudah salah paham pada Bapak. Ma-maaf, Pak!" kata kelima siswi tersebut hampir bersamaan sambil membungkukkan badan berulang-ulang.
"Kesalahan kalian bukan hanya sekedar salah paham! Kalaupun tidak ada kesalahpahaman, menurut kalian kelakuan kalian bisa dibenarkan?!" James menaikkan nada suaranya sehingga kelima siswi tersebut makin menciut.
"Dengar baik- baik! Mengagumi atau menjadi pengikut seseorang itu tidak salah. Tapi perhatikan, apa yang kalian ikuti! Apakah kalian juga mau ikut-ikutan jika orang yang kalian kagumi bertindak jahat atau bertindak bodoh?
Pikir baik-baik sebelum bertindak! Jangan jadi orang bodoh yang hanya mengagungkan kesetiaan dan solidaritas tanpa alasan yang jelas! Itu akan membuat kalian mati konyol suatu saat nanti. Paham?!" James melanjutkan nasihatnya.
"Paham, Pak," sahut kelimanya.
"Ketua OSIS, kamu sudah mengantongi identitas kelima siswi ini?" tanya James pada Clarissa.
Dengan bersemangat Clarissa segera maju ke depan James dan berkata, "Sudah, Pak!"
"Bagus! Kalian sudah dengar sendiri kan? Kali ini kalian saya maafkan, tapi kalau terjadi lagi, orang tua kalian akan saya panggil. Mengerti?" tanya James pada Geng Princess Lovers kembali.
"Me-mengerti, Pak! Te-terima kasih, Pak!" kata kelima siswi tersebut. Beberapa di antara mereka ada yang mulai mengangkat wajahnya dan terlihat lega.
Mendengar itu, Clarissa meradang. Mana mungkin ia ikhlas membiarkan kasus ini ditutup dengan maaf-maafan begitu saja.
"Maaf, Pak. Menurut saya, Geng Princess juga harus bertanggung jawab, Pak. Bagaimanapun, mereka sudah membuat adik kelas mereka melakukan hal buruk karena mengikuti kelakuan mereka. Walaupun itu dimulai dari kesalahpahaman, tapi tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api, kan?" ujar Clarissa.
"Apa mak- " Rebecca sudah langsung mau protes, tapi James segera memberi isyarat diam dengan tangannya, seperti yang pernah dilakukan Priscillia.
__ADS_1
"Perkataanmu benar juga, Clarissa. Sedikit banyak hal ini ada hubungannya dengan Geng Princess. Jadi, apa tanggung jawab kalian dalam hal ini, Geng Princess? Atau Priscillia khususnya?" tanya James sambil tersenyum miring pada Priscillia dan kawan-kawan.
"Kenapa jadi kami yang ..." Belum selesai Rebecca berbicara, kali ini gantian Priscillia yang mengayunkan isyarat tanda diam kepadanya.
Dengan tatapan lurus, Priscillia memandang James. Lalu ia membalas senyuman miring James dengan senyuman yang sama. Kemudian ia beralih ke Vivian dan teman-temannya dengan muka datar.
Melihat Priscillia mendekati mereka, hati Vivian dan kawan-kawan berdebar. Antara senang karena pujaan mereka mendekati mereka, tapi juga takut karena tak ada senyuman ramah Lady Priscillia yang selama ini mereka lihat.
Apalagi melihat Priscillia mengangkat tangan kanannya, Vivian langsung menutup matanya. Beberapa pasang mata juga ikut tegang melihat adegan itu, termasuk Clarissa. Apakah Priscillia akan menampar anak itu?
Tapi bukannya menampar, Priscillia malah menepuk bahu Vivian dengan lembut dan memberikan senyum termanisnya.
"Terima kasih sudah mendukung kami segitunya. Tapi jangan lakukan lagi yah, karena kami tidak menghendaki demikian. Sayang kan, kalau kita kehilangan guru yang baik jika hal seperti ini terus terjadi? Kalian mengerti, kan?" kata Priscillia.
"Me-mengerti, Lady Priscillia," kata Vivian, didukung keempat temannya.
James dapat melihat bola mata Vivian serta keempat temannya berubah menjadi bentuk hati dan lope-lope beterbangan di sekelilingnya. Persis seperti yang terjadi di film kartun atau animasi.
"Bagus," balas Priscillia. Kemudian ia membalikkan badan kembali menghadap James.
James hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah Priscillia. Benar-benar ga ada lawan, pikirnya dalam hati.
"Ya, sudah. Kita cukupkan sampai di sini! Jangan sampai terjadi lagi! Saya rasa, semua yang di sini harus belajar banyak dari kejadian ini! Kalian mengerti?" seru James menutup pembicaraan.
"Mengertiiii, Pakkkk!!!" jawab para siswi seperti sebuah kor.
"Ta-tapi, Pak!" Clarissa mulai menyanggah.
"Ketua OSIS, sudahlah .... Kita hentikan sampai sini yah? Terima kasih atas kerja kerasmu. Berikan mereka kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri. Oke?" Gantian James yang membujuk Clarissa dengan senyum termanisnya.
Clarissa mati kutu dan hanya bisa menganggukkan kepala.
"Terima kasih. Bisa tolong antar Geng Princess Lovers keluar? Masih ada yang ingin saya bicarakan dengan Geng Princess," pinta James pada Clarissa.
"Baik, Pak." Clarissa dan kedua temannya segera mengajak Geng Princess Lovers keluar ruangan.
__ADS_1
Sekarang di ruang BK tinggal James dan Geng Princess. Suasana di dalam kembali berubah menjadi serius.
"Maaf menahan kalian lebih lama. Mungkin Rebecca dan Cecilia tidak tahu, tapi ini ada hubungannya dengan pembicaraan kita yang terakhir, Priscillia. Dan karena ini ada hubungannya dengan mereka, saya rasa mereka juga harus mendegarnya." James memulai pembicaraan.
"Waktu itu saya tidak bisa menyanggah perkataanmu, apalagi setelah apa yang kalian alami dengan pak Santo. Tapi kejadian ini adalah contoh efek dari perpeloncoan yang kalian lakukan. Saat ini saya masih menutupinya, karena saya pun tidak memiliki bukti konkret untuk menjerat kalian.
Berhati-hatilah jika kalian masih ingin meneruskan misi kalian! Jika bukan saya, suatu saat bisa saja ada orang yang membawa bukti dan menggugat kelakuan kalian. Saya harap kalian bisa mempertimbangkan kelakuan kalian dan belajar sesuatu dari kejadian ini." James mengakhiri nasihatnya.
"Ka-kamu sudah mengaku, Pris?" tanya Rebecca pada Priscillia. Priscillia hanya diam dan menganggukkan kepala.
"Ya, ketua kalian sudah mengakui kelakuannya. Jadi kamu juga harus jaga sikapmu, Rebecca!" tekan James.
"Tapi, itu bukan hanya kelakuan Priscillia, Pak! Tapi kami semua! Bahkan sebenarnya ide itu berasal dari saya! Semua yang terjadi pada Bapak seperti masalah tali, ember, telur, itu semua ide saya! Priscillia hanya mengikuti dan melindungi kami!" ujar Rebecca.
James tertegun. Satu fakta baru yang kini ia ketahui tentang Priscillia.
"Tapi bagaimanapun, ketika aku diam, itu tandanya aku menyetujui yang kita lakukan kan, Bec?" kata Priscillia sambil tersenyum kepada Rebecca. Mendengar itu, Rebecca terdiam.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas nasihatnya. Akan kami pertimbangan nasihat Bapak baik-baik. Dan saya, mewakili Geng Princess, minta maaf atas kelakuan kami selama ini pada Bapak. Mohon Bapak berbesar hati dan tidak memperpanjang masalah ini," kata Priscillia kepada James, sambil membungkukkan badan ala hormat orang Jepang.
Melihat ketua mereka bertindak demikian, Sharon, Cecilia, dan Rebecca jadi mengikuti gerakan Priscillia, "Kami minta maaf, Pak!"
"Sudahlah. Angkat kepala kalian! Kita sama-sama belajar dari kejadian ini," sahut James yang tidak enak mendapat perlakuan seperti itu.
Saat itu bel berbunyi, tanda istirahat kedua berakhir.
"Tuh, bel sudah berbunyi. Ayo kita kembali! Semoga kali ini kita bisa bekerja sama dengan baik, Princesses !" kata James sambil tersenyum.
"Baik, Pak! Kami permisi!" seru keempat siswi itu berbarengan sambil membalas senyuman James.
James mengantar kepergian mereka sambil melihat punggung mereka yang makin menjauh. Setelah mereka tidak lagi terlihat, James menghembuskan napas lega.
Akhirnya semua menjadi jelas. Akhirnya semua bisa diakhiri. Semoga ke depannya bisa menjadi lebih baik, God ... doa James dalam hati.
...****************...
__ADS_1