Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kata Kedua dan Kata Ketiga


__ADS_3

Sudah dua bulan semenjak Celine mulai kembali menjalani homeschooling. Untuk permulaan, James menurunkan semua materi Celine setara dengan anak kelas IX (SMP 3 ).


Materi fisika, biologi, dan geografi sudah diturunkan lagi semenjak bulan lalu, karena menurut laporan Papa Heru dan Bang Alex, kemampuan Celine ketinggalan jauh di mapel tersebut. Jadi, untuk mapel-mapel tadi, materi yang dipelajari Celine saat ini setara kelas VII (SMP 1 ).


Menurut James, hal ini mungkin disebabkan Celine belum mampu membayangkan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, seperti kecepatan cahaya, sistem pencernaan/pernapasan/peredaran darah, dan pemetaan.


Kemampuan Celine yang terlihat menonjol saat ini adalah bahasa, menurut laporan Mama Ratna. Walaupun dia tidak berkomunikasi lisan, tetapi pengertiannya tentang bahasa dan kalimat cukup menonjol ketika mengerjakan soal tertulis.


Semenjak Celine mulai homeschooling, jadwal mengajar les privat Mama Ratna dipindah jadi hanya sore hari. Pagi hari, Mama Ratna mengkhususkan waktu tersebut untuk mengajar Celine, selain untuk mengurus rumah tangga tentunya. Sedangkan Papa Heru dan Bang Alex punya waktu mengajar yang lebih fleksibel, tergantung selesainya pekerjaan mereka masing-masing.


Mama Ratna dan James juga sudah mulai mengajak Celine keluar rumah, untuk melatih kemampuannya bersosialisasi. Mama Ratna kadang mengajaknya ke pasar. Sedangkan James, kadang mengajaknya ke toko buku, saat ia mencari materi atau latihan soal buat Celine.


Dalam sisi kemandirian, saat ini Celine sudah bisa melakukan aktivitas harian sendiri seperti makan dan mandi sendiri tanpa harus dituntun. Mama Ratna dan James juga tidak perlu lagi mengambilkan handuk, gayung, ataupun sendok-garpu, seperti sebelum-sebelumnya.


James di sini bertindak sebagai wali Celine yang menerima laporan hasil belajar Celine. Ia juga sebagai Menteri Pendidikan khusus Celine, karena bertugas mengatur kurikulum dan jadwal belajar. Tentunya ia tetap sebagai konselor yang memperhatikan psikoterapi Celine.


Walaupun James disibukkan dengan Celine, sebenarnya ia menyimpan kegalauan tersendiri. Ia mulai tidak percaya diri karena sampai sekarang belum ada panggilan kerja untuknya.


Ia harus mengakui, mendapat pekerjaan sekarang ini tidak mudah, apalagi sebagai seorang guru BK. Tidak banyak sekolah yang mewajibkan diri untuk memiliki seorang guru BK dengan lulusan jurusan Bimbingan dan Konseling. Asalkan guru tersebut mampu memahami perilaku dan teknik konseling pada siswa, itu sudah cukup.


Belum lagi ia cukup tahu diri dengan nilai IPK-nya yang tidak terlalu tinggi dan ia belum memiliki pengalaman kerja. Tentu hal tersebut mempersulitnya dalam persaingan mendapat pekerjaan.


Kegalauan James ini diketahui Mama Ratna. Karena itu pagi ini, Mama Ratna mencoba mengajaknya bicara, di sela-sela waktu Celine beristirahat dari waktu belajarnya.


"Kamu ga ada niat melamar di perusahaan sebagai HRD ? ( Human Resource Development atau Pengembangan Sumber Daya Manusia). Atau mungkin menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) di lembaga pendidikan, pemasyarakatan, atau Kementerian Agama? Atau menjadi tenaga konselor di pusat rehabilitasi misalnya?" tanya Mama Ratna yang tahu kalau James hanya membuat lamaran kerja sebagai guru BK.


"James ga pede (percaya diri ), Ma .... Pekerjaan seperti tadi kan wilayahnya orang dewasa. Pasti pola pikirnya lebih ribet dan tuntutannya lebih tinggi. James pilih berhadapan dengan remaja aja," jawab James.

__ADS_1


Mama Ratna hanya menghela napas mendengar jawaban James. Ia tahu kalau anak bungsunya ini sebenarnya kurang memiliki kepercayaan diri, tetapi banyak yang tidak tahu karena tertutupi dengan sikap cueknya.


"Ya sudah, kalo kamu pikir itu yang paling pas untukmu. Doakan saja. Rezeki tidak akan ke mana. Semua sudah diatur oleh Sang Khalik.


Bagian kita, lakukan yang terbaik dengan apa yang di depan mata kita sekarang. Seperti Celine yang dipercayakan Tuhan padamu. Nanti, menurut waktuNya, Mama percaya Tuhan akan mempercayakan padamu perkara yang lebih besar, " sahut Mama Ratna membesarkan hati anaknya.


"Iya, Ma .... Amin ..." jawab James sambil tersenyum penuh terima kasih pada Sang Mama.


...****************...


Malam ini, di waktu kumpul keluarga setelah makan malam, yang sekarang ini dikenal dengan istilah PKW (Permusyawaratan Keluarga Wijaya), Mama Ratna menceritakan pengalaman yang dialaminya tadi siang.


"Siang ini, kan Mama ajak Celine ke warung depan tuh, mau beli terigu. Eh ... bisa-bisanya ketemu sama Jeng Mirna. Kalian tau sendiri kan, dia keponya kayak mana. Yah ... mulai deh dia tanya-tanya tentang Celine. Celine itu siapa? Kenapa baru sekarang keliatan? bla bla bla ..." cerita Mama kepada semua anggota keluarga.


"Trus, Mama jawab apa?" tanya James ikut penasaran.


"Ya Mama jawab aja, kalau Celine keponakan Mama dari kampung. Sekarang tinggal bersama, untuk membiasakan diri tinggal di kota besar, karena sebentar lagi mau kuliah di sini, " jawab Mama. Anggota keluarga yang lain manggut-manggut tanda setuju dengan jawaban Mama Ratna yang kelihatannya cukup bijak.


"Maafin Tante yah, Lin ... Tante jawab kayak gitu. Soalnya Tante takut jadi masalah kalau bawa-bawa nama keluarga kamu. Celine ngerti, kan?" tanya Mama Ratna pada Celine. Celine lalu mengangguk tanda mengerti.


"Sebenarnya, kalo Tante bisa dianggap Mama sama Celine, Tante sih lebih seneng lagi loh .... Tante sayang sekali soalnya sama Celine, " tambah Mama Ratna sambil memeluk Celine.


"Mama ...."


Tiba-tiba terdengar suara dari balik dekapan Mama Ratna, yang membuat semua anggota keluarga terdiam seketika, tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"A- apa ?? Coba ulang lagi, Lin ..." tanya Mama Ratna sambil melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Celine.

__ADS_1


"Mama ..." kata Celine lagi dengan kepala tertunduk.


Mendengar itu, sontak Mama Ratna langsung mendekap Celine erat.


"Iya .... Celine Anak Mama .... Celine Anak Mama ..." ucapnya bahagia.


Melihat itu, James juga tak mau kalah.


"Kalau ini, Lin? Siapa? Celine ingat?" tanya James sambil menunjuk dirinya sendiri.


Beberapa detik kemudian, baru terdengar jawaban Celine dengan kepala yang masih tertunduk, "Bang ... James ..." jawabnya dengan suara pelan.


Mendengar itu, seolah pelangi tiba-tiba muncul dan bunga-bunga bermekaran di hati James. (author: kok kesannya lebay amat yah ... ) Ia tidak menyangka bisa mendengarkan panggilan itu sekali lagi dari mulut Celine dalam waktu yang cukup singkat, mengingat keadaan Celine sebelumnya.


Kali ini giliran Alex yang maju.


"Gantian Abang, Lin .... Coba panggil 'Abang'. Atau panggil 'Bang Alex' juga boleh ..." pinta Alex kepada Celine. Tetapi, walaupun sudah menunggu beberapa saat Celine tetap diam. Hal itu membuat Alex lesu dan mundur teratur.


Papa Heru juga sebenarnya ingin dipanggil oleh Celine. Tapi ia gengsi kalau harus meminta seperti Alex. Gelagat suaminya ini terbaca oleh Mama Ratna. Tanpa diminta, Mama Ratna mencoba membantu Sang Suami tercinta.


"Kalau panggil 'Papa' ke Papa Heru, gimana? Celine bisa?" tanya Mama Ratna lembut kepada Celine. Tetapi sama halnya dengan Alex, Celine hanya diam dengan kepala tertunduk.


"Ya sudah .... Gapapa .... Jangan dipaksa. Tunggu Celine bisa dan mau aja. Yang penting Celine tau, Om juga mau loh dipanggil sama Celine. Celine mau panggil 'Papa' atau mau panggil 'Om', terserah Celine. Om tunggu yah ..." ujar Papa Heru sambil mengelus kepala Celine dan menutup PKW malam ini.


Dalam perjalanan kembali ke kamar untuk beristirahat, James masih senyum-senyum bahagia. Selain karena ia bisa mendengar panggilan merdu Celine kembali, baru kali ini ia merasa unggul dari Alex.


Semoga kebahagiaan ini terbawa sampai mimpi, pikirnya dalam hati, sebelum ia akhirnya jatuh tertidur.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2