Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Cukup Lawan Aku


__ADS_3

Esoknya di hari Jumat, Priscillia masih belum masuk sekolah. Rumor tentang dirinya sudah menyebar seantero sekolah. Sebagian dari siswi yang jeli dan kritis sudah dapat menghubungkan sendiri berdasarkan berita yang ada, apa yang mungkin terjadi pada Priscillia. Mudah bagi mereka pada akhirnya menduga Vampire Disease adalah penyakit yang diderita Priscillia.


Siswi pun terbagi menjadi dua kubu. Mereka yang pro pada Priscillia, bersimpati dengan kondisi yang dialaminya. Sedangkan mereka yang diam-diam membenci dan iri pada Priscillia, dengan nyinyir menggunjingkan tindakan Priscillia yang elegan selama ini sebagai usaha untuk menutupi penyakitnya.


Tentu saja Clarissa termasuk golongan yang kedua. Ia sangat senang begitu mendengar peristiwa yang menimpa Priscillia. Dan ia jugalah yang ikut menyebarluaskan gosip tersebut dengan harapan citra seorang Priscillia hancur.


Contohnya saja sekarang, saat jam istirahat kedua berlangsung. Clarissa dan teman-teman OSIS-nya sedang berkumpul di kantin untuk menyegarkan diri dengan menikmati sebotol minuman dingin. Kembali ia memanfaatkan kesempatan ini untuk membicarakan tentang Priscillia.


"Kalian sudah dengar kabar Priscillia, Sang Putri Ketua Yayasan dari kelas XI IPA?" tanya Clarissa membuka pembicaraan.


"Sudah. Ia pingsan pas pelajaran olahraga, kan?" jawab salah satu anggotanya.


"Tapi kabarnya dia cuma nonton doang di kursi stadion kok, ga ikut olahraga. Kok bisa sampai pingsan gitu yah? Sampai dibawa ke RS lo .... Dan sekarang, uda 2 hari dia ga masuk sekolah. Aneh ga sih? Kayak bukan pingsan biasa gitu," sambung yang lain.


"Lo? Memang kalian belum dengar penyakit yang ternyata ia sembunyikan selama ini? Dia tuh kena penyakit vampire disease, penyakit alergi sinar matahari," jawab Clarissa menanggapi kebingungan temannya.


"Emang ada penyakit kayak gitu? Baru denger," kata temannya yang tadi.


"Ada. Cari aja di google. Ketik alergi sinar matahari sebagai kata kunci, langsung keluar tuh datanya. Dari sana kita bisa tau, jika penderitanya terkena sinar matahari, kulitnya akan memerah seperti terbakar, bengkak, bahkan melepuh. Ngeri banget ga sih?" ujar Clarissa.


"Ngeri lah! Pantesan dia kalau jalan dari/ke parkiran pasti memakai payung!" tanggap temannya yang lain.


"Di situ letak kelicikan Priscillia! Sambil mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sambil bertingkah bak putri, dia berhasil menutupi penyakitnya. Orang-orang melihat betapa elegannya dia. Padahal dia cuma takut aibnya terbongkar, ketika mukanya yang melepuh bak zombie di film horor terlihat oleh kita semua! Ikh .... Menjijikkan, bukan?" Clarissa dengan semangat mengompori teman-temannya.


"Wow ... wow ... ternyata ketua OSIS kita yang cantik dan seperti murid teladan, mulutnya seperti comberan yah! Cck ... cck ... cck ... ga nyangka loh!"


Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar di belakang mereka, membuat pembicaraan keempat anggota OSIS ini terhenti.


Ketika mereka berbalik dan melihat siapa yang berbicara, keempat orang itu terkejut. Yang melabrak barusan tidak lain dan tidak bukan adalah Rebecca, anggota Geng Princess yang terkenal paling barbar. Di belakangnya berdiri Sharon dan Cecilia yang sama-sama menatap mereka dengan pandangan tidak suka.


Keempat orang tersebut langsung bersikap seperti cacing kepanasan, karena tertangkap basah langsung oleh Geng Princess sendiri ketika sedang menggunjingkan ketua mereka. Namun bukan Clarissa namanya kalau tidak bisa dengan segera mengendalikan diri dan menyerang balik. Bagi dirinya, anggota Geng Princess tanpa Priscillia tidak berarti apa-apa.


"Seenaknya bilang mulut orang seperti comberan! Memang ada yang salah dengan kata-kata saya? Saya hanya mengungkapkan fakta, kan? Justru sikapmu yang perlu diperbaiki! Tidak sopan berbicara begitu pada kakak kelas! Apalagi saya ini Ketua OSIS kalian!" ujar Clarissa.


Melihat Rebecca memanas dan seperti langsung ingin menyerang balik, Sharon segera menghentikannya. Ia takut Rebecca menjadi kalap.

__ADS_1


Gantian Cecilia yang maju membalas omongan Clarissa. Dengan gaya santai, ia berkata, "Ketua OSIS (ketos) memang mengungkapkan fakta sih. Tapi bukankah tugas ketos itu melindungi segenap siswi dan menjadi contoh teladan bagi siswi-siswi lain? Ini kok malah menggunjingkan dan mengumbar kelemahan orang?"


Clarissa terdiam dibalas seperti itu. Mukanya memerah menahan malu dan marah. Orang-orang di sekitar kantin mulai melihat ke arah mereka. Ketiga temannya hanya bisa diam membeku di belakang Clarissa. Mereka sadar diri, level mereka kalah dari ketiga anggota Geng Princess ini.


Melihat Clarissa terdiam, Sharon ikut angkat bicara, "Sebenarnya kami salah apa sih padamu? Dari kasus Geng Princess Lovers kemarin, saya perhatikan sepertinya kamu berniat cari masalah dengan kami?"


"Si- siapa yang cari masalah?! Jangan memutar balikkan fakta! Jelas-jelas geng kalian yang suka membuat masalah! Memanfaatkan pengaruh orang tua kalian untuk bertindak seenaknya! Merasa kalian tidak bisa disentuh bahkan oleh guru sekalipun! Apalagi Priscillia yang notabene putri Ketua Yayasan! Sikapnya sudah bak putri dan orang nomor satu di sekolah! Semua orang harus tunduk dan segan padanya?!" cecar Clarissa.


Gantian Cecilia yang dari tadi kelabakan berusaha menenangkan Rebecca. Bisa dilihat muka temannya ini sudah memerah menahan amarah dan sudah ingin membalas Clarissa berulang kali.


Sedangkan Sharon terdiam dan mendengarkan penuturan Clarissa dengan saksama. Setelah Clarissa selesai, baru ia membuka mulutnya.


Dengan tenang dan muka terheran, ia berkata, "Kapan Priscillia begitu? Setauku Priscillia tidak pernah menggunakan latar belakang orang tuanya untuk menekan orang agar tunduk dan segan padanya. Kalaupun orang yang memandang Priscillia seperti itu, ya silakan. Tapi itu bukan salah Priscillia, kan?"


"Atau jangan-jangan yang berpikiran ingin disegani dan senang jika orang tunduk padanya, adalah keinginan ketos sendiri? Ketos iri karena ga bisa jadi siswi nomor satu di sekolah?" sindir Cecilia.


"Se- sembarangan! Justru kalian yang seperti itu! Makanya kalian sengaja nempel-nempel pada Priscillia, sampai membentuk Geng Princess segala! Itu usaha kalian untuk menaikkan derajat kalian di kalangan siswi, kan? Walaupun memang kalian berasal dari keluarga berpengaruh, tapi kalian sadar, tanpa Priscillia kalian bukan siapa-siapa! Masih banyak siswi di sini yang sederajat dengan kalian!" seru Clarissa.


Akhirnya pegangan Cecilia terhadap Rebecca terlepas. Rebecca maju dengan tangan mengepal menahan amarah.


"Maksudnya kamu sendiri, yang katamu sederajat dengan kami? Jadi kami perlu mendompleng Priscillia untuk menaikkan derajat kami, begitu?! Asal kamu tau, tanpa Priscillia pun, aku sudah bisa mengatasimu! Kamu cukup lawan aku saja, bagaimana?!" tantang Rebecca.


Pertanyaan yang sama juga mencuat di pikiran Cecilia, Sharon, dan Clarissa sendiri. Mereka semua sama-sama anak pengusaha terkenal. Yang membedakan adalah jenis usaha orang tua mereka. Semuanya berpengaruh di bidangnya masing-masing. Jadi, sulit rasanya menentukan siapa yang lebih unggul.


Lalu sebuah ingatan yang membuat Clarissa bergidik, muncul dalam pikirannya. Sebagai ketos, ia sering menandatangani turunnya anggaran pendanaan ekskul, terutama jika ada perlombaan yang membawa nama baik sekolah. Dan Rebecca, adalah atlet taekwondo putri yang beberapa kali dikirim untuk mewakili sekolah dalam pertandingan antar SMU. Apa maksudnya Rebecca menantangnya dalam pertandingan fisik sekarang ini?


"Kamu menyuruhku melawanmu dalam hal apa? Pertandingan fisik? Picik sekali pikiranmu! Mentang-mentang anak taekwondo beraninya menantang anak kelas bisnis! Maaf yah, aku tidak tertarik dalam pertarungan otot yang cuma bisa dilakukan oleh cewek barbar sepertimu. Aku menjunjung tinggi moto sekolah: membentuk siswi yang cerdas, mandiri, dan elegan!" jawab Clarissa yang memang mengambil kelas bisnis sebagai ekskulnya.


Sontak mata Cecilia dan Sharon terbelalak mendengar jawaban dari ketos mereka. Apa Clarissa sudah gila, malah memprovokasi Rebecca seperti itu? Rebecca benar-benar bisa menyepaknya sampai ke ICU kalau tidak dikontrol! Atau apa memang itu yang ia kehendaki, agar Rebecca dikeluarkan dari sekolah? Karena peraturan sekolah ini sangat ketat melarang adanya pertikaian fisik antar siswi.


Baru saja Sharon dan Cecilia ingin memegang tangan Rebecca untuk mencegah kemungkinan Rebecca menjadi kalap, tangan Rebecca sudah terulur seperti memberi kode kepada mereka agar tidak ikut campur. Mulut Rebecca membentuk senyum, membuat Cecilia dan Sharon terheran-heran. Tidak biasanya Rebecca bersikap setenang ini.


"Sudah kuduga kamu akan berpikir sepicik itu. Tapi, ga ada kubilang kita akan bertanding fisik. Bahkan aku tidak menentukan pertandingan dalam bentuk APAPUN! Biar kamu saja yang menentukan mau bertanding apa? Bertanding ilmu bisnis yang sesuai dengan bidangmu pun, aku ga masalah," jawab Rebecca santai.


Cecilia dan Sharon melongo mendengar Rebecca berkata seperti itu. Apa anak ini sudah kesambet setan kalem atau setan bodoh? Kok bisa-bisanya menantang ketos di bidang yang dikuasainya? Lupakah Rebecca kalau Clarissa termasuk murid yang pintar dan jabatan ketos bisa didapatkannya bukan tanpa alasan? Atau beneran otak temannya ini sudah eror karena kelamaan menahan amarah dari tadi?

__ADS_1


Berbeda dengan Cecilia dan Sharon yang melihat Rebecca dengan pandangan khawatir, Clarissa tersenyum dengan penuh rasa kepercayaan diri. Ia merasa Rebecca akan termakan perkataannya sendiri demi mementingkan harga dirinya.


"Boleh. Ayo kita bertanding ilmu bisnis!" Clarissa segera memanfaatkan kesempatan yang ada, sebelum Rebecca berubah pikiran.


Cecilia dan Sharon langsung lemas mendengar Clarissa memutuskan demikian. Mereka sudah merasa Rebecca akan kalah. Bukan tidak mempercayai Rebecca, tetapi mereka bisa menilai dengan realistis, bagaimana kemampuan ketos jika diadu dengan Rebecca dalam hal ini. Meminta Rebecca mengganti jenis pertandingan pun tidak mungkin, karena berarti meminta Rebecca menjilat ludahnya sendiri.


Sedangkan Rebecca menanggapi keputusan Clarissa dengan masih tersenyum manis dan tenang, sesuatu yang sangaaattt bukan Rebecca. Sesuatu yang dikira teman-temannya akibat kerasukan setan kalem, saking anehnya sikap Rebecca kali ini.


"Oke, satu pertanyaan saja dariku, Ketua OSIS yang mulia. Dalam ilmu bisnis, sangat penting kamu mengenali lawanmu kan? Kamu lupa aku siapa?" tanya Rebecca dengan senyum manis dan tangan terlipat di depan dadanya.


Mendadak ditanya seperti itu, Clarissa segera memutar otaknya. Ia hanya tahu Rebecca anak pengusaha besar, yang mungkin sama besar dengan ayahnya. Tetapi, pengusaha apa? Ia mencoba mengingat-ingat nama panjang Rebecca.


Rebecca Vania Utamajaya! Anak seorang pengusaha besar dari perusahaan S yang bergerak di bidang real estat! (lihat eps. 38 - Priscillia) Sedang dirinya? Anak seorang pengusaha besar yang bergerak di bidang konstruksi bangunan! (lihat eps. 53 - Clarissa, Sang Ketua OSIS )


Menyadari kenyataan itu, muka Clarissa langsung pucat. Ia terlalu menganggap remeh Rebecca.


"Sudah sadar sekarang, ketos yang terhormat? Jujur saja, aku paling benci bawa-bawa latar belakang keluarga untuk mengalahkan seseorang. Tapi dalam ilmu bisnis, latar belakang keluarga bisa menjadi modal utama kita.


Karena alasan itu, orang tuaku mengajariku untuk setidaknya mengingat latar belakang teman-temanku. Bukan untuk mengatur pertemananku dalam rangka menaikkan bisnis mereka, tapi setidaknya untuk mencegahku agar jangan sampai berselisih dengan mereka yang memiliki ikatan bisnis dengan keluarga.


Dan kamu? Berani-beraninya cari masalah denganku?! Tahukah kamu, jika kuadukan betapa embernya mulutmu itu kepada papa, perusahaan ayahmu bisa tidak mendapat tender dari keluargaku! Tinggal kubilang mulutmu itu berbahaya karena bisa saja membocorkan rahasia proyek!


Tapi karena kebaikan hatiku, kuanggap ini teguran saja buatmu yah, cabe setan! Tidak akan kuadukan kelakuanmu ini pada orang tuaku. Dengan syarat, jangan cari gara-gara lagi dengan Geng Princess! Paham kamu?!" tegas Rebecca dengan mata melotot.


Clarissa langsung membalikkan diri dan meninggalkan kantin. Ia benar-benar dipermalukan di depan semua orang yang menyaksikan perdebatan itu. Ia hanya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu.


Melihat ketua mereka sudah bergegas meninggalkan kantin, ketiga temannya pun langsung menyusul Clarissa.


Tinggal Sharon dan Cecilia yang melihat Rebecca dengan tatapan kagum, sampai Rebecca merasa malu sendiri dan berkata, "Aku mungkin yang paling bodoh di antara kita semua. Aku yang paling jarang menggunakan otakku. Tapi ilmu bisnis dasar seperti itu, aku wajib tau kan? Bagaimana pun, kita sama-sama anak seorang pebisnis. Dia saja yang sepertinya terlalu menyepelekanku."


"Iya, sebenarnya kami juga. Kami tak menyangka kamu akan mengalahkannya dengan cara seperti itu." Cecilia menanggapi pernyataan Rebecca dengan polos.


"Iya, maaf yah, kami sempat meragukanmu." Sharon ikut mengaku.


"Ikh .... Ternyata kalian juga tidak mempercayaiku yah?!" Rebecca mulai merajuk.

__ADS_1


"Tapi kami kan tetap sayang padamu!" sambut Sharon dan Cecilia memeluk Rebecca bersamaan.


...****************...


__ADS_2