Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Rekonsiliasi


__ADS_3

Hari yang baru di minggu yang baru. Kembali dengan semangat baru, Vivian dan teman-temannya menunggu di pelataran gedung sekolah. Sudah 2 hari setiap pagi mereka menunggu kedatangan orang yang mereka puja, walaupun berakhir dengan sia-sia. Tapi hal itu tidak membuat mereka menyerah, karena pagi ini pun mereka masih melakukan hal yang sama dengan harapan yang sama.


Ketika mereka mendengar kabar buruk yang menimpa Sang Pujaan Hati, tentu saja membuat mereka terkejut. Tetapi hal itu tidak membuat rasa kagum mereka surut. Sebaliknya, mereka bersimpati dan makin mendukung agar Si Pujaan Hati bisa kembali di tengah-tengah mereka seperti biasa.


Karena alasan itulah, pagi ini mereka masih menunggu kedatangan orang yang mereka kagumi itu, dengan harapan mereka bisa melihat kehadirannya hari ini. Sampai sebuah Mercedes Benz berwarna hitam datang mendekat dan berhenti di area parkir, yang membuat jantung mereka berdetak lebih cepat penuh harap.


Seperti biasa, tampak Sang Sopir turun dari kursi pengemudi, lalu membukakan kursi untuk penumpang di belakangnya. Sebelum Si Penumpang turun, terlebih dahulu ia membukakan payung untuk menudungi Si Penumpang.


Mata Vivian dan teman-temannya langsung berbinar-binar melihat Si Penumpang yang sekarang sedang berjalan ke arah mereka dengan memegang payung untuk menudungi kepalanya. Orang yang ditunggunya beberapa hari ini telah tiba. Penantian dan harapan mereka kali ini tidak sia-sia.


Dengan bergegas mereka segera berlari mendekat untuk menyapa orang tersebut.


"Selamat pagi, Lady Priscillia, " sapa mereka hampir bersamaan.


Priscillia menghentikan langkahnya dan tertegun melihat mereka. Kemudian Priscillia tersenyum ramah dan membalas sapaan mereka, "Selamat pagi."


"Anda baik-baik saja? Sudah sehat?" tanya Vivian dengan tatapan khawatir.


Priscillia terharu melihat sikap Vivian. Ia tidak menyangka mendapat perhatian seperti itu dari seseorang yang tidak terlalu dikenalnya.


"Sudah. Terima kasih, " jawabnya sambil mengelus kepala adik kelasnya tersebut.


Kembali bola mata Vivian berubah menjadi bentuk hati setelah mendapat perlakuan seperti itu dari pujaan hatinya. Di matanya, Priscillia adalah sosok sempurna dari putri yang ada di bayangannya. Sudah cantik, kaya, pintar, ramah, bertubuh lemah pula. Seorang putri yang tampak tegar, tapi tetap mengundang orang untuk melindunginya.


Priscillia kembali berjalan meninggalkan Vivian dan teman-temannya yang masih berhalu-ria dengan imajinasi mereka di belakangnya. Semenjak ia berjalan menuju pelataran sekolah, Priscillia sudah merasakan tatapan-tatapan dan bisikan-bisikan dari para siswi yang melihatnya. Ada yang menatapnya dengan pandangan iba, ada juga yang melihatnya dengan tatapan mencemooh.


Tetapi diteruskanlah langkahnya dengan kepala yang tetap tegak sampai ke dalam kelas, seolah ia tidak peduli dengan itu semua. Begitu ia membuka pintu kelasnya, dilihatnya para sahabatnya sudah tiba terlebih dahulu.


Ketiga sahabat yang juga melihat Priscillia membuka pintu kelas, segera berhamburan menyambutnya. Mereka sama-sama berebutan bicara.


"Hai! Gimana keadaanmu?"


"Gimana? Sudah sehat?"


"Hai, kamu baik-baik saja?"


Priscillia yang diberondong pertanyaan seperti itu, hanya bisa tertegun, lalu tertawa. "Ya, aku baik-baik saja. Aku sudah sehat," jawabnya.


"Sepanjang perjalanan kemari, bagaimana? Apakah ada yang mencemoohmu atau sejenisnya?" tanya Cecilia.

__ADS_1


"Tidak. Mereka hanya berani bergunjing di belakangku dengan saling berbisik-bisik. Tapi aku bisa menilainya dari tatapan mereka, " kata Priscillia.


"Apakah kamu baik-baik saja dengan itu?" tanya Sharon.


Priscillia tersenyum. "Ya, anehnya aku baik-baik saja, tak seperti yang kukira. Mungkin karena kita sudah sering digunjingkan. Hanya saja kali ini ada tambahan tatapan dikasihani. Tapi ... itu ga masalah bagiku."


"Kamu jadi lebih kuat sekarang, Pris! Baguslah!" kata Rebecca sambil nyengir.


"Berkat kalian. Berkat semua yang masih menerima dan mendukungku. Sekarang aku jadi sadar, walaupun penyakitku terbongkar, ternyata tidak ada yang berubah. Contohnya kalian dan Geng Princess Lovers, tetap memperlakukanku seperti biasa. Mereka yang tidak suka padaku juga tetap sama, hanya berani bergunjing di belakang," jelas Priscillia.


Ketiga temannya langsung lihat-lihatan, lalu tertawa bersama. Priscillia yang tidak mengerti jadi bertanya, "Kenapa kalian mendadak tertawa? Ada yang lucu dari perkataanku?"


"Tidak, Pris. Kami hanya mendadak teringat seseorang yang sangat tidak terduga, kalo dia punya hobi menggunjingkan orang, " jawab Cecilia.


"Iya, Pris. Kamu pasti juga tidak akan menyangka siapa orangnya. Lebih hebatnya lagi, yang bikin dia jera adalah Rebecca, " tambah Sharon.


"Eh? Siapa sih?" tanya Priscillia penasaran.


Bunyi bel masuk pun terdengar.


"Nanti yah kita lanjut ceritanya. Sekarang belajar dulu," kata Rebecca yang segera diledek sok bijak oleh semua sahabatnya.


...****************...


"Kamu ada waktu istirahat ini? Saya diminta memfasilitasi pertemuanmu dengan Pak Joseph. Beliau ingin bicara pribadi padamu, " kata James.


Para anggota Geng Princess saling lihat-lihatan setelah mendengar hal itu. Rebecca bahkan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya.


"Mau bicara apalagi dia?" tanya Rebecca dengan nada sinis.


"Sepertinya beliau mau minta maaf, " jawab James dengan tenang.


"Baiklah. Sesungguhnya saya juga berhutang maaf pada beliau. Tolong pertemukan kami, Pak, " putus Priscillia akhirnya.


"Boleh kami ikut?" tanya Rebecca.


"Boleh. Ikut mengantar saja yah ..." jawab James.


Tanpa menunggu lebih lama, James memimpin mereka ke ruang guru untuk menemui Pak Joseph. Di sana, Pak Joseph sudah duduk di meja kerjanya yang berada di samping tempat James.

__ADS_1


Melihat iring-iringan tersebut, Pak Joseph sudah mengerti kalau James berhasil mengajak Priscillia untuk berbicara dengannya. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya lalu bersama-sama mereka pergi ke ruang BK.


Di ruang BK, James menyerahkan kursi kebesarannya pada Pak Joseph, sedangkan Priscillia duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Silakan gunakan ruang ini dan silakan berbicara dengan tenang. Saya ada di luar jika kalian membutuhkan sesuatu. Anak-anak ini akan saya bawa agar tidak mengganggu pembicaraan kalian. Boleh saya permisi sekarang?" tanya James pada Pak Joseph dan Priscillia.


"Terima kasih, Pak James, " kata Pak Joseph dengan perasaan tidak enak hati, karena sudah merepotkan James.


"Iya, Pak. Titip mereka dulu yah .... Saya akan menyusul setelah pembicaraan ini selesai. Teman-teman, minta waktunya sebentar yah ... " kata Priscillia kepada James dan teman-temannya.


Cecilia, Sharon, dan Rebecca mengangguk sebagai jawaban. Bagaimanapun, mereka harus menghormati keputusan dan privasi Priscillia. Tak lama kemudian, mereka keluar dari ruang BK bersama James.


Mereka menunggu pembicaraan kedua orang itu sambil duduk-duduk di balkon lantai dua, sambil menikmati pemandangan sekolah di bawahnya.


"Apalagi sih yang masih mau dibicarakan, sampai harus ada pembicaraan pribadi segala? Kalau mau minta maaf, langsung minta maaf aja." Rebecca masih menggerutu tentang pertemuan kedua orang tersebut.


"Tidak bisa begitu. Bagaimanapun, Pak Joseph masih guru kalian. Ia masih harus menjaga wibawanya di depan kalian, kan? Dengan ia berani bersikap gentle meminta maaf langsung pada Priscillia saja, buat Bapak, itu adalah sikap kesatria lo. Jarang ada guru yang mau merendahkan dirinya seperti itu di depan muridnya." James membela Pak Joseph.


Mendengar itu, Rebecca terdiam. James pun melanjutkan kalimatnya.


"Priscillia sendiri juga menyadari kalau ada andilnya sehingga kejadian ini terjadi, bukan murni kesalahan Pak Joseph. Jadi, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan tenang yah ..." bujuk James.


Beberapa saat berlalu, tanpa ada yang berbicara di antara mereka. Masing-masing seolah sedang asyik menikmati pemandangan di depan mereka. Sampai akhirnya, kembali Rebecca membuka suaranya, "Jadi akhirnya Pak James merelakan Priscillia dengan Pak Joseph?"


"Pancinganmu tak akan berhasil, Rebecca! Sudah saya bilang, saya tidak melihat Priscillia seperti itu!" jawab James yang membuat Rebecca nyengir karena siasatnya ketahuan.


"Kalau Priscillia yang nyaris sempurna saja Bapak tidak suka, jadi tipe perempuan yang Bapak sukai seperti apa?" Cecilia jadi ikut-ikutan kepo.


"Tipe yang berlawanan dengan kalian, Geng Princess. Tidak ada di sini. Jadi lebih baik, kalian hentikan usaha kalian bermain biro jodoh dengan saya yah ..." kata James yang mulai jengah dan ingin segera menghentikan arah pembicaraan tersebut.


"Tipe yang berlawanan dengan kami ... dan tidak ada di sini .... Seperti Celine?" tanya Sharon tiba-tiba.


Boommm !!! Tanpa sadar muka James langsung memerah mendengar tebakan Sharon.


"Eeehhhh .... Ternyata benar yah?" goda Rebecca yang melihat respons James.


"Sudah! Sudah! Jangan bahas urusan Bapak! Kalian ini memang benar-benar yah !!" James segera menghentikan pembicaraan.


Ketiga muridnya langsung tertawa melihat tingkah guru mereka yang masih polos ini.

__ADS_1


Dalam hati, James memaki-maki dirinya yang tidak hati-hati dalam memilih perkataan. Ia sempat lupa, kalau murid-muridnya ini adalah murid yang pintar dan kritis!


...****************...


__ADS_2