
Malam ini Darrell akan kembali ke kotanya. Sorenya, ia berjalan-jalan di sebuah mal sambil menunggu waktu makan malam. Niatnya ia sekalian mencari oleh-oleh untuk para anak buahnya di divisinya. Hitung-hitung bisa jadi pelicin agar anak buahnya lebih rajin.
Matanya menjelajah ke kanan-kiri, melihat toko-toko yang memajang barang dagangan mereka. Ia mencari toko oleh-oleh yang menjual makanan ringan atau kue yang menjadi produk khas dari kota ini.
Ketika sedang asyik memperhatikan kiri-kanannya, tiba-tiba dari arah belokan di depannya, muncul seorang wanita dengan kecepatan agak tinggi. Benturan pun tidak terelakkan. Kepala wanita itu sukses menyeruduk dada Darrell.
"Maaf .... Saya sedang terburu-buru, " kata wanita itu.
Namun sedetik kemudian, keduanya terperanjat melihat wajah orang yang baru saja bertabrakan dengannya ternyata cukup familiar.
"Kamu ..." kata Si Wanita menunjuk Darrell.
"Fille qui bave ..." (arti: Gadis ileran) kata Darrell juga mengenali Si Wanita.
Wajah Cecilia langsung bersemu merah dan mulutnya langsung merengut mendengar panggilan yang mengingatkan peristiwa memalukan dalam hidupnya itu.
"Vous n'avez pas d'autres appels pour moi?" (arti: Kamu ga punya panggilan lain untukku ?) tanya Cecilia dengan ekspresi ala Badtz-Maru.
Darrell yang melihat respons gadis di depannya atas panggilan spontannya, hanya bisa tertawa. Dan kembali, Cecilia terpesona dengan tawa Darrell.
Memang, dari semenjak masa remajanya di mana Cecilia mulai mengenal yang namanya romansa, setahun ini merupakan waktu terlamanya di mana ia tidak memiliki kekasih. Wajah yang cukup cantik, kekuasaan orang tua yang menggoda, disertai karakter ramah dan easy going, membuat Cecilia tidak pernah kekurangan pria dalam kehidupannya.
Cecilia bebas memilih pria manapun dari barisan penunggunya. Selama pria itu berwajah tampan ala aktor atau boy band, mereka berhak masuk dalam antrean. Tidak peduli karakternya seperti apa.
Hanya saja dalam setahun ini semenjak ia putus dari kekasihnya yang terakhir di Prancis, ia tidak bersemangat dalam mencari pengganti. Entah ia sudah lebih dewasa dalam memandang hubungan pria-wanita, atau karena ia mulai disibukkan dengan aktivitas pascakelulusan, atau bisa jadi karena standar prianya yang naik sejak bertemu Darrell.
Cecilia memang sudah memutuskan untuk melupakan pertemuannya dengan Darrell. Toh ia berpikir bahwa ia tidak akan bertemu dengan pria itu lagi. Apalagi pertemuan tersebut diiringi kejadian yang menjadi aib dalam hidupnya.
Kendati demikian, tetap saja peristiwa itu tidak mudah dienyahkan dari pikirannya. Kesan yang melekat terlalu kuat. Mungkin karena Darrell adalah pria pertama yang bisa membuat perasaannya turun-naik dalam waktu yang sangat singkat, atau bisa juga karena Darrell lah pria tampan pertama yang mendapati dirinya dalam kondisi memalukan.
__ADS_1
Entahlah .... Cecilia tidak pernah terlalu memikirkannya. Toh kejadian itu hanya sesekali saja berkelebat di dalam pikirannya.
Karena itulah, ia sangat tidak menduga bahwa ia akan kembali bertemu dengan Darrell. Ditambah fakta bahwa ternyata pria itu juga masih mengingatnya, lengkap dengan kejadian memalukan yang sekarang disematkan pria itu sebagai titel untuk memanggilnya. Namun bodohnya, tetap saja ia masih bisa terpesona dengan senyum tampan yang terpampang di hadapannya.
"Alors, pourquoi êtes-vous pressé ?" (arti: Jadi, mengapa kamu terburu-buru ?) Sebuah pertanyaan yang diucapkan Darrell membuat Cecilia sadar akan situasi darurat yang sedang ia alami.
"Connaissez-vous l'installation électrique?" (arti: Apakah kamu mengerti tentang instalasi listrik ?) tanya Cecilia.
"Un petit peu, " (arti: Sedikit) jawab Darrell spontan.
"Bien alors. Maintenant, aidez-moi s'il vous plaît!" (arti: Baguslah kalau begitu. Sekarang, tolong bantu aku !) ujar Cecilia sambil menyambar tangan Darrell, lalu menariknya untuk mengikutinya tanpa meminta persetujuan yang bersangkutan terlebih dahulu.
Darrell yang belum siap hanya bisa pasrah membiarkan dirinya ditarik Cecilia. Sejenak ia sempat tergoda untuk menepis tangan gadis itu dan menolak mengikutinya karena ia juga punya urusan lain. Namun melihat Cecilia yang terburu-buru dan sedikit cemas, ia memilih meluangkan waktunya sedikit untuk melihat apa yang terjadi dengan gadis itu. Toh ia pikir ia juga tidak dalam kondisi terburu-buru.
Gadis itu membawanya ke sebuah butik kecil yang tidak jauh dari belokan di mana tadi mereka berbenturan. Butik itu gelap. Dan kegelapan itu semakin kontras jika dibandingkan dengan toko-toko lain yang masih menyala terang di area itu.
Darrell menyempatkan diri untuk melihat nama butik tersebut. Ia tersenyum sendiri melihat adanya ironi antara nama yang digunakan dengan situasi yang terjadi. Alih-alih éblouissant memancarkan kilauan yang menyilaukan, butik ini malah gelap akibat adanya gangguan listrik. (Noted: Arti éblouissant adalah 'menyilaukan', sama dengan arti nama Cecilia dalam bahasa Jerman - eps 146)
J'ai signalé ce problème à la direction du centre commercial afin qu'il puisse être suivi. Mais jusqu'à présent aucune action de leur part. (arti: Aku sudah mengadukan masalah ini pada pihak manajemen mal agar bisa ditindaklanjuti. Tetapi sampai sekarang tidak ada tindakan dari mereka)
Mes clients quittent lentement la boutique car ils ne sont pas à l'aise pour faire leurs courses dans le noir. C'est pourquoi j'étais pressé de demander de l'aide. J'avais l'intention d'essayer de trouver un agent de sécurité. (arti: Pelangganku perlahan-lahan meninggalkan butik karena tidak nyaman berbelanja di tengah kegelapan. Karena itulah tadi aku terburu-buru untuk mencari pertolongan. Rencananya tadi aku mencoba mencari satpam)
Maintenant, pouvez-vous m'aider à enquêter sur le problème?" (arti: Sekarang, bisakah kamu membantuku untuk menyelidiki masalahnya ?) tanya Cecilia setelah menceritakan apa yang terjadi.
"Où est l'interrupteur principal?" (arti: Di mana letak saklar utamanya ?) tanya Darrell.
"Ici, " (arti: Di sini) jawab Cecilia sambil mengajak Darrell ke arah pojok depan toko.
Para karyawan wanita yang melihat bos mereka kembali dengan membawa seorang pria asing, hanya bisa terdiam saling pandang penuh makna satu sama lain. Apalagi ketika mereka mendengar Si Bos berbicara dengan pria itu dengan bahasa yang aneh di telinga mereka.
__ADS_1
Darrell melihat saklar dalam kondisi turun. Dinaikkannya saklar tersebut. Untuk sesaat lampu menyala. Namun tiba-tiba BLEB, lampu kembali padam.
Darrell kemudian memperhatikan alur kabel listrik yang keluar dari saklar utama. Rangkaian kabel itu mengarah ke atas plafon dan menghilang di sana.
"Où est le trou du plafond ?" (arti: Di mana letak lubang plafon ?) tanya Darrell lagi.
"Ah .... Dans ce cas, ici!" (arti: Ah .... Kalau itu, di sini !) jawab Cecilia sambil mengarahkan Darrell ke dalam salah satu kamar yang sepertinya ruang untuk karyawan. Di salah satu sudut langit-langit, nampak plafon yang bisa dibuka.
Darrell melihat ada tangga yang tersandar di ruang tersebut. Ia mengambil tangga itu dan mendirikannya di bawah plafon. Ia lalu menaiki tangga, membuka plafon di atasnya, menyalakan senter dari HP-nya, kemudian menghilang di balik langit-langit.
Hampir sekitar sepuluh menit kemudian, Darrell menjulurkan kepalanya dari lubang plafon. "Une bande ?" (arti: Ada selotip ?) tanyanya.
"Ce, " (arti: Ini) kata Cecilia sambil memberikan barang yang diminta.
Setelah mengambil selotip tersebut, Darrell kembali menghilang di balik langit-langit.
Sepuluh menit kemudian, kepala pria tampan itu kembali melongok ke bawah. "Essayez maintenant d'allumer l'interrupteur principal!" (arti: Sekarang coba nyalakan saklar utamanya !) katanya.
Mendengar itu, Cecilia bergegas keluar toko, lalu menaikkan tuas saklar. Voila, setiap lampu di butik pun menyala. Cecilia sempat menunggu beberapa saat, menunggu kemungkinan lampu akan padam kembali. Tetapi setelah menunggu sekian lama, sepertinya yang dikhawatirkannya tidak terjadi.
Cecilia kembali ke dalam. Rupanya Darrell sudah turun dari langit-langit. Ia sedang menepuk-nepuk bajunya yang sekarang berdebu akibat penjelajahannya di atas plafon barusan.
"Auparavant, il y avait des câbles qui étaient décollés et se touchaient, c'est pourquoi il y avait un court-circuit électrique. C'est sûr maintenant, non?" (arti: Tadi ada kabel yang terkelupas dan saling bersentuhan, makanya terjadi korsleting listrik. Sekarang sudah aman, kan ?) tanyanya ketika melihat Cecilia sudah kembali.
"Oui. Merci. Désolé de vous déranger" (arti: Iya. Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu) jawab Cecilia dengan tulus.
"C'est bon, " (arti: Gapapa) balas Darrell dengan gaya acuh tak acuhnya yang biasa. Toh sekali-sekali berbuat kebaikan tidak ada salahnya, kan? Sekarang, setelah urusannya di sini sudah selesai, ia berniat kembali fokus dengan urusannya.
Namun rencana tinggallah rencana. Dugaannya salah. Cecilia masih akan merepotkannya lagi.
__ADS_1
...****************...