Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Masa Lalu Joseph (1)


__ADS_3

Sore ini, seperti biasa Joseph menjemput ibunya yang baru saja melakukan cuci darah di RS. A. Berhubung kondisi ibunya cukup baik, saat ini mereka sedang menunggu bus yang akan mereka tumpangi datang di halte bus yang ada di depan RS.


Saat sedang menunggu, matanya menangkap sosok yang dikenalnya sedang keluar dari area RS dan menyeberangi zebra cross menuju seberang jalan. Ia mengerjapkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tidak butuh waktu yang lama, dirinya sudah yakin siapa yang baru saja dilihatnya.


Sosok itu adalah Priscillia. Tidak sulit untuk mengenali gadis itu. Wajah dan perawakannya tidak terlalu berubah dari terakhir kali ia melihatnya. Hanya pakaian yang dikenakannya yang menunjukkan Priscillia sekarang adalah seorang pekerja dan bukan lagi remaja pelajar.


Namun yang membuatnya makin yakin adalah, hanya gadis itu yang mengenakan payung untuk menaungi dirinya di sore hari yang cerah seperti ini. Padahal matahari sudah mulai condong dan tidak lagi memancarkan sinar teriknya. Hal ini pasti ia lakukan karena penyakitnya.


Walaupun Joseph sempat terkejut dengan kehadiran Priscillia yang tiba-tiba dilihatnya di kota ini, namun sebenarnya hal itu juga bukan sesuatu yang mencengangkan. Bukankah RS ini adalah RS yang bernaung di bawah yayasan yang dipimpin orang tua gadis itu? Jadi, tidak mengherankan jika suatu saat Priscillia bisa ada di sini, kan?


Apalagi ia ingat bahwa gadis itu pernah mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Mungkin cita-cita itu sudah terwujud atau nyaris terwujud, dilihat dari waktu yang sudah berlalu.


Jantung Joseph berdegup makin kencang dan perasaan bersalahnya muncul kembali. Ia teringat tindakan pengecutnya yang pasti sudah menyakiti gadis itu.


Tanpa dapat berbuat atau berkata apapun, Joseph hanya bisa memandangi punggung Priscillia yang menjauh. Mungkin memang lebih baik begini. Gadis itu tidak perlu menyadari bahwa mereka sekarang ada di kota yang sama.


****************

__ADS_1


Malam ini, Joseph tidak bisa tidur. Pikirannya masih melayang-layang. Kejadian sore tadi di mana ia melihat Priscillia, membangkitkan kenangan masa lalunya. Perjalanan hidupnya tiba-tiba berputar di ingatannya bak sebuah film yang sedang ditayangkan.


Dari kecil, Joseph memiliki kemampuan olahraga yang sangat baik. Hampir semua olahraga ia kuasai. Ketangkasan, kecepatan, stamina, semua hal yang wajib dimiliki seorang atlet, seolah dianugerahkan padanya. Banyak orang yang mengatakan bahwa ia dilahirkan untuk menjadi seorang olahragawan. Perkataan itu lah yang memotivasinya untuk benar-benar mewujudkan hal itu sebagai cita-citanya.


Sejak SD, Joseph sering ditunjuk untuk mengikuti lomba mewakili sekolahnya. Lomba yang ia ikuti pun beragam, baik olahraga beregu maupun olahraga individu. Ia pun menjadi kebanggaan sekolahnya karena banyak menyabet piala kejuaraan.


Sebagai seorang bintang lapangan dalam berbagai cabang olahraga, dengan mudah Joseph memasuki SMP bergengsi lewat jalur prestasi. Namun ternyata roda kehidupan tidak berjalan secantik dan semulus saat ia berada di bangku SD. Kemalangan dan ketidakadilan kehidupan mulai melanda hidupnya.


Dimulai dari ayahnya yang meninggalkan rumah karena terjerat dengan wanita lain. Tidak ada harta yang ditinggalkan oleh Sang Ayah kecuali sebuah rumah kecil dan setumpuk hutang. Ibunya terpaksa bekerja membanting tulang untuk membiayai kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya. Namun untunglah, berkat bakat olahraga Joseph, biaya pendidikan dapat dikurangi hampir separuhnya karena ia mendapat beasiswa.


Walaupun masalah ekonomi tidak terlalu menghalangi kesempatannya untuk mendapatkan pendidikan, namun hal itu rupanya mempengaruhi jalan mencapai mimpinya. Banyak dari anak-anak yang bersaing di bidang yang sama dengan Joseph, mengikuti klub-klub olahraga terkenal yang sudah banyak mencetak atlet profesional.


Ia bersyukur masih dapat terlibat dalam cabang olahraga beregu. Di sana kemampuannya masih menonjol karena ia mendapat pelatihan yang sama dengan teman satu timnya. Ia masih menjadi pemain andalan yang dapat menghantarkan SMP mereka meraih kemenangan di tingkat provinsi.


Namun kemujurannya tidak bertahan sampai di tingkat SMU. Di sinilah ia kembali belajar kenyataan pahit bahwa uang, status, kekuasaan, dan relasi dapat mengalahkan bakat seseorang.


Seiring dengan keberhasilannya meraih kejuaraan di berbagai tingkat daerah, tingkat persaingan yang Joseph hadapi semakin tinggi. Banyak atlet-atlet SMU berbakat saling bersaing untuk dipilih mengikuti pelatihan tingkat nasional. Masing-masing klub olahraga dan sekolah mengirimkan wakilnya masing-masing. Tidak terkecuali SMU tempat Joseph berada.

__ADS_1


Uang, status kekuasaan, koneksi dan relasi kembali memainkan peranan. Ada beberapa peserta yang bermain lewat jalur belakang agar dapat dipilih oleh panitia. Belum lagi terkadang para peserta harus menyiapkan biaya konsumsi, akomodasi, dan transportasi sendiri. Joseph tidak sanggup memenuhi semua itu. Dengan demikian peluang Joseph untuk berlaga pun makin lama makin hilang.


Kesehatan ibunya yang makin memburuk membuat Joseph tidak dapat fokus lagi mengejar impiannya. Ia mulai mengambil kerja sambilan untuk membantu ekonomi keluarga. Karena itu acapkali ia jadi terlambat atau bahkan terpaksa bolos latihan olahraga yang diadakan tim-nya. Hal ini mengurangi nilai kedisiplinannya sebagai seorang atlet di mata Sang Pembina. Sejak itu, Joseph tidak lagi diturunkan dalam kejuaraan manapun.


Joseph sadar, ia mungkin harus mengubur impiannya menjadi atlet. Pahitnya kehidupan dan kenyataan tidak dapat ia lawan. Ia hanya bisa menerima kenyataan dengan lapang dada.


Namun kecintaannya terhadap olahraga tidak berhenti di sana. Dengan keringatnya sendiri, ia berusaha membiayai kuliahnya di jurusan Pendidikan Olahraga. Dalam waktu empat tahun, gelar Sarjana Pendidikan ia raih. Karir barunya sebagai guru olahraga pun dimulai.


Pengalaman pertamanya mengajar adalah di sebuah SMU yang cukup ternama. Awalnya semuanya menyenangkan dan baik-baik saja. Tetapi seperti biasanya, setiap sekolah pasti memiliki murid-murid yang menjadi penguasa sekolah. Dan di SMU ini, Sang Penguasa terdiri dari gerombolan murid-murid pria yang suka memalak adik-adik kelasnya.


Tanpa sengaja, Joseph melihat kejadian tersebut. Jiwa keadilannya bangkit. Ia tidak dapat membiarkan perilaku tersebut merajalela tanpa pernah ditindaklanjuti. Ia pun menegur para murid penguasa itu.


Gerombolan murid pelaku pemalakan tersebut, memandang remeh Joseph yang merupakan seorang guru baru. Bukannya takut, mereka malah dengan kurang ajarnya meminta Joseph mundur dan menutup mata dan telinganya. Tentu saja Joseph tidak bersedia. Karena marah, mereka pun menyerang Joseph.


Sayangnya mereka tidak mengenali lawan mereka lebih dahulu. Mereka tidak sadar bahwa Joseph adalah seseorang bersabuk biru yang pernah menjuarai karate di tingkat kabupaten. Baginya, melawan tiga sampai empat orang awam yang asal menyerang dengan kalap, bukanlah sesuatu yang sulit ia atasi. Pertandingan tidak imbang itu pun segera berakhir dengan kemenangan Joseph.


Naas baginya, peristiwa itu tidak berakhir di sana. Dengan memanfaatkan kekuasaan orang tua masing-masing, fakta pun terpuntir. Status pelaku dan korban kekerasan jadi terbalik. Keahlian Joseph dan statusnya sebagai guru olahraga, menjadi bumerang bagi Joseph. Joseph dituduh melakukan tindakan pendisiplinan yang berlebihan. Akibatnya, Joseph dikeluarkan dari sekolah.

__ADS_1


Sekali lagi Joseph dihadapkan bahwa status kekuasaan dapat menginjak kebenaran. Ia sudah terlalu sering menerima ketidakadilan berkenaan dengan hal itu. Di sini lah ia mulai membenci anak-anak tidak berkemampuan yang hanya bisa memegahkan diri lewat latar belakang kejayaan, kekayaan, dan kekuasaan orang tuanya.


...****************...


__ADS_2