
Setelah semua orang sudah berada di ruang keluarga, keluarga Om Andre lah yang pertama kali mendatangi Celine dan keluarga Wijaya untuk mengucapkan selamat.
"Selamat atas pertunangan kalian, Celine dan James ..." kata Andreas Adipratama sembari menyalami sepasang kekasih itu.
"Terima kasih, Om ..." jawab keduanya.
"Selamat untuk kita semua .... Semoga kita bisa rukun satu sama lain, " kata Andreas lagi sambil menyalami satu per satu keluarga Wijaya dengan ramah.
"Amin ..." jawab setiap anggota keluarga Wijaya dengan canggung, membalas salam tersebut.
Inilah sosok Om Andre yang pernah diceritakan Celine saat ia baru kembali ke tengah keluarga Wijaya setelah sekian lama ia menghilang. Sosok adik yang menikam kakaknya dari belakang demi kekuasaan. Sosok paman yang dengan tega menjegal keponakannya sendiri dengan cara-cara licik.
Memang, sekarang ini tidak ada lagi cerita Celine mengenai usaha pamannya untuk menjatuhkannya. Sepertinya semenjak Celine ditetapkan sebagai pewaris yang sah, keadaan perusahaan menjadi aman-aman saja. Mungkin Sang Paman sudah menyerah dan akhirnya memilih bekerja sama demi kemajuan perusahaan.
Tetapi buat mereka, lebih baik berjaga-jaga dari orang seperti itu. Lebih baik jangan terlalu dekat dan bergaul dalam jarak aman, karena yang namanya karakter tidak semudah itu dapat berubah. Siapa tahu saja ada yang ia sembunyikan di balik sikap ramahnya.
Andreas Adipratama lalu melanjutkan ucapan selamatnya kepada Sang Kakak. "Selamat atas pertunangan putrimu, Kak."
"Terima kasih ..." sahut Adrian Adipratama dengan santai.
Di sisi lain, istri dan putra Andreas juga melakukan hal yang sama kepada Celine dan keluarga Wijaya, mengikuti tingkah laku Sang Kepala Keluarga.
"Selamat yah ..." kata Rosita tanpa senyum menyalami mereka. Lebih seperti sebuah basa-basi belaka, jauh dari kata ketulusan apalagi kehangatan.
__ADS_1
"Terima kasih, Tante ..." jawab Celine dan James, diikuti ucapan terima kasih dari anggota keluarga Wijaya yang lain.
Tak ubahnya dengan Darrell. Pemuda itu hanya mengekori tingkah laku ibu tirinya, bahkan lebih parah. Ia hanya mengulurkan tangan sebagai bentuk ucapan selamat tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Raut wajahnya datar. Tak ada tanda-tanda ia ikut berbahagia. Bagi orang-orang yang peka, pasti dapat membaca keengganan di wajahnya, seperti orang yang dipaksa hadir di tempat yang tidak diinginkan.
Salah satunya yang dapat membaca keengganan itu adalah Celine. Sebagai orang yang tahu kisah hidup Darrell, ia cukup mengerti apa yang dirasakan pemuda itu.
Masih teringat di benaknya beberapa pertemuan mereka yang dapat dihitung dengan jari semenjak mereka masih kecil di acara keluarga Adipratama. Mereka berdua memiliki aura yang sama, aura diasingkan. Bedanya, Celine kecil selalu menyendiri dan bersembunyi di balik punggung kakaknya. Sedangkan Darrell kecil hanya bisa bertahan sendirian, mencoba mengimbangi arus kehidupan dengan kekuatannya sendiri.
Setelah mengucapkan selamat kepada kakaknya, Andreas lalu mengambil dua buah gelas koktail yang tersedia di salah satu meja minuman. Satu gelasnya ia berikan kepada Adrian. Lalu keduanya mulai memisahkan diri dan mencari tempat untuk mengobrol.
Rosita yang menyadari itu, segera menyusul suaminya. Darrell pun mengikuti langkah Rosita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
"Kulihat dirimu sekarang sudah banyak berubah, Kak. Setauku Kakak yang dulu hanya memilih barang dengan kualitas terbaik, apalagi untuk dikenakan di acara resmi atau acara besar seperti ini, " kata Andreas sambil melirik pakaian kakaknya.
Ini hanyalah balasan kecilku untuk anak itu. Apa salahnya aku mengikuti keinginannya untuk memakai baju ini sebagai seragam? Toh tujuannya baik, untuk menjaga perasaan orang lain. Bukan begitu?" Adrian Adipratama balik bertanya.
"Kakak tidak takut direndahkan? Kepala keluarga Adipratama yang terhormat memakai pakaian kualitas standar?" pancing Andreas.
Mendengar itu, Adrian Adipratama terbahak. "Siapa yang berani merendahkanku, Dik? Mau memakai baju apapun, aku tetap kepala keluarga Adipratama yang terhormat. Tidak ada yang berani bersinggungan denganku, apalagi hanya karena masalah baju."
Mendengar itu Andreas Adipratama hanya bisa terdiam. Ada hal yang kurang ia setujui dari cara berpikir Si Kakak. Tetapi ia tidak berani mengutarakan pendapatnya. Pada akhirnya, ia termasuk dalam kelompok orang yang tidak berani berhadapan langsung melawan Sang Kakak.
Untunglah keheningan itu segera berlalu. Sebagai tuan rumah yang baik, Adrian Adipratama mencoba mengganti topik pembicaraan dan melibatkan istri dan putra Sang Adik yang sudah bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Setelah keluarga pamannya, sekarang giliran keluarga bibinya yang mengucapkan selamat. Berbeda dengan keluarga sebelumnya, satu per satu anggota keluarga itu mengucapkan selamat kepada Celine dan keluarga Wijaya dengan penuh keramahan. Setiap wajah dihiasi oleh senyuman.
Bahkan bibinya tidak hanya mengucapkan selamat, tetapi juga mencoba mengadakan pembicaraan lebih lanjut dengan keluarga Wijaya. "Bagaimana kalau kita juga mencari tempat duduk agar kita dapat berbincang dengan nyaman?" usul Tante Airin kepada Mama Ratna.
Ajakan seperti ini tidak diduga oleh Mama Ratna dan Papa Heru. Mereka tidak berharap terlalu tinggi untuk mendapatkan sambutan hangat. Selama tidak direndahkan dan tidak terjadi keributan, itu sudah cukup. Mereka sadar diri dengan perbedaan status yang membentang jauh di antara mereka dan keluarga Adipratama.
Belum sempat ia menjawab, Sonia sudah memotong pembicaraan mereka. "Ma .... Boleh kami yang anak muda memisahkan diri? Sepertinya lebih nyaman jika kami membentuk grup ngobrol sendiri, " usulnya kepada Sang Ibunda.
"Tentu saja boleh. Memang anak muda lebih baik mengobrol dengan sesama anak muda, " kata Tante Airin menjawab pertanyaan putrinya.
"Yuk, Lin ...." Sonia menggandeng tangan Celine seperti layaknya seorang saudara sepupu yang akrab. Diikuti dengan Sonic, James, dan keluarga kecil Alex, mereka mencari tempat duduk lain di ruang keluarga yang besar itu. Akhirnya mereka memilih duduk di sofa yang paling pojok, yang berbatasan dengan halaman belakang.
Gorden besar yang menutup pintu kaca sedang dibuka, menampilkan keindahan halaman belakang yang sekarang dihiasi lampu-lampu seperti layaknya sebuah pesta kebun. Gazebo yang ada di sana pun sudah dihias, siap dijadikan tempat berkumpul bagi yang mau bersantai dan mengobrol di sana.
Sejujurnya Alex agak malas untuk ikut serta dalam pembicaraan grup anak muda. Ia lebih memilih mendampingi orang tuanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu dalam pembicaraan, entah ketidaksinambungan ataupun sesuatu yang berpotensi menyinggung. Bagaimanapun, hanya dialah yang memiliki latar belakang bisnis di antara keluarganya.
Tetapi karena keluarganya sudah dipecah seperti ini, ia memilih mendampingi James sebagai seseorang yang berasal dari generasi yang sama. Lagipula jika melihat sikap Tante Airin tadi, sepertinya lebih aman meninggalkan kedua orang tuanya daripada meninggalkan James. SEPERTINYA, sekali lagi Alex hanya bisa mengamini kata tersebut dan berdoa semoga dugaannya benar.
Alex sempat menangkap senyum mengejek dari Sonia dan Sonic saat makan malam tadi. Dan hal itu sedikit-banyak membuatnya khawatir. Alasan ini lah yang menguatkan Alex untuk memilih berada di sisi James.
Malam belum berakhir. Di tengah berbagai kepentingan dan perasaan yang terpendam di hati setiap orang, acara keakraban keluarga besar Adipratama masih diusahakan terjalin. Dapatkah malam ini berlalu dengan baik-baik saja sesuai harapan? Ikuti terus ceritanya yah ....
...****************...
__ADS_1