Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Berakhirnya Sebuah Janji ?


__ADS_3

Setelah mandi, James segera mengurus tiket pesawat untuk dirinya dan Celine. Karena Celine juga ingin membawa furry, mereka harus lebih awal ke bandara untuk mengurus sertifikat karantina agar furry diizinkan ikut terbang.


Sesampainya di bandara, James dan Celine segera menuju kantor karantina bandara. Setelah memastikan urusan furry selesai, gantian mereka yang check in dan mengurus bagasi Celine. Kemudian, mereka kembali ke lobi bandara untuk menemui keluarga mereka yang masih menunggu di sana.


"Gimana? Sudah beres semua?" tanya Papa Heru.


"Sudah, Pa. Tinggal tunggu waktu boarding aja, " jawab James.


Mama Ratna melihat Celine dengan mata berkaca-kaca. "Celine baik-baik, yah .... Ingat, Celine punya kami di sini .... Kalau ga tahan, kesini lagi aja. Kabari Mama ya, Nak ...."


"Iya, Ma." Celine menjawab dengan tersenyum, lalu memeluk Mama Ratna.


Air mata menggenang di pelupuk mata keduanya. Ternyata, perpisahan merupakan hal yang berat bagi mereka, walaupun sementara.


"Sudah, sudah! Jangan menangis! Justru kita harus menyemangati Celine, karena dia sudah berani melakukan hal yang benar, sekalipun sukar!" kata Papa Heru yang tidak mau terlalu terbawa perasaan.


"Ih, Papa ga ngerti ..." sewot Mama Ratna.


"Papa ngerti kok. Tapi Papa ga mau segala perasaan ini malah memperberat langkah Celine. Papa pengen Celine berjuang dengan bersemangat! Biar Celine selalu ingat, kalau kita semua di sini selalu ada untuk mendukungnya. Begitu ya, Nak ..." jelas Papa Heru sambil mengelus kepala Celine.


"Iya, Papa," jawab Celine sambil menghapus air matanya agar tidak menetes.


Tong Ting Teng Tong .... Mohon Perhatian! Penumpang pesawat AA Air dengan nomor penerbangan ZZ909 tujuan kota J, dipersilakan naik ke pesawat udara melalui pintu nomor 1. Terima Kasih ! Terdengar pengumuman di bandara.


"Tuh, itu nomor penerbangan kami! Kami pergi dulu ya, Pa, Ma, Bang!" pamit James kepada keluarganya.


Untuk terakhir kalinya, semuanya kembali memeluk Celine sebagai tanda perpisahan sementara.


"Hati-hati yah ..." pesan Papa Heru.


"Jaga Celine sampai tujuan ya, James ..." kata Mana Ratna dengan air mata yang sudah menggenang kembali.


"Iya, Ma. Tenang aja, Ma, Pa!" jawab James.


Alex pun tidak ikut ketinggalan memeluk adiknya. Lalu berkata sambil berbisik, "Papanya Celine jangan lo ajak gelut ya, bro !"


"Lo kira gua gila apa, Bang?!" jawab James sambil berbisik pula.


Tak lama kemudian, Celine dan James meninggalkan lobi bandara dan siap menuju kota asal Celine.


...****************...


Perjalanan menjadi suatu penyiksaan bagi Celine dan James. Sepanjang penerbangan selama kira-kira satu setengah jam itu, mereka lewati dalam kebisuan.


Karena setelah mandi James sudah disergap dengan sekian banyak urusan, ia bisa mengalihkan kacaunya perasaan dan sakit kepalanya. Tapi setelah semuanya selesai, semua beban tersebut kembali menekannya. Ia hanya bisa berdiam dan menahannya sambil menutup mata.

__ADS_1


Melihat James yang demikian, Celine juga hanya bisa terdiam. Terkadang sesekali ia mencoba melirik James, tapi posisi James tidak berubah. James tetap duduk dengan kepala tersandar di kursi dan mata terpejam.


Sampai akhirnya pesawat mereka mendarat dan mereka mengambil bagasi Celine dan furry. Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Celine dengan taksi bandara. Namun sebelum itu, Celine terlebih dahulu menghubungi Mbok Yani.


Ketika taksi tiba di depan rumah, Mbok Yani sudah menunggu mereka.


"Mbok ..." panggil Celine.


"Nona ..." sambut Mbok Yani.


Kedua perempuan yang berbeda generasi itu langsung berpelukan. Sedangkan James membantu sopir menurunkan koper Celine dan furry dari bagasi. Tak berapa lama, taksi pun melaju meninggalkan mereka.


"Siang, Mbok ..." sapa James.


"Nak James ..." balas Mbok Yani dengan mata berkaca-kaca memandang pemuda ini.


Mbok Yani tersadar kalau mereka masih di luar rumah, karena itu Mbok Yani mengajak mereka masuk ke dalam, "Ayo... ayo... Kita masuk ke dalam saja. Ayo, Nak James .... Masuk dulu ...."


"Ga, Mbok. Saya sampai di sini saja, " jawab James. Mendengar itu Celine dan Mbok Yani tertegun.


"Tuan Besar masih di Rumah Sakit, Nak ..." terang Mbok Yani, menyangka itulah alasan James menolak masuk.


"Iya, Mbok. Saya tau. Tapi saya ke sini cuma untuk mengantar Celine, " jawab James lagi.


James menyadari sikap Celine yang masih menghindarinya. Ia hanya bisa tersenyum pahit.


"Sudah yah, Lin .... Bang James sampai di sini aja yah .... Selanjutnya, Celine bisa sendiri, kan?" tanya James pada Celine.


"Iya. Nanti Celine bisa tanya Om Andre di RS mana papa dirawat, " jawab Celine dengan kepala yang masih tertunduk.


"Ya sudah. Bang James pamit dulu yah .... Celine bae-bae yah ..." sahut James sambil mengelus kepala Celine.


Celine terdiam dengan kepala yang masih tertunduk, seolah tidak ingin melihat James. James pun hanya bisa menghela napas menahan perasaannya.


James pun melanjutkan perkataannya, kali ini kepada Mbok Yani. "Saya permisi dulu, Mbok. Titip Celine ya, Mbok ...."


"Iya, Nak James .... Terima kasih .... Terima kasih banyak ..." sahut Mbok Yani dengan air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.


James pun membalikkan badan dan ingin segera pergi dari tempat itu selagi ia masih bisa menahan perasaannya.


"Bang James!" Terdengar sebuah seruan bersamaan dengan sebuah tarikan di belakang bajunya.


James menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan badannya. Belum sempat ia berkata atau memikirkan apapun, Celine sudah memeluk erat dirinya dan menangis tersedu-sedu.


"Bang James maaf .... Maaf yah .... Makasih .... Makasih Bang James ..." katanya berulang-ulang.

__ADS_1


Mata James memerah menahan tangis, tapi dipaksakan dirinya bersuara, sekalipun suaranya sudah tercekat.


"Maaf apa toh, Lin? Ga ada yang salah di sini, " katanya sambil mengelus rambut Celine.


Tapi Celine tetap terisak-isak dengan bahu yang masih bergetar di pelukannya. James jadi bingung, tidak tahu mau berkata apa. Yang bisa ia lakukan hanya terus mengelus rambut panjang Celine sampai Celine sedikit tenang.


Setelah dirasanya tangis Celine agak mereda, dilepaskannya pelukan Celine, lalu dipegangnyalah bahu Celine. Kemudian James sedikit membungkukkan badannya sehingga wajah mereka sejajar. Ditatapnya wajah Celine lekat-lekat. Dan Celine kembali menurunkan pandangannya, tidak berani menatap wajah James langsung.


"Lin .... Bang James ga marah sama Celine walaupun Celine pilih kembali seperti sekarang. Maaf yah, sikap Bang James begitu ketika ditanya Celine waktu itu. Seperti Mama bilang, Bang James lagi banyak pikiran.


Keputusan Celine sudah benar. Sudah baik. Jadi Celine semangat yah .... Bang James akan dukung Celine seperti biasa. Jadi, kalau ada apa-apa, Celine cerita sama Bang James yah .... Jangan dipendam sendiri. Oke?" kata James sambil tersenyum.


Celine menganggukkan kepala sebagai jawaban. Kepalanya masih tertunduk. Isakan-isakan kecil masih terdengar darinya.


"Sudah? Ada lagi?" kata James berusaha terlihat santai, walaupun hatinya sudah begitu berat ingin memeluk dan membawa Celine pulang ke rumahnya kembali.


Celine kembali melingkarkan lengannya ke leher James. Di balik ceruk lehernya, James bisa merasakan kepala Celine menggeleng.


James membalas pelukan Celine dengan mendekapnya erat. Ia ingin mengabadikan momen ini sebagai kenangan yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi lagi.


"Ya sudah .... Bae-bae yah ..." kata James mulai melonggarkan pelukannya setelah beberapa saat. Kali ini James merasakan Celine mengangguk. Dan tak lama kemudian, pelukan mereka terlepas.


James pun melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Celine. Setelah agak jauh, ia kembali membalikkan badan. Dilihatnya Mbok Yani dan Celine masih di depan rumah mengantar kepergiannya. Dilambaikanlah tangannya sebagai salam perpisahan, yang segera dibalas oleh Celine dan Mbok Yani.


Tapi hanya beberapa detik kemudian, James melihat Celine mengalihkan pandangannya darinya dan memeluk Mbok Yani. Celine kembali menangis.


Melihat itu, James segera membalikkan badannya dan mempercepat langkahnya. Dikeraskannya hatinya dan dikertakkannya giginya untuk menahan perasaannya yang sudah hampir membuncah keluar. Lebih baik ia segera pergi sebelum ia melakukan hal yang mungkin akan ia sesali.


...****************...


Sebelum kembali ke kotanya, James menyempatkan diri ke makam Dion. Entah apa pastinya yang ingin ia lakukan di sana, mungkin semacam melapor atau meluapkan perasaan yang dari tadi ditahannya.


Suasana di tempat pemakaman sangat sepi. James hampir tidak bertemu dengan siapapun kecuali bapak penjaga makam. Maklumlah, sekarang bukan momen-momen di mana orang umumnya berziarah.


James berjalan menyusuri jalan yang berumput, lalu berhenti di depan sebuah nisan yang bertuliskan Dion Adipratama. Cukup lama dia hanya berdiri dan memandangi makam tersebut. Sampai akhirnya ia membuka suaranya.


"Hai, bro ! Maaf, uda sekian lama baru kemari." James bicara sendiri.


Setelah menarik napas panjang, kembali James berkata, "Bro, gua mau lapor! Tugas gua sampe di sini yah! Gua cuma bisa jagain adek lo sebatas ini. Sekarang adek lo uda balik lagi ke rumah lo. Dia yang pilih sendiri. Jadi gua bisa apa? Gua bisa jagain dia gimana lagi? Jadi, uda cukup kan, bro ?"


James tertawa pahit. "Gua kena karma, bro ! Awal-awal gua sempet marah-marah ke elo karena ngerasa lo kasih gua tugas yang absurd. Bahkan sempet pesan terakhir lo gua abaikan. Ga nyangka gua kalo akhirnya bakal begini. Begitu tugasnya ditarik, gua malah kehilangan. Gua aneh yah?!"


Tidak ada yang menjawab. Hanya deru angin semilir yang berhembus lembut di telinga James. James terdiam, menatap nanar batu nisan yang dingin. Sampai akhirnya ia kembali membuka mulutnya dengan suara lirih, "Janji gua jagain adek lo ... berakhir sampai di sini sajakah, Di?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2