
Hari pertunangan pun tiba. Pesta akan diadakan sekitar pukul 17.30. Tamu yang diundang hanya dua keluarga, yaitu keluarga adik laki-laki dan adik perempuan dari Tuan Adipratama. Acara yang akan dilangsungkan pun sederhana, hanya berupa pengumuman pertunangan dan makan malam bersama. Kendati demikian, persiapan yang dilakukan tak ubahnya seperti pesta besar.
Dari sekitar pukul 10 pagi, desainer interior dan segenap stafnya yang disewa oleh Tuan Adipratama, sudah mulai berbenah mendekorasi rumah. Mulai dari pintu masuk, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, kolam renang, sampai halaman belakang.
Karena rumah tersebut memang sudah memiliki kesan mewah dan elegan sejak awal, tidak terlalu banyak yang harus diubah. Hanya tinggal memindahkan beberapa posisi furniture, memadukan warna dan menambahkan aksesoris dekorasi. Dalam beberapa saat saja, rumah yang tadinya bernuansa tempat tinggal itu segera berubah menjadi tempat yang pas untuk mengadakan pesta pertunangan.
Gorden-gorden besar di setiap ruangan disamakan warnanya dengan nuansa merah muda dan putih. Plafon rumah dihiasi tenda pesta dengan model selendang yang melengkung di sekitar lampu kristal chandelier. Begitu pula dengan kursi-kursi dan meja yang dihias dengan pita berwarna senada.
Bunga-bunga hias terpasang di mana-mana dengan berbagai jenis dan ukuran. Ada yang menghiasi dinding ruangan, ada yang berupa buket bunga pajangan, ada juga yang melingkari tiang lampu hias yang berdiri di sudut-sudut ruang dengan memancarkan sinar kuning temaram.
Terkhusus ruang makan dan ruang keluarga, dekorasi ditambah dengan pahatan es batu yang diletakkan di meja makan. Pahatan es batu tersebut berbentuk angsa yang menawan dan dihiasi dengan sorotan lampu, sehingga menambah keeleganan ruang pesta.
Sekitar pukul 16.30, petugas katering mulai berdatangan membawa pesanan masakan. Memang untuk acara ini, masakan yang akan dihidangkan tidak dimasak oleh koki keluarga Adipratama, mengingat porsi dan ragam masakan yang diminta cukup besar jumlahnya. Sang Koki hanya diminta untuk menyarankan menu yang akan dihidangkan.
Persiapan makanan dilakukan di dapur. Menu fine dining diletakkan di sana untuk masuk ke tahap selanjutnya, yaitu plating (noted: Plating adalah proses menata dan mendekorasi makanan di atas piring untuk menyempurnakan penyajiannya).
Beberapa makanan ringan langsung dibawa ke ruang keluarga. Makanan tersebut kemudian ditata di atas meja-meja kecil yang sudah tersusun menyebar di ruangan seperti sebuah stan.
Pukul 17.00, segenap keluarga sudah berkumpul di ruang tamu. Mereka semua memakai seragam batik merah dan sudah bersiap untuk menyambut tamu yang akan hadir sebentar lagi.
Keluarga Wijaya sempat tertegun melihat Tuan Adipratama memakai batik yang sama. Walaupun Celine sudah mengatakan setiap anggota keluarga akan memakai seragam untuk menghindari kesenjangan, mereka tetap tidak berani berharap kalau Tuan Adipratama akan mengikuti kesepakatan tersebut.
Pasalnya, walaupun memiliki kualitas cukup baik dan merek yang dikenal masyarakat, batik yang mereka kenakan bukan batik dengan kualitas nomor satu. Mungkinkah seorang pengusaha besar yang biasa mengenakan pakaian kualitas terbaik, mau menyamakan diri memakai pakaian seperti mereka?
Fakta yang mereka peroleh, membuat mereka bersyukur. Ternyata calon besan kali ini, tidak seangkuh calon besan mereka yang sebelumnya. Tuan Adipratama sama sekali tidak pernah bersikap merendahkan mereka. Bahkan sebaliknya, beliau terkesan turut menjaga wibawa keluarga Wijaya di hadapan keluarga besarnya.
__ADS_1
Pukul 17.20, tamu pertama tiba. Andreas Adipratama datang bersama istri dan anak laki-lakinya. Mereka langsung diantar ke ruang tamu oleh Mbok Yani yang memang ditugaskan sebagai penyambut tamu.
Belum lagi tamu pertama berkenalan dan bersalam-salaman, tamu kedua sudah menyusul. Airin Adipratama datang bersama suami dan sepasang anak kembarnya. Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan bagi para pengusaha untuk datang tepat waktu, karena bagi mereka waktu adalah uang.
Setelah semua orang duduk di ruang tamu, Adrian Adipratama selaku tuan rumah berdiri dari tempat duduknya dan mengucapkan kata pembuka.
"Terima kasih saya ucapkan kepada saudara-saudaraku yang sudah menyempatkan diri untuk berbagi kebahagiaan merayakan pertunangan putra-putri kami. Agar lebih dekat, izinkan saya memperkenalkan Keluarga Wijaya yang akan menjadi besan saya." Mendengar kalimat itu, secara serempak seluruh keluarga Wijaya bangkit dari tempat duduknya.
"Mereka berdomisili di kota B. Mereka bukan dari kalangan pengusaha, seperti kita semua. Mereka adalah keluarga yang berprofesi sebagai pendidik secara turun-temurun. Hanya anak laki-laki pertama mereka yang menekuni bidang bisnis sebagai usahanya. Berkat bantuan mereka lah, Celine dapat berubah menjadi seperti sekarang ini." Setelah itu Adrian Adipratama memperkenalkan anggota keluarga Wijaya satu per satu, sampai dengan Rico.
Perkenalan beralih ke Keluarga Adipratama. "Sekarang saya akan memperkenalkan adik laki-laki saya, yang selama ini menjadi orang kepercayaan saya dan membantu saya mengelola perusahaan keluarga kami. Perkenalkan, Andreas Adipratama dan istrinya, Rosita Cahya Kusuma. Pemuda di sampingnya adalah anak mereka, Darrell Adipratama. Umur Darrell satu tahun di atas Celine."
Keluarga Wijaya sedikit tertegun ketika melihat Darrell. Pasalnya pemuda ini jelas-jelas memiliki paras Eropa, yang sama sekali tidak mirip dengan kedua orang tuanya yang berparas Asia. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang berani menanyakan hal tersebut di pertemuan kali ini.
Segenap keluarga yang dari tadi disebutkan namanya hanya menganggukkan kepala sebagai pengganti salam kepada keluarga lainnya. Suasana canggung masih meliputi ruangan tersebut.
"Saya yakin kita masih merasa asing satu sama lain. Namun bagaimanapun, kelak kita akan menjadi satu keluarga besar. Saya harapkan, kita semua bisa saling mengakrabkan diri di ruang keluarga setelah makan malam nanti. Sekarang, mari kita semua berpindah ke ruang makan untuk menikmati santap malam bersama, " ajak Adrian Adipratama.
Tanpa banyak bicara, setiap orang bangkit dari kursinya dan mulai beranjak mengikuti Sang Tuan Rumah yang berjalan di barisan terdepan memimpin rombongan. Sesampainya di ruang makan, seperti biasa Adrian Adipratama menempati kursi paling ujung meja yang merupakan kursi kepala keluarga.
Satu per satu mulai menempati kursi yang mengelilingi meja panjang itu. Setiap keluarga duduk berdekatan dengan keluarga intinya masing-masing.
Setelah duduk, pelayan mulai membalikkan gelas anggur yang memang sudah tersedia di depan kursi masing-masing. Dua pelayan yang lain nampak berdiri menunggu dengan memegang buli-buli kristal berisi cairan berwarna merah tua.
"Sebagai pembuka, kita akan bersulang untuk mendoakan kebahagiaan bagi pasangan muda-mudi ini. Adakah di antara kita yang tidak bisa meminum wine, baik karena alasan kesehatan atau alasan apapun? Tentu saja satu-satunya adik kecil kita tidak perlu menjawab pertanyaan saya, " kata Adrian Adipratama merujuk kepada Rico.
__ADS_1
James mengangkat tangannya. Tadinya ia sempat ragu untuk mengaku, tetapi Celine yang duduk di sebelahnya memberi kode kepadanya. Akhirnya James memilih untuk jujur, daripada nanti ia membuat keributan seperti pengalamannya yang sudah-sudah.
"Baiklah. Selain James, apakah ada lagi?" tanya Adrian Adipratama.
Tidak ada yang mengangkat tangannya. Mereka semua sudah terbiasa menikmati wine yang memang umum disajikan dalam pertemuan sosialita di kalangan ekonomi atas.
James sempat menangkap senyum miring muncul dari wajah Si Kembar. Entah apa pastinya yang ada di pikiran mereka, yang jelas mereka seperti menertawakan James karena ketidakmampuannya mengkonsumsi alkohol.
Setelah itu, salah satu pelayan yang memegang buli-buli, mulai mendatangi setiap tamu dan mengisi gelas yang ada di depan mereka. Sedangkan pelayan kedua langsung bergerak mengisi gelas milik James dan Rico. Rupanya hanya pelayan pertama yang membawa wine di buli-bulinya. Sedangkan pelayan kedua membawa sirup yang berwarna serupa, agar tidak terlihat perbedaan yang mencolok.
Setelah setiap gelas diisi minuman, Adrian Adipratama berdiri dari kursinya dan mengangkat gelasnya. Setiap orang di ruangan itu lalu mengikuti apa yang dilakukannya.
"Cheers !" seru Tuan Adrian Adipratama.
"Cheers !" Balas semua orang. Kemudian mereka menyesap minuman di gelas masing-masing dan kembali duduk.
Makanan mulai disajikan. Menu bertema fine dining mulai diantarkan kepada setiap orang oleh para pelayan. Satu per satu makanan mulai disantap, dari Appetizer, Main Course, sampai dengan Dessert.
Setelah memastikan setiap orang sudah selesai menikmati santap malamnya, Adrian Adipratama bangkit berdiri dan mengajak setiap orang untuk berpindah tempat.
"Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kita semua akan berpindah ke ruang keluarga untuk menikmati kebersamaan sebagai sebuah keluarga besar di sana. Baiklah kita menyempatkan waktu sejenak untuk saling berbincang-bincang dan mengakrabkan diri satu sama lain. Di sana juga sudah disediakan makanan dan minuman yang bisa kita nikmati bersama agar suasana lebih santai, " katanya. Lalu ia pun mulai berjalan dan kembali memimpin barisan.
Setiap keluarga kembali bangkit dan mengikuti Sang Tuan Rumah dari belakang. Tidak terkecuali Keluarga Wijaya yang menjadi salah satu bintang utama hari ini. Mereka berjalan ke arah ruang keluarga dengan perasaan tegang. Sekaranglah saatnya mereka berhadapan dengan keluarga besar Adipratama. Papanya Celine memang sudah menerima mereka, tetapi bagaimana dengan keluarga yang lain?
...****************...
__ADS_1