Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Mungkin Bukan Priscillia


__ADS_3

Esoknya, kegiatan sekolah berjalan seperti biasa. Kabar tentang keluarnya Pak Santo dari sekolah sudah tersebar. Tapi semua siswi menanggapinya dengan santai. Mereka sudah terbiasa dengan berita guru yang tiba-tiba keluar.


Kasus Pak Santo seolah tertutupi begitu saja. Tidak ada yang tahu, kecuali pihak-pihak yang disebut namanya di ruang BK kemarin.


Berbeda dengan kasus James. Kejadian aneh yang diduga perpeloncoan terhadap dirinya masih terjadi.


Contohnya saja tadi, saat istirahat pertama. Saat itu ia sedang berjalan menyusuri taman menuju ke kantin. Dan tiba-tiba ... Byurrrrrr .... Sebuah siraman dari atas menimpa dirinya.


Sambil menyeka mukanya, James segera melirik ke atas untuk melihat apa yang terjadi. Di koridor lantai dua, dalam sekelebat ia melihat seorang siswi yang membawa ember sedang bergerak menjauhi koridor dengan tergesa-gesa.


"TOLONG PARA SISWI DI LANTAI DUA, TANGKAP SISWI YANG MEMBAWA EMBER ITU!" serunya keras-keras.


Hanya dalam hitungan menit, siswi yang membawa ember itu dibawa ke hadapan James oleh sekelompok siswi. Di tangannya masih terdapat ember kosong sebagai barang bukti. Rupanya sebagian dari sekelompok siswi tersebut adalah anggota OSIS yang diketuai oleh Clarissa.


"Kebetulan kami baru dari Lab Bahasa Inggris ketika kami mendengarkan seruan Bapak. Dan anak ini sedang berlari ke arah kami," kata Clarissa menjelaskan situasinya saat itu. Ruang Lab Bahasa Inggris memang terletak di lantai dua.


"Siapa nama kamu dan dari kelas mana?" tanya James pada siswi yang membawa ember.


"Na-nama saya Lily, dari kelas XI Bahasa," jawab siswi tersebut.


"Ketua OSIS, siapa namamu? Maaf, saya memang mudah mengingat wajah, tapi agak kesulitan dalam mengingat nama," aku James.


"Clarissa, Pak," jawab Clarissa sambil tersenyum.


"Kamu kenal dia?" tanya James sambil menunjuk Lily.


"Tidak. Saya hanya mengenali beberapa adik kelas, Pak. Tidak semua," jawab Clarissa yang memang sudah duduk di kelas XII.


"Kalau begitu, boleh saya minta tolong padamu?"


"Dengan senang hati, Pak," jawab Clarissa kembali tersenyum.


"Saya mau ganti baju dulu. Bisa tolong kamu pastikan kebenaran nama dan asal kelas anak ini? Kalau benar, tolong kamu dampingi dia menghadap saya di ruang BK saat istirahat kedua nanti. Kalau ternyata dia berbohong, tolong cari tahu kebenarannya. Jika kamu mengalami kesulitan saat mencari tahu, bawa saja dia ke Kepala Sekolah. Jangan-jangan dia penyusup. Kamu bisa melakukannya, Clarissa?"


"Bisa, Pak!" Clarissa menjawab dengan percaya diri.


"Tu-tunggu! Sa- saya tidak berbohong, Pak! Saya bukan penyusup! La-lagipula, yang tadi itu hanya kecelakaan, Pak! Saya tak tahu Bapak ada di bawah!" Siswi yang mengaku bernama Lily itu mencoba membela diri.


James melihat siswi tersebut dengan tatapan dingin.


"Saya tanya, air di ember itu, air apa?" tanya James pada Lily.


"A-air bekas pel, Pak! Ta-tadi saya menjatuhkan botol minuman di kelas," jawab Lily dengan kepala tertunduk.


"Dan kamu membuang air bekas pel dari koridor lantai dua ke bawah? Siapa yang mengajarimu kalau itu boleh dilakukan?" tanya James sinis.


Siswi itu terdiam dengan kepala tertunduk.


"Jadi kalaupun itu kecelakaan, di mana kebetulan air bekas pel-mu mengenai saya, tetap saja perbuatanmu membuang air pel dengan menyiramkannya begitu saja dari lantai atas ke taman di bawahnya adalah tindakan yang SANGAT SALAH!" kata James menekankan setiap kata.


"Kita bicarakan lagi nanti di ruang BK, kalau memang benar kamu bukan penyusup! Tolong ya, Clarissa." James menutup pembicaraan sebelum pergi.


"Baik, Pak!" jawab Clarissa dengan bersemangat.


James pun lalu pergi untuk mengganti bajunya. Sedangkan siswi yang mengaku bernama Lily itu, digiring oleh Clarissa dan kelompoknya menuju kelas XI Bahasa, untuk dicek kebenarannya.

__ADS_1


...****************...


James segera ke kamar mandi guru untuk membersihkan diri sekadarnya. Baju ganti dan handuk yang selalu ia bawa kembali dikeluarkan dari tasnya.


Ia sudah mulai terbiasa melakukan ritual ini karena kejadian-kejadian yang dialaminya. Mungkin lain kali harus bawa sampo dan sabun sekalian, pikirnya.


Setelahnya, James mengajar pelajaran ketiga dan keempat sampai bel tanda istirahat kedua berbunyi. Kemudian ia bergegas ke ruang BK untuk menindaklanjuti kasus tadi. Jantungnya berdebar, karena baru kali ini ia bisa menangkap pelaku yang melakukan perpeloncoan terhadap dirinya secara langsung. Akhirnya kesempatan yang ia tunggu-tunggu telah tiba!


Selama ini, para pelaku dapat melepaskan diri dari kesalahan dengan dalih kecelakaan atau ketidaksengajaan. Tapi sayangnya untuk kasus yang ini, alasan tersebut tidak lagi relevan. Mana ada orang yang membuang air bekas pel dari lantai 2 ke bawah kalau bukan disengaja? Air bekas pel pasti dibuang dengan dialirkan ke saluran pembuangan.


James tiba di ruang BK. Belum ada seorang pun yang hadir di sana. Dengan sabar ia menunggu. Kalau memang Si Lily tadi bukan penyusup, ia pasti akan bertemu dengannya. Sabar, James .... pikirnya.


Dan benar saja, tidak berapa lama, Clarissa datang dengan Lily yang masih tertunduk di sampingnya. Sepertinya Si Lily ini sudah kena mental berhadapan dengan Clarissa.


"Siang, Pak. Sesuai arahan Bapak, saya sudah mengecek perkataan anak ini tadi. Dan dia ternyata berkata jujur, Pak. Benar namanya Lily, siswi dari kelas XI Bahasa," lapor Clarissa.


"Baik. Terima kasih, Clarissa. Kamu boleh pergi," ucap James.


"Ngg ... Boleh saya tetap di sini, Pak? Bagaimana pun sebagai ketua OSIS saya ikut bertanggung jawab terhadap segala kejadian yang menyangkut kedisiplinan dan etika kesiswaan," ujar Clarissa menjelaskan alasannya.


"Baiklah kalau begitu. Senyamanmu saja," jawab James santai.


"Terima kasih, Pak." Lalu Clarissa mundur dan berdiri di samping belakang James, sehingga hanya Lily yang berhadapan dengan James.


"Silakan duduk, Lily!" James mempersilakan Lily duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


Dengan kepala tetap tertunduk, Lily mengikuti arahan James.


"Sekarang katakan dengan jujur, mengapa kamu melakukan hal itu pada saya?" tanya James memulai pembicaraan.


"I-itu kecelakaan, Pak." Lily masih bersikeras dengan alasannya yang semula.


Lily terdiam. Ia mati kutu.


"Atau kita ganti pertanyaannya dengan, siapa yang mengajarimu membuang air bekas pel dengan cara yang kamu lakukan tadi? Mungkin kita bisa panggil ke sini orang tersebut untuk kita minta pertanggungjawabannya? Wali kelasmu? Atau orang tuamu?" cecar James.


Muka Lily menjadi pucat. Tangannya berkeringat dingin. Ia tak menyangka hal yang dilakukannya bisa berkembang menjadi seperti ini.


"Ti-tidak ada yang mengajari saya, Pak," jawab Lily akhirnya.


"O .... Kalau begitu kita kembali ke pertanyaan sebelumnya. Jadi itu kebiasanmu? Itu yang sering kamu lakukan saat piket?" tanya James dengan nada menyindir.


"Ti-tidak, Pak. Sa-saya tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya."


"Jadi ...?"


"Ma-maaf, Pak! Saya mengaku sengaja melakukannya!" Lily akhirnya menyerah.


"Kenapa?"


"Saya ikut-ikutan Geng Priscillia. Kenapa Geng Princess boleh mengerjai Bapak, tapi saya tidak? Apa karena mereka anak orang-orang berpengaruh di kota ini makanya boleh bertindak seenaknya dan bebas hukuman?!" jawab Lily dengan nada mulai meninggi. Matanya menatap James menuntut keadilan.


Clarissa yang berdiri di belakang James, tersenyum mendengar jawaban Lily. Ia penasaran apa tanggapan gurunya mengenai hal itu.


"Kata siapa?" tanya James tenang.

__ADS_1


"A-apa? Mak- maksud Bapak apa?" Ditanya balik mendadak seperti itu, membuat Lily gelagapan.


"Kata siapa Geng Princess boleh mengerjai saya? Kata siapa mereka boleh bertindak seenaknya dan bebas hukuman?" tanya James dengan tegas.


"Ta-tapi ... itu yang selama ini terjadi pada Bapak dan guru-guru yang lain kan, Pak?" Lily mencoba membela diri.


"Kamu punya buktinya? Pernah menangkap basah perbuatan mereka?"


"I-itu ... i-itu ...." Lily mulai kebingungan.


"Kalau kamu tidak punya bukti, kamu akan kena masalah lain, yaitu fitnah. Apalagi seperti katamu tadi, mereka anak-anak orang berpengaruh di kota ini. Kamu yakin mereka akan membiarkan nama baiknya dicoreng begitu saja?"


Lily terdiam dan kembali tertunduk dengan muka pucat. Tangannya yang berkeringat dingin ia kepal erat-erat di atas pangkuannya. Ia tidak menyangka perbuatannya ikut-ikutan perilaku Geng Princess yang menargetkan guru, bisa berbalik menyerangnya. Ia tidak bisa membayangkan kalau giliran dirinya yang ditargetkan Geng Princess.


Karena melihat Lily terdiam dan mulai menyerah, James kembali membuka mulutnya untuk bertanya.


"Saya akan bertanya lagi, kali ini pikirkan baik-baik sebelum menjawab dan jawab saya dengan jujur. Apakah Geng Princess atau Priscillia yang menyuruhmu melakukan hal ini pada saya?" tanya James dengan perlahan agar setiap kalimatnya jelas.


Mendengar pertanyaan James, Clarissa kembali tersenyum. Ia memang sudah menantikan pertanyaan ini.


"Ti-tidak, Pak! Tidak ada hubungannya dengan Priscillia atau Geng Princess. Ini murni kesengajaan saya pribadi! Saya hanya mencoba meniru mereka tanpa pikir panjang, Pak!" jawab Lily cepat dengan wajah kembali menatap James.


"Kamu yakin? Bukan karena kamu disuruh mereka tutup mulut?" tanya James penuh selidik.


"Tidak, Pak! Mereka tidak pernah menyuruh saya! Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini! Ini murni kehendak saya pribadi! Saya minta maaf, Pak!" Lily kembali menegaskan jawabannya dan diakhiri dengan membungkukkan badannya tanda meminta maaf.


"Baiklah, karena kamu sudah mengaku, kamu saya maafkan. Tolong jangan diulangi lagi karena tidak akan ada yang kedua kali! Beritahu juga teman-temanmu yang kamu tahu memiliki pemikiran yang sama denganmu! Kasih tahu mereka, kalau mereka salah! Tidak ada orang yang boleh bertindak seenaknya dan bebas hukuman begitu saja, termasuk Priscillia dan kawan-kawannya! Kamu paham?"


"Pa-paham, Pak," jawab Lily dengan kepala tertunduk.


"Ya, sudah. Kamu boleh kembali ke kelasmu." James mempersilakan Lily kembali ke kelasnya.


"Ma-maaf, Pak. Begitu saja? Tidak ada hukuman? Atau, Bapak tidak ingin memanggil Priscillia dan mencoba menelusurinya lebih lagi?" Tiba-tiba Clarissa maju dan bertanya pada James.


James tertegun dengan perkataan Clarissa yang tiba-tiba.


"Tidak. Kali ini saya cukupkan sampai di sini. Lagipula apa yang bisa kita telusuri? Ia sudah mengaku kalau dirinya bertindak atas kehendak pribadi." James menjawab pertanyaan Clarissa.


Mendengar itu, Clarissa terdiam. Walaupun raut wajahnya menunjukkan adanya ketidakpuasan dengan jawaban James.


"Kamu juga, kembalilah ke kelasmu," ujar James pada Clarissa.


"Baiklah. Saya permisi, Pak," kata Clarissa akhirnya, yang dibarengi dengan Lily.


"Silakan," jawab James. Lalu mereka berdua pun kembali ke kelas masing-masing.


Tinggal James yang masih duduk di kursinya. Merenungi percakapan mereka barusan. Ada yang tidak sinkron di sini.


Jikalau yang dikatakan Lily tadi benar, bahwa ia melakukannya bukan atas suruhan Priscillia, mengapa Priscillia tidak menyanggah pertanyaan yang diajukannya di akhir kasus Pak Santo kemarin? Jawaban Priscillia malah mengesankan bahwa ia mengakui melakukan perpeloncoan tersebut bersama Gengnya. Bahkan ia sampai mengutarakan alasannya.


Atau jangan-jangan Lily tadi berbohong, karena takut diintimidasi oleh Geng Princess, kalau dia sampai mengaku bertindak atas suruhan mereka? Tapi dari ekspresi Lily tadi, James tidak yakin ia berbohong.


Atau mungkin bukan Geng Princess saja sekarang yang menargetkannya, seperti hipotesisnya dulu. Alasannya? Karena mereka terinspirasi oleh Geng Princess. Begitukah?


James teringat dengan pengakuan Priscillia yang mengaku tidak ada hubungannya dengan beberapa kejadian yang menimpanya. Sekalipun jawaban Priscillia waktu itu terkesan bermain-main, mungkinkah sebenarnya ia jujur?

__ADS_1


Entahlah. Pikiran James cuma sampai di sini. Kebenaran belum terkuak dengan jelas, baru mengintip-mengintip sedikit. Tapi James mendapat satu kesimpulan lain, mungkin bukan Priscillia yang harus bertanggung jawab dengan semua kejadian yang menimpanya. Mungkin ada pihak atau orang lain. Yah .... Kita tunggu saja kebenaran membuka jalannya sendiri!


...****************...


__ADS_2