Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Ayo Kita Bicara !


__ADS_3

"Kamu mau pulang ke mana? Ke hotel tempatmu akan menginap atau langsung ke kota asalmu?" tanya Tuan Adipratama menegaskan ucapan James yang izin pamit pulang.


"Rencananya langsung pulang ke rumah aja, Om. Mumpung masih sore juga. Masih bisa kejar pesawat, " jawab James.


"Tidak menunggu Celine pulang dulu?"


"Tidak, Om. Sepertinya Celine benar-benar sibuk. Saya tidak ingin mengganggu."


"Baiklah kalau begitu." Kemudian Tuan Adipratama tampak menekan sebuah tombol seperti remote kecil yang ia ambil dari saku bajunya.


Tidak sampai satu menit, Mbok Yani dan para pelayan tadi kembali memasuki ruang tamu.


"Ada apa, Tuan?" tanya Mbok Yani.


"Pemuda ini sudah mau pulang. Tolong antarkan ke depan, Mbok, " sahut Tuan Adipratama.


"Baik, Tuan Besar. Mari, Nak James." Mbok Yani mempersilakan James.


"Permisi, Om, " kata James sebelum meninggalkan ruangan.


"Saya tunggu keputusanmu satu bulan ini." Tuan Adipratama kembali mengingatkan James.


"Baik, Om. Pasti saya kabari. Saya permisi dulu ..." pamit James.


Tuan Adipratama hanya mengangguk sebagai jawaban. James pun meninggalkan ruang tamu tersebut.


Setelah mengantar James sampai di depan pagar, baru lah Mbok Yani membuka mulutnya, "Kok Nak James buru-buru sekali?"


"Mumpung masih bisa kejar pesawat, Mbok," jawab James mengulang alasan yang tadi diberikannya pada Tuan Adipratama.


"Tidak menunggu nona pulang dulu?" Pertanyaan yang sama dengan Tuan Adipratama.


"Tidak, Mbok. Celine sepertinya lagi sibuk." James pun memberi jawaban yang sama pula.


"Kan bisa ditunggu, Nak James. Besok toh hari Minggu. Masih libur, kan?" bujuk Mbok Yani.


"Tapi kan hari Seninnya uda kerja, Mbok. Jadi kalau pulang hari ini, Minggunya saya bisa istirahat penuh, " jawab James sambil tersenyum.


Mbok Yani hanya bisa menghela napas. Ia sudah kehabisan akal membujuk pemuda di depannya. Ia tahu pemuda ini agak sulit diubah keputusannya kalau sudah memutuskan sesuatu.


Tapi, jika pemuda ini kembali ke kotanya begitu saja tanpa bertemu kembali dengan nonanya .... Rasanya kok ... sedikit menyedihkan yah .... Begitu pikir Si Mbok.


Untung lah saat itu sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar. Celine keluar dari kursi penumpang. Melihat itu, Mbok Yani menghela napas lega.


"Bang James! Bang James mau ke mana?" seru Celine langsung setelah keluar dari mobil.


"Mau ke bandara. Mau kejar pesawat, " jawab James sambil tersenyum menahan perasaannya yang sebenarnya tidak karuan.


Sesungguhnya ia sengaja ingin cepat meninggalkan rumah ini sebelum Celine pulang. Hatinya belum siap untuk bertemu Celine apalagi setelah mendengar rencana perjodohan Celine. Ia belum tahu bagaimana harus bersikap di depan Celine. Ia hanya ingin segera pulang dan menenangkan dirinya. Hanya itu yang ada di pikirannya saat ini.


"Segitu buru-burunya sampai ga bisa tunggu Celine pulang dulu?" tanya Celine dengan kepala tertunduk. Wajahnya terlihat murung.


James jadi tidak enak hati. "Bukan begitu, Lin .... Kan tadi siang di bandara, Celine dengar sendiri rencana pulang Bang James pas ditanya papa. Bang James kan juga ga tau Celine bakal pulang jam berapa. Bang James pikir, mungkin Celine sibuk. Ini pun uda sore. Jadi mending Bang James pulang, mumpung pesawat masih ada, " ujarnya mencoba memberi penjelasan.

__ADS_1


"Tapi sekarang kan Celine uda pulang .... Bang James ga bisa sempetin ngobrol dulu bentar sama Celine? Semenjak Celine datang ke rumah Bang James, kita belum ada bincang-bincang loh .... Bang James kan waktu itu sibuk ngurusin penyuluhan, " sanggah Celine.


James makin merasa bersalah. Tetapi ia masih mencoba mengelak. "Tapi tadi Bang James uda terlanjur pamit sama papanya Celine. Masa uda bilang gitu, trus ketemu lagi? Kan jadi aneh?"


Mata Celine langsung berbinar. "Oh .... Itu mah gampang. Papa di mana, Mbok?" tanyanya pada Mbok Yani.


"Tadi waktu Mbok mengantar Nak James keluar, tuan besar masih ada di ruang tamu, Non ..." jawab Mbok Yani.


"Nah, kita ngobrol di halaman belakang aja. Dijamin ga bakal ketemu papa. Papa jarang ke sana soalnya. Atau kalau Bang James masih ga nyaman, kita ngobrol di luar juga boleh. Ke kafe misalnya. Nanti sekalian Celine antar ke bandara. Gimana?" tanya Celine dengan mata penuh harap.


James menghela napas. Ia tidak bisa lagi menghindar. Ia takut akan mengecewakan Celine jika ia menolak lebih dari ini.


"Ya sudah. Ngobrol di sini aja, biar ga buang waktu di jalan. Tapi jangan lama-lama ya, Lin. Jangan sampe Bang James ga dapat pesawat, " ucap James akhirnya.


"Aman itu ..." jawab Celine sambil nyengir.


"Mbok, tolong anterin minum yang seger-seger sama makanan ringan ke halaman belakang yah ..." pinta Celine ke Mbok Yani.


"Baik, Non ..." jawab Mbok Yani sambil tersenyum.


Tanpa menunda lagi, Celine langsung menggandeng tangan James masuk kembali ke rumah besar itu. Tapi kali ini mereka tidak melewati pintu utama, melainkan pintu samping.


Pemandangan di halaman belakang tidak kalah cantik dengan halaman depan. Bahkan di sana tampak lebih nyaman dan elegan dengan adanya sebuah gazebo yang berdiri di tengah-tengah halaman berumput.


Baru saja pintu samping dibuka, terdengar gonggongan menyambut mereka. Dalam hitungan detik, muncul mahluk kecil berbulu coklat berlari ke arah mereka.


"Furry!" Celine segera berjongkok menyambut mahluk itu. Si Kecil segera melompat masuk ke dalam pelukan Celine dengan ekor yang masih bergoyang.


James memperhatikan furry. Ia memang tidak terlalu dekat dengan anjing itu. Furry lebih dekat dengan abangnya.


Rasa rendah diri kembali menerpanya. Pertanyaan yang sama terulang kembali di kepalanya, pantas kah ia bersanding dengan Celine? Atau Celine akan lebih berbahagia jika mendapat pasangan yang sepadan dengannya? Yang sama-sama pengusaha dari kalangan atas?


"Bang James! Ayo duduk sini!" Suara Celine membuyarkan lamunannya. Seorang pelayan sudah datang menyuguhkan makanan dan minuman untuk mereka.


James segera duduk di gazebo, sedangkan Celine mencuci tangannya di wastafel kecil yang ada di samping gazebo. Furry sudah kembali berlari-lari di kebun mengejar seekor capung yang terbang kian kemari.


"Bang James sudah pesan tiket pesawatnya?" tanya Celine.


"Belum. Pikiran tadi mau langsung beli di bandara aja, " jawab James.


"Pesan dan langsung check in dari sekarang aja, Bang James. Biar kita bisa ngobrol lamaan dan ga terburu-buru, " usul Celine.


"Hmm .... Baiklah ..." sahut James sambil mengeluarkan HP-nya dari sakunya.


Tak lama kemudian, ia sudah sibuk menari-narikan ibu jarinya di layar HP. Pikirannya sudah fokus mempertimbangkan pesawat apa yang ingin dinaikinya, jam berapa, dan tentunya harga tiketnya.


Tanpa ia sadari, Celine sudah berada di belakangnya. Ikut mengintip layar HP dari balik punggung James.


"Pesawat terakhir yang ini aja, Bang James!" Tiba-tiba Celine memajukan dirinya ke arah James dan menunjuk salah satu jadwal penerbangan pesawat yang tampak di layar HP.


Begitu dekatnya posisi mereka saat ini, sehingga wajah Celine tepat berada di samping wajah James. Pipi kiri Celine nyaris bersentuhan dengan pipi kanan James. Selain itu, James juga bisa merasakan rambut panjang Celine yang terjuntai mengenai bahu dan lehernya.


Mendapat kejutan seperti itu, refleks James menjauhkan tubuhnya dari Celine. Mukanya sudah merah padam.

__ADS_1


"Ce- Celine bikin kaget saja!" seru James sambil memegang dadanya. Jantungnya yang sudah terpacu, berdebar dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Ih, kok Bang James kagetnya gitu amat?! Kan dari tadi Celine uda ada di sini! Emang Bang James kira Celine apaan? Kuntilanak?" tanya Celine dengan wajah polos keheranan.


"Kali-kali aja. Kan uda mau magrib, " jawab James ngasal. Pikirannya hanya terfokus dengan debar jantungnya yang saat ini belum bisa diajak kompromi.


"Eeiii, sembarangan .... Kuntilanak mah bau melati. Parfum yang Celine pakai tuh bau peach, teratai dan vanili, " sanggah Celine.


"Masa? Kayanya yang tadi kecium bau dodol duren deh!" sahut James dengan gaya mengendus-ngendus dari jauh.


"Ga sopan!" sahut Celine sambil menonjok bahu James ringan, lalu kembali ke tempat duduknya.


James tertawa melihat Celine yang manyun. Jantungnya sudah mulai tenang dan perasaannya pun sudah bisa ia kendalikan. Ia senang bisa kembali bercanda seperti biasa dengan Celine.


"Jadi, Bang James sudah selesai pesan tiketnya?" tanya Celine memastikan. Tangannya menyodorkan makanan dan segelas minuman ke arah James, mempersilakan James menikmati hidangan tersebut.


"Sudah, " jawab James pendek. James lalu mengambil gelas minumannya dan berkata, "Bang James minum yah ...."


"Iya. Silakan aja, Bang. Kuenya juga dicicip. Jangan malu-malu ..." jawab Celine mempersilakan James.


"Oke .... Pasti itu mah ..." ucap James dan langsung meneguk minumannya.


"Jadi tadi ngomong apa saja sama papa?" sahut Celine sambil mengambil sebuah makaron berwarna krem dari piring makanan dan menggigitnya.


"Seperti yang Celine uda bilang di rumah, om ingin mengucapkan terima kasih. Terus beliau cerita-cerita tentang kejadian pas beliau sakit. Yah .... Hampir mirip dengan yang Celine uda ceritakan sebelumnya sih." James ikut mengambil sebuah makaron dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Ga ada ngomong yang lain?" tanya Celine lagi.


"Ngg ... paling cerita tentang perjuangan Celine selama ini. Terus ... cerita juga tentang kelebihan dan kekurangan Celine sebagai direktur menurut pandangannya. Yang begitu-begitu lah ..." ujar James masih mencoba menutupi topik yang ia ingin hindari.


"Kalau tentang perjodohan Celine?" tembak Celine dengan tatapan penuh selidik.


Mendengar pertanyaan itu, jantung James mulai berpacu lagi. Tangannya mulai berkeringat. Ia tidak menyangka Celine langsung menanyakan hal tersebut padanya.


"Oh, itu juga sempat disinggung sih .... Tapi, Bang James bisa jawab apa? Itu hak Celine, kan?" James mencoba mengatur ekspresinya dan menjawab dengan nada santai.


"Jadi, Bang James bilang ke papa untuk menyerahkan keputusan ke Celine?" tanya Celine menegaskan.


"Iya lah. Menentukan pasangan hidup itu harus Celine putuskan sendiri. Pernikahan itu kontrak seumur hidup lho ...."


"Hmm ...." Celine terdiam dan tampak berpikir. Sedangkan James hanya bisa harap-harap cemas menunggu respons Celine. Bola sudah ia lempar. Keputusan sekarang berada di tangan Celine.


"Bang James ... Celine boleh tanya?" Celine kembali memandang ke arah James dengan tatapan serius.


Jantung James berdebar makin cepat. Sejujurnya ia takut mendengar pertanyaan Celine. Ia bingung harus menjawab apa kalau Celine berkonsultasi tentang bagaimana ia harus menyikapi lamaran perjodohan tersebut.


Apakah ia harus menggiring pertimbangan Celine untuk menolak perjodohan tersebut? Atau ... bisakah ia bersikap profesional dan netral selayaknya seorang konselor, ketika di saat bersamaan ia harus menyangkal perasaannya sendiri?


"Boleh. Kalau Bang James bisa jawab yah ..." ujar James mencoba bersikap profesional.


"Iya. Gapapa. Sebisanya aja. Tapi menurut Celine sih, harusnya Bang James bisa jawab. Yang Celine mau tanya, kapan Bang James mau ngomong langsung ke Celine, yang Bang James omongin pas Bang James mabuk?" tanya Celine dengan wajah datar.


Eh? James melongo.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2