
Esoknya, sebelum bel masuk sekolah berbunyi, Pak Santo kembali mengingatkan James tentang rencananya kemarin.
"Nanti jadi kan, Pak?" tanyanya.
"Iya. Saya akan berada di sini sampai jam pelajaran kedua berakhir. Kalau memang Priscillia kembali menghindari pelajaran Pak Santo, minta saja dia menemui saya di sini. Nanti baru kami pergi ke ruang BK bersama dan akan saya tanya-tanya di sana," jawab James.
"Sippp .... Saya pergi dulu ya, Pak. Sekali lagi, terima kasih banyak lo, Pak James," kata Pak Santo sambil bangkit dari kursinya, karena saat itu terdengar bunyi bel masuk sekolah.
"Sama-sama, Pak," ujar James menanggapi Pak Santo.
Lalu Pak Santo segera meninggalkan ruang guru untuk mengajar. Begitu juga dengan guru-guru lain yang memiliki tugas serupa. Suasana di ruang guru mendadak sepi. Hanya tinggal segelintir guru yang tersisa di sana.
Sekitar 15 menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dibarengi suara seseorang.
"Permisi, saya diminta menemui Pak James."
Melihat siapa yang datang, membuat para guru terkesiap. Dengan gugup, mereka menunjukkan di mana letak meja James berada.
Tanpa mengangkat kepala, James sudah tahu siapa yang datang. Ia cukup kenal dengan pemilik suara tersebut.
Tanpa menunggu, James segera bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Priscillia.
"Ayo kita ke ruang BK," ajaknya. Priscillia segera mengangguk tanda permisi ke arah guru-guru yang lain dan mengekor James di belakangnya.
Guru-guru tersebut hanya bisa mengangguk membalas Priscillia, lalu menatap kepergian mereka dengan penuh rasa ingin tahu. Setelah kedua sosok itu tidak lagi terlihat, mereka segera menggunjingkan apa yang barusan mereka lihat.
...****************...
Setelah mereka saling duduk berhadapan, James membuka pembicaraan, "Pak Santo mengeluh pada saya, kalau kamu tidak pernah mengikuti kegiatan olahraga di luar ruangan. Apa itu benar?"
"Ya, itu benar, Pak," jawab Priscillia pendek.
"Apa ada alasan tertentu?"
"Rasanya saya pernah bilang ke Bapak kalau saya tidak suka sinar matahari. Bukan begitu?"
__ADS_1
"Ada alasan lain yang lebih krusial daripada itu?"
"Oh, kalau untuk hari ini, ada, Pak. Karena hari ini praktek olahraga renang, saya tidak bisa mengikutinya karena sedang datang bulan," jawab Priscillia santai.
Telinga James memerah mendengar alasan khusus wanita itu diucapkan begitu gamblang di hadapannya, yang notabene seorang pria. Apa anak ini tidak risih mengucapkannya? pikir James.
James sekuat tenaga berusaha mengendalikan ekspresinya agar terlihat tenang. Tak butuh waktu lama, ia melanjutkan kalimatnya, "Oke. Saya mengerti untuk yang hari ini. Bagaimana dengan yang sebelum-sebelumnya?"
"Saya bisa membawa surat keterangan dokter kalau Bapak memerlukannya."
"Tidak. Saya tidak memerlukannya. Saya tahu dengan statusmu, hal seperti itu mudah kamu dapat untuk sekedar membenarkan alasanmu. Yang saya butuhkan di sini adalah kejujuran. Saya yakin kamu sendiri sadar kalau alasan 'tidak suka matahari'mu terkesan sangat ringan, bukan?"
Priscillia terdiam dan menundukkan kepala, sesuatu hal yang baru kali ini terjadi sepanjang sejarah pembicaraan mereka.
Karena Priscillia masih diam, James melanjutkan perkataannya, "Tahukah kamu bahwa tindakanmu yang menghindari pelajaran pak Santo dengan seribu satu alasan itu, dapat menyinggung perasaan beliau?"
"Ya, saya tahu. Tapi saya tidak peduli." Priscillia menjawab dengan kepala masih tertunduk. Tapi James masih dapat melihat ekspresinya ketika mengatakan hal itu.
Priscillia yang biasanya, umumnya akan menjawab James dengan senyuman misteriusnya, dengan pengendalian dirinya yang tinggi, dan pemilihan kata yang ambigu. Hal-hal itulah yang biasanya membuat James sulit menebak pikirannya. Tapi kali ini Priscillia dengan gamblang menunjukkan ketidaksukaannya. Alisnya berkernyit dan bibirnya mengerucut.
James merasa Priscillia mulai menunjukkan sisi dirinya yang selama ini tersembunyi. Ia berharap, siapa tahu dengan ia bersikap demikian Priscillia bisa membuka hatinya.
Ting tililing .... Trililing ting ting .... Sebuah melodi yang menjadi nada dering sebuah ponsel terdengar.
"Maaf. Boleh saya lihat HP saya sebentar, Pak?" tanya Priscillia meminta izin.
"Silakan," jawab James.
Priscillia segera mengeluarkan HP-nya dari balik saku roknya dan memfokuskan diri di sana. James agak terkejut dengan kenyataan bahwa siswi di SMU ini diizinkan membawa HP sendiri ke sekolah. Berbeda dengan zaman SMU-nya dulu, di mana HP tidak boleh dibawa. Jika harus membawa HP karena kondisi tertentu, maka HP tersebut harus dititipkan ke ruang Tata Usaha.
Tapi keterkejutannya segera tertepis ketika ia mengingat Sang Empunya HP yang dilihatnya saat ini. Ia memang belum tahu pasti tentang peraturan membawa ponsel di sekolah ini. Tapi andaikan hal tersebut dilarang, adakah guru yang berani menyita HP seorang Priscillia? Pikiran itu membuat James tersenyum miris.
"Pak, maaf, boleh topik pembicaraan kali ini kita tunda? Ada hal lain yang ingin saya bahas. Saya janji untuk membahas topik ini di lain waktu jika Bapak masih ingin membahasnya." Tiba-tiba Priscillia memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.
"Boleh. Ada apa?" tanya James ketika melihat perubahan sikap Priscillia.
__ADS_1
"Saya baru mendapat kabar dari Cecilia kalau saat ini teman-teman saya sedang bersitegang dengan pak Santo di area kolam renang. Saya mengkhawatirkan Rebecca. Bapak tau sendiri bagaimana karakternya."
"Bersitegang karena apa?" tanya James.
"Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Yang saya ingin tanyakan adalah apakah Bapak masih mempercayai saya?" tanya Priscillia dengan tatapan lurus ke arah James.
James tertegun. Kali ini ia tidak melihat Priscillia dengan senyum khasnya yang mengajaknya bermain dengan kata-kata. Lewat tatapan Priscillia, ia bisa melihat keseriusannya.
"Lebih tepatnya 'saya ingin mempercayaimu dan masih mencoba mempercayaimu', " jawab James sambil tersenyum bijak.
Mendengar jawaban dari guru di depannya, Priscillia ikut tersenyum. Tapi kali ini yang muncul bukan senyum jahil atau senyum misteriusnya yang biasa, melainkan senyuman tulus yang diberikan kepada orang yang dihormatinya.
"Kalau begitu, boleh saya minta pertolongan Bapak?" tanyanya.
"Minta tolong apa?"
"Nanti, pas istirahat pertama, boleh Bapak ajak pak Santo kemari? Bapak bilang saja kalau Bapak sudah menasihati saya dan sekarang ada yang ingin saya sampaikan kepada beliau. Tapi sebelumnya tolong Bapak lebih dahulu mengajak Kepala Sekolah ke ruangan ini untuk menjadi saksi. Bisa, Pak?"
"Kalau boleh tahu, apa sebenarnya yang kamu rencanakan?" tanya James dengan alis berkernyit.
"Menyelesaikan masalah pak Santo dengan teman-teman saya dan mungkin saja sekalian menjawab pertanyaan Bapak berkenaan dengan topik yang kita bahas sebelumnya. Saya berjanji akan mengambil tanggung jawab penuh jika Bapak sampai dirugikan karena hal ini," tegas Priscillia.
James terdiam. Entah kenapa ia merasa sepertinya masalah ini bukan masalah yang sepele. Tapi bagaimanapun, ia harus memberi keputusan atas permintaan Priscillia.
"Baik. Kita lakukan sesuai rencanamu," jawab James akhirnya.
Mata Priscillia berbinar mendengar jawaban James.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu, saya izin permisi dulu. Saya ingin segera menenangkan Rebecca," kata Priscillia sambil memberi hormat dengan membungkukkan badan seperti yang biasanya dilakukan orang Jepang.
"Ya. Silakan," kata James memberikan izin.
Tidak lama kemudian Priscillia segera menghilang dari pandangan James. Tinggal James yang masih sendirian di ruang BK sambil memegang kepalanya yang mulai berdenyut. Oh, Tuhan .... Semoga aku tidak salah memutuskan, doanya dalam hati.
...****************...
__ADS_1