Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Persahabatan yang Diuji (jilid 2)


__ADS_3

Kepulangan Rebecca yang jauh lebih cepat dari biasanya, membuat Samuel panik. Kejadian ini mengingatkannya pada kejadian penyiraman Darrell, saat putrinya pertama kali berjumpa dengan pria itu. Apakah kali ini kejadian tersebut terulang lagi? Atau lebih parah?


Karena itulah, begitu melihat anaknya memasuki rumah, Samuel langsung keluar mendatangi putrinya dan memberondongi Rebecca dengan pertanyaan. "Kenapa cepat sekali pulangnya? Apakah terjadi sesuatu? Apakah kau siram lagi Si Darrell? Atau jangan-jangan sudah kau patahin tangannya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Samuel mencemaskan nasib anak sahabatnya itu.


Mendengar rentetan pertanyaan seperti itu, Rebecca menghentikan kegiatan melepaskan sepatunya dan terdiam dengan muka sebal memandangi Sang Ayah. "Pa .... Papa itu papanya siapa sih?"


"Justru karena papamu makanya Papa bisa tau apa saja yang mungkin kau lakukan! Sudah! Jawab saja! Apakah Darrell baik-baik saja?!" cetus Samuel yang sudah tidak dapat lagi menahan perasaan khawatirnya.


"Dia baik-baik aja. Kami cuma putus, " jawab Rebecca sambil melanjutkan kegiatannya dan bersiap meninggalkan ayahnya di teras.


"Oh .... Baguslah kalau dia baik-baik saja, " ujar Samuel sambil menghela napas penuh kelegaan.


Namun hal itu tidak bertahan lama. Sekian detik kemudian ia segera mengejar putrinya yang sudah memasuki rumah dan sedang memberi salam ke Ibunda. "Tu- tunggu! Ta- tadi kau bilang apa, Nak?! Papa ... salah dengar, kan?! Kamu bilang apa? Pu- putus?!" tanyanya dengan kepanikan yang muncul kembali.


Rebecca kembali menghadap ayahnya. "Papa tidak salah dengar. Kami memang sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan ini, " katanya.


"Ke- kenapa?" tanya Samuel, tidak dapat menerima pernyataan itu.


"Kami memang sudah tidak cocok dari awal. Tapi kalau Papa mau bahas, nanti aja yah .... Becky mau ke kamar. Ada hal yang lebih penting yang Becky mau urus, " pamit Rebecca. Ia pun menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.


Tinggal lah Samuel yang hanya bisa memandangi putrinya yang menjauh. Ia pun merasa lemas tiba-tiba hingga jatuh terduduk. Istrinya yang khawatir segera mendekati suaminya.


"Gagal lagi, Ma ..." katanya kepada Sang Istri.


"Sabar yah, Pa ..." jawab istrinya sambil menepuk-nepuk punggung suaminya.


...****************...


Dari tadi Rebecca memang sudah tidak sabar ingin menghubungi Cecilia. Namun ia tahu, dengan kondisinya yang sedang menahan perasaannya yang kacau, kemungkinan besar ia akan menyerang Cecilia. Apalagi kalau ternyata jawaban Cecilia nanti berseberangan dengan harapannya.


Bukannya ia tidak mempercayai cara pandang Cecilia tentang persahabatan, tetapi ia tahu betul bagaimana kelemahan gadis ini jika berhadapan dengan cowok-cowok tampan. Cecilia seperti mengalami bucin akut yang menjunjung tinggi cinta buta, cinta tuli, cinta lumpuh, dan cinta bisu. Ia seolah dapat memaklumi segala kelemahan cowok tersebut, selama tidak menyinggung prinsip hidupnya telak-telak.

__ADS_1


Selama ini, Rebecca dan teman-temannya tidak terlalu mau mencampuri urusan percintaan Cecilia serta kriteria laki-laki pilihannya. Toh mereka semua tidak begitu banyak pengalaman di bidang tersebut. Namun kali ini berbeda. Pria yang terlibat adalah Darrell. Dan tujuan laki-laki br*ngs*k itu jelas, yaitu memanfaatkan mereka untuk menjatuhkan Celine.


Jujur saja, Rebecca sudah khawatir semenjak ia mempertemukan Cecilia dengan Darrell. Apalagi setelah mengetahui bahwa ternyata mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.


Namun selama ini ia mencoba menutup mata. Ia ingin meyakini kalau Cecilia akan lebih mendukung pemikirannya demi persahabatan mereka. Toh sekian kali Darrell bergabung dengan acaranya bersama Geng Princess, tampaknya tidak ada hubungan yang spesial antara Darrell dan Cecilia. Sikap Cecilia biasa saja. Darrell malah lebih terlihat untuk mencoba menarik perhatiannya daripada teman-temannya yang lain.


Tetapi ceritanya bisa berbeda sekarang, jika Darrell benar-benar menargetkan Cecilia. Bisakah temannya itu bertahan? Bisakah Cecilia tetap setia mendukung pemikirannya yang ingin membela Celine? Ataukah karena Celine bukan anggota Geng Princess, Cecilia lebih memilih Darrell dan berselisih pendapat dengannya? Entahlah .... Kali ini Rebecca benar-benar cemas.


Karena itu demi keamanan, Rebecca merasa lebih bijak untuk melibatkan semua teman-temannya dalam membahas hal ini. Setidaknya jika ada selisih pendapat, teman-temannya yang lain dapat menjadi penengah.


Begitu Rebecca tiba di kamarnya, ia segera mengunci pintu, dan mengeluarkan HP-nya. Tanpa menunda waktu, ia segera melakukan Group Video Call untuk menghubungi teman-temannya.


Mendapat panggilan dari Rebecca tiap dua minggu sekali di jam-jam bersama Darrell, membuat teman-temannya terbiasa dengan situasi yang dihadapi Rebecca. Tanpa memiliki dugaan yang lain, masing-masing menjawab panggilan Rebecca sesuai pemikirannya.


"Ribut lagi? Kalian masih janjian di kafe yang sama kah? Aku akan ke sana."


"Oke, Bec. Aku sudah menyiapkan waktuku, kok ...."


Sesungguhnya Rebecca terharu dengan sikap teman-temannya. Mereka tetap mendukung rencananya membuat Darrell lelah tanpa mengetahui perkembangan situasi yang telah terjadi. Ia sebenarnya tidak ingin mencurigai Cecilia. Tetapi demi ketenangan batinnya, lebih baik ia menanyakan langsung pada orangnya agar mendapat jawaban yang jelas.


"Tidak, teman-teman. Masalahku dengan Darrell sudah beres. Perjodohan kami sudah putus. Sekarang yang ingin kutanyakan adalah ... Cecilia ... andaikan Darrell menargetkanmu untuk menjadi pasangannya, apakah kau akan menerimanya?" tanya Rebecca agak ragu.


Ketiga temannya langsung terdiam. Tidak menyangka terjadi perkembangan seperti ini. Apalagi Cecilia, ia benar-benar terlihat bingung.


Yang pertama kali bereaksi adalah Priscillia. "Tunggu bentar, Bec .... Kenapa bisa jadi muncul pertanyaan seperti ini? Coba tolong ceritakan dulu apa yang terjadi, " katanya.


"Sudah kubilang, laki-laki itu serigala. Dia tidak serius denganku dan bukan juga menerimaku apa adanya. Dia hanya ingin mencari pasangan yang dapat mendukung karirnya, tanpa peduli siapapun pasangannya selama berasal dari keluarga kaya. Ia memanfaatkanku untuk memperluas target pencariannya, termasuk kalian.


Sekarang setelah kami sepakat untuk memutuskan perjodohan, targetnya berpindah kepada Cecilia. Ia sendiri yang mengatakannya padaku baru saja, " jelas Rebecca panjang lebar.


Ketiga temannya kembali terdiam. Rebecca pun melanjutkan kalimatnya. "Aku bukan mau mencampuri urusan pribadimu atau pilihan pasanganmu, Cil. Tetapi untuk kasus kali ini ... jujur aku khawatir .... Bukan karena aku memendam rasa sama dia. Sungguh! Tetapi karena aku tahu dia pria macam apa! Memang ... kalian merasa hal yang ia lakukan lumrah di kalangan kita. Tapi kalau mengingat Celine ... aku ... aku tetap tidak bisa menerimanya!

__ADS_1


Karena itu, aku bertanya padamu, Cil .... Andaikan ia benar menargetkanmu ... mengeluarkan segenap tipu dayanya untuk memikatmu ... apakah ... apakah kamu akan luluh dan menerimanya?" Rebecca mengulangi pertanyaannya dengan kegelisahan yang terlihat jelas.


Keadaan menjadi hening. Semuanya menunggu jawaban dari Cecilia. Cecilia terlihat sangat gugup. "A- aku ... a- aku ... tak tahu ..." jawab Cecilia akhirnya.


Mendengar jawaban meragukan itu, alis Rebecca berkerut. Ia tidak puas dengan jawaban sahabatnya. "Apa yang tidak kauketahui, Cil? Apa yang membuatmu ragu? Apa kau tidak masalah mengkhianati Celine?"


"Aku tidak bermaksud mengkhianati Celine! Namun seperti yang dikatakan Priscillia sebelumnya, bukankah itu urusan internal perusahaan mereka? Kenapa kita yang harus memusingkannya?!" sanggah Cecilia.


"Karena kita yang ia jadikan alat untuk menjatuhkan Celine!! Kamu masih tidak mengerti juga?! Bukankah sudah kami ceritakan bagaimana perjuangan Celine untuk berada di posisinya sekarang?! Bukankah waktu mendengarnya, dirimu juga merasa terkesan dan terharu?! Apakah karena kamu kelamaan tinggal di Prancis dan tidak mendengarkan kisahnya sendiri dari mulut Celine, rasa kepedulianmu jadi berkurang?! Laki-laki itu sekarang datang dan berusaha merebutnya, Cil!" balas Rebecca.


"Aku tahu! Dan aku masih mengagumi dan menghormati perjuangan Celine! Makanya aku belum bisa menjawab, kan? Aku belum menentukan sikap!" Cecilia berusaha membela dirinya.


"Justru karena kamu tidak langsung dapat menentukan sikap, aku jadi khawatir dan ragu. Benarkah kamu akan setia pada Celine? Atau jangan-jangan kamu sudah dibutakan oleh ketampanan laki-laki serigala itu sehingga akan ikut menikam Celine?!" serang Rebecca dengan nada ketus. Matanya jelas menunjukkan amarah dan kekecewaan pada Cecilia.


"Cukup, Bec! Kita akhiri pembicaraan ini sampai di sini. Beri waktu Cecilia untuk memikirkannya dan memilih. Toh yang kamu katakan belum benar-benar terjadi. Mungkin saja Darrell hanya gertak sambal saja karena kecewa akibat diputuskan olehmu, " ujar Priscillia.


"Sejujurnya ... aku tidak yakin itu hanya gertak sambal, Pris ..." jawab Rebecca menurunkan nada suaranya.


"Yah ... apapun itu, kita akhiri saja pembicaraan ini. Masing-masing coba tenang dulu. Pikirkan baik-baik! Kita tidak mau persahabatan kita retak karena kejadian ini, kan?" putus Priscillia. Ketiga temannya terdiam mendengar peringatan dari ketua mereka, terkhusus Rebecca dan Cecilia yang sempat memanas tadi.


"Kita off aja yah .... Kabari kalau ada langkah apapun dari Darrell. Aku harap kita semua bisa jujur dan terbuka di sini. Kalaupun ada perbedaan pendapat, kita akan cari jalan tengahnya bersama. Setuju?" tanya Priscillia.


"Yaaaa ..." jawab ketiga temannya dengan nada sedikit lesu. Pasalnya baru kali ini mereka berselisih pendapat sampai saling serang begini. Kekecewaan terhadap yang lain mulai muncul di hati masing-masing.


Tanpa ucapan perpisahan, mereka saling melambaikan tangan sebagai tanda berpamitan. Setelah itu, masing-masing mematikan sambungan video call mereka.


Setelah semua hubungan video call terputus, Priscillia mengetik pesan singkat pribadi kepada Sharon. 'Shar .... Kamu tolong dekati Cecilia. Cari tahu perasaannya dan sudah sedekat apa dia dengan Darrell. Aku akan menangani Rebecca.'


Tidak lama kemudian, jawaban singkat dari Sharon datang, 'Oke.'


Demikianlah mereka membagi tugas demi mempertahankan Geng Princess yang mereka cintai. Mereka berharap jangan sampai persahabatan mereka retak hanya karena kehadiran seorang laki-laki di antara mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2