
Beberapa hari sudah berlalu. Perpeloncoan terhadap James makin lama makin berkurang, bahkan hampir lenyap. Hanya tinggal perpeloncoan mental berupa pertanyaan-pertanyaan penuh jebakan yang hampir selalu ada di tiap jam pelajaran.
Hal ini mungkin disebabkan karena Lily sudah menasihati teman-temannya yang memiliki pemikiran yang sama dengannya. Atau mungkin Geng Princess Lovers yang sudah menyebarluaskan pesan langsung dari Lady Priscillia kepada para pemujanya. Atau bisa juga Geng Princess sendiri yang menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan hal tersebut.
Tapi, mungkin juga karena kehadiran seorang guru olahraga baru yang masuk sebagai pengganti pak Santo. Guru tersebut bernama Pak Joseph.
Pak Joseph adalah seorang lelaki muda dengan wajah yang tergolong tampan dan perawakan yang cukup maskulin. Umurnya hampir sama dengan James, yaitu sekitar 23-25 tahun. Badannya tegap, kulitnya kecoklatan, dan terlihat otot-otot terlatih yang terbentuk meskipun sudah ditutupi dengan kemeja.
Tentu saja hal tersebut menjadi pusat perhatian di sekolah putri itu. Bukan hanya para siswi, guru-guru wanita yang masih lajang pun ikut heboh dengan kehadirannya.
Pak Joseph menempati meja bekas pak Santo di ruang guru. Otomatis, James menjadi tetangga Si Guru Baru. Pembawaannya cukup ramah dan tergolong blakblakan. Cara bicaranya tegas dan apa adanya. Agak sedikit suka berbicara pada James, mungkin disebabkan karena James satu-satunya guru pria yang seumuran dengannya.
__ADS_1
Jadi, kita kembali ke topik perpeloncoan. Apakah Pak Joseph terhindar dari perpeloncoan? Jawabannya ... jelas TIDAK! Karena itulah tadi kita bisa katakan, bahwa kehadirannya mungkin menjadi penyebab perpeloncoan pada James terhenti. Karena besar kemungkinan sudah terjadi pergantian target di sini.
Hal ini diketahui James setelah Pak Joseph mengeluhkan sendiri apa yang ia alami. Dan tempatnya tidak lain tidak bukan, di mana lagi kalau bukan ruang kelas XI IPA. Peristiwanya pun hampir serupa, yang tersandung atau yang terjatuhi sesuatu.
"Ya, saya juga mengalaminya. Jadi Bapak sabar saja, nanti juga berlalu," kata James setelah Pak Joseph bercerita apa yang baru terjadi padanya.
"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? Kita mungkin bisa melaporkannya ke mana? Masa kita cuma harus pasrah menerima kenakalan mereka begitu saja?" keluh Pak Joseph dengan nada yang mulai meninggi.
"Mau melapor ke mana, Pak? Bu Kepsek juga sudah tahu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada bukti kalau mereka melakukan dengan sengaja. Bapak tahu sendiri bagaimana mereka dengan pintarnya membungkus hal tersebut dengan kesan kecelakaan atau ketidaksengajaan, bukan?" James menjawab pertanyaan Pak Joseph dengan sabar.
Mendengar jawaban James, Pak Joseph hanya terdiam. Tapi dapat terlihat dari raut wajahnya masih tersimpan kegeraman.
__ADS_1
"Saya mengerti perasaan Bapak. Saya juga pernah ingin sekali membuktikan kalau mereka memang melakukannya dengan sengaja, tapi gagal. Akhirnya saya pasrah. Dan ternyata akhirnya hal ini berlalu dengan sendirinya, mungkin karena mereka sudah bosan.
Jadi, sekarang kembali ke diri Pak Joseph. Silakan kalau Bapak mau berjuang mencari bukti kenakalan mereka. Tapi saran saya, kita harus tetap bersikap bijak ya, Pak. Tunjukan kalau kita tetap menjadi pendidik yang baik, yang tidak mendiskreditkan murid hanya berdasarkan prasangka tanpa bukti yang jelas," ujar James melanjutkan kalimatnya kepada Pak Joseph.
James memang ingin bersikap netral. Dia tidak ingin menutupi total tindakan perpeloncoan yang dilakukan Geng Princess. Tapi ia juga tidak ingin terlalu membela Pak Joseph. Ia takut kejadian Pak Santo terulang, akibat terlalu mempercayai seseorang. Untungnya saat itu ia belum sempat dimanfaatkan oleh Pak Santo.
James membiarkannya mengalir, sama seperti yang ia alami. Harapannya, dalam proses perpeloncoan ini, Pak Joseph jadi bisa lebih mengenal sendiri pribadi murid-muridnya, sama seperti yang ia telah rasakan terhadap Priscillia dan teman-temannya.
Walaupun ia tahu cara Geng Princess salah, ia pilih berdiam saat ini. Biarlah para siswi itu memilah sendiri guru yang baik menurut cara mereka. Selama yang mereka lakukan tidak membahayakan, James pilih menutup mata. James hanya bisa berdoa semoga Pak Joseph bisa melaluinya dengan baik.
...****************...
__ADS_1